
Satu minggu kemudian
Langkah tegas Arthur berbenturan dengan lantai marmer menjadi pusat perhatian di lobby perusahaan. Hanya meninggalkan perusahaan selama satu minggu sudah membuat para karyawan wanita merindukan pria itu. Tidak hanya merindukan Presdir mereka, Darren sang kaki tangan Arthur turut menjadi target kerinduan mereka.
Diperhatikan penuh kekaguman seperti itu sudah biasa baginya. Namun Arthur tidak membalas tatapan para karyawannya. Berjalan datar diikuti oleh Darren menuju lift hingga keduanya tiba di ruangan.
"Der, kau sudah mencari tau apa yang kusuruh?" tanyanya sembari menjatuhkan tubuhnya di kursi kebesarannya yang sudah satu minggu ditinggalkan olehnya.
"Aku sudah mendapatkan beberapa informasi yang ingin kau ketahui," sahut Darren.
"Katakan!" Arthur menumpu sikunya di atas meja, seluruh jemarinya dibiarkan mengait satu sama lain.
"Nona Helena dan ibunya di perlakukan dengan tidak baik oleh Jorge dan Margareth. Semenjak ibunya Anna Carl tiada, Nona Helena menjalani hidupnya seorang diri. Dia memutuskan pergi dari kediaman Bonham dan melanjutkan mimpinya menjadi desainer di Paris. Hubungan Nona Helena dengan ayahnya tidak begitu baik, bahkan sebelum Anna Carl tiada hubungan mereka bisa dikatakan sebagai keluarga yang tidak harmonis."
Arthur terdiam mendengarkan, mencerna dan mulai memahami kehidupan masa lalu Helena. "Bukankah informasi yang kau berikan sebelumnya, Jorge membawa Margareth setelah meninggalnya Anna?"
Otak Darren terpaksa bekerja untuk memutarkan ingatan akan sebelumnya. "Benar, tapi informasi terbaru yang aku dapatkan jika sebenarnya Jorge menikah dengan Margareth sebelum menikah dengan Anna."
Arthur nampak mengangguk, ia mulai menerka kemungkinan besar jika Anna yang merupakan seorang simpanan. Tetapi hal tersebut tidak mungkin, sebab semua khalayak umum mengetahui dan mengenal Anna Carl adalah Nyonya di Keluarga Bonham.
"Pernikahan Jorge dan Anna sah di mata hukum dan agama, Ar. Jorge menikah dengan kekasihnya Margareth tanpa restu Tuan Stuart dan istrinya. Mereka akhirnya diusir tanpa diperbolehkan membawa sepeserpun harta Keluarga Bonham." Keterangan Darren semakin membuat Arthur paham, pantas saja hubungan Helena dengan keluarganya sangat tidak baik.
"Lalu bagaimana dengan pria yang saat itu kita temui di Restauran?" tanyanya kemudian. Mengingat cara pria itu menatap Helena membuatnya tidak nyaman dan memerintahkan Darren untuk menyelidikinya.
"Edwin Hemsworth adalah putra tunggal sekaligus pewaris Keluarga Hemsworth. Sejak dulu pria itu memiliki ketertarikan kepada Nona Helena dan rela bersama dengan adik tiri Nona Helena yang tidak lain adalah Caroline hanya demi bisa melihat Nona Helena. Dan Caroline adalah wanita yang kita lihat di Restauran bersama Edwin, Ar."
"Caroline?" Mulut Arthur membentuk bulatan, pantas saja saat Helena menyebut 'Carol', ia merasa tidak asing dengan nama itu. Tetapi ia tidak menduga sikap pria yang bernama Edwin itu, sudah memiliki kekasih masih saja ingin mendekati wanita lain.
"Saat itu Nona Helena masih bersama dengan Tuan Mikel. Edwin mengalah dan menunggu mereka berpisah, ternyata harapannya benar-benar terjadi, Nona Helena berpisah dengan Tuan Mikel tanpa alasan yang jelas. Padahal menurut informasi yang kudengar mereka baik-baik saja dan semua menyayangkan perpisahan mereka yang terlihat sangat serasi dan-"
"Cukup Der!" Sentakan kesal diiringi gebrakan meja membuat Darren sontak menutup rapat mulutnya, padahal belum menyelesaikan kalimatnya. "Apa kau pikir aku ingin mendengar cerita masa lalu mereka, heh?!" Tidak suka mendengar kata serasi yang disematkan orang-orang mengenai hubungan Helena dengan Mikel, sehingga membuat tubuhnya mendadak memanas.
"Baiklah, aku diam." Darren paham akan kecemburuan Arthur dan tidak melanjutkan perkataannya. "Kita memiliki investasi di Perusahaan Hemsworth, apa kau ingin menarik investasi Romanov Group dari perusahaan itu?" lanjutnya kembali ke pembahasan mengenai Edwin Hemsworth.
"Tidak perlu. Jika pria itu sekali lagi macam-macam, kau boleh menarik investasi Romanov Group." Setidaknya ia memiliki gebrakan senjata jika saja pria itu berani mendekati Helena.
Katakan saja Arthur ingin melindungi miliknya dari pria lain, hanya saja sulit sekali mengakui hal tersebut. Padahal Darren sudah menyadari perasaan Arthur yang sebenarnya kepada wanita itu.
"Baiklah." Darren hanya mengikuti apapun perintah Arthur.
Arthur menyentuh salah satu map, namun seketika meletakkan kembali map tersebut saat mengingat suatu hal yang ia lupakan. "Der?" panggilnya kemudian.
"Ya?" Darren mendongak menatap Arthur, baru saja dirinya mendaratkan tubuhnya di sofa.
"Apa kau sudah mengetahui keberadaannya?" Sorot matanya menuntut jawaban dari Darren.
"Apa kau sedang membicarakan Nona Helena, Ar?" Namun yang ditanya begitu menyebalkan dan justru balik bertanya.
"Tidak, aku bertanya mengenai Mommy!" serunya dengan deru napas kasar. "Kau sudah tau tidak perlu bertanya lagi!"
"Kau terlihat bodoh jika tersenyum seperti itu!" sembur Arthur menyadari senyum tipis yang disematkan oleh Darren.
Ck, Darren hanya bisa berdecak di dalam hati. "Aku belum mendengar informasi lagi dari anak buah kita. Sepertinya sudah satu minggu ini Nona Helena meninggalkan apartementnya. Petugas hanya mengatakan jika Nona Helena membawa dua koper dan mengatakan akan ke bandara."
"Lalu apa kau yakin tidak menemukannya di Paris?" Sudah berulang kali pertanyaan itu dilontarkan oleh Arthur. Selama ini wanita itu menetap di Paris, besar kemungkinan kembali ke kota cinta itu.
"Aku sudah mencarinya Ar, tapi tidak menemukan keberadaan Nona Helena disana dan penerbangan Nona Helena beberapa hari yang lalu dibatalkan. Tidak ada penerbangan apapun atas nama Nona Helena Bonham."
Mendengar kembali keterangan Darren, Arthur mengusap wajahnya frustasi. Entah kemana wanita itu pergi, ia dan Darren tidak bisa menemukan keberadaannya. Bahkan Elie pun menanyakan keberadaan wanita itu kepadanya. Tidak mungkin ia bertanya kepada Mikel, lebih baik ia gelisah sepanjang hari karena rasa penasarannya, ketimbang menemui pria itu.
***
Kegelisahan juga nampak menyelimuti kediaman Bonham. Jorge dan Margareth tiada hentinya berdebat lantaran tidak sependapat. Caroline dibuat pusing dengan berdebatan kedua orang tuanya. Sehingga ia harus menutup telinganya dengan earphone dan mendengarkan musik sembari menstalking akun berita mengenai Arthur. Ya, sejak pertemuan itu, Caroline sudah tergila-gila kepada Arthur. Bahkan ia mengabaikan Edwin yang berusaha ingin menemuinya. Untuk apa bersama dengan Edwin jika ia bisa mendapatkan pria yang lebih dari segalanya, pikirnya.
Andai saja Arthur memiliki sosial media, mungkin saat ini Caroline sudah menyimpan seluruh foto Arthur atau bahkan mengikuti akun soal pria itu.
"Kau yang salah Jorge. Kenapa menyalahkan diriku?!" Lagi-lagi Margareth tidak ingin disalahkan seorang diri atas hilangnya Helena dari pantauan mereka.
"Karena kau bodoh! Kau bertindak gegabah menyuruh anak buah kita untuk menemuinya!" seru Jorge penuh emosi.
"Bukankah sebelumnya kau sudah setuju menyuntikkan obat itu ke dalam tubuh Helen?"
"Iya, tapi tidak dengan cara itu! Bagaimana jika dia diselamatkan oleh seseorang dan mendadak kehilangan kewarasannya?!" Sungguh Jorge kesal dengan rencana istrinya saat itu. Tanpa berpikir matang, mencegat dan memberikan suntikan obat saat dalam perjalanan. Jika saja Margareth melakukannya lebih rapih, mereka bisa mengamankan Helena terlebih dulu dan tidak harus kehilangan jejak putrinya itu.
"Justru bagus jika dia kehilangan kewarasannya supaya nasibnya sama seperti Anna yang menjadi gila!"
"Kita belum mendapatkan tanda tangannya! Apa kau lupa, hah? Dewan direksi tidak percaya lagi denganku karena kebodohan kita saat di rapat satu minggu yang lalu!" Jorge mengingatkan aksi Helena yang menggagalkan rencana penjualan saham milik wanita itu. Kejadian tersebut membuatnya sulit dipercayai oleh dewan direksi dan bahkan Alarick, pria kepercayaan Mikel dan Helena di Perusahaan Bonham mengawasi dirinya secara terang-terangan.
Margareth termangu, ia membenarkan perkataan suaminya itu. "Lalu kita harus bagaimana? Aku tidak ingin menunggu lebih lama lagi. Kau harus mengambil alih semuanya dan mengumumkan statusku yang sebenarnya kepada publik bahwa aku adalah istri pertamamu!" Margareth sungguh jengah setiap kali berkumpul dengan teman-teman sosialitanya harus mendengar cibiran orang-orang yang tidak suka kepadanya. Secara terang-terangan beberapa teman-temannya menyebut dirinya sebagai seorang wanita simpanan.
Jorge menjambak rambutnya dengan kasar. Selalu hal tersebut yang dituntut oleh istrinya itu. Padahal ia sudah berusaha mencari cara agar bisa mengalihkan perusahaan menjadi atas nama dirinya. "Tunggulah beberapa hari lagi. Aku sudah bisa memindahkan seluruh aset menjadi atas namaku."
"Seharusnya kau melakukan hal itu sejak lama!" cibir Margareth menyindir kebodohan suaminya. "Jangan sampai Helena menikah. Karena jika sampai dia menikah, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk menguasai aset Keluarga Bonham."
"Itu tidak akan terjadi. Biar bagaimanapun aku juga bagian dari Keluarga Bonham. Aku putra pertama Stuart dan Belish, mereka tidak akan keberatan di alam sana jika aku mengambil semuanya." Perkataan Jorge penuh keyakinan, sebab apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya akan kembali padanya. Meskipun saat itu kedua orang tuanya tidak memberikan sebagian harta untuknya karena menentang pernikahannya dengan Margareth.
Margareth tersenyum, ia sudah tidak sabar ingin mendapatkan pengakuan sebagai Nyonya Bonham yang sebenarnya, agar dapat membungkam mulut orang-orang yang sudah menghina dirinya.
To be continue
...Semoga kalian gak bosan dukung Yoona ya 🤗...
...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...