
Arthur sudah kembali dari Amsterdam setelah menempuh perjalanan selama 4 jam. Begitu tiba di Mansion ia menyapa Mommy Elleana terlebih dulu, karena wanita setengah baya yang masih sangat cantik itu sudah menyambutnya. Pria tampan itu lantas memeluk Mommy Elleana yang sudah merentangkan tangan ke arahnya.
"Mom sangat merindukanmu Ar." Entahlah, belakangan ini Mommy Elleana selalu merindukan putra-putrinya yang saat ini sudah tumbuh besar dan memiliki kesibukan masing-masing, sehingga jujur saja ia merasa kesepian. Mansion besarnya hanya dihuni oleh dirinya bersama suami tercinta serta para maid dan penjaga saja. Terkadang ia merindukan anak-anaknya yang masih berlarian kesana-kemari.
Arthur tersenyum, lalu mengusap punggung Mommy-nya. Kecupan lembut mendarat di puncak kepala Mommy Elleana. "Mom, aku hanya pergi dua hari saja." Arthur dibuat heran, bagaimana jika ia pergi selama satu minggu atau lebih. Mungkin Mommy-nya akan menyusul dirinya.
"Iya, Mommy tau, tapi Mommy rindu dengan kalian. Kalian selalu sibuk dan melupakan Mommy juga Daddy," keluh Mommy Elleana usai mengurai pelukan mereka. "Elie juga tidak akan pulang jika Daddy kalian yang tidak menelepon memintanya untuk pulang," sambung Mommy Elleana mengadu kepada putranya.
Arthur kembali tersenyum, ia dapat mengerti jika Mommy tercintanya sedang merindukan putra-putrinya yang kini sudah tidak bisa menghabiskan waktu seperti sebelumnya. "Ar akan bicara dengan Elie agar sering-sering pulang ke mansion. Belakangan ini Elie memang sedang sibuk, dia menjadi brand ambassador di salah satu perusahaan besar." Dan Arthur menjelaskan akan kesibukan adik kembarnya.
"Hm, kau benar. Daddy juga berkata seperti itu. Tapi tidak ada salahnya kau bicara dengannya, Elie hanya mau mendengarkanmu. Padahal selama ini dia selalu manja hanya kepada Mom tapi belakangan ini dia hanya sering mengeluh denganmu saja Ar," serunya disertai bibir yang mengerucut kesal. Jika dahulu, Aurelie sering datang kepadanya untuk mengadu, kini putri kecilnya itu hanya akan berkeluh kesah kepada Arthur saja.
Arthur terkekeh mendengar curahan hati wanita yang sangat ia cintai itu. "Apa Mom cemburu padaku?" Menggoda sang Mommy yang nampak tidak terima jika adik kembarnya mejadi lebih dekat dengan dirinya.
"Tentu saja, kau sudah mengambil Elie dariku," cebiknya menyilangkan tangan di depan dada.
Arthur kembali terkekeh, Mommy-nya memang selalu berterus terang. "Tapi Ar tidak mungkin mengambil Elie dari Mom, dia tetap putri kesayanganmu Mom," katanya mengingatkan sembari mengusap bahu Mommy Elleana.
"Benar, dia putri kesayangan Mom. Karena dia paling cantik di antara kalian." Mommy Elleana tertawa renyah hingga tawanya itu menular kepada Arthur. "Baiklah, temui Daddy-mu. Dia ada di ruangan kerja, sejak tadi sudah menunggumu," sambungnya kemudian.
"Kalau begitu aku akan menemui Daddy." Arthur menyahut dengan senyum yang masih bertahan di sudut bibirnya.
Kemudian Arthur mengayun langkahnya menuju ruangan kerja begitu Mommy Elleana mengiyakan. Langkahnya terjeda sejenak lantaran salah satu tangannya sudah menggapai handle pintu. Arthur segera menutup pintunya dengan rapat begitu sudah di dalam ruangan kerja. Di dalam sana, ia sudah di sambut oleh Daddy Xavier yang duduk membelakangi dirinya.
"Dad..." katanya memanggil.
Daddy Xavier menolehkan kepala, pria paruh baya yang masih nampak gagah serta tampan itu beranjak dari duduknya, kemudian mendekati sang putra.
"Kau baik-baik saja, Ar?" tanyanya sembari menepuk-nepuk pundak Arthur. Guratan kasar di sekitar wajahnya itu menandakan betapa dirinya benar-benar mencemaskan putranya itu setelah laporan mengenai penyerangan Arthur sampai ke telinganya.
"Aku baik-baik saja Dad. Mereka tidak berhasil melukaiku," jawabnya menyakinkan agar Daddy Xavier tidak lagi mencemas dirinya.
Daddy Xavier mengangguk, ia dapat meneliti wajah serta tubuh putra sulungnya yang tidak menampakkan bekas luka disana. Sebelum kemudian keduanya saling membenamkan tubuh masing-masing di atas sofa.
"Dad, benar-benar tidak tau siapa musuh Matthew sebenarnya," ujar Daddy Xavier membuka percakapan mengenai teman baiknya Matthew. "Selama ini dia pria yang baik dan tidak pernah macam-macam diluar sana, bahkan setauku dia tidak memiliki musuh." Dan Daddy Xavier menerawang ingatan masa lalunya bersama Matthew.
"Kau benar Dad." Arthur mengangguk setuju. Sejauh mengenal Paman Matthew hingga dirinya beranjak dewasa, Paman Matthew dikenal sebagai sosok pribadi yang sangat baik, sehingga tidak mungkin memiliki musuh.
"Aku yakin jika selama ini Paman Matthew menyembunyikan sesuatu dari kita. Seseorang memang mengincar nyawanya sejak dulu Dad," imbuhnya. Arthur mulai memberitahu informasi yang selama ini tidak bisa dikorek olehnya serta orang-orangnya.
"Apa maksudmu?" Kening Daddy Xavier yang dilapisi guratan kasar itu semakin menampakkan kerutan dalam.
Ada jeda sesaat, Arthur membuang napas pelan. Sebelum kemudian menatap Daddy Xavier dengan tatapan yang sulit di artikan. "Apa Daddy percaya jika Paman Matthew dan keluarganya sudah tewas?"
Pertanyaan Arthur membuat Daddy Xavier terkejut. Meskipun pernah terlintas pikiran seperti itu, tetapi ia segera menepisnya karena benar-benar tidak menginginkan hal itu terjadi kepada teman baiknya beserta keluarganya.
"Ja-Jadi Matthew dan Aprille sudah....." Sungguh Daddy Xavier tidak dapat melanjutkan kalimatnya terlalu sulit menerima kenyataan menyedihkan itu. Terlebih ia tidak tau, bagaimana cara menyampaikan berita mengenai tewasnya Aprille, teman baik sang istri selama ini.
"Benar Dad," jawabnya tertunduk. Ingatannya masih menyimpan fakta-fakta yang diberikan oleh kakek tua yang bernama Mateo.
***
"Mati?" Arthur berusaha menanamkan kesadaran pada dirinya mendengar sebuah kenyataan yang mengejutkan. "Bukankah selama ini Paman Matthew dan keluarganya pergi ke Rusia. Aku memastikan penerbangan terakhir mereka," katanya menjelaskan rangkaian peristiwa pada beberapa tahun silam.
Kakek Mateo nampak tertegun mendengar penuturan Arthur. Selama ini yang hanya ia ingat, saat itu Matthew berpamitan kepada dirinya jika akan pergi ke suatu tempat. Ia tidak tau jika Matthew akan pergi ke Rusia, tempat kelahiran kedua orang tua pria itu yang juga merupakan sahabat baiknya.
"Apa kau tidak merasa aneh dengan kematian mereka?" Sungguh Arthur sangat penasaran dengan hilangnya keluarga Jhonson saat itu. Semenjak ia dan orang-orangnya tidak bisa menemukan jejak mereka, Arthur menyimpulkan jika ada sesuatu yang tidak beres.
Hening sesaat, kakek Mateo mengatup rapat bibirnya yang terlihat bergetar itu. Kali ini pandangannya justru berpusat pada sebuah nakas yang terletak di sudut ruangan. "Ambilkan sesuatu di laci sana," ucapnya tanpa menoleh kepada Arthur maupun Darren yang sejak tadi duduk diam mendengarkan.
Arthur dan Darren pun menoleh ke arah pandangan kakek Mateo berpusat. Darren yang paham segera bangkit berdiri menuju nakas tersebut. Dibukanya laci nakas tersebut, keningnya nampak berkerut karena hanya terdapat sebuah foto usang yang berdebu. Tangan Darren terulur meraih foto tersebut, lalu kembali ke tempat duduknya semula.
"Apa ini yang kau inginkan?" Lalu menyodorkan kepada kakek Mateo.
Namun Kakek Mateo tidak berniat mengambil foto usang tersebut dari tangan Darren. "Berikan kepadanya," katanya tertuju kepada Arthur.
Arthur menyambar foto tersebut, dilihatnya foto satu keluarga yang tentunya sangat ia kenali. Siapa lagi jika bukan Keluarga Jhonson.
"Apa ini?" tanyanya dengan kedua alis yang saling bertaut bingung. Sepenglihatannya tidak ada yang aneh dengan foto itu. "Apa yang sebenarnya ingin kau beritahukan kepadaku?" Dan Arthur bertanya dengan penuh ketidaksabaran.
"Di dalam foto itu adalah Matthew saat masih muda bersama dengan ayahnya dan yang disebelah ayahnya, pemuda berambut sedikit panjang adalah Todd, adik tiri dari ayah Matthew. Dia pandai bersandiwara selama ini, berpura-pura baik di depan Tobbi dan juga Matthew. Sudah lama aku mencurigainya jika kematian Matthew dan keluarganya karena ulahnya." Bibirnya nampak bergetar saat menceritakan mengenai masa lalu keluarga teman baiknya.
"Ma-maksudmu, dia yang sudah melakukan pembunuhan kepada saudaranya sendiri?" Jari telunjuk Arthur menyentuh gambar pria yang bernama Todd.
"Ya, aku yakin itu pasti dia. Dia menginginkan harta milik Tobbi yang diwariskan kepada Matthew karena dia tidak mendapatkan sepeserpun." Keduanya tangannya yang keriput itu menggenggam kuat tongkatnya dan mengeram amarah di dalam hati. "Aku sudah sangat tua, pusat informasi ini sudah lama tutup karena aku tidak bisa meneruskannya. Selama ini Matthew yang membantuku tapi begitu dia hilang dan dinyatakan tewas bersama keluarganya, tempat ini juga dihancurkan oleh seseorang," terangnya.
"Dimana aku bisa menemukan Todd?" Pertanyaan Arthur membuat kepala Kakek Mateo bergerak ke arahnya.
Kakek Mateo dengan cepat menggeleng. "Jangan sia-siakan nyawamu untuk mencari tau tentang Keluarga Jhonson. Keluarga itu banyak menyimpan rahasia, selama ini tidak ada yang mengetahui jika Matthew adalah anak dari seorang mafia." Menceritakan tentang temannya, kedua mata Kakek Mateo berkaca-kaca, ia sangat merindukan temannya tapi justru kabar duka yang diterimanya ketika ia baru saja kembali dari perjalanan berkelana ke pegunungan Balkan, Bulgaria.
Sejujurnya Arthur tertegun mendengar kenyataan tersebut, bahwa Paman Matthew adalah bagian dari dunia bawah. Namun ia pandai menyembunyikan ekspresinya tersebut.
"Aku pasti bisa menemukan seseorang yang sudah membunuh Paman Matthew dan keluarganya." Sorot mata Arthur nampak berkilat penuh amarah. Kini ia sudah menemukan suatu petunjuk.
Kakek Mateo nampak terharu dengan pemuda yang nampak seperti bukan dari kalangan biasa. "Terima kasih nak. Tapi alangkah baiknya jika kau tidak perlu ikut campur, karena Todd tidak sendirian. Mereka orang-orang yang sangat berbahaya."
"Mike adalah temanku. Aku banyak belajar darinya, tapi dia menghilang begitu saja tanpa kabar," jawabnya memberitahu jika dirinya dengan putra dari Paman Matthew memiliki hubungan pertemanan. "Jika Mike tewas karena dibunuh, tentu aku harus membalas kematiannya." Tidak ada keraguan yang nampak di sorot mata Arthur, ia sangat yakin dengan keputusannya.
Kakek Mateo hanya mampu menghela napasnya. Ia tidak bisa melarang keinginan pria di hadapannya itu. Sebab itu ia hanya bisa mendoakan agar kedua pria di hadapannya baik-baik saja. "Semoga Tuhan memberkati kalian," ucapnya tulus. "Aku tidak akan hidup lebih lama lagi, karena itu aku akan menitipkan sesuatu kepada kalian. Berikan aku alamat email agar aku bisa mengirim secepat mungkin barang berharga milik Matthew."
Arthur dan Darren saling pandang. Mereka paham jika memang ada harta benda yang tidak bisa diperlihatkan dalam bentuk fisik. Dengan segera Arthur memberikan alamat email pribadi miliknya. Kakek Mateo nampak bernapas lega, kini ia bisa tertidur dengan tenang karena ada yang menjaga peninggalan terakhir milik Matthew setelah dirinya tiada.
To be continue
Babang Arthur
Daddy Xavier
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...