
BUGH
BUGH
Jacob menghajar Maxime dengan membabi buta. Ia tidak terima karena pria itu berhasil menembak Austin, meski bisa dilihat jika Austin nampak baik-baik saja.
"Jac, hentikan. Serahkan dia pada kami." Albern mencoba menghentikan Jacob dengan menarik bahu temannya itu. Jacob segera menyingkir, ia akan menyerahkan Maxime pada Albern dan Beryl serta Maxwell. Lalu segera berjalan menghampiri Austin.
Sedangkan Lion Boys hanya diam ditempat, mereka akan membantu jika Albern, Beryl dan Maxwell membutuhkan bantuan mereka.
Entah sejak kapan ciuman Austin dan Licia sudah berakhir. Jacob mendapati Austin tengah mendekap adiknya yang tidak sadarkan diri.
"Ada apa dengannya?" tanya Jacob. "Apa ciumanmu yang membuatnya seperti ini?" lanjutnya bernada ejekan.
Austin mengedikkan bahunya acuh. "Sebaiknya kita segera membawa Licia ke rumah sakit." Tidak nampak rasa bersalah karena telah mencium Licia, meskipun disaksikan oleh kakak dari gadis itu.
"Ya, lukamu juga harus segera di obati, As." Perkataan Jacob membuat Austin menyadari jika dirinya terluka. Luka yang tidak seberapa, sebab peluru itu hanya melesat dan tidak mengeluarkan darah begitu banyak.
"Aku baik-baik saja," ucap Austin menyampaikan apa yang ia rasakan.
"Tapi tetap saja lukamu harus diobati!" Jacob tetap bersikukuh. "Berikan Licia padaku, biar aku yang menggendongnya." Lalu segera mengambil alih sang adik dari dekapan Austin. Jika Austin yang menggendong Licia, ia khawatir akan menekan luka tembak di bahu pria itu.
Jacob dan Austin bersama-sama menghampiri Lion Boys. Mereka mengabaikan teriakan Maxime yang menggelegar. Bagi mereka apa yang diterima pria itu adalah bayaran yang setimpal karena telah berani menculik Licia dan menantang Black Lion serta Red Dragon.
"Aku akan membawa Licia ke rumah sakit," ujar Jacob bermaksud berpamitan. Setelah diiyakan oleh mereka, Jacob segera berlalu menuju mobil yang sudah disiapkan oleh anak buah. Kemudian memasukkan Licia ke dalam mobil, setelahnya ia menyusul masuk. Mobil itu berlalu meninggalkan kawasan Bloods Dead.
"Bagaimana dengan Demon?" tanya Austin menyeka darah yang membekas di bahunya dengan kain yang diberikan oleh Elden.
"Demon sudah diamankan dan akan dibawa ke Markas Red Dragon," sahut Elden. "Dan dia memiliki dendam pribadi dengan Paman Zayn," lanjutannya memberitahu. Ia serta yang lain mendengarkan alasan Demon memiliki motif menyerang mereka melalui Licia dan Bibi Angela.
"Darah di bahumu masih keluar, As. Sebaiknya kau segera ke rumah sakit." Liam meringis melihat darah yang tiada henti mengucur dari bahu Austin yang terluka.
Dilemparkannya kain bekas noda darahnya pada Liam. "Kau ikut denganku dan sisanya bantu Albern dan yang lain," ujarnya. Sebelum kemudian Austin melangkah mendekati Gavin dan menghentikan langkahnya sebelum melintasi Gavin.
"Ada apa dengan wajahmu, Gav?" Menepuk-nepuk bahu Gavin dengan kekehan kecil. Austin sedikit merasa heran mendapati Gavin yang sedikit lebih diam hari ini.
Mendengar perkataan Austin, Gavin mendecakkan lidah. "Wajahku memang seperti ini. Lalu aku harus memasang wajah seperti apa, heh?!" sungutnya kesal sambil berlalu pergi.
Austin mengernyit heran. Respons Gavin berlebihan menurutnya. Tepukan di punggungnya membuat Austin menoleh ke arah Liam.
"Abaikan Gav. Sejak tadi dia memang sedikit sensitif," ujar Liam disertai kekehan kecil. Austin mengangguk saja, ia tidak terlalu memusingkan sikap Gavin yang nampak berbeda. Keduanya bergegas meninggalkan kawasan Bloods Dead menuju rumah sakit.
***
Di dalam ruangan perawatan VVIP, terdapat pria paruh baya yang berjalan kesana-kemari. Sesekali ia mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya dengan kasar.
Wanita setengah baya yang masih terlihat sangat cantik itu memperhatikan dengan gelengan kepala di atas pembaringannya. Sedari tadi suaminya itu nampak gusar karena belum mendapatkan laporan dari anak buahnya.
"Apa kau tidak lelah, Zayn?" Ya. Saat ini Mommy Angela berada di rumah sakit, dengan Zayn yang selalu sigap menjaga dirinya. Zayn menoleh ke arah sang istri. Mommy Angela menepuk-nepuk sisi ranjang. "Kemarilah. Aku ingin bersandar padamu."
Zayn mengangguk. Apapun keinginan istrinya akan selalu ia penuhi. Melangkah menuju ranjang dan membenamkan tubuhnya tepat di tepi ranjang.
"Licia pasti baik-baik saja. Kita harus mempercayai Jac dan As. Mereka tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada putri kita." Mommy Angela mencoba menenangkan Zayn. Biar bagaimanapun putranya adalah keturunan suaminya itu, sudah pasti akan melakukan yang terbaik untuk melindungi orang-orang yang disayanginya. Terlebih di dampingi oleh Austin putra dari Xavier, sudah pasti mereka tidak akan bisa dikalahkan.
Zayn mendesahkan napas berat. Ia mengangguk ragu, meskipun sebenarnya sangat mempercayai kemampuan keduanya. Jika saja istrinya tidak melarangnya untuk bergabung, sudah ia pastikan musuh-musuhnya itu tidak akan menghirup udara bebas kembali.
"Seperti aku yang baik-baik saja, Licia juga akan baik-baik saja. Kemarin As dan Jac sangat melindungiku." Mommy Angela teringat akan kejadian dua hari yang lalu, saat mobil yang mereka tumpangi ditabrak oleh truk besar dan terguling, Austinlah yang melindungi dirinya serta Licia. "Mereka pasti akan melindungi putri kita juga. Apa kau lupa dengan Albern, Elden dan yang lainnya? Mereka sudah pasti akan membantu Jac dan As," imbuhnya. Ia sangat mempercayai Jacob dan Austin. Karena itu meskipun dirinya mencemaskan keadaan putrinya, ia mencoba bersikap tenang. Mengingat Jacob, Austin serta yang lainnya sedang berusaha menyelamatkan Licia, sehingga ia bisa sedikit bernapas.
Sedikit merasa lebih tenang, Zayn memeluk sang istri dengan sayang. Istrinya itu berkata benar, ia dan sang istri dikelilingi oleh putra-putra hebat yang akan selalu siap melindungi.
"Master...." panggilnya dan bertemu pandang dengan Zayn.
Zayn yang mengerti segera menghampiri satu anak buahnya itu usai melabuhkan kecupan singkat di kening Mommy Angela.
"Ada apa?" tanyanya setelah mereka sudah berada di depan ruangan.
"Nona Licia baik-baik saja dan saat ini dalam perjalanan menuju rumah sakit."
Batu besar yang sebelumnya menghimpit dadanya berangsur lenyap seketika. Apa yang ia dengar adalah kabar yang sangat melegakan.
"Katakan pada suster agar segera menyiapkan satu ruangan yang akan ditempati bersama istriku," ujarnya yang segera diangguki kepala oleh anak buahnya tersebut. "Lalu bagaimana dengan Demon dan Maxime?" tanyanya kemudian. Beberapa jam yang lalu ia baru saja mendengar jika motif Demon menyerang kelompoknya karena dendam padanya. Jujur saja ia tidak mengerti apa yang disampaikan oleh pria tua itu sehingga harus memendam dendam padanya.
"Mereka akan dibawa ke Markas, Master."
Zayn menyeringai puas. "Bagus. Aku akan memberikan mereka pelajaran. Jangan biarkan mereka tewas lebih dulu!"
Anak buah tersebut mengangguk mengerti. "Dan ada hal lainnya lagi, Master."
"Apa?" Zayn mendelik, ia tentu penasaran.
"Tuan Muda As tertembak."
"Apa kau bilang??!" serunya terkesiap. Zayn nyaris tidak mempercayai laporan anak buahnya itu.
"Tuan Muda As terluka di bagian bahu kanannya." Ia mengulang kembali perkataannya, lebih detail dengan memberitahukan bagian tubuh Austin yang tertembak.
"Lalu, bagaimana keadaannya?" Zayn harus memastikan keadaan Austin, sebab ia akan merasa tidak enak dengan Xavier. Austin sudah membantu menyelamatkan putrinya dan kini harus menerima luka tembak. Tentu ia merasa cemas.
"Tuan Muda As baik-baik saja. Dan dari laporan yang kudengar jika Tuan Muda As juga sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit ini."
Zayn mengangguk mengerti. "Pergilah. Laporkan apapun yang terjadi di markas dan pastikan Demon dan pria yang bernama Maxime itu masih bernyawa." Lalu diayunkannya satu tangan tanda mengusir. Anak buahnya itu mengangguk dan segera berlalu pergi.
Setelah kepergian anak buahnya, Zayn kembali masuk ke dalam ruang perawatan. Detik itu juga ia beradu pandang dengan istrinya yang ternyata sedang menatapnya.
"Ada apa, hm?" Mommy Angela mengulurkan satu tangannya agar suaminya itu mendekat.
Zayn menurut dan mendekati ranjang, ia kembali mendudukkan dirinya di sisi ranjang.
"Licia baik-baik saja dan saat ini dalam perjalanan menuju rumah sakit." Tangan Zayn kemudian terulur mengelus wajah istrinya.
Mommy Angela mengembangkan senyum. "Syukurlah." Ia bernapas penuh kelegaan mendengar keadaan putri mereka.
Zayn mengulas senyum lembut. Ia tidak memberitahukan jika Austin terluka karena tidak ingin membuat istrinya itu merasa bersalah.
To be continue
Udah ya 3 bab dulu, soalnya nanti malam Yoona ada acara halalbihalal ðŸ¤
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...