The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Berpose Seksi?)



Hanya berjarak satu inci saja wajah Austin tepat berada di depan wajahnya. Dan hidung mereka pun nyaris bersentuhan. Yang membuat Licia menelan saliva dengan susah payah adalah tatapan mata Austin seolah mampu melumpuhkan seluruh organ tubuhnya. Bahkan lututnya benar-benar terasa lemas dengan debaran jantung yang bekerja lebih cepat. Gadis itu sangat yakin jika Austin melepaskan tangan dari pinggangnya, dipastikan saat itu juga ia terjatuh dan menghantam lantai lorong hotel.


"Kenapa, hm?" Sumpah demi Tuhan, suara bariton Austin mampu menenggelamkan Licia di dalam lautan pesona suaminya itu.


Kedua mata Licia mengerjap berulang untuk menyadarkan dirinya agar tetap waras. Beberapa detik saja ia nyaris gila. Sebab Austin yang sudah menjadi suaminya, berkali-kali lipat lebih tampan. Wajar saja jika wanita-wanita diluar sana banyak yang menginginkan pria itu. Pria yang justru memilih dirinya untuk dijadikan istri. Tentu saja ia merasa beruntung.


"Licia..." Austin mengeram rendah dan sedikit mengguncangkan pinggang Licia. Sebab sedari tadi gadis yang sudah menjadi istrinya itu hanya diam. Ia cemas jika terjadi sesuatu dengan Licia.


Guncangan yang dilakukan Austin berhasil menyetak lamunan Licia. Gadis itu segera berdiri dengan benar dan memasang senyum penuh kecanggungan, meski posisi mereka sudah berjarak. Akan tetapi debaran di dadanya masih jelas terasa.


"Kau baik-baik saja? Berapa banyak kau minum, hm?" Austin bertanya memastikan. Ia mengira jika keadaan Licia saat ini dipengaruhi oleh alkohol, karena ia dapat mencium aroma alkohol yang tersisa dari hembusan napas Licia.


Pertanyaan Austin membuat gadis itu kembali terkesiap. Ia mendapati raut wajah Austin yang sedikit menekuk lantaran kesal.


"A-aku hanya minum satu gelas saja." Gadis itu ragu saat mengatakannya, sebab sebelumnya ia sudah diperingati oleh Austin agar tidak minum. Tetapi dilanggar olehnya, sebab tidak tahan untuk tidak mencicipi saat mereka semua minum. Namun niat hati hanya ingin minum sedikit, justru menghabiskan satu gelas penuh.


Melihat decakan di bibir Austin, membuat Licia mengikis jarak mereka. Ia menyadari ketidaksukaan pria itu saat perkataannya tidak diindahkan olehnya yang notabennya sudah menjadi istri. Dilingkarkannya satu tangannya pada pinggang Austin, sedangkan tangan lainnya mengapit dagu suaminya itu.


"Aku salah. Aku minta maaf, oke?" Setidaknya Licia harus mengakui kesalahannya yang tidak menurut pada suaminya.


"Jadi kau mengakui kesalahanmu, hm?" Austin bertanya disertai mata yang menyipit tajam.


Sebagai jawabannya, gadis itu mengangguk pelan. "A-aku salah karena tidak menuruti perkataanmu. Lain kali aku tidak akan minum lagi," lirihnya menunduk. Menghindari tatapan mata Austin yang tajam.


Austin menghela napas. Ia tidak marah, hanya tidak ingin Licia mabuk di malam pertama mereka tidur bersama. Karena tidak ingin membuat Licia menjadi tidak nyaman, satu tangannya terulur untuk mengangkat dagu Licia, sontak saja tatapan Licia bertemu dengan tatapannya yang mulai melembut.


"Aku tidak melarangmu minum. Aku juga tidak akan membatasimu. Kau bebas melakukan apapun, asalkan kau selalu ingat jika saat ini aku adalah suamimu. Jika suatu hari nanti aku melarangmu ini dan itu, maka kau harus menurut. Mengerti, hm?" ucapnya memberi pengertian, kemudian mengusap puncak kepala istrinya. Saat ini dirinya adalah pengganti Daddy Zayn, sudah pasti ia yang akan mengarahkan Licia untuk menjadi istri yang baik. Meski sedikit tangguh dan ceroboh, Licia tetap gadis yang manja.


Licia terperangah sejenak karena lagi-lagi ia terpesona oleh sikap Austin. Sebelum kemudian mengangguk patuh.


Melihat anggukan kepala Licia yang menggemaskan, Austin terkekeh kecil. "Kalau begitu, kau juga menurut untuk yang satu ini."


Tanpa aba-aba, Austin menggendong Licia ala bridal style, hingga sukses membuat gadis itu memekik lantaran terkejut. Namun sadar akan sekitarnya, gadis itu kembali membungkam. Dengan santai, Austin berjalan menuju kamar mereka, tidak peduli tindakannya saat ini terpantau oleh CCTV. Lagi pula, jika ada yang berani menegur dirinya, maka hanya perlu membungkam mereka untuk selamanya.


Setelah berada di dalam kamar yang begitu luas, Austin menurunkan Licia. Gadis itu menatap kesal pada suaminya yang tiba-tiba menggendong dirinya hingga belahan gaun pada area pahanya nyaris tersingkap.


"Bukankah sebelumnya kau mabuk? Kenapa begitu kuat menggendongku?" Tidak habis pikiran dengan Austin. Jelas-jelas ia melihat suaminya itu mabuk. Benar-benar mabuk. Tetapi ternyata orang yang sedang mabuk mampu menggendong dirinya.


Austin tidak berniat menjawab. Hanya terkekeh kecil. "Mandilah," ujarnya kemudian tanpa mengindahkan pertanyaan sang istri. Saat ini, ia hanya ingin istrinya membersihkan diri terlebih dahulu. Mengenal Licia sejak kecil membuatnya tahu betul kebiasaan wanita itu yang selalu mandi sebelum tidur.


Bibir Licia mencebik maju. Ia kesal karena lagi-lagi seperti dipermainkan. "Baiklah, aku akan mandi. Tubuhku benar-benar lengket, padahal seharian ini berada di ruangan ber-AC," sahutnya berkeluh kesah. Tangannya sudah sibuk meraba-raba pengait gaun yang berada di punggung. Sungguh sial ketika tangannya tidak sampai menyentuh pengait pada gaunnya. Sebelumnya ia dibantu oleh perias wanita dan kini ia merasa sangat kesulitan.


"Butuh bantuanku, hm?" Austin menawarkan diri. Ia sadar jika istrinya itu tidak dapat membuka pengait gaun yang dikenakannya.


"Ya, tolong kau bantu melepaskan pengaitnya." Licia segera meraih seluruh rambutnya yang panjang bergelombang itu, lalu melampirkan ke pundaknya. Kemudian bergerak mundur untuk memposisikan diri berada di hadapan Austin.


Tentu saja dengan senang hati Austin membantu Licia. Tanpa berlama-lama ia menyentuh punggung gaun Licia dan mulai melepaskan pengait yang tersembunyi itu. Perlahan tapi pasti, gaun Licia terbuka seiring gerakan tangan Austin turun kebawah. Tanpa disadari oleh gadis itu, Austin tengah menahan napasnya, tubuh serta wajahnya nampak tegang. Bagaimana tidak, ini adalah kali pertama Austin membuka gaun wanita dan melihat punggung mulus wanita. Seumur hidup, ia tidak pernah melihat wanita bertelanjang. Meski sudah sering melihat wanita berbikini di pantai atau di kolam renang.


"Su-sudah cukup." Tiba-tiba saja Licia menghentikan pergerakan tangan Austin. Jujur saja gadis itu pun merasa tegang ketika tanpa sengaja tangan Austin menyentuh kulit punggungnya dan hal tersebut membuat tubuhnya meremang. "Aku akan membukanya di dalam kamar mandi," lanjutnya bergerak menjauh. Tanpa menoleh maupun memandang lawan bicaranya, Licia segera berlari menuju kamar mandi dan menutup pintu dengan keras. Hanya reflek saja, sebab gadis itu tengah dilanda kegugupan yang luar biasa.


Menyadari kegugupan Licia, Austin menyugar kasar rambutnya. Ia pandangi pintu kamar mandi sesaat, sebelum kemudian berjalan ke balkon untuk menjernihkan pikirannya yang kotor.


"Haahhh..." Menghembuskan napasnya ke udara. Jujur saja dirinya pun begitu gugup. Tetapi kegugupannya tertutupi oleh sikap dan tatapan datarnya. Meski semua sudah terancang di dalam otaknya, tetapi tetap saja ia adalah pria yang tidak pernah menyentuh maupun disentuh oleh wanita.


Jangan mengira jika Licia baik-baik saja setelah perbuatan Austin yang berhasil membuatnya gugup. Gadis itu bahkan berulang kali menarik napas untuk menetralisir detak jantung yang memompa lebih cepat. Sehingga saat detak jantungnya kembali berdetak normal, gadis itu mulai membersihkan diri di bawah guyuran shower. Meski terdapat bathub disana, tidak membuat Licia tergugah untuk berdendam. Gadis itu buru-buru membersihkan dirinya seolah Austin benar-benar tengah menunggu dirinya. Menunggu dirinya untuk apa? Aakhh gila, wajahnya kembali memerah. Benar-benar merah. Ia sudah membayangkan yang iya-iya. Dan malam ini, apa mereka akan melakukannya? Tolong, Licia benar-benar gugup malam ini. Apa yang harus ia lakukan? Tersenyum menggoda ataukah berpose seksi seperti wanita-wanita yang ia lihat di club malam?


See you next bonus chapter


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...