
Tiga hari kemudian, Arthur benar-benar mengadakan konferensi pers untuk memperkenalkan Elie. Bahkan Austin dipaksa untuk datang ke acara tersebut. Sejujurnya pemuda itu sangat malas jika wajahnya di sorot oleh kamera. Namun perintah Daddy Xavier dan Arthur tidak terbantahkan. Baik Elie dan Austin tidak bisa berbuat apapun selain menurut.
Darren sudah berada di lokasi, sedari tadi berusaha untuk menghubungi Arthur. Hanya saja atasannya itu sulit sekali di hubungi. Ponsel yang bergetar disertai dering ponsel seketika segera dijawab oleh Darren.
"Ar, kau dimana? Sebentar lagi konferensi pers akan di mulai."
"Kau bisa mengurusnya Der. Tidak perlu menungguku. Aku akan sedikit terlambat," sahut Arthur di seberang sana.
"Baiklah. Aku akan mengurusnya, tapi jangan sampai terlambat. As sudah mengeluh sejak tadi."
"Biarkan saja, dia harus belajar bersabar!"
Darren hanya bisa menarik napas dalam-dalam. Ia sudah dibuat cukup pusing oleh keluhan Austin yang tidak ingin berlama-lama di sana. Dan kali ini Arthur menyuruh dirinya mengurus segalanya.
"Aku tutup Der, aku harus melihatnya sebentar."
Belum sempat Darren menjawab, Arthur sudah memutuskan sambungan teleponnya. Darren hanya menggelengkan kepala, sejak memasang kamera diam-diam di dalam ruangan perawatan Helena, Arthur tidak lepas memperhatikan kegiatan wanita itu di dalam sana.
Benar. Saat ini Arthur berada di dalam lokasi yang tidak jauh dari gedung konferensi pers. Sedari tadi ia hanya memperhatikan layar iPad tanpa berpindah atau ingin beranjak dari sana. Wajah pucat wanita itu sungguh menyejukkan, hanya saja tidak terdapat senyuman di sudut bibirnya. Arthur harus menahan rasa geram dan rasa cemburunya ketika Dokter yang menangani Helena begitu setia menemani.
"Kenapa duduk disana? Seharusnya kau menjauh darinya, keparat!" Arthur mengumpat kesal tatkala memperhatikan posisi Dokter yang ia ketahui bernama Steve duduk di tepi ranjang. Begitu dekat dengan posisi Helena yang duduk bersandar di atas ranjang rumah sakit. "Aku membiarkanmu mengobati Helena, tapi lihatlah ketika aku datang. Aku tidak akan membiarkanmu dekat-dekat dengannya lagi."
Arthur kemudian mematikan iPad, rasa kesal menjalar hingga ke puncak kepala. Ia tidak ingin merusak konferensi pers hari ini karena mood yang mendadak turun. Belum saatnya ia menjemput wanita itu, sebab Helena masih membutuhkan pengobatan. Ia tidak ingin menambah pikiran wanita itu akan kehadirannya. Terbukti selama tiga hari ini ia masih belum bisa menghubungi nomor ponsel wanita itu. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Darren jika Helena tidak ingin ditemukan dan diketahui keberadaannya oleh siapapun.
Arthur segera keluar dari bangunan bertingkat dua tersebut dengan mengecek beberapa panggilan dan pesan masuk dari Elie serta Austin. Langkahnya semakin dipercepat menuju gedung yang menjulang tinggi masih dengan pakaian casual. Setibanya di gedung konferensi pers Darren memberikan jas untuk dikenakan oleh Arthur, tidak mungkin Arthur hanya mengenakan T-shirt tanpa lengan itu.
Beruntung acara belum dimulai, tetapi Arthur mendapati wajah Elie serta Austin yang masam dan tertekuk dua kali lipat.
"Kak Ar dari mana saja?" tanya Austin ketika Arthur baru saja mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi bersisian dengan Austin. Posisi Arthur berada di tengah-tengah Elie dan Austin. Sehingga Elie mencoba menelinga bisikan kedua saudara laki-lakinya.
"Diamlah. Yang terpenting aku sudah disini." Namun Arthur menjawab dengan acuh. Mana mungkin ia memberitahukan yang sebenarnya. Seperkian detik kemudian pandangannya kembali lurus ke depan, menguarkan aura serius.
"Baiklah, karena kalian semua sudah berkumpul disini. Aku akan mulai bicara," ujarnya kepada beberapa wartawan yang sudah duduk berjajar dengan rapi.
Para wartawan tidak lupa membiarkan kamera tetap menyala dan tetap fokus kepada ketiga orang penting di hadapan mereka.
"Aku tidak akan mengulangi perkataanku untuk yang kedua kalinya. Jadi dengarkan baik-baik!" katanya dengan nada tegas dan mampu membekukan. Para wartawan diam mendengarkan, menunggu kalimat selanjutnya. "Kalian sudah mengenal Austin dan mungkin bertanya-tanya siapa wanita di sampingku ini." Arthur kemudian menoleh ke arah Elie yang tersenyum ke arahnya. Dan dijawab anggukan kepada dan sahutan dari para wartawan.
"Bukankah Nona yang di samping anda adalah Nona Elie Cassandra dan bekerja seorang model?" Salah satu wartawan memberanikan diri untuk bertanya, ia merasa tidak asing dengan sosok wanita itu.
Arthur mengangguk. "Benar. Wanita ini adalah saudari kembarku yang bernama Aurelie Cassandra Romanov. Bekerja sebagai model dan mengganti identitas menjadi Elie Cassandra."
Semua nampak terkejut. Sosok saudara kembar Arthur yang selama ini disembunyikan dari publik ternyata tidak lain ialah seorang model yang cukup terkenal.
"Tapi kenapa selama ini Nona Elie menyembunyikan jati dirinya sebagai putri dari Keluarga Romanov?" Dan wartawan yang lainnya turut memberikan pernyataan akan rasa penasarannya.
Arthur dan Elie saling pandang. Kemudian Elie tersenyum kepada para wartawan. "Aku lebih nyaman berteman dengan orang-orang yang tidak memandang siapa diriku." Jawaban Elie singkat namun penuh makna, sehingga membuat wartawan mengerti dan setuju dengan cara yang dilakukan oleh Elie.
"Tapi kenapa baru sekarang Nona Elie mengungkap jati diri anda? Apa ada sesuatu yang membuat Nona Elie akhirnya mengungkapkan siapa diri Nona Elie yang sebenarnya?"
"Ya, ada banyak hal yang terjadi." Elie menjawab seadanya, baginya kejadian yang menimpanya tidak perlu diceritakan dan menjadi konsumsi publik.
"Lalu apakah berita Nona Elie mengenai sebagai wanita simpanan benar atau tidak?"
Mendengar pertanyaan salah satu wartawan yang begitu berani membuat Arthur geram. Ia menatap ke arah Darren dan sudah mewanti-wanti sebelumnya jika tidak perlu menanyakan hal seperti itu. Dan Austin menatap tajam ke arah wartawan tersebut, mengukir wajah wartawan itu di dalam otaknya. Mungkin setelah ini ia akan bermain dengan wartawan yang terlalu lancang itu.
"Pertanyaan anda bisa diganti dengan pertanyaan lain," ujar Darren kepada wartawan tersebut.
"Cukup!" Arthur menggebrak meja hingga menyentakkan semua yang ada disana.
"Biar aku jelaskan kepada mereka kak." Elie mengusap lengan Arthur, menyalurkan ketenangan melalui usapan tangannya itu.
Arthur tidak menyahut, tatapannya berkabut emosi kepada barisan para wartawan tersebut. Dan membiarkan Elie menjelaskan untuk mematahkan rumor tidak jelas itu.
"Berita itu tidak benar. Jika ada seseorang yang tidak sengaja melihatku bersama dengan seorang pria mungkin hanya rekan kerjaku saja. Tapi selama ini aku hanya pergi bersama dengan Kak Ar dan As."
"Jadi berita itu tidak benar?" seru wartawan yang lain memastikan.
"Tidak benar." Elie menegaskan. Ia berharap setelah ini tidak ada rumor apapun mengenai dirinya.
***
Acara konferensi pers berjalan lancar, meskipun sedikit alot karena ada beberapa karyawan nakal yang sengaja ingin menjatuhkan Elie. Tetapi setidaknya mereka sudah mendapatkan informasi dan jawaban yang mereka inginkan.
Elie berpamitan untuk pergi ke toilet. Tidak lama kemudian terlihat keluar dari dalam toilet dan berjalan menuju lorong, namun tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam ruangan kosong, lalu mendekapnya di dalam dada seorang pria tersebut.
Elie terpekik kaget dan nyaris berteriak, namun ketika melihat siapa yang tengah mendekapnya, wanita itu mengurungkan teriakannya.
"Mikel.... kau...?"
Ya, pria itu adalah Mikel, pria yang masih menjadi kekasihnya. Mikel berada di antara kerumunan orang-orang dan menyaksikan berlangsungnya konferensi pers tersebut. Hanya itu satu-satunya cara untuk bertemu dengan Elie. Sebab beberapa hari ini ia kesulitan menemui Elie dan tidak dapat menembus penjagaan Arthur.
"Biarkan sebentar saja seperti ini," ucapnya lirih. Mempererat dekapannya. Elie benar-benar membiarkan Mikel mendekapnya, menyalurkan rasa rindu melalui pelukan. Tidak dipungkiri jika dirinya sangat merindukan Mikel, sehingga kedua tangannya melingkar di pinggang Mikel, membalas pelukan pria itu.
Puas berlama-lama berpelukan. Keduanya kemudian saling mengurai pelukan. Melemparkan pandangan dengan seulas senyum yang tersemat di wajah keduanya. Mikel mendekatkan wajahnya dan hidungnya, hingga merasakan napas mereka menyeruak dan saling menyapu wajah masing-masing. Lantas Mikel membenamkan ciuman di bibir Elie dan wanita itu reflek membuka mulutnya ketika Mikel merengkuh tengkuk lehernya dan mencoba menekan bibirnya lebih dalam lagi. Elie membalas ciuman Mikel yang terselip kerinduan itu, keduanya saling menyesap dan memperdalam ciuman mereka. Sungguh Mikel tidak ingin mengakhiri momen seperti ini, tetapi merasakan napas Elie yang menjadi sesak segera melepaskan pagutan bibir mereka.
Mikel menatap lekat wajah Elie lebih lama, setelah ini ia tidak bisa menemui Elie untuk beberapa hari ke depan. Sebab ia akan pergi ke Amsterdam selama satu minggu.
"Jaga dirimu baik-baik Sweetheart." Mikel tersenyum lembut, tangannya terulur membelai rambut pirang bergelombang wanitanya itu.
"Kau juga...." Elie balas tersenyum. Entah kenapa kali ini merasa sangat berat berpisah dengan Mikel
Elie dan Mikel keluar dari ruangan kosong tersebut. Keduanya terkejut karena mendapati Austin berada di depan ruangan dengan punggung yang bersandar pada dinding.
"As, sedang apa kau disini?" tanya Elie panik sekaligus cemas jika Austin memberitahukan pertemuannya dengan Mikel.
Austin tidak langsung menjawab, ia memusatkan pandangannya kepada Mikel, entah apa yang dipikirkan. Lalu beralih menatap Elie.
"Aku menjaga kalian di sini. Tidak perlu berterima kasih. Dan tenang saja aku tidak akan mengatakan apapun pada Kak Ar." Austin mengerti kepanikan di wajah kakak perempuannya itu. Ia segera berlalu pergi dari sana sembari melambaikan tangan. Ia tahu apa yang terjadi selama ini, hubungan kakaknya dengan pria itu ditentang oleh Arthur dan bahkan Daddy Xavier.
To be continue
Austin
...Jangan bosan ya dan tetap dukung Yoona 🤗...
...like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...