
Beberapa anak buah Bloods Dead bersiap untuk melakukan tugas mereka. Gunting, pisau runcing dan peralatan bedah lainnya tergeletak di atas meja operasi. Tempat itu memang terkadang dijadikan untuk membedah tubuh korban mereka. Tentunya mereka sudah ahli mengambil bagian organ tubuh meski tidak serapi bos mereka yang merupakan mantan dokter bedah.
"Cepat baringkan keduanya di atas meja. Kita tidak punya waktu lagi, karena nanti malam bos akan mengirim ginjal mereka ke Italia," ujar salah satunya. Ia baru beberapa menit yang lalu mendapatkan panggilan dari bos yang berada di Club bertemu dengan calon pembeli. Kepergian mendadak ke Italia membuat mereka harus mengeksekusi dua korban itu saat ini juga.
"Kita harus melakukannya dengan cepat," sahut yang lainnya. Mereka tidak ingin kehilangan calon pembeli yang akan membayar dengan harga fantastis.
Masing-masing melakukan tugasnya. Menyiapkan pisau bedah dan empat anak buah memapah tubuh Austin dan Jacob di atas meja. Mereka ingin membuka pakaian Austin lebih dulu, akan tetapi tangan anak buah itu di cekal oleh seseorang. Ya, Austin mencekal pria yang baru saja ingin melepaskan pakaiannya.
BUG
Bogeman mentah diberikan oleh Austin tepat di wajah salah satu anak buah Bloods Dead itu. Melihat Austin yang melompat dari atas meja membuat mereka terkesiap.
"Cih, kalian benar-benar membuatku muak!" Austin meludah, ia mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sudah cukup ia berpura-pura pasrah saat dipukuli, dan kali ini tidak lagi.
BRUGH
Dua anak Bloods Dead terpental begitu saja hingga membentur dinding. Mereka menoleh serentak dan mendapati Jacob bangkit dari ranjang.
"Arrghh, sial. Ini sakit sekali!" Jacob meringis saat menyentuh bagian luka di wajahnya. Sudah sejak tadi ia ingin berteriak, akan tetapi ditahannya untuk memuluskan rencana mereka.
"Ka-kalian?!" Tentu anak buah Bloods Dead terkejut bukan main, bukankah mereka sudah menghajar habis-habisan. Lalu apa ini? Kenapa mereka yang sebelumnya nampak lemah justru terlihat bugar seolah luka yang mereka terima tidak berarti.
Jacob berjalan menghampiri Austin. "Kenapa? Kalian mengira kami ini lemah?" ejeknya tepat sasaran. Lalu memindai penampilan anak buah Bloods Dead. Berotot dan memiliki tubuh kekar, tetapi tetap saja anak buah Red Dragon dan Black Lion berada diatas mereka. "Kalian hanya butiran debu, huuussshhh." Jacob melakukan gerakan meniup udara di atas telapak tangan, seolah ia tengah meniup debu sungguhan. "Dan kalian semua akan lenyap sebentar lagi," imbuhnya menyunggingkan senyum meremehkan.
"SIALAN!" Provokasi Jacob berhasil, para anak buah Bloods Dead tersulut emosi. "Kami akan menghabisi kalian sekarang juga!" Dan mereka siap untuk menyerang.
Austin dan Jacob sudah memprediksikan hal ini sebelumnya, mereka sudah menyiapkan diri tentunya. Austin merenggangkan otot-otot tubuhnya. Sudah lama ia tidak berkelahi secara langsung dan saat ini ia tengah bersemangat.
"Let's play!" ujarnya menyambut serangan dua anak buah Bloods Dead yang menuju ke arahnya. Ia terlihat pasrah, seolah akan menerima serangan apapun. Namun begitu mereka mendekat, Austin menangkis serangan dan bahkan menendang perut salah satunya.
"Cih, hanya seperti itu saja kemampuan kalian?!" Austin membalas ejekan mereka. Sebelumnya ia hanya berpura-pura tidak sadarkan diri dan mereka mengatakan jika dirinya lemah dan mudah dikelabui.
"Sialan!" Kedua anak buah Bloods Dead mengeram kesal. "Panggilkan yang lainnya, tidak masalah jika menghabisi mereka saat ini juga!"
Satu rekannya tersebut mengangguk, kemudian beralih keluar dari ruangan dan menuju entah kemana.
Jacob baru saja menumbangkan dua anak buah Bloods Dead, ia berdecih. "Anak kecil saja bisa melawan kalian!" Dari perkataannya itu penuh sindiran, yang artinya anak buah Bloods Dead bukanlah lawan yang berat, bahkan terbilang sangat mudah. Seperti dirinya yang mudah menyingkirkan debu di telapak tangannya.
Kelima anak buah Bloods tumbang, tetapi salah satu melarikan diri entah kemana. Namun tiba-tiba saja Austin dan Jacob mendengar derap langkah lebih dari satu dan kemudian muncullah banyaknya para anak buah Bloods Dead. Tidak terhitung berapa anak buah Bloods Dead yang sudah mengepung Austin dan Jacob.
"Kalian berdua tidak akan bisa hidup lebih lama lagi!" ujar salah satu anak buah Bloods Dead yang berdiri di tengah pasukan anak buah yang lainnya.
"Benarkah?" Jacob menyahut santai. Alih-alih merasa terancam, ia justru terkekeh geli. Kemudian langkahnya kembali mendekati Austin. "Kau dengar As, dia bilang kita tidak akan hidup lebih lama lagi," ujarnya sembari menepuk-nepuk bahu Austin. "Ck, jika tau seperti ini aku akan mengencani banyak kekasih. Sayang sekali saat ini aku hanya mengencani dua gadis saja."
Austin yang mendengarnya memutar bola matanya dengan malas. Ia jengah setiap kali mendengar Jacob selalu membanggakan dirinya sendiri.
Para anak buah Bloods Dead tersulut emosi mendapati Jacob dan Austin justru terlihat santai menanggapi. Bahkan tidak menggubris ancaman mereka.
Satu anak buah yang merupakan komandan mereka menyunggingkan senyum. "Mungkin kalian tidak akan berkata seperti ini jika mengetahui apa yang akan kami lakukan pada wanita tua di dalam ruangan itu!" Ia menunjuk ke arah berlawanan, dimana terdapat Mommy Angela yang masih di jaga oleh dua anak buah wanita.
Terbukti perkataan anak buah Bloods Dead itu membuat tubuh Austin dan Jacob menegang. Mereka melupakan jika Mommy Angela masih berada di dalam sana.
"Kau tau, wanita tua itu sebentar lagi akan menjadi milik bos. Kami akan membawanya pergi dari sini. Ah, bukan akan, mungkin saat ini wanita tua itu sudah di bawa pergi oleh teman kami, hahaha." Puas sekali ia melihat wajah Austin dan Jacob yang berubah menegang. Terlebih putra dari wanita itu menatapnya dengan nyalang, bahkan ingin bergerak maju jika saja Austin tidak menahannya.
"Hahaha sayang sekali kalian tidak bisa pergi dari sini. Karena kami sudah meletakkan beberapa bom di gudang ini." Anak buah Bloods Dead masih saja meremehkan Austin dan Jacob. "Kami tidak perlu membuang-buang waktu untuk menghabisi kalian, karena kalian akan meledak saat ini juga." Dan anak buah Bloods Dead itu menunjukkan tombol kendali yang terhubung dengan beberapa bom di dalam gudang.
"Katakan selamat tinggal!" ujarnya pada Jacob dan Austin sebagai tanda perpisahan mereka. Mengerti akan kode yang diberikan, seluruh anak buah Bloods Dead bergerak mundur, tentu mereka harus keluar dari ruangan tersebut jika tidak ingin meledak bersama musuh mereka. Namun begitu tombol ditekan tidak menimbulkan ledakan apapun. Detik itu juga komandan buah Bloods Dead yang sebelumnya tergelak, perlahan menampilkan raut wajah bingung sekaligus heran.
Kenapa tidak meledak? batinnya bertanya-tanya.
Suara kekehan terdengar mengganggu telinga para anak buah Bloods Dead. Mereka menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Austin dan Jacob yang tiba-tiba terkekeh.
"Terkejut? Hahaha...." Gelak tawa Jacob memenuhi ruangan. Sungguh lucu melihat raut wajah mereka yang bingung.
Terdengar suara langkah yang tergopoh-gopoh menghampiri dan ternyata adalah anak buah wanita yang menjaga Mommy Angela. Entah kemana rekannya tersebut, yang ada hanya anak buah wanita dengan model rambut pendek, tak lupa terdapat luka di bagian lengan dan bahkan kepalanya.
"Ryo...." lirihnya memanggil nama komandan dari para anak buah Bloods Dead.
"Ada denganmu, hah?!" sentak pria yang bernama Ryo itu. "Dan dimana wanita tua itu? Dimana?!" Alih-alih mencemaskan keadaan rekannya yang memprihatikan, Ryo justru mencari keberadaan Mommy Angela. "Kau tau bukan, jika dia menghilang, maka nyawa kita taruhannya!" sambungnya mengingatkan akan sikap bos mereka yang tidak menerima kesalahan apapun.
"Me-mereka membawanya...." Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, rekan wanitanya itu tiba-tiba jatuh tersungkur. Salah satu dari mereka buru-buru memeriksa denyut nadi rekan wanita mereka.
"Dia sudah tewas."
Ryo menegang saat mendengarnya. Tewas? Itu artinya ada yang tidak beres dan seseorang membawa wanita tua yang diinginkan oleh bos mereka. Tatapan Ryo kemudian beralih pada Austin dan Jacob yang nampak santai dan bahkan tidak terkejut.
"Apa semua ini adalah ulah orang-orang kalian, hah?!" cetusnya memastikan. Tentu dengan kilatan api amarah.
"Pintar!" seru Jacob menjawab.
"Kurang ajar!" Ryo mendesis. Jadi mereka dipermainkan? Dan kedua pria keparat itu berpura-pura lemah. Sialan!
"Kalian semua! Habisi mereka, apapun yang terjadi tidak boleh membiarkan mereka hidup!" serunya kemudian memberi perintah untuk segera menyerang Austin serta Jacob. Tak lupa mereka sudah mengekor senjata tepat di hadapan keduanya yang tidak memegang senjata apapun.
Dor
Dor
Dor
Namun beberapa peluru dari arah berlawanan sudah lebih dulu menembaki beberapa anak buah Bloods Dead. Tak lama disusul suara gebrakan pintu kayu yang berada di samping gudang.
Black Lion dan Red Dragon? Ya, sudah saatnya mereka keluar dari persembunyian, bukan?
To be continue
...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...
...Always be happy 🌷...
...Instagram @rantyyoona...
...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONARE MAFIA 🥰...