The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Dokter Cinta



Keesokan harinya, Arthur benar-benar memanggil Dokter Oscar ke Mansion. Pemeriksaan yang Dokter Oscar lakukan tidak mendapatkan gejala berbahaya apapun, hanya saja pasca sadar dari koma Arthur diharuskan beristirahat selama satu bulan, terlebih luka tembakan yang di terima tidaklah main-main. Meskipun tubuh Arthur terlihat tahan banting dan mampu menerima hantaman peluru, tetapi tetap saja pria itu hanya manusia biasa yang bisa terluka kapan saja yang mungkin bisa mengakibatkan kematian.


"Kau terlalu bekerja keras, Ar. Perusahaan Keluarga Kalian tidak akan gulung tikar jika kau beristirahat setidaknya selama satu minggu saja." Kata Dokter Oscar memberi nasihat, entah akan diterima atau tidak, Oscar tidak peduli.


"Aku bukan pasien yang terluka parah, jadi untuk apa beristirahat!" seru Arthur bersungut kesal. Sungguh menurutnya, Dokter Oscar sangat cerewet.


"Tapi kau baru saja sadar dari koma. Itu artinya kau pasien yang masih butuh pengawasan. Seharusnya kau memanggil Dokter spesialis dalam, kenapa memanggil Dokter Psikolog sepertiku?" sahut Dokter Oscar sembari membereskan perlengkapan dokter seperti stetoskop, tensimeter dan senter medis. Sungguh heran dengan Arthur yang justru memanggil dirinya, tetapi anehnya ia pun bergegas datang ke kediaman Romanov. "Kau tau bukan, jika dokter sepertiku hanya melakukan test psikologi untuk mendiagnosa penyebab, gejala ataupun tanda-tanda yang mengarah pada gangguan mental."


"Stop Oscar, kau sudah menjelaskan pekerjaanmu ribuan kali. Aku tidak ingin mendengarnya lagi!" Jengah jika harus mendengarkan mengenai job desk Oscar, bisa membutuhkan waktu berjam-jam lamanya jika pria itu sudah berceloteh.


"Aku hanya mengingatkan saja, bisa saja kau mengalami amnesia." Dan perkataan Oscar seperti sengaja menyindir Arthur, sudah tahu pekerjaannya berbeda dengan Dokter yang lainnya, masih saja temannya itu menggunakan jasanya perihal memeriksakan detak jantung.


"Ck, sebaiknya kau jangan terlalu banyak bicara. Biar bagaimanapun aku adalah pasienmu. Kau harus mengobatiku bagaimana pun caranya!" Ya, Arthur tidak mau tahu, selama ini ia pun menggunakan jasa Oscar untuk menangani Alter Ego-nya.


"Apa? Kau jahat sekali." Oscar pura-pura terkejut. Yang sebenarnya ia sudah terbiasa ditekan seperti itu oleh pria di hadapannya. "Apa aku harus mengobati jantungmu yang berdebar-debar? Kenapa tidak kau panggil saja ahli jantung? Siapa tau jantungmu benar-benar cidera, Ar."


"Ck, kau semakin tidak waras. Kau menyumpahi jantungku bermasalah?!" Tidak terima, Arthur meninggikan suaranya.


"Bukankah sejak tadi itu yang kau keluhkan?!" Dan Oscar pun tidak ingin kalah, ia mengingatkan keluhan yang dirasakan oleh Arthur.


Arthur diam sejenak, memang benar itu yang ia keluhkan. Ia tidak tahu penyebab jantungnya yang berdebar-debar tanpa sebab.


"Ar, dalam dunia medis jika kondisi seperti itu hanya dua kemungkinan, kau memiliki riwayat sakit jantung atau..." Oscar ragu untuk mengatakannya, sebab ia tahu jika itu tidak mungkin dirasakan oleh pria seperti Arthur.


"Apa? Kenapa bicara setengah-setengah seperti itu?" Arthur mengernyit heran, mendadak rasa penasaran memuncak.


"Begini, setiap tubuh manusia di banjiri dengan beberapa hormon yang menghasilkan perasaan senang, sedih, obsesi dan masih banyak perasaan lainnya. Tapi yang jadi pertanyaanku, apa kau merasakan jantungmu berdetak lebih cepat seharian penuh?" tanyanya memastikan.


"Tidak, hanya sesekali saja. Dan aku tidak tahu kenapa seperti itu."


Oscar mengangguk mengerti. "Adrenalin dan norepinefrin bisa membuat detak jantung berdetak lebih cepat dan telapak tangan yang terus mengeluarkan keringat, bahkan norepinefrin bisa membuat seseorang kesulitan tidur. Apa kau merasakan seperti itu, Ar?" Mata Oscar mendelik, ia mencari jawaban apa yang baru saja ia terangkan. Jika Arthur benar-benar mengalami apa yang ia rasakan, berarti kesimpulannya memang benar.


Arthur nampak berpikir ragu, tetapi memang seperti itu yang ia rasakan. "Apa itu berbahaya? Aku ingin Dokter ahli menanganinya jika memang berbahaya."


Mendengar perkataan Arthur yang terkesan seperti orang bodoh, tidak tahu menahu mengenai perasaannya sendiri membuat Oscar tidak dapat menahan tawanya, hingga tawanya tersebut meledak.


"Ada apa denganmu? Apa kau sudah menjadi tidak waras, heh?!" Kesal dengan sikap Oscar yang tiba-tiba tergelak seperti seseorang yang kerasukan.


Melihat wajah garang Arthur yang kian menjadi, tawa Oscar menyurut, ia kembali memasang wajah serius. "Peran Reseptor Opioid mengaktifkan otak dan pikiran, sedangkan bagian Opioid memiliki peran untuk mengendalikan perasaan. Apa kau tau apa artinya itu, Ar?"


"Tidak! Katakan dengan jelas, sejak tadi kau hanya berputar-putar menggunakan bahasa doktermu itu!" Arthur yang kesal menyuruh Oscar untuk berbicara pada intinya saja. Ilmu kedokteran bukanlah bidangnya sehingga ia tidak bisa mencernanya dengan baik.


"Ar, kau sangat pintar dalam dunia bisnis. Aku mengakui kehebatanmu sama seperti Paman Vier, tapi kau bodoh karena tidak menyadari perasaanmu sendiri." Ingin rasanya mengulangi tawanya kembali, tetapi sorot mata Arthur yang tajam itu seperti melumpuhkan rahangnya.


"Wow, calm down Ar. Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Bergidik, itu yang dirasakan oleh Oscar. Ia tidak ingin tangan Arthur mengukir tatto di wajahnya. Oscar kemudian berusaha menarik tangan Arthur dari kerah kemejanya.


Arthur mendorong tubuh Oscar. "Sekarang jelaskan dengan benar, jangan berputar-putar!"


"Baiklah.... baiklah...." Oscar membenahi kemeja yang nyaris berantakan akibat ulah Arthur. "Sepertinya kau mengalami hormon oksitosin dan hormon vasopresin. Kau tidak mengerti bukan?" Oscar terkekeh melihat wajah Arthur kembali bingung. "Kedua hormon itu menunjukkan ketertarikan, lebih tepatnya kau sedang mengalami kasmaran, Ar. Apa kau benar-benar tidak menyadari perasaanmu?"


"Ketertarikan? Kasmaran?" Arthur mulai mencerna, ia mencoba mengulangi perkataan Oscar.


"Apa kau tertarik pada seorang wanita?" Dan Oscar mendelik curiga, dari wajahnya tentu saja ia gembira jika Arthur benar-benar tertarik dengan lawan jenis. Menandakan jika temannya itu normal, mengingat selama 27 tahun hanya seorang diri.


Merasa ditatap tidak biasa oleh Oscar, Arthur melayangkan tatapan tajam. "Jangan menatapku seperti itu! Menjijikan!"


"Baiklah, tapi aku penasaran siapa wanita yang berhasil menarik perhatianmu. Apa aku mengenalnya? Apa wanita itu sangat cantik? Atau dia wanita yang hebat di ranjang? Katakan Ar, aku-"


"Bedebah sialan! Aku tidak tertarik dengan wanita manapun!" Masih saja Arthur mengelak, entahlah ia belum dapat memastikan perasannya sendiri.


"Benarkah?" Tentu Oscar tidak percaya begitu saja. "Kau jangan membohongi perasaanmu Ar. Jika kau tertarik dengan wanita, kau bisa bergerak cepat dan membuatnya tidak bisa lepas darimu. Bagaimana jika ada pria lain yang juga menginginkannya." Oscar tidak bermaksud mengompori, hanya saja ia ingin Arthur lebih bersikap jujur dengan apa yang dirasakan. Jika jatuh cinta sedang dirasakan oleh Arthur, tentu wanita itu adalah wanita istimewa yang berhasil menaklukkan pria seperti Arthur.


Otak Arthur berpikir cepat, ingatannya berputar pada sosok Mikel dan pria yang bernama Edwin itu. Tentu Arthur tidak suka jika wanita yang berhasil mengganggu pikirannya di miliki oleh pria lain.


Merasa berhasil mempengaruhi Arthur, senyum Oscar mengembang sempurna. "Ternyata kau benar-benar sedang jatuh cinta, hahaha." Meski berita baik, tetap saja hal yang lucu untuk Oscar. "Ceritakan padaku, aku akan menjadi Dokter Cinta untukmu."


"Shut up fuckk up! Pergilah, aku tidak membutuhkanmu lagi!" Malu, tentu saja. Si bodoh Oscar sengaja ingin mempermalukan dirinya. Bahkan ia mual ketika Oscar menyebut dirinya sendiri dengan Dokter Cinta.


"C'mon Ar, perkataanmu menyakitiku." Oscar berpura-pura sedih disertai tangan yang menyentuh dada yang mendadak perih.


"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku menembak kepalamu!" Ancaman Arthur yang mematikan itu mampu membuat tubuh Oscar mendadak membeku.


"Baiklah, aku pergi." Oscar segera menyambar tas miliknya, lalu bergegas keluar dari kamar Arthur. Tentu ia masih sayang dengan nyawanya.


To be continue


Dokter Oscar



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...