The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Kau Harus Bertanggung Jawab!



Suasana di meja makan terasa canggung dan mencekam bagi Veronica karena hanya dirinya dan Darren yang tidak saling bertukar cerita. Ia memang pernah mengajak Darren untuk makan siang bersama tetapi hanya berdua saja, tidak seperti saat ini yang terlibat makan siang tanpa rencana.


Ck, aku harus jaga imageku di depan yang lain. Mana mungkin aku menggoda Tuan Darren di depan mereka.


Tanpa sadar Veronica meremat sendok yang ia genggam. Padahal sejak tadi bibirnya sudah tidak tahan untuk bersuara. Terlebih ia ingin sekali bertanya perihal kepergian pria itu ke Jepang selama satu minggu, jujur saja ia begitu penasaran. Tidak ada salahnya untuk bertanya, tetapi keadaanya tidak memungkinkan. Sebab ia tidak bisa berkutik jika berada di antara dua kutub di sekitarnya. Jika hanya Darren saja, ia masih bisa menanganinya, tetapi tidak untuk Tuan Mikel dan Tuan Arthur. Kedua pria itu sudah memiliki pawangnya.


"Vero, kenapa makanannya tidak kau makan? Tidak seperti biasanya kau mengabaikan makanan." Elie yang tidak sengaja memperhatikan Veronica, menyenggol siku temannya itu. Ia tahu benar jika napsu makan Veronica begitu besar, terlebih sejak pagi temannya itu mengatakan jika tidak sempat sarapan.


Ditolehkannya kepala Veronica menghadap Elie, kemudian ia hanya memasang senyum kuda. "Aku merasa perutku sudah terisi penuh. Kau lihat bukan, aku baru saja menghabiskan satu piring makanan."


Elie terkekeh, ia melihat piring lainnya yang sudah kosong di lahap habis oleh Veronica. "Tidak seperti biasanya kau seperti ini. Biasanya kau baru akan berhenti jika sudah menghabiskan lima atau enam piring. Aaaw...." Tiba-tiba saja Elie mengaduh ketika kakinya seperti diinjak sesuatu.


"Ada apa, Sweetheart?" Mike mendadak panik, pria itu bahkan melepaskan garpunya begitu saja. Pun dengan Arthur serta Helena yang tidak kalah cemas menatap Elie.


"Tidak apa-apa. Kakiku hanya kram sedikit," kilahnya berdusta. Ekor matanya melirik ke arah Veronica, sudah pasti temannya itu dengan sengaja menginjak kakinya.


Mike mengusap kepala istrinya itu dengan sayang. "Setibanya di Mansion aku akan memijat kakimu."


Elie hanya mengangguki saja perkataan suami tercintanya dengan ekor mata yang terus mengarah pada Veronica.


Yang di tatap hanya acuh dan berpura-pura melanjutkan makannya. "Salahmu sendiri kenapa kau ingin membuatku malu di depan Tuan Darren." Namun Veronica hanya mengucapkannya di dalam hati. Belum saatnya Elie mengetahui perasaan yang ia miliki untuk Darren. Tentunya ia harus memiliki citra yang baik di hadapan lemari es itu.


Veronica senyum seorang diri, ia bahkan tidak sadar jika pria yang terus memenuhi isi kepalanya itu menatapnya. Begitu mendongak, ia nyaris tersedak lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Astaga, apa dari tadi dia memandangiku seperti itu? Jika memang benar, tolong siapapun pegang tanganku agar tidak diriku tidak melayang.


Kedua alis Darren mengernyit dalam. Ia begitu heran melihat Veronica yang senyum-senyum seorang diri sejak tadi. "Ada apa dengannya?" batinnya.


"Huumphh...." Suara Helena yang terdengar menahan gejolak di dalam perutnya menyita perhatian Arthur. Wanita itu terlihat menutup mulutnya dengan telapak tangan.


"Ada apa, Love?" Arthur mengakhiri makannya. Ia lebih mencemaskan istrinya alih-alih perutnya.


"Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa mual lagi," lirih Helena menahan gejolak di dalam perut yang kembali ia rasakan.


"Lagi?" cicit Elie menyela. "Apa kau sedang sakit, Helen?" tanyanya memastikan.


"Tadi pagi Helen juga seperti ini. Tapi setelah beristirahat sebentar dia sudah merasa lebih baik," ujar Arthur memberitahu. Sebelumnya ia sempat ingin menunda makan siang mereka, akan tetapi Helena tetap memaksa karena merindukan makan siang dengan Elie dan yang lainnya.


"Kalau begitu lebih baik kalian pulang saja," kata Mike menyarankan yang segera diangguki kepala oleh Elie tanda sependapat. Lagi pula mereka bisa melihat wajah Helena yang tiba-tiba saja memucat.


"Hm..." Arthur mengangguk. Memang sebaiknya mereka pulang saja. "Kita pulang saja, Love. Aku akan memanggil dokter ke Mansion," ucapnya lembut kepada Helena. Ia sungguh tidak tega melihat wajah pucat sang istri.


Helena yang merasakan tubuhnya melemas hanya bisa mengangguk saja. Padahal sebelumnya ia merasa baik-baik saja dan begitu lahap memakan makannya. Namun entah kenapa baru beberapa suap saja ia merasa mual.


Sementara Mike, Elie, Veronica dan Darren kembali melanjutkan makan. Hingga satu jam lamanya akhirnya mereka keluar dari Restauran.


"Vero, kau ikut denganku. Aku dan Mike akan mengantarmu ke apartemen." Elie menghentikan langkah dan menatap Veronica.


"Tidak perlu Elie. Aku bisa naik taksi. Lagi pula arah kita berlawanan." Veronica merasa sungkan, sebab ia tidak ingin merepotkan Elie dan Mike. Sudah cukup ia ditraktir makan siang di Restauran mewah dan mahal.


"Tidak masalah, Mike juga tidak akan keberatan." Elie menangkap suaminya hingga Mike menganggukkan kepala sebagai jawabannya.


"Tidak! Lagi pula aku tidak langsung pulang ke apartemen, aku masih harus ke supermarket lebih dulu."


Elie terlihat mengangguk ragu. "Tapi apa kau yakin tidak apa jika aku tidak menemanimu?" Dan ia bertanya memastikan. Biasanya jika ke supermarket, Veronica meminta dirinya untuk menemani.


"Tidak apa, aku bisa sendiri. Aku sudah dewasa, Elie. Kenapa kau seperti mencemaskan seorang anak kecil?" Veronica berujar sembari terkekeh, hingga Elie turut terkekeh.


"Baiklah kalau begitu, kau harus berhati-hati. Kabari aku jika sudah sampai di apartemen." Perkataan Elie itu seperti seorang kakak yang tengah mencemaskan adiknya. Dan Veronica sudah terbiasa akan hal itu.


"Ok. Sudah sana, pergilah. Kasihan Tuan Mike terlalu lama menunggumu." Lirikan mata Veronica berpindah pada sosok suami teman baiknya itu yang sudah berdiri di sisi mobil.


Elie mengangguk dan segera melangkah mendekati suaminya yang sudah menunggu. Ia masuk ke dalam mobil begitu Mike membukakan pintu mobil untuknya.


Veronica melihat mobil mereka yang perlahan menjauh dari jangkauan matanya.


"Astaga...." Dan ia terkesiap begitu berbalik badan akan keberadaan Darren yang sudah berdiri tepat di hadapannya. Padahal sebelumnya ia melihat jika pria itu masih berbicara di sambungan telepon. "Kau mengejutkanku. Bagaimana jika aku terkena serangan jantung," keluhnya sembari mengusap dadanya.


"Tapi Nona baik-baik saja." Tatapan datar Darren itu menelisik Veronica yang nampak baik-baik saja. Wanita itu saja yang begitu berlebihan.


"Memangnya kau seorang dokter?" tanya Veronica dengan bibir yang mencebik maju. "Siapa tau saja aku memiliki penyakit dalam yang tidak diketahui."


"Lalu apa hubungannya denganku, Nona?" sahut Darren seadanya.


"Tentu saja ada hubungannya. Kau harus bertanggung jawab!" Mata Veronica melebar seolah ia tengah menggertak pria dingin itu.


Alis Darren terangkat satu saat mendengar perkataan Veronica. "Bertanggung jawab untuk apa?" Dan ia merasa jika tidak melakukan kesalahan apapun terhadap wanita di hadapannya itu.


"Bertanggung jawab karena sudah membuatku jatuh cinta padamu." Inginnya berkata seperti itu, tetapi Veronica hanya berani bicara di dalam hati saja.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...