The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Aku Arthur, Bukan Pembunuh!



Hanya membutuhkan waktu dua hari untuk Arthur mendapatkan informasi mengenai masalah yang terjadi pada Keluarga Bonham. Dan selama dua hari itu pula, Arthur datang ke rumah sakit untuk menemui Helena. Dan reaksi wanita itu tetap sama, menolak kehadirannya. Namun setidaknya tidak histeris seperti sebelumnya, hanya saja ketika melihat dirinya bahu wanita itu sedikit bergetar.


Kini Arthur sudah berada di rumah yang ia sewa, duduk di ruang tamu sembari memijat pelipisnya, merasakan pening sejak pagi tadi. Beberapa hari ini memang kurang beristirahat. Meskipun berada di Paris, ia serta Darren membawa beberapa pekerjaan bersama mereka dan jika sudah waktu kunjungan, Arthur akan menemui Helena. Dan baru beberapa menit yang lalu ia kembali setelah memperhatikan serangkaian proses terapi wanita itu dari kejauhan.


"Der, apa kau yakin informasinya seperti ini?" Arthur menggenggam beberapa kertas yang menampilkan data-data Keluarga Bonham.


"Hm, aku sudah memastikannya Ar. Semua data-data mengenai Keluarga Bonham benar, tidak ada rekayasa apapun."


"Jadi Helena bukan putri kandung pria tua itu?" Arthur terperangah seperkian detik. Lidahnya berdecak tidak percaya. Terlalu banyak Jorge mempermainkan Helena.


"Benar. Aku juga terkejut saat mengetahui hal itu," sahutnya. Ketika Darren menerima sebuah email dan membacanya terlebih dahulu, ia nyaris tidak percaya.


Arthur bergeming. Kehidupan seperti apa yang wanita itu jalani ketika tidak memiliki siapapun disisinya. Pria yang berperan sebagai ayah, ternyata bukan ayah kandung, melainkan Paman dari wanita itu.


"Jonathan Bonham?" gumamnya menatap lekat wajah pria di dalam foto yang di genggamnya. Helena memiliki mata yang sama seperti Jorge, tetapi ternyata Jonathan pun memiliki mata yang serupa. Keluarga Bonham memang memiliki iris mata perak kebiruan, bahkan wanita yang bernama Caroline memiliki iris mata menuruni Jorge.


Perhatian Arthur kemudian teralihkan pada wanita yang di rangkul mesra oleh Jonathan, wanita itu tidak lain ialah Anna Carl. Wajahnya serupa dengan Helena dan bahkan memiliki rambut pirang. Yang membedakan hanya iris mata mereka saja, Anna memiliki irish mata cokelat terang. Beberapa foto lainnya menampakkan Jonathan tengah mengusap perut Anna yang sudah membesar. Tanpa sadar jemari telunjuk Arthur mengusap perut Anna.


Sungguh miris, bayi di dalam kandungan yang tidak tahu apapun kini menanggung semua penderitaan karena ketamakan paman serta istri pria tua itu.


Punggung tangan Arthur seketika mengeras, menonjolkan urat-urat di tangannya. Ia masih menatap foto kedua orang tua kandung dari wanita yang sudah memiliki tahta di hatinya.


"Der...." panggilnya tanpa mengalihkan pandangan dari gambar mendiang pasangan suami istri itu. Darren menoleh ke arah Arthur, menunggu perintah apa yang harus ia kerjakan dan tentunya ia akan menyanggupi. "Cari tau saham Bonham Company dan katakan pada Crish untuk menyamar menjadi investor dan datang ke perusahaan itu. Buat Bonham Company merugi bagaimana pun caranya!" perintahnya penuh dengan penekanan. Sedari tadi Darren menyadari emosi Arthur ketika membaca semua informasi mengenai Keluarga Bonham.


"Baik Ar." Darren mengangguk dan ia terlihat mengambil ponsel untuk menghubungi Chris.


Arthur menghela napas. Memejamkan kedua mata sejenak, rasanya ia tidak bisa membayangkan kehidupan seseorang yang tidak mendapatkan kasih sayang sejak dilahirkan hingga ibunya meninggal dunia. Terlebih ibunya kehilangan ingatan, dan berusaha mencurahkan kasih sayangnya kepada putrinya itu. Berbanding terbalik dengan kehidupannya yang begitu di limpahkan dengan cinta dan kasih sayang. Hanya saja dirinya memiliki kekurangan yang tidak dapat mengontrol emosi hingga terbentuknya sosok lain di dalam tubuhnya.


Dan sebelumnya Arthur memang sudah mencari informasi mengenai Helena. Sikapnya yang menyebalkan karena selalu mengganggu Elie dan selalu bertingkah seperti wanita penggoda, hanya untuk menutupi hati yang sebenarnya rapuh. Sebab itu Arthur begitu mantap menegaskan pernyataannya kepada Daddy Xavier untuk memberikan wanita itu kebahagiaan. Terlebih informasi terbaru yang mereka dapatkan, semakin membuat dirinya ingin melindungi dan melimpahkan seluruh kebahagiaan yang ia miliki.


"Ar, Chris sudah mulai menjalankan rencana. Siang ini dia akan datang ke Perusahaan Bonham untuk menawarkan kerjasama." Suara Darren menyentakkan telinga Arthur, hingga memecahkan fokusnya menyelami pikirannya.


"Hmm..." Arthur menyahut dengan deheman tanpa memisahkan kelopak matanya yang dirasa berat, ia seperti tidak bertenaga untuk menimpali perkataan Darren. "Berikan iPad yang terhubung dengan CCTV di ruangan Helena. Aku ingin tau apa yang dilakukan Helena saat ini," imbuhnya masih dengan mata tertutup.


Darren segera mengambil iPad di dalam kamar Arthur, sebelum kemudian memberikan iPad tersebut kepada Arthur. "Sebaiknya kau beristirahat saja, selama beberapa hari kau kurang berisitirahat. Jika kau sakit, maka semua yang kita lakukan disini akan sia-sia." Dapat dilihat oleh Darren perubahan warna kulit pada bibir Arthur yang sedikit memucat, bahkan wajahnya tidak bercahaya seperti sebelumnya.


"Aku baik-baik saja Der. Setelah melihatnya aku akan beristirahat," katanya memusatkan sorot mata pada layar iPad yang sudah menyuguhkan ruangan berwarna cream itu.


Darren mengangguk, ia kembali pada posisinya. Mendudukkan diri di salah satu kursi, berkutat pada pekerjaan yang harus dikirimkan melalui email sore nanti.


Sementara Arthur memperhatikan wanita cantik yang bergerak kesana-kemari seperti sedang gelisah di layar iPad berlapis emas miliknya, entah apa yang sedang dipikirkan wanita itu. Padahal setahu dirinya, Helena tidak boleh terlalu banyak berpikir.


Bibir Arthur kemudian melengkung tipis ketika melihat Helena yang bertingkah begitu menggemaskan menurutnya. Bibir wanita itu mengerucut, bahkan tangan wanita itu tidak bisa dengan mengambil benda apapun di dalam sana, lalu meletakkannya kembali ke tempat semula.


Senyum Arthur tidak bertahan lama, senyumnya seketika menyurut tatkala mendapati Steve baru saja masuk ke dalam ruangan. Pria itu menuntut Helena untuk duduk di sofa, entah apa yang Steve bicarakan dengan Helena, ia tidak bisa mendengar, sebab kamera yang terpasang hanya untuk merekam gambar tanpa suara.


"Der, sepertinya aku harus memasang alat perekam di sana." Arthur yang tiba-tiba bersuara dengan nada emosi yang tertahan membuat Darren menoleh ke arah pria itu. Ia paham apa yang baru saja dikatakan oleh Arthur.


"Aku akan nyuruh mereka memasangnya saat Nona Helena melakukan terapi relaksasi." Tidak perlu diragukan lagi kemampuan dan kecerdasan Darren, tanpa Arthur menjelaskan keinginannya, pria itu sudah sangat memahami apa yang ada di dalam pikiran Arthur.


Mengangguk, hanya itu yang dilakukan oleh Arthur setelah puas dengan jawaban Darren. Ia harus mengawasi Steve ketika berada di samping Helena. Ia bisa melihat bagaimana cara dokter itu memandang Helena yang penuh minat di dalamnya. Hati Arthur begitu panas melihat kedekatan mereka, meski pria itu dokter yang menangani, tetapi ia harus mencari cara untuk menjauhkan dokter itu. Arthur berpikir sejenak, mengolah pola pikir yang selalu penuh dengan rencana, hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk selalu menunjukkan dirinya di hadapan wanita itu, tidak peduli berulang kali kehadirannya ditolak.


"Der, aku akan beristirahat." Arthur beranjak berdiri. "Bangunkan aku setelah dua jam," kemudian mengayunkan langkah menuju kamar yang berada di lantai dua. Setidaknya ia harus memulihkan tenaganya, karena jujur saja kepalanya dirasa pening.


Darren mengangguk, menatap sosok Arthur yang sudah menaiki tangga. Hingga kemudian kembali memusatkan perhatiannya kepada laptopnya yang menyala.


***


Kini Arthur kembali mendatangi rumah sakit, dengan Darren tentunya. Mereka menunggu di depan ruangan, sementara Helena tengah melakukan terapi relaksasi, kesempatan itu di manfaatkan oleh Darren, masuk ke dalam ruangan Helena dan meletakkan benda kecil di tempat yang tidak terlihat. Benda itu merupakan chip kecil yang dapat mendengarkan suara seseorang dari jarak yang cukup jauh.


Helena berada di atas kursi roda, didorong oleh satu perawat wanita. Tatapan terlihat kosong seperti saat pertama kali Arthur datang ke rumah sakit.


Apa yang terjadi dengannya?


Arthur kemudian berjalan mendekati Helena, hingga membuat perawat wanita itu terkesiap sekaligus terpesona dengan sosok Arthur.


"Biar aku saja yang mendorong sampai ruangan," katanya datar.


Perawat wanita tersebut mengangguk dan segera menyingkir, membiarkan Arthur mengambil alih kursi roda itu. Arthur mendorong dengan sangat lembut, pandangannya menunduk, memperhatikan puncak kepala Helena.


Wanita ini tidak bereaksi ketika aku mendekatinya, apa yang terjadi dengannya? batinnya menerka-nerka. Namun hal yang bagus, ia bisa dengan mudah mendekati Helena tanpa wanita itu harus histeris terlebih dahulu.


"Kau tunggu diluar saja Der," katanya kepada Darren yang segera diiyakan oleh pria itu dan menutup rapat pintunya.


Langkah Arthur kembali mendekati Helena yang masih tidak bergeming. Ia kemudian menekuk kakinya, satu lututnya bertumpu pada lantai.


"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Arthur memandangi wajah pucat Helena.


Helena masih menunduk dan ketika mendengar suara Arthur, wanita itu mengangkat wajahnya. Iris perak kebiruan Helena bersitatap dengan iris hazel cokelat milik Arthur. Keduanya saling bersitatap selama beberapa saat, hingga pada akhirnya Helena lebih dulu memutuskan kontak mata mereka.


"Aku tidak memikirkan apapun, pergilah. Aku ingin sendiri," tuturnya lirih. Helena berusaha hendak bangkit dari kursi roda dan meminta agar Arthur menyingkir dari hadapannya.


"Biar aku membantumu." Arthur beranjak, mencoba untuk membantu Helena berdiri.


"Tidak perlu." Namun wanita itu lagi-lagi menolak dirinya dengan menepis tangannya. "Aku bisa sendiri!"


"Baiklah..." Arthur mengalah, melangkah mundur dengan napas yang terbuang kesal. Namun ia tidak mungkin memaki wanita yang sudah singgah di hatinya itu. Rasa tidak tega menyeruak di dalam hatinya. Sudah cukup wanita itu merasakan penderitaan selama ini.


Brak


Kursi roda itu terguling dan Arthur dengan cepat menangkap tubuh Helena sebelum jatuh bersama kursi roda tersebut.


"Jangan memaksakan diri. Kau bisa meminta bantuanku untuk menuntunmu menuju ranjang," ucap Arthur masih mendekap tubuh Helena.


"Lepaskan aku. Jangan menyentuhku!" Helena memberontak dan berusaha mendorong sekuat tenaga dada Arthur hingga telapak tangannya nyaris patah dan tubuh Arthur tidak berpindah sedikit pun.


"Aku tidak akan menyentuhmu, tapi jika kau menurut untuk tidak seperti ini. Kau bisa terjatuh jika saja aku tidak menangkapmu." Sungguh, untuk pertama kalinya Arthur berbicara begitu lembut kepada wanita selain Elie dan Mommy Elleana.


"Aku tidak mau bertemu denganmu. Kau ingin membunuhku seperti mereka yang menginginkan nyawaku?!" Helena menepis kasar lengan kokoh Arthur, meskipun tetap saja percobaan itu gagal.


Kening Arthur berkerut dalam, mencoba memahami apa yang diucapkan oleh Helena. "Kau bicara apa?!" tanyanya.


"Dasar pembunuh. Kau datang kerena ingin melenyapkanku, bukan?! Katakan untuk apa kau datang?!" teriaknya sarkas dengan lelehan air mata yang tidak dapat di bendung.


"Helena, kau ini bicara apa? Aku Arthur bukan pembunuh seperti yang kau katakan!" Arthur mencoba memberikan pengertian, ia yakin jika saat ini Helena kembali berhalusinasi.


"Pembohong. Kau pembunuh. Sebaiknya lepaskan aku!" Sekuat mungkin, Helena mencoba meloloskan diri dari Arthur. "Lepaskan aku.... arrghh... kepalaku!!" Helena memekik kesakitan, ia meremass rambutnya dengan kuat.


"Hei, kau kenapa? Katakan dimana yang sakit?!" Arthur panik, lalu melepaskan dekapannya dan memegang kedua bahu Helena.


Namun Helena tidak menjawab, ia justru mencengkram kerah kemeja Arthur. "Kau membunuh, kau membunuh Mommy-ku. Aku akan membalasmu, membalas perbuatan kalian!"


"HELENA!" bentak Arthur menangkap kedua tangan Helena. Dan bentakan Arthur membuat tangis Helena memecah.


"Kau membuhuh Mommy dan sekarang kau juga membentakku.... hiks...!" Helena mengisak, sungguh mengiris dada Arthur. Ia tidak sungguh-sungguh ingin membentak wanita itu. "Kemarilah, jangan menangis lagi." Arthur mencoba mendekat kembali namun Helena tetap saja mengisak hingga membuat Darren tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan tanpa diminta.


"Ar??"


Tangan Arthur mengintrupsi Darren yang hendak berjalan mendekat. Sorot matanya meminta Darren untuk keluar dari ruangan. Darren mengangguk dan segera keluar kembali, membiarkan Arthur menenangkan Helena.


"Kemarilah. Jangan menangis lagi." Arthur menyentuh bahu Helena yang bergetar. "Aku Arthur, bukan pembunuh, aku tidak akan pernah melakukan hal itu padamu. Percayalah."


Namun Helena tetap saja mengisak tanpa pedulikan perkataan lembut Arthur. Hingga pada akhirnya Arthur menarik wanita itu dan membenamkannya di dada bidangnya.


"Sshhtt, semua akan baik-baik saja. Aku berjanji akan menangkap pembunuh itu dan menghancurkannya!" Rahang Arthur mengeras, rasanya ia benar-benar ingin menghancurkan pembunuh itu saat ini juga. Amarah Arthur perlahan sedikit menyurut karena Helena semakin mendekapnya, menumpahkan tangis di dada bidangnya. Hanya dengan menghirup aroma tubuh wanita itu yang mampu membuat amarahnya benar-benar lenyap tak tersisa. Sepertinya Helena adalah penawar untuk dirinya yang penuh emosi, pikirnya.


To be continue


Babang Arthur



Yoona udah nulis panjang ya 😆 jadi jangan lupa vote kalian wkwk 😂


...Pokoknya jangan pernah bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...


...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...