The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Menyelamatkan 2



Pria itu berenang ke dasar kolam dan menarik tubuh Mike ke atas permukaan. Jika saja ia terlambat menyematkan, sudah pasti Mike akan kehabisan napas.


"Bertahanlah bodoh!" serunya menyeret tubuh Mike ke tepi kolam.


Derap langkah lebih dari satu terdengar samar-samar dan tak lama muncullah tiga pria. Dan salah satunya adalah Darren.


Darren segera membantu menarik Mike dari permukaan kolam renang, lalu meletakkannya di atas lantai yang dingin. Dengan segera ia memeriksakan denyut nadi pada pergelangan tangan Mike.


"Nadinya sangat lemah, Ar," ujarnya pada seseorang yang baru saja naik dari tepi kolam renang.


"Apa lukanya sangat parah?" Ya, Arthur adalah pria yang baru saja menyelamatkan Mike. Tanpa berpikir dua kali, ia terjun ke dalam kolam renang, lantaran mendapati adik iparnya tenggelam.


"Sepertinya dia baru saja tersayat benda tajam Ar. Dan dilihat dari lukanya terlihat membiru karena berasal dari racunnya." Darren kembali mengamati luka sayatan pada dada kiri Mike. Jika terkena benda tajam biasa, maka ditepi bagian yang terluka hanya akan memerah, tetapi tidak jika benda tajam itu sudah diberikan racun sebelumya, maka akan meninggalkan jejak kebiruan efek dari racun yang sedang bekerja.


Mendengar penuturan Darren, Arthur hanya menghela napas. Lalu beralih pada dua anak buah. "Bawa dia ke mobil dan berikan obat penawarnya."


"Baik Bos Ar." Keduanya mengangguk serentak. Dan segera memapah tubuh Mike untuk keluar dari bangunan berlantai tiga itu. Mereka akan memberikan obat penawar semampu mereka dan berharap racun itu belum menyebar ke anggota tubuh yang lain.


Jika sebelumnya terdengar suara sahutan peluru, kini tidak lagi. Suasana menjadi begitu hening dan membuat keadaan menjadi janggal.


"Periksa ke depan, Der!" ujar Arthur dan diangguki oleh Darren.


Darren melesat keluar ruangan dan berlari menuju pelataran. Beberapa anak buah Loz Zetas sudah terkapar dan sebagian terlihat baik-baik saja.


"Lebih baik obati luka kalian. Biar kami yang mengurus sisanya." Darren berjalan mendekati Sid, membantu pria itu untuk bangkit berdiri lantaran Sid terluka.


"Terima kasih." Tidak ada kalimat yang bisa diucapkan Sid selain rasa terima kasihnya. Berulang kali kelompoknya mendapatkan bantuan dari Black Lion.


Darren hanya mengangguk, bertepatan dengan Arthur yang berjalan ke arahnya. Hingga Darren memperhatikan penampilan Arthur yang basah sempurna.


"Lebih baik kau segera berganti pakaian." Darren memberi saran, mengingat udara yang dingin terasa menusuk hingga ke tulang. Terlebih Arthur juga sedang terluka. "Kau tidak seharusnya melompat Ar, apa kau lupa jika kau sendiri sedang terluka?!"


"Ck, setelah beberapa hari tidak bertemu, kau menjadi begitu cerewet, Der!" seru Arthur malas menanggapi. Ia lebih memilih melintasi Darren setelah melepaskan perban yang melingkar basah di kepalanya.


Darren hanya berdecih. Bukankah sejak dulu ia memang cerewet jika menyangkut keselamatan Arthur? Tak lama, Darren menyusul langkah Arthur menuju mobil. Terlihat Arthur yang sedang berganti pakaian di sisi mobil.


"Bagaimana jika semua orang tau jika Presdir Romanov Group bertelanjang bulat ditempat terbuka?" Darren mengejek Arthur yang kini sudah berpakaian lengkap.


"Mungkin akan menjadi trending topic," sahut Arthur diakhiri senyum kecut. Ia segera melesat masuk, mengambil alih kemudi. "Tidak ada waktu lagi untuk banyak bicara, Der! Aku harus segera menemukan istriku dan juga Elie!" Dalam beberapa detik saja wajah Arthur berubah menjadi sangar kembali.


Saat mendengar perkataan Arthur, tentu saja Darren segera memasuki mobil. Mereka segera berlalu dari sana diikuti oleh beberapa mobil anak buah. Tempat tujuan mereka adalah Rotherham di Pusat Kota North Yorkshire, sebuah perumahan yang dihuni oleh Alan Born. Arthur berharap adik dan istrinya berada disana. Dan begitu mobil mereka tiba disana, Arthur memerintahkan beberapa anak buah untuk berpencar dan sisanya mendobrak pagar besi yang menjulang tinggi itu.


"Berpencar!" teriak salah satu dari mereka. Seketika mereka saling berhamburan untuk saling melindungi dan menyerang musuh-musuh mereka yang ternyata menyerang dari atap.


Arthur dan Darren sudah siap dengan senjata mereka masing-masing. Kemudian membidikkan senjata ke arah musuh-musuh yang bersembunyi di atap. Tetapi alih-alih berkurang, musuh mereka semakin banyak dan bahkan menyerang dari arah berlawanan yang lain.


Arthur dan Darren saling membelakangi dan punggung mereka saling menempel.


"Sial!!" Tak hentinya Arthur mengumpat, sebab musuh-musuhnya tidak berkurang.


"Tidak salah lagi, mereka adalah Kartel Sinaloa!" seru Darren. Sebelumnya Arthur dan dirinya belum mengetahui siapa yang membantu Alan Born dan Jorge, sehingga mereka bisa membuat serangan yang tidak mudah. Tentu dengan biaya yang tidak sedikit dan kini mereka mendapatkan jawabannya. Setelah menghilang selama dua tahun, Kartel Sinaloa kembali muncul dan terlihat jauh lebih kuat.


Arthur tidak menanggapi. Rahangnya mengetat sempurna begitu mengingat ketua Kartel Sinaloa yang tidak lain ialah Vasco Escobar. Ternyata bajingan itu belum jera berurusan dengannya.


"Ar, kau baik-baik saja?!" Darren mencoba memanggil Arthur lantaran temannya itu hanya diam saja. Bahkan saat ini ia yang harus menerjang anak buah Kartel Sinaloa yang ingin menyerang.


"Aku akan menghabisi mereka semua!" Meski hanya gumaman, tetapi Darren dapat mendengarnya. Apa sisi lain dari Arthur mulai bangkit? Jika benar, maka habislah mereka.


"Tenangkan dirimu, Ar!" Darren tiba-tiba menjadi cemas, sebab jika Killer kembali menguasai, bukan hanya tidak akan mengenali mereka, tetapi juga istrinya sendiri. No, jangan sampai hal itu terjadi.


Dor


Dor


Darren tersentak kaget ketika peluru dari arah lain menghantam tubuh anak buah yang ingin menyerang dirinya disaat lengah. Saat menoleh ke arah asal peluru itu, Darren mendapati Mike yang kini sudah terlibat baku tembak. Ah, sungguh melegakan, sebab Mike terlihat baik-baik saja. Sedangkan Arthur tidak menunjukkan reaksi apapun, menatap Mike pun tidak, pandangannya tertuju pada para anak buah Kartel Sinaloa. Sebelum kemudian Arthur menggerakkan otot-otot lehernya. Ia segera mengayunkan sebagai api ke arah para anak buah Kartel Sinaloa yang menghalangi pandangannya. Wajah Darren begitu terlihat penuh kelegaan, sebab ia mendapati Arthur masih dapat mengendalikan dirinya. Ia pun membidikkan senjata dan mulai menembaki para anak buah Kartel Sinaloa.


Ketiga pria gagah itu mampu melumpuhkan banyaknya anak buah Kartel Sinaloa hanya dalam beberapa menit saja. Mike sebenarnya ingin menuntut penjelasan pada Arthur, sejak kapan pria itu sudah kembali dari Dubai? Sedangkan sejak pagi mereka mencari keberadaan Arthur dan Austin, tetapi begitu sulit. Akan tetapi, ia sangat senang melihat Arthur yang kembali dalam keadaan hidup, bahkan pria itu menyelamatkan dirinya disaat keadaannya juga terluka. Sungguh ia sangat berterima kasih sekaligus terharu ketika salah satu anak buah menceritakan apa yang terjadi padanya saat baru tersadar setelah diberikan obat penawar. Dan begitu melegakan saat mendengar Arthur dan Austin baik-baik saja. Sehingga ia memutuskan untuk menyusul Arthur serta Darren.


Karena begitu tidak sabar, Mike menerjang pintu yang tertutup itu, lalu terbuka dengan lebar. Arthur dan Darren mengikut dari belakang. Karena minim pencahayaan, membuat mereka harus meraba-raba benda di sekitar. Tidak banyak barang-barang di dalam. Bangunan sederhana yang hanya satu lantai itu sangat luas, tetapi hanya ada beberapa ruangan saja. Tiga ruangan sudah diperiksa, tetapi tidak ada siapapun. Hingga ketiganya berada di depan salah satu ruangan terakhir. Begitu pintu dibuka dan mendorong agar terbuka sempurna, kedua mata mereka membola sempurna saat mendapati seorang wanita diikat kedua tangannya dan mulut wanita itu di tutup oleh perekat lem.


To be continue


...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...