The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Kritis



Saat ini Elie sudah mengetahui apa yang terjadi dengan temannya, Veronica. Terkejut sudah pasti karena temannya nyaris di perkosa oleh seseorang. Elie tidak mengetahui jika pria itu adalah ketua dari Kartel Sinaloa yang sebelumnya mengincar dirinya dan pada akhirnya mengincar Veronica, sebagai ganti tidak bisa meniduri putri dari Keluarga Romanov itu.


Darren pun tidak menjelaskan kepada Elie dan Veronica. Biarlah hal tersebut menjadi rahasia antara dirinya serta Arthur, sebab jika sampai Elie mengetahui yang sebenarnya, wanita itu pasti akan membuat perhitungan. Arthur dan Darren hanya meminimalisir tindakan gegabah yang akan dilakukan oleh Elie.


"Aku sudah menghubungi Mandy untuk menemanimu. Dia akan datang sebentar lagi, membawakan makanan dan juga pakaian ganti untukmu," ucap Elie sembari membereskan makanan siang. Ia dan juga Veronica dibawakan makanan oleh satu anak buah atas perintahnya, sebab Veronica tidak berselera dengan makanan rumah sakit.


"Hem, terima kasih Elie. Kau dan Mandy memang teman terbaikku. Jika tadi kau tidak datang, aku akan benar-benar sendirian disini." Kedua mata Veronica nampak mengembun, wanita itu tidak memiliki sanak saudara dan selalu sendirian, sampai kehadiran Elie dan Mandy menjadi cahaya untuknya dan keduanya sudah dianggap sebagai keluarga olehnya.


"Tidak perlu sungkan. Jika butuh apapun kau bisa memanggilku dan aku juga sudah meminta Darren untuk menjagamu."


Mendengar nama pria itu disebut, Veronica mematung sejenak, lalu memandang Elie penuh tanda tanya. "Kenapa harus dia? Aku..."


"Kenapa, hm? Apa dia membuatmu tidak nyaman?" Elie dapat menebak jika sikap Darren yang kaku dan dingin itu pasti sudah membuat Veronica merasa tidak nyaman.


Veronica mengangguk cepat. "Aku belum terbiasa saja berbicara dengannya. Dia hanya menjawab sedikit saja, sepertinya dia tipikal pria yang pelit berbicara."


Mendengar keluhan Veronica membuat Elie terkekeh. "Der memang seperti itu, tapi sebenarnya dia pria yang sangat baik."


Kedua mata Veronica nampak menelisik tajam, ia sedikit mencurigai hubungan keduanya, sebab Elie seolah mengenal baik pria yang bernama Darren itu. "Sepertinya kau sangat mengenalnya. Apa kalian sebenarnya diam-diam memiliki hubungan khusus?"


Saat mendengar perkataan Veronica, sontak Elie membekap mulut temannya itu. Ia tidak ingin seseorang mendengar perkataan mereka dan menjadi salah paham. "Jangan bicara sembarangan, Vero!" tegurnya mendelik.


Veronica menarik tangan Elie dari bibirnya, ia nyaris tidak bisa bernapas sesaat. "Astaga kau mau menyiksaku," gerutunya mencebik. "Lagi pula aku hanya bercanda saja. Tidak mungkin kau memiliki hubungan dengannya, kau sudah memiliki Tuan Mikel yang tampan dan kaya raya itu. Jadi aku akan mendukungmu bersama dengan Tuan Mikel."


"Vero!" Kedua mata Elie membeliak penuh peringatan. Mulut temannya itu benar-benar harus di kondisikan terlebih dahulu. Dan mendengar nama Mikel disebut, Elie mendadak teringat kembali dengan pria itu yang beberapa hari ini menghilang, padahal sebelumnya pria mesum itu berkata akan mengunjunginya kembali. Lalu apa dirinya berharap pria itu akan datang menemuinya? Entahlah, ia sendiri tidak mengerti perasaannya saat ini terhadap pria itu.


"Maaf jika mengganggu." Suara Darren yang sudah berdiri di ambang pintu mengalihkan perhatian Elie dan Veronica, keduanya kompak menoleh ke arah pintu. Tanpa menunggu jawaban dari kedua wanita cantik itu, Darren melesat masuk dan melangkah cepat menuju Elie, tidak pedulikan sorot mata Veronica yang terus memperhatikannya.


"Nona, Bibi Elle ada di depan ruangan Ar dan hanya Nona yang mungkin bisa menenangkannya." Darren berbisik di belakang telinga Elie, suaranya tentu saja tidak sampai di telinga Veronica, padahal wanita itu sudah mencoba menajamkan pendengarannya.


"Apa yang dia bisikan? Apa mereka benar-benar tidak memiliki hubungan?" Veronica membatin sembari menelisik. Berbagai tudingan mengenai hubungan rahasia keduanya sungguh mengusiknya.


Elie beranjak berdiri, tentu saja ia terkejut mendengar penuturan Darren. Bukankah apa yang tengah dialami oleh kakaknya itu dirahasiakan dari Mommy Elleana? Tetapi kenapa Mommy-nya itu berada di rumah sakit? Elie kemudian menatap Darren untuk mendapatkan jawaban. Benar saja, tatapan Darren mengisyarakatkan jika terjadi sesuatu disana.


"Aku akan kesana Der. Kau temani Vero disini. Jangan pergi kemana pun sebelum aku kembali," ucapnya penuh perintah. Tentu Darren tidak bisa menolak, sebab sebelum ia mengajukan keberatan, Elie sudah melenggang pergi dari ruangan perawatan Veronica.


Terdengar helaan napas yang dihembuskan Darren, lagi-lagi ia harus berada di dalam satu ruangan dengan seorang wanita dengan waktu yang lama. Dan Veronica dapat merasakan jika pria itu tidak nyaman bersamanya.


"Sebenarnya hubungan mereka seperti apa? Terlihat jelas sekali mereka sangat dekat." Veronica bergumam setelah membuang pandangan ke arah jendela. Sejak pria itu masuk ke dalam ruangan, tatapannya kepada Elie sangat berbeda. Nampak kentara perbedaan sikap Darren saat bersamanya dan saat berinteraksi dengan Elie.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Semua yang kau lihat tidak seperti yang kau pikirkan." Ya, ternyata Darren dapat mendengar gumaman wanita itu.


"A-aku tidak memikirkan apapun, kau salah mendengar," tuturnya mengelak.


Darren tidak menyahut kembali, pria itu diam seperti patung. Tetapi tetap menjalankan perintah Elie untuk selalu di dalam ruangan Veronica.


***


Suara langkah kaki yang berlari kecil di lorong rumah sakit menyita perhatian beberapa anak buah, tak terkecuali Jack yang masih berada di depan ruangan menunggu Arthur yang berada di dalam sana. Raut wajah Jack nampak gelisah. Ya, sejak kembali dilarikan ke rumah sakit, kondisi Arthur menurun, itu sebabnya ia menghubungi bosnya. Namun siapa yang menduga jika istri dari bosnya itu tidak sengaja mendengar percakapan mereka di sambungan telepon.


"Seharusnya kau tidak menyembunyikan keadaan Ar dariku. Aku Mommy-nya, aku berhak mengetahui keadaan putraku." Tatapan Elleana yang selalu lembut dan teduh itu penuh kekecewaan menatap suaminya.


"Sweety, dengar...." Xavier merengkuh kedua bahu istrinya yang nampak kecewa dan sedih sekaligus. Namun ia berusaha untuk memahami istrinya dan menenangkan. "Maafkan aku, aku hanya tidak ingin membuatmu cemas," katanya menjelaskan. Ia memang tidak ingin istrinya itu terlalu banyak berpikir berlebihan. Biarlah dirinya yang mencari jalan keluar untuk menekan Alter Ego putranya.


"Tapi dia putraku!" Elleana menepis kedua tangan Xavier dari bahunya. "Bagaimana Ar bisa hidup dalam keadaan seperti itu, apalagi sampai membahayakan dirinya sendiri. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan putraku Ar harus melawan dirinya sendiri. Kau tidak akan mengerti Hubby, tapi aku sebagai Mommy yang melahirkan hanya ingin Ar berbagi denganku, tidak hanya berbagi denganmu saja," serunya terisak, ia merasa gagal menjadi seorang Mommy, karena tidak memperhatikan kesehatan putranya. Bahkan ia mendengar sendiri jika sosok itu tengah mengendalikan diri putranya, ia bersikap nekad dan dapat membahayakan diri sendiri seperti yang beberapa jam terjadi.


Xavier merengkuh tubuh Elleana, membawa ke dalam dekapannya. Berulang kali mengecup puncak kepala istrinya itu untuk memberikan ketenangan.


"Maaf... maafkan aku Sweety. Aku dan Ar hanya tidak ingin membuatmu cemas. Kami tidak ingin kesehatanmu terganggu, karena belakangan ini kau selalu terlihat kurang sehat."


"Tapi aku...." Elleana sesegukan di dalam dekapan suaminya.


"Sshhttt, dengar Sweety, Ar adalah putraku, putra kita. Kau tidak perlu cemburu karena dia lebih terbuka padaku, itu Ar lakukan karena dia sangat menyayangimu dan tidak ingin membuatmu jatuh sakit jika terlalu sering mencemaskannya," tuturnya menjelaskan dengan begitu lembut. Xavier kembali melabuhkan kecupan pada puncak kepala istrinya yang masih tergugu itu.


Sedari tadi Elie tidak mengalihkan pandangannya dari kedua orang tuanya. Percakapan mereka tentu dapat di dengar olehnya, sehingga ia menyimpulkan jika Mommy-nya sudah mengetahui keadaan kakaknya yang memiliki Alter Ego. Namun yang membuat pikirannya terusik adalah emosi Mommy-nya yang terlihat begitu sedih dan terpukul. Pasti bukan hanya mengenai masalah Alter Ego, mungkin sesuatu yang buruk terjadi dengan kakaknya? pikirnya.


Elie kemudian melangkah mendekat, menepis jarak di antara mereka. "Mom... Dad.... apa kak Ar baik-baik saja?" tanyanya dengan tatapan menunggu jawaban, sebab kedua orang tuanya hanya bergeming.


"Ar kritis, kakakmu dalam keadaan koma." Elleana tidak cukup kuat untuk menyampaikan berita menyesakkan itu, sehingga Xavier yang menjawab pertanyaan putrinya tanpa mengendurkan dekapan pada sang istri.


Dada Elie terasa sesak mendengarnya, bibirnya terkatup dengan tubuh yang nyaris limbung jika ia tidak sekuat tenaga menahan keseimbangan tubuhnya. Pantas saja sedari tadi ia merasakan perasaan yang tidak enak dan pantas saja Mommy-nya begitu nampak terpukul, ternyata di dalam sana kakaknya itu tengah berjuang.


To be continue


Nggak pake visual dulu ya, biar cepat lolos reviewnya 🤗


...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...