
Sepanjang hari Elie hanya termenung, ia memikirkan kondisi sang kakak yang tidak kunjung sadar. Ia tidak semangat melakukan hal apapun, terlebih pria itu tiba-tiba saja menghilang tanpa kabar. Seharusnya ia membuktikan kecurigaannya selama ini, akan tetapi semakin sulit mencari tahu akan informasi mengenai pria itu.
"Kak Elie ada apa?" Freya yang sejak tadi berada di sisi Elie diam memperhatikan kakak sepupunya itu. Padahal saat ini mereka tengah memesan banyak makanan untuk mereka santap di ruangan sembari menunggu kakak sepupunya yang masih terbaring koma.
Elie menolehkan kepada dan hanya tersenyum menanggapi. "Tidak apa-apa Frey, aku hanya sedikit lelah saja."
"Kak Elie dan Mommy Elle kurang beristirahat, jadi wajar saja jika kalian berdua terlihat lelah." Ya, sebelumnya Freya pun memperhatikan Mommy Elleana yang nampak sangat kelelahan. Tetapi saat mereka semua datang menjenguk dan menemani dirumah sakit, perubahan raut wajah Mommy Elleana nampak sedikit ceria, sebab Mommy Jennifer, Mommy Angela dan Mommy Millie serta Mommy Olivia selalu dapat menghibur.
"Sebaiknya Nona Elie dan Nona Freya kembali saja ke ruangan. Biar kami yang memesan makanan dan membawanya ke ruangan." Salah satu anak buah yang sedari tadi mengikuti mereka membuka suara.
Elie serta Freya saling pandang hingga seperkian detik kemudian saling mengangguk. "Baiklah..." ucap Elie beranjak berdiri diikuti oleh Freya setelahnya.
Keduanya menjauhi cafe yang berada di sekitar rumah sakit, lalu hendak menghampiri Austin dan Jolicia yang terlibat sedang menunggu pesanan mereka. Namun langkah Elie terhenti sejenak ketika sebuah panggilan suara dari belakangnya terlihat berlari tergopoh-gopoh ke arahnya.
"Nona Elie...." Dan seseorang itu mengatur napasnya sejenak. "Saya sudah mendapatkan informasi yang Nona inginkan." Perkataan anak buah yang ia tugaskan untuk mencari informasi mengenai seseorang membuat Elie terkesiap, ia kemudian melirik ke arah Freya. "Frey, tinggalkan kami. Aku ingin bicara sebentar dengannya," katanya kepada Freya.
Freya mengangguk paham. Ia tidak mungkin mendengarkan percakapan yang bukan menjadi urusannya. "Baiklah Kak, aku akan menunggu di sana." Dan jari telunjuk Freya mengarah pada sebuah kursi panjang besi yang terlihat kosong. Elie hanya mengangguk sebagai jawabannya, hingga Freya melesat menjauh dari dirinya serta anak buahnya tersebut.
"Bagaimana? Apa yang sudah kau dapatkan?" Kedua tangan Elie saling bersedekap di depan dada, sebelum kemudian tangannya terulur menyambut map yang di sodorkan padanya.
Elie perlahan membuka map tersebut lalu membacanya secara seksama. Wajah serta ekspresinya yang serius itu menandakan tidak ada yang salah dengan informasi di dalam map itu.
"Kau yakin hanya ini saja informasinya?" Merasa tidak puas, Elie mengembalikan map tersebut kepada anak buahnya.
"Benar Nona, tidak ada yang aneh seperti yang Nona curigai. Tuan Mikel Jhonson menutup segala akses tentang masa lalunya."
Elie mengigit ibu jarinya, ia nampak tengah berpikir dan mencerna perkataan anak buah di depannya itu. "Baiklah, kau boleh pergi. Jangan katakan apapun kepada Kak Ar ataupun Daddy jika aku mencaritahu mengenai informasi seorang pria."
"Baik Nona." Anak buah dengan sedikit kumis di bawah hidungnya itu pun mengangguk patuh. "Kalau begitu saya permisi dulu Nona." Dan pamit undur diri sebelum rekan yang lain mendapati dirinya berada di sekitar Nona Elie.
"Aku tidak yakin jika mereka orang yang sama tapi bagaimana mungkin dia berbicara sama seperti Mike, apalagi mata mereka sangat mirip." Sebenarnya Elie tidak menemukan bukti apapun jika Mikel dan Michael adalah orang yang sama. Hanya saja jika berdekatan dengan pria itu seolah ia sedang bersama dengan Mike. Ia tidak pernah merasa nyaman berada di sekitar seorang pria selain keluarganya. Tapi entah bagaimana saat bersama dengan Presdir MJ Corp, ia merasa tidak asing dan tentunya tidak bisa menolak keberadaan pria itu.
Elie merogoh ponselnya yang berada di dalam tas kecil miliknya. Ia kembali membuka sebuah foto yang kemarin dikirimkan oleh nomor tidak dikenal. Foto tersebut adalah foto Mikel bersama dengan Helena, wanita yang pernah mencari masalah dengannya dan merupakan wanita yang tak dianggap oleh Mikel.
Entah apa tujuan seseorang yang mengirimkan foto tersebut padanya. Tidak mungkin ada yang menyadari identitasnya yang sebenarnya, mengingat ia telah rapat menutup akses yang ingin berusaha mencari tahu akan identitasnya, kecuali jika ada seseorang yang berkuasa. Elie segera memasukan kembali ponselnya ke dalam tas ketika melihat Freya menghampiri dirinya.
Elie tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menggandeng telapak tangan adik sepupunya itu. Begitu sudah kembali ke rumah sakit, kedua mata Elie menelisik tajam, memperhatikan punggung seseorang yang tidak asing. Pria itu memang Mikel, ia tidak salah melihat, hingga kemudian berjalan mendekati pria itu, pria yang beberapa hari ini menghilang tanpa kabar. Kesal? Sudah pasti, Elie tidak mendapatkan bukti apapun mengenai masa lalu Mikel dan identitas pria itu yang sebenarnya, di tambah lagi sebuah kiriman foto kebersamaan pria itu dengan wanita lain, membuat perasaannya berkecamuk tidak menentu.
Sungguh ia merasa tidak nyaman dan mendadak kesal saat mengetahui jika Mikel masih berhubungan dengan Helena. Namun di sisi lain, ia merasa tidak pantas jika dirinya harus marah atau merasa cemburu.
Ya, tanpa sadar ia memperlihatkan kekesalannya kepada Mikel, hingga menepis dan mengusir kasar pria itu untuk tidak perlu menemuinya lagi. Entahlah, ia hanya tidak dapat berpikir jernih, terlebih apa yang dikatakan oleh Mikel semakin menambah kecurigaannya jika mereka adalah pria yang sama.
Jika kau tidak marah, kau tidak mungkin memanggilku Tuan dan kau tidak mungkin tidak ingin menatap mataku padahal kau sedang bicara denganku. Jika kau sedang marah kau lebih menyimpan rasa kesalmu seorang diri dari pada kau harus memberitahu penyebab kemarahanmu!
Dan kata-kata itu yang sering kali diucapkan oleh Mike ketika membujuknya saat ia tidak ingin berbicara dengan siapapun. Mike sangat mengenal dan memahami apapun tentangnya. Padahal selama ini baik Arthur maupun Austin tidak bisa menyadari jika dirinya tengah marah. Terlebih kedua orang tuanya, ia tidak pernah menampakkan wajah kesal ataupun memasang wajah yang akan membuat kedua orang tuanya menjadi cemas.
Aku harus memastikannya sendiri.
Elie sudah bertekad akan mencaritahu sendiri melalui Mikel. Ia yakin akan menemukan sesuatu di jejak tubuh pria itu, sebab Michael atau yang sering mereka panggil sebagai Mike pernah terluka di perut bagian kiri kala menyelamatkan dirinya dari hantaman pisau para bandit-bandit yang ingin melecehkannya. Dan luka yang diterima Mike cukup dalam sehingga harus menerima beberapa jahitan. Jika Mikel memiliki luka yang sama dengan cinta pertamanya itu, sudah cukup membuktikan jika pria itu memang Mike-nya.
To be continue
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...