
Di sepanjang perjalanan Arthur terdiam setelah mendapatkan sebuah fakta mengenai keluarga Jhonson. Pria itu masih sulit mempercayai apa yang beberapa menit yang lalu di dengarnya. Namun Arthur tidak ingin menelannya mentah-mentah, ia juga harus menyelidikinya. Terlebih fakta lain sangat mengejutkannya mengenai silsilah keluarga Jhonson yang tidak berbeda jauh dengan dirinya dan sang Daddy
"Der, aku tidak percaya jika Paman Matthew dan keluarganya sudah tewas," ujarnya setelah lama kesunyian memenuhi kabin mobil itu.
"Sama sepertimu, aku juga tidak percaya." Darren serupa seperti Arthur, antara percaya tidak percaya, tetapi sejauh ini mereka memang tidak menemukan keberadaan keluarga Jhonson.
Dan mereka kembali larut dalam pikiran masing-masing, hingga supir menghentikan laju mobilnya ketika sudah berada di lokasi tujuan.
"Mr. Romanov, saat ini kita sudah berada di tempat tujuan." Suara supir itu membelah kesenyapan di dalam mobil.
Arthur yang tersentak segera mengedarkan pandangannya ke arah sekitar. Ia memperhatikan Mansion mewah yang dahulu sempat di singgahi oleh Keluarga Jhonson. Kini tempat itu sudah berpindah tangan, entah apa yang terjadi saat itu. Arthur tidak bisa menemukan bukti apapun, meskipun ia sudah mengerahkan orang-orangnya termasuk Darren.
"Selidiki kasus 11 tahun lalu, Der. Periksa CCTV di sekitar Mansion," perintahnya tanpa mengalihkan pandangan dari bangunan mewah itu. "Aku yakin jejak CCTV disekitar sini sudah dihilangkan."
Kedua alis Darren nampak saling menaut ketika mendengar perkataan Arthur. "Dari mana kau mengetahuinya?"
Arthur mengusap dagunya, nampak jelas jika ia sedang berpikir. "Kau lihat di ujung sana?" Jari telunjuknya mengarahkan Darren pada satu titik yang ia temukan. Dan Darren mengikuti jari telunjuk Arthur mengarah, ia masih belum paham kenapa Arthur menunjuk sesuatu di ujung sana. "Di atas tiang itu, bukankah seharusnya ada CCTV yang terpasang disana? Lihatlah kabel hitam yang seperti di putus," sambungnya menjelaskan.
Darren berusaha menajamkan penglihatannya, memang benar disana terdapat tiang dengan kabel yang terputus, tapi ia tidak yakin jika itu adalah kabel yang terhubung dengan CCTV.
"Apa kau tidak perhatikan saat kita melewati pertigaan sebelumnya?" tanya Arthur kembali. Dan Darren menjawab tidak. "Tiang di pertigaan itu sama dengan tiang yang disana," katanya sembari menunjuk tiang yang menjadi bahan pembicaraan mereka.
Darren nampak tertegun sejenak, ia pun meneliti dengan seksama apa yang dikatakan oleh Arthur. "Memang ada kemiripan." Ya, karena Darren pun tidak sengaja melihat tiang yang serupa sebelumnya.
"Bukan hanya mirip tapi memang sama. Ada dua tiang seperti itu saat di perjalanan menuju kesini." Arthur bersikeras jika itu adalah tiang yang sama. Jadi kemungkinan besarnya CCTV itu bisa terhubung dengan CCTV yang berada di ujung sana.
Hah
Darren menghembuskan napas panjang, ternyata apa yang dikatakan oleh Arthur benar. Entah kenapa ia tidak terpikir ke arah sana. Sejak diperjalanan memang mereka tidak saling bertukar pikiran dan bahkan diamnya mereka karena tengah mengamati sekitar. Terbukti Arthur menemukan sebuah petunjuk yang mungkin saja bisa mereka selidiki, meskipun hasilnya tidak akan sempurna. Karena hilangnya Keluarga Jhonson sudah pasti ada seseorang yang hebat di belakangnya.
"Aku akan meminta Gavin dan Lim untuk menyelidikinya," ujar Darren. Memang selama ini Gavin, Elden dan Liam yang selalu membantunya, bahkan mereka yang bekerja meretas beberapa sistem. Termasuk mencari keberadaan Keluarga Jhonson.
"Sekarang Der!" perintahnya tanpa ingin dibantah.
"Baiklah." Dan Darren segera merogoh ponselnya yang berada di dalam saku coat miliknya.
Darren segera menghubungi salah satu dari ketiga putra mantan bastard itu. Pada nada sambung kedua, seseorang menjawab panggilannya.
"Lim, aku ingin kalian meretas CCTV yang berada di Duurte Huiz Pusat Kota Amsterdam." Darren melayangkan perintah Arthur kepada Lim, tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Duurte Huiz?!" Liam yang diseberang sana tentu saja sudah tidak terkejut lagi atas permintaan Darren yang sudah pasti perintah dari Arthur. "Oke, beri aku waktu 24 jam. Aku harus menghubungkan sinyalnya terlebih dahulu." Memang membutuhkan waktu jika meretas CCTV, berbeda dengan meretas sistem komputer. Terlebih akan ada banyak CCTV di sekitar Duurte Huiz dan ia serta yang lainnya harus memeriksa satu-persatu.
"Ku harap kurang dari 24 jam kau dan yang lain sudah memberikan informasinya kepadaku," kata Darren tidak mau tahu.
Terdengar helaan napas Lim diseberang sana. "Oke, aku usahakan." Darren berdehem sebagai jawaban sebelum kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
"Kita pergi dari sini." Lama Arthur melihat bangunan itu dan meminta supir mereka untuk meninggalkan Duurte Huiz, hunian mewah milik Keluarga Jhonson.
Dor
Dor
Dor
Namun baru saja 10 menit mobil yang ditumpangi oleh Arthur serta Darren melaju dalam kecepatan sedang, seseorang menembaki mobil mereka dari arah belakang.
"Shittt!!" Tubuh Arthur terguncang kala mobil mereka kehilangan keseimbangan. Pun dengan Darren. Jika saja keduanya tidak menahan tubuh mereka masing-masing, dapat dipastikan keduanya akan terjungkal ke depan.
"Mr. Romanov, bagaimana ini? Kenapa mobil di belakang menembaki mobil kita?" Dan sang supir mendadak panik.
Arthur yang duduk di belakang kursi kemudi dapat melihat kepanikan supir mereka dari nada suara yang gemetar. Tangannya terulur menepuk bahu pelan supir mereka. "Tenang, ini tidak akan berlangsung lama," ucapnya menenangkan. Wajah Arthur menyakinkan bahwa mereka akan baik-baik saja, sehingga supir itu mengangguk percaya. "Der, kau ambil alih kemudi," pintanya kepada Darren. Supir itu mendengar apa yang dikatakan oleh Arthur, ia pun mempersilahkan jika Darren menggantikan dirinya, karena sedari tadi tangannya tidak berhenti gemetar.
Setelah melepaskan seat belt, sang supir berpindah duduk di kursi samping kemudi. Sedangkan Darren segera melesat ke depan, tubuhnya kini sudah terbenam di kursi kemudi. Lantas menambah kecepatan penuh untuk menghindari serangan itu.
Beruntung Arthur sudah memiliki persiapan dengan menyelipkan senjata di balik pakaiannya. "Der, aku akan mengurus mereka. Kau tetaplah menghindar."
"Baik...." Pandangan Darren masih tetap lurus ke depan.
Arthur mengambil senjata yang ia sembunyikan, lalu mulai membuka kaca mobil. Sebelum kemudian menyembulkan kepada serta tubuhnya keluar dari jendela. Darren dapat melihat Arthur melalui kaca spion, ia sedikit mengurangi kecepatan agar tembakan Arthur tepat sasaran.
Dor
Dor
Dor
Dan aksi saling baku tembak itu tidak terelakan. Arthur merunduk ketika peluru itu nyaris mengenai kepalanya.
"Der, lebih cepat lagi! Sepertinya di dalam mobil itu ada sniper yang hebat." Arthur akui jika salah satu dari mereka bukan sniper biasa, bahkan dirinya nyaris tidak bisa melihat pergerakan tangan seseorang yang memuntahkan peluru dari jarak jauh.
Samar-samar mendengar ucapan Arthur, lantas Darren membuka kaca mobil. "Kau harus berhati-hati Ar. Kita tidak tau siapa musuh kita kali ini!" Darren harus berteriak agar Arthur dapat mendengar ucapannya ketika mobil yang ia kemudikan melaju dengan cepat.
Dor
"Ck, sial." Nyaris saja lengannya terkena hantaman peluru jika Arthur tidak lihai menghindar. "Der, sedikit ke kiri!" imbuhnya berteriak.
"Hati-hati, Ar!" Jujur saja, Darren sangat mencemaskan Arthur yang tengah saling baku tembak. Benar apa yang dikatakan oleh Arthur, di dalam mobil itu terdapat sniper yang hebat. Pergerakannya tidak bisa mereka prediksikan.
"What?!!" pekik Darren terkejut. "Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?!!" serunya kemudian. Jika saja supir mereka itu memberitahunya lebih cepat, mungkin ia akan memilih jalan yang lain.
"Maaf Tuan, saya benar-benar panik. Saya sangat takut jika sesuatu terjadi dengan saya. Dan..." Suaranya tertahan karena ketakutannya saat berada dalam bahaya seperti ini. Untuk pertama kalinya bekerja sebagai supir, ia mengalami kejadian penyerangan yang sebelumnya hanya ia saksikan di televisi saja. "Saya belum siap meninggalkan istri dan cucu perempuan saya," cicitnya bergumam. Dengan bibir bergetar, supir itu mencurahkan isi hatinya.
Darren mendesahkan napasnya pelan. Ia tengah fokus melaju dengan kecepatan tinggi, serta menghindari serangan. "Tenang saja, kau akan pulang dengan keadaan baik-baik saja. Kami tidak akan membiarkanmu terlibat dalam urusan kami," katanya kembali menenangkan. Entah dapat membuat supir tua itu tenang atau tidak, Darren tidak peduli. Yang hanya ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya untuk menghentikan mobil jika di ujung jalan sana benar-benar buntu. Terlebih mobil yang dikemudikannya sudah mengeluarkan percikan api.
Dor
Dor
Arthur yang benar-benar kesal, menyerang kembali ban mobil hitam itu. Hasilnya mobil tersebut kehilangan arah keseimbangan hingga menabrak pembatas jalan dengan cukup keras.
"Ar, jalan buntu!" teriak Darren begitu melihat jembatan yang terbelah dan belum terbentuk sempurna.
"Damn!!!" Arthur mengeram kesal. Pandangan sekitarnya sedikit mengabur. Entah apa yang akan terjadi jika Killer menguasi dirinya. "No! Jangan sekarang!!" Arthur berteriak ketika membangunkan sesuatu dalam dirinya.
"Ar, kau baik-baik saja?!" tanya Darren nampak khawatir. Namun Arthur tidak merespon perkataannya.
"Tuan, bagaimana ini?" Dan sang supir kian panik ketika mobil mereka melaju sangat cepat dan tidak memungkinkan untuk Darren menginjak pedal rem mendadak dalam keadaan mobil yang tidak bisa dikendalikan.
"Aku tidak-tidak apa-apa Der!" teriaknya. "Arrgghh sial!" Kepala Arthur mulai berdenyut. "Tidak ada pilihan lain, kita terjun ke air!" serunya kemudian.
"Kau serius Ar?!" tanya Darren memastikan.
"Ya, kecuali jika kau ingin mati di dalam mobil yang akan meledak," kekeh Arthur.
"Astaga Ar. Kau masih saja bercanda!" protes Darren. "Apa kau bisa berenang?" tanyanya kemudian kepada supir yang wajahnya kian memucat.
"Bi-bisa," jawabnya gemetar.
"Kalau begitu baguslah. Kita akan terjun bebas," kata Darren tanpa beban.
Supir itu nampak tidak dapat berkata apa-apa lagi. Entah sebenarnya siapa dua pria yang sedang bersamanya ini. Kenapa begitu santai menghadapi bahaya yang akan berujung pada kematian.
"Oh, shiitt Der! Ini lebih menyenangkan dari yang ku bayangkan!!" teriak Arthur sebelum kemudian,
Byuurrr
Mobil hitam mewah itu terjun bebas ke dalam air. Beruntung air laut tidak begitu dalam sehingga mereka segera keluar dari mobil yang akan tenggelam.
Napas ketiganya tersengal, terutama sang supir yang usianya jauh lebih tua. Napasnya lebih pendek dari dua pria yang gagah berani itu.
Arthur berenang mencapai karang-karang hanya dengan bertelanjang dada, sebab pakaiannya tersangkut di sela-sela pintu mobil. Arthur mulai memanjat ke atas sana. "Ulurkan tanganmu," ucapnya kepada supir tua yang tengah dibantu oleh Darren. Tentu Darren harus bertanggung jawab atas keselamatan supir tua yang tidak seharusnya ikut terlibat.
Hosh
Hosh
Dan Darren serta supir itu sudah berada di atas karang-karang dengan deru napas terengah-engah.
"Lalu bagaimana caranya kita bisa keluar dari tempat ini, Mr. Romanov?" Dan sang supir sudah mulai kedinginan, memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya.
"Tenang saja, sebentar lagi bantuan datang." Setidaknya Arthur lebih tenang, karena Killer tidak berhasil menguasai dirinya.
Benar saja, tidak lama bala bantuan datang dengan menggunakan speed boat. Bukan para anak buah Black Lion, melainkan beberapa pria berseragam kepolisian. Sebelumnya Arthur sudah mengabari Pier sebelum terbang ke Amsterdam, karena kebetulan sekali pria itu sedang bertugas di Pusat Kota Amsterdam.
"Ar, kalian baik-baik saja." Ya, pria itu adalah teman satu universitasnya saat di Jerman yang juga merupakan putra dari Louis. Pantas saja saat itu secara tiba-tiba mengundurkan diri dari universitas dan masuk ke asrama kepolisian. Ternyata hanya ingin mengikuti jejak sang ayah.
"Ya, kami baik-baik saja," sahutnya datar.
Sementara Arthur berbicara dengan teman polisinya yang bernama Pier Taylor, petugas polisi yang lain membantu supir itu menaiki speed boat. Tidak lupa sudah membalut selembar selimut untuk menutupi tubuh rentanya.
Pier menatap Arthur dengan lekat. Pria itu tengah menuntut penjelasan darinya. "Tidak perlu banyak bertanya! Lakukan seperti kataku sebelumnya. Ini urusanku dengan mereka. Jadi tidak ada hubungannya denganmu dan anggotamu!" ujarnya penuh ketegasan. Memang ia tidak ingin melibatkan siapapun, termasuk Pier yang seorang polisi.
Pier hanya bisa menghembuskan napas panjang. Percuma saja ia memaksa, temannya itu selalu keras kepala.
"Baiklah, aku tidak akan memaksa," katanya mengangkat kedua tangan. "Tapi jika butuh bantuan kau bisa datang padaku," lanjutnya.
"Hem, tenang saja." Lalu Arthur melesat menaiki speed boat. Menyusul Darren yang sudah lebih dulu berada disana.
Pier hanya dapat menggelengkan kepalanya. Sejak dulu ia memang tidak pernah bisa memaksa Arthur untuk mengandalkan dirinya. Temannya itu memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah.
To be continue
Babang Arthur
Babang Pier Taylor
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...