
Sore ini mobil yang dikendarai Arthur membelah pusat Kota London dengan kecepatan rendah. Ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda di perusahaan. Dan saat ini mobilnya melaju menuju rumah sakit karena Elie masih harus mendapatkan perawatan selama beberapa hari dan tentunya Mommy Elleana tidak membiarkan adiknya itu seorang diri berada di rumah sakit.
Selama dirinya berada di rumah sahut, Arthur sudah memberikan tugas kepada Darren serta Chris agar mendatangi salah satu rumah bordir di kawasan Red Light District di Manchester yang berjarak 4 jam dari Kota London. Sebuah bisnis ilegal yang dijalankan oleh Alan Born dan menjadi pendapatan terbesar yang selalu dicapai oleh pria tua itu. Tentu Arthur harus menebas hingga ke akar-akarnya sumber pendapatan pria tua keparat itu.
Meski ilegal, pihak berwajib seolah menutup mata atas praktek tersebut. Terlebih Arthur dan yang lainnya menemukan sebuah fakta jika beberapa polisi yang ingin sekali memenjarakan Austin adalah pihak yang selalu menutup mata atas bisnis yang dijalankan oleh Alan Born. Bahkan sebenarnya polisi-polisi tersebut sering menyewa jasa para pekerja sekss di rumah bordir tersebut.
Beberapa hari sebelumnya, Arthur sudah mengetahui siapa yang selama ini diam-diam selalu mengikuti Elie. Siapa lagi jika bukan orang-orang suruhan Alan Born yang ingin menjadikan adiknya itu sebagai target selanjutnya. Menculik dan menjual adiknya pada seseorang yang berkuasa di dunia bawah sepertinya. Arthur benar-benar geram, amarahnya memuncak kala itu dan ingin sekali menyerang Alan Born beserta orang-orangnya. Namun Darren dan juga Chris menahannya dan tetap ingin melanjutkan rencana mereka, yaitu menghancurkan secara perlahan. Mulai dari perusahaan Born, rumah bordir dan yang terakhir adalah membuat putrinya yang bernama Carmela Born beserta menantunya itu menderita seumur hidup.
Pikiran Arthur berkelana entah kemana hingga kecepatan mobilnya diperlambat karena lampu lalu lintas di depannya berubah merah. Sedari tadi Arthur berbicara dengan Darren melalui sambungan telepon menggunakan earphone. Hingga pada saat mengedarkan pandangannya keluar jendela mobil, sorot matanya tertuju pada sebuah mobil yang tidak asing menurutnya. Keningnya berkerut dalam karena ia dapat melihat dengan jelas pria yang berada di dalam mobil itu tidak lain ialah Mikel Jhonson dengan seorang wanita. Tanpa sadar Arthur mencengkram kemudinya, ternyata pria itu tidak sungguh-sungguh dengan ucapannya, pikirnya.
"Ar, kau mendengarku?" Suara Darren di seberang sana berusaha memastikan jika saluran mereka masih tersambung, lantaran tidak mendapatkan respons apapun dari Arthur.
"Ya, aku mendengarmu." Arthur menyahut tanpa mengalihkan pandangan dari mobil tersebut, hingga kemudian lampu berubah menjadi hijau dan mobil pria itu berlalu. Arthur mengikuti mobil Mikel dari jarak aman, tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh. Ia hanya mengiyakan pada saat Darren memberitahukan jika mereka sudah tiba di Manchester, tepatnya sudah berada di depan rumah bordir tersebut.
"Kalian berhati-hatilah. Jangan sampai ketahuan. Jika mereka sudah mencurigai kalian, sebaiknya pergi dari sana," katanya kemudian. Dalam keadaan mengikuti mobil Mikel, Arthur memperingati keduanya agar rencana mereka berjalan dengan lancar.
"Baik Ar." Dan keduanya memutuskan sambungan telepon. Hingga detik kemudian, Arthur menepikan mobil begitu melihat mobil Mikel menepi di jembatan London Bridge yang berjarak 1 km dari Tower Bridge sehingga pemandangan Tower Bridge terlihat dengan jelas dari posisi mereka.
Sorot mata Arthur kian di pertajam pada saat pria itu sudah turun dari mobil disusul oleh seorang wanita. Wanita yang tidak asing, wanita yang belakangan ini selalu membuat masalah, sehingga ia harus membuang waktunya hanya untuk menggagalkan setiap rencana wanita itu.
Ya, wanita itu tidak lain ialah Helena Bonham. Entah apa yang akan mereka bicarakan disana. Arthur yang penasaran pun turun dari mobil dan melangkah perlahan, agar percakapa mereka mudah terjangkau.
"Sudah ku katakan bukan aku yang melakukanya. Stop menuduhku seperti itu!" Suara Helena terdengar samar-samar di telinga Arthur.
"Jangan mengelak lagi, Helen. Aku melihatmu bertemu dengan wanita ular itu beberapa hari yang lalu. Bahkan saat makan siang tadi dia ingin menukar informasi mengenai dirimu dengan kontrak kerjasama perusahaan!" bentak Mikel. Tentu ia tidak akan mudah menerima kerja sama perusahaan mereka sebelum memastikannya terlebih dahulu. Dan jika saja ia disana terdapat orang banyak, mungkin mereka sudah menjadi pusat perhatian karena keduanya saling berteriak.
Siang tadi Carmela menghubungi Nathan dan memohon untuk bertemu dengan Mikel yang masih berada di Wales, sehingga membuat Mikel terpaksa mengiyakan permintaan wanita itu saat mendengar bahwa selama ini seseorang mengincar wanitanya. Mikel bahkan terkejut, seseorang itu tidak lain adalah Helena Bonham.
Mendengar penuturan Mikel, Helena tertegun sejenak. Ia tidak menyangka jika Mikel melihat dirinya bertemu dengan Carmela di restauran saat itu. Terlebih wanita itu telah membuat cerita seolah-olah dirinya adalah pelaku utama yang ingin menyingkirkan wanita yang bernama Elie.
"Tapi aku benar-benar tidak melakukannya. Bukan aku.... aku tidak tau apapun." Helena menggeleng, kali ini suara Helena terdengar bergetar, sudah berulang kali ia memberitahu bahwa bukan dirinya yang menyebarkan foto tersebut, tetapi Mikel tetap tidak mempercayai dirinya.
"Seharusnya sejak awal aku bersikap tegas padamu. Dengan begitu kau tidak akan bisa berbuat sesuka hatimu dan mengganggu wanitaku!" teriak Mikel meluapkan emosinya.
"Karena kau sama seperti wanita itu yang melakukan berbagai macam cara untuk mendapatkan keinginanmu!" serunya.
"Ya, aku memang seperti itu Mikel!" Helena tidak mengelak dan membenarkan apa yang diucapkan oleh pria di hadapannya itu. "Itu semua karena salahmu. Kenapa saat itu kau menyelamatkanku? Kenapa kau membiarkan aku berharap padamu? Seharusnya kau biarkan aku melompat dan kau tidak akan pernah berurusan dengan wanita sepertiku!" Helena mengguncang kedua lengan Mikel dengan kasar tetapi Mikel berusaha menepisnya.
"Jangan mengungkit hal itu. Aku menyelamatkanmu karena aku tidak ingin melihat seseorang bunuh diri di depan mataku!" Sungguh, Mikel tidak ingin menyinggung pertemuan pertama mereka yang akan semakin mengguncang Helena.
"Kalau begitu pergilah, jangan menunjukkan wajahmu di depanku lagi." Tenaga Helena sudah terkuras habis, rasanya ia tidak sanggup untuk berteriak lagi. "Kau ingin percaya atau tidak, aku sudah tidak peduli," cicitnya kemudian dengan lirih. "Satu hal yang harus kau ketahui, aku memang tidak terima saat wanita itu merebutmu dariku. Tapi aku tidak pernah berniat untuk mencelakainya. Mungkin yang kau katakan saat itu benar bahwa aku tidak mencintaimu. Kita memang tidak saling mencintai, karena itu untuk ke depannya kita tidak perlu saling bertemu lagi."
"Aku-" Suara Mikel tertelan kembali saat suara dering ponsel mengganggunya. Ia segera menjawab panggilan telepon yang tertera nama Jared di layar ponselnya. "Aku akan pulang!" Mikel mematikan sambungan telepon dan tergesa-gesa masuk ke dalam mobil. Tanpa berpamitan kepada Helena, mobil Mikel berlalu pergi begitu saja.
Air mata Helena berhamburan di wajahnya dan menatap nanar mobil yang semakin berlalu jauh itu. Ternyata memang tidak ada harapan untuknya merebut hati Mikel, karena sampai kapanpun pria itu tidak akan bisa menerimanya.
Helena menyeka air matanya, sebelum kemudian menarik napas dalam lalu menghembuskan secara perlahan. Ya, sejak pertemuan terakhir dengan Mikel di perusahaan pria itu, Helena sudah memutuskan untuk menyerah. Dan sialnya wanita ular itu memanfaatkan keadaan sehingga membuat kesalahpahaman di antara mereka.
Saat mobil Mikel benar-benar lenyap dari pandangannya, Helena membalikkan tubuhnya. Kedua mata wanita itu dibuat terkejut lantaran menabrak dada seorang pria yang tidak lain ialah Arthur.
"Kau lagi?"
To be continue
Helena
...Yoona gak pernah lupa ingetin kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...