
Sinar mentari membias masuk dan menyinari sebagian sudut-sudut kamar yang semalam penuh digunakan untuk aktivitas bercinta. Perlahan sinarnya mampu membangunkan Veronica kala ia merasa terganggu. Berusaha mengerjapkan kedua mata berulang kali dan mengatur penglihatannya yang silau akan sinar dari luar jendela yang tirainya di biarkan terbuka.
"Eughh...." Melenguh pelan tatkala merasakan seluruh tubuhnya remuk padam. "Sshhtt, sakit sekali." Dan ia merasakan inti bawahnya yang terasa sakit. Lalu berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi tadi malam. Seketika matanya membola penuh.
Ya, ia ingat tadi malam sudah menghabiskan waktu bercinta hingga menjelang pagi. Lalu menoleh ke sisi ranjangnya, dimana terdapat pria yang perkasa menggagahi dirinya dengan buas. Memang salahnya yang sudah menggoda pria itu lebih dulu, akan tetapi ia tidak pernah mengira jika tenaga Darren benar-benar luar biasa.
Ditatapnya wajah pria yang tertidur telungkup itu. Tampan dan sangat sexy. Ah, Veronica bisa gila jika berlama-lama memandangi wajah Darren.
"Ada apa?"
Mendengar suara berat yang keluar dari bibir Darren membuat Veronica terkesiap dan mengerjapkan mata. Suara serak pria itu saat bangun tidur sungguh mendesirkan irama jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat. Wanita itu menyentuh dadanya di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
Perlahan kelopak mata Darren terbuka ketika tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Ia kemudian meneliti wajah wanita itu yang diam tercengang menatapnya.
"Ada apa?" Dan ia kembali mengulangi pertanyaannya. "Bukankah tadi malam sudah puas memandangi tubuhku?" sambungnya tersenyum smirk.
Veronica tersentak. Ia menjadi gelagapan karena seperti tengah tertangkap basah mengagumi wajah serta tubuh pria itu.
"Ti-tidak. Bukan begitu... Aku..."
Darren terkekeh mendapati Veronica yang menjadi salah tingkah. Hal itu membuat Veronica mematung sejenak. Wait? Apa pagi ini ia masih belum bangun dari tidurnya? Kenapa bisa melihat pria itu tertawa kecil?
Astaga, aku bisa benar-benar menjadi gila. Wajahnya yang tanpa senyum saja sudah terlihat tampan, apalagi jika sedang tersenyum dan tertawa kecil seperti itu.
Tentu saja membuat Veronica masih tercengang tidak percaya. Melihat Darren tersenyum saja hampir tidak pernah dan pagi ini justru dirinya disajikan dengan tawa kecil pria itu. Sungguh sesuatu yang langka bukan?
Kedua alis Darren bertaut bingung. Apa ada yang salah? Kenapa wanita itu melihatnya dengan tatapan aneh? pikirnya.
Menunggu Veronica yang tak kunjung bersuara, akhirnya Darren mendekatkan wajahnya, hingga berjarak beberapa senti saja.
"Kau baik-baik saja?" Darren ingin memastikan apa yang terjadi dengan Veronica. Yang ia khawatirkan jika wanita itu menahan rasa sakit pada bagian tubuhnya.
Dalam jarak yang begitu dekat, tentu saja Veronica dapat merasakan hembusan napas Darren di kulit wajahnya. Bibirnya yang sedikit terbuka itu membuat Veronica tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sana. Hingga kemudian.... Cup.
Satu kecupan mendarat di bibir Darren. Dan Veronica hanya menampilkan senyum manis usia mengecup bibir pria itu. Yang justru membuat Darren membeku.
Wanita ini benar-benar....
Ingin marah tetapi sialnya tidak bisa. Ia justru merasa tidak keberatan wanita itu mengambil kesempatan mengecup bibirnya kembali.
Veronica perlahan beranjak dan meringis pelan ketika bagian intinya masih terasa sangat sakit. Hal itu tertangkap jelas oleh Darren.
"Apa kau ingin ke kamar mandi?" tanyanya memastikan dan dijawab anggukan kepala oleh Veronica.
"Kalau begitu biar aku yang membantumu." Kemudian Darren beranjak dari ranjang dengan keadaan polos, sukses membuat wanita itu tercengang.
Astaga, dia menjadi tidak tahu malu setelah bercinta semalaman.
Veronica menggigit tipis bibir bagian bawah. Bokongg pria itu sangat padat dan berotot. Astaga. Sadar akan pikirannya yang mesum, ia menepuk kepalanya. Bertepatan dengan Darren yang sudah kembali usai mengambil handuk yang berada di rak tepat di sisi kamar mandi, lalu membalutkan handuk itu di pinggangnya.
Tanpa banyak bicara, pria itu menggendong Veronica yang naked ke dalam kamar mandi. Sejujurnya wanita itu sangat malu, tetapi mendapati Darren yang nampak biasa saja. Sehingga Veronica memutuskan untuk membuang rasa malunya. Wanita itu kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher Darren.
"Kenapa? Malu?" Sepertinya Darren bisa membaca apa yang dipikirkan wanita yang ada dalam gendongannya itu. "Bukankah tadi malam kau tidak tahu malu dan sangat berani menggodaku," cibirnya menyindir. Sebelum kemudian menurunkan Veronica di dalam bathtub, lalu mulai mengisi air hangat di bathtub.
Bibir Veronica mencebik. Walaupun ia tidak terima, tetapi faktanya tadi malam ia memang sangat tidak tahu malu. Menggoda pria itu hingga mereka akhirnya berakhir di atas ranjang dan saling memuaskan.
"Berendam dengan air hangat akan mengurangi rasa sakitnya."
Sebenarnya Veronica sudah tahu akan hal itu. Tetapi ia tidak percaya jika Darren begitu perhatian pada dirinya.
"Dia sangat perhatian," batinnya sembari menatap lekat wajah pria itu yang sedang sibuk menuangkan cairan sabun beraroma lavender ke dalam bathtub.
"Mandilah. Aku akan mandi di kamar yang lain." Tanpa menunggu jawaban dari Veronica, Darren bergegas keluar dari kama menjadi. Ia melangkah keluar kamar untuk mencapai kamar yang lainnya.
Veronica sempat tercengang selama beberapa saat. Ia tidak mengerti kenapa Darren nampak biasa saja. Padahal ia sangat yakin, wanita dalam keadaan naked adalah pertama kali dilihat oleh pria itu.
"Huufffttt, kupikir kita akan bercinta lagi di dalam kamar mandi." Bibir wanita itu mengerucut kecewa. Dihentakannya berulang busa sabun yang melimpah itu. Lalu pandangannya turun kebawah, memperhatikan dua dadanya yang besar. Terdapat beberapa kissmark disana. "Apa tubuhku tidak begitu menarik dimatanya? Tapi dia membuat tanda sebanyak ini," keluhnya mendesaah sebal.
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Darren membersihkan diri. Pria itu sudah mengenakan celana jeans panjang. Ia turun ke bawah untuk mengambil T-shirt yang tergantung tidak jauh dari dapur. Villa yang disinggahinya saat ini memang tidak begitu mewah dan tidak banyak furniture di dalamnya. Namun lengkap dengan barang-barang yang dibutuhkan seperti sofa, lemari pendingin, televisi, rak buku, meja makan dan bar.
Sebelum mengenakan pakaiannya, Darren membuka lemari pendingin dan mengambil satu botol air mineral. Ia meneguknya begitu saja hingga menyisakan sedikit, lalu memasukkan kembali botol itu ke dalam lemari pendingin.
Langkahnya tertuju pada gantungan pakaian. Ia mengambil T-shirt polos berwarna putih lalu segera mengenakannya. Bertepatan dengan sosok Veronica yang terlihat baru saja turun menuju dapur dengan penampilannya yang menggunakan T-shirt kebesaran milik Darren.
Darren menyapanya dengan seulas senyuman. Sesuatu yang belum terbiasa di saksikan oleh Veronica hingga wanita itu kembali tercengang.
Dia tersenyum lagi. Benar-benar sangat tampan.
Jika ada fans Darren nomor satu, sudah pasti Veronica. Wanita itu tidak akan membiarkan wanita lain menerima senyum indah dari Darren. Katakanlah ia berlebihan, namun mengingat tersenyum adalah hal yang langka dilakukan pria itu, sehingga ia akan memastikannya sendiri jika senyum pria itu hanya ditujukan padanya saja.
"Coffee or tea?"
Hah?
Bodoh bukan? Pertanyaan Darren ditanggapi wajah tercengang wanita itu.
Darren menghela napas. Apa selain bar-bar dan merepotkan, sisi lain dari Veronica adalah selalu 'ngelag'? Sehingga ia harus mengulangi setiap pertanyaannya.
"Aku bertanya, kau ingin coffee or tea?" katanya kembali memperjelas pertanyaan yang sama.
"Oh...." Veronica baru paham, ia mengangguk-anggukkan kepala. "Coffee saja," jawabnya.
Darren mengangguk, ia kemudian meletakkan salah satu mug di bawah mesin Coffee. Sembari menunggu Darren membuat Coffee, Veronica mendudukkan dirinya di kursi bar. Dari posisinya memperhatikan Darren yang begitu serius membuat Coffee.
Ah, sebelumnya ia tidak pernah membayangkan bercinta dengan pria itu. Mengingat bagaimana perlakuan Darren padanya selama ini. Dingin dan kaku, bahkan terkesan mengusirnya ketika mereka berdekatan.
Tanpa sadar Veronica sudah cukup lama memperhatikan Darren, menopang dagu pada telapak tangannya. Hingga tidak menyadari jika kini Darren sudah berada di hadapannya.
"Minumlah. Jangan hanya melamun saja." Suara Darren menyentak Veronica. Wanita itu baru tersadar dari lamunannya. Ternyata di hadapannya sudah tersaji satu botol air mineral, dua cangkir Coffee dan beberapa lembar roti bakar dengan selai yang berbeda-beda. Entah dari mana Darren mendapatkan semua bahan-bahan itu. Tanpa ditanya pun sepertinya ia sudah mendapatkan jawabannya.
"Apa tidak masalah jika kau hanya sarapan roti untuk mengganjal perutmu?" Bukan tanpa alasan Darren bertanya seperti itu, sebab ia tidak tahu makanan kesukaan Veronica. Terlebih anak buahnya hanya membeli roti dengan beraneka ragam selai.
"Tidak masalah. Aku pemakan segalanya. Semua makanan adalah favoritku," jawabnya riang sembari menyeruput sedikit demi sedikit Coffee buatan Darren.
Darren mengangguk kecil dan mencatat hal itu di dalam memori otaknya. Lalu kembali menyeruput Coffee.
"Hm, sampai kapan kita berada disini?" tanya Veronica penasaran.
"Setelah sarapan," jawab pria itu singkat.
"Oh... sayang sekali." Veronica berdecih berulang kali.
"Kenapa?" Tentu Darren heran, kenapa wanita itu berujar demikian.
"Kupikir kita akan bercinta seharian disini. Misalnya mempraktekkan gaya bercinta yang lain, seperti gaya bercinta Spiderman yang menempel di dinding atau-" Hap. Perkataan Veronica terputus ketika Darren menyuapkan selembar roti ke dalam mulut wanita itu.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Makan saja dengan benar agar otak kecilmu tidak hanya memikirkan hal yang mesum saja." Darren berusaha menahan rasa kesalnya ketika wanita itu secara terang-terangan menjabarkan gaya bercinta. Lagi pula mana ada gaya bercinta Spiderman, pikirnya.
Veronica terkekeh disela-sela ia menguyah lapisan roti. Menggoda Darren sangat mengasyikan, sebab pria itu akan merasa kesal sendiri. Ah, ia sangat menyukai momen seperti ini. Perlahan-lahan dirinya dengan Darren sudah semakin dekat.
To be continue
Bang Darren bangun tidur ðŸ¤
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...