The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Aku Akan Kembali Menemuimu



Mobil yang dikendarai oleh Arthur terlihat memutar arah hingga semakin melesat cepat. Kabar buruk yang baru saja diterima olehnya membuatnya meradang sekaligus gelisah. Ya, ia baru saja mendapatkan laporan mengenai Aurelie yang sedang berada dalam bahaya.


Sebelumnya ia sudah mengutus Darren untuk terlebih dulu meluncur ke lokasi. Bahkan menyebarkan beberapa anak buah Black Lion agar mengejar jejak mobil yang berusaha mencelakai Aurelie. Dan beberapa menit di perjalanan, mobilnya sudah tiba di lokasi dua anak buah bayangan yang selama ini diperintahkan olehnya untuk mengawasi Aurelie dari jarak jauh. Terdapat mobil anak buahnya yang menepi tidak teratur di kepung oleh beberapa anak buah Black Lion yang lain. Arthur lantas menepikan mobilnya, ia terburu-buru turun dari mobil dan menghampiri beberapa anak buahnya.


"Apa yang terjadi?" tanya Arthur membuat semua yang disana menoleh ke arahnya.


"Bos Ar, sepertinya mereka menghirup gas beracun." Salah satu dari mereka menyahuti. Sebelumnya mereka sudah memeriksa penyebab kematian dua rekan mereka dan terdapat sisa gas beracun terpapar di dalam mobil.


"Mereka tewas?" Arthur bertanya kembali sembari menelisik ke dalam mobil.


"Benar Bos Ar. Itu sebabnya kami terlambat menerima laporan jika Nona Elie dalam bahaya. Mereka sudah lebih dulu tewas sebelum memberikan sinyal."


Mendengar penuturan anak buah, Arthur menyugar rambutnya frustasi. Jika dua anak buah bayangan saja mudah disingkirkan, sudah pasti musuhnya sudah memperhitungkan dan menyelidiki sebelumnya.


"Lalu dimana Darren?" tanyanya kemudian saat tidak mendapati Darren disana. Padahal seharusnya teman sekaligus tangan kanannya itu sudah tiba lebih dulu darinya.


"Darren baru saja pergi menuju Perbatasan Jurassic," jawabnya. Memang sebelum kedatangan bos mereka, Darren memeriksa kondisi kedua anak buah bayangan tersebut.


Arthur mengangguk. "Kalau begitu kalian urus mayat mereka. Pastikan tidak meninggalkan jejak apapun."


"Baik Bos Ar." Mereka menyahut serentak.


Kemudian Arthur memasuki mobilnya kembali dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju Perbatasan Jurassic. Ia berharap-harap cemas akan keadaan adiknya yang mungkin saja juga terdapat gas beracun di dalam mobil adiknya itu.


"Damn it!!!" Arthur meninju stir kemudinya, meruntuki dirinya yang lalai mengawasi Aurelie.


***


Mikel masih berusaha memberikan napas buatan untuk Aurelie. Ia tidak menyerah begitu saja sebelum melihat wanitanya kembali sadar. Hingga beberapa menit lamanya memberikan napas buatan, tubuh Aurelie terguncang bersamaan dengan semburan air yang keluar dari mulutnya hingga terbatuk-batuk.


Sungguh, jantung Mikel yang berdegup cepat penuh kecemasan itu akhirnya bisa berdetak dengan normal kembali, lantaran wanitanya sudah berangsur sadar.


"Kau benar-benar membuatku cemas, Sweetheart." Mikel mengangkat kepala Aurelie lalu menjadikan kedua pahanya sebagai bantalan kepala wanita itu. Meskipun Aurelie masih dalam keadaan lemas dan belum membuka matanya, setidaknya ia berhasil mengeluarkan air yang hinggap di rongga dada Aurelie.


"Tuan...." Suara tidak asing mengalihkan perhatian Mikel. Pandangannya tertuju pada seseorang yang menghampirinya.


"Nath, kau disini?" Mikel tertegun mendapati Nathan yang berada di Perbatasan Jurassic, ia mengira jika Nathan kembali ke perusahaan.


"Benar, saya mengikuti mobil Tuan," sahutnya.


"Apa kau melihat semuanya?" tanyanya memastikan. Karena jika sedari tadi Nathan mengikuti mobilnya, sudah pasti asistennya itu melihat semua yang ia sembunyikan selama ini.


Nathan mengangguk sebagai jawabannya, sehingga membuat Mikel menghela napas panjang. Jika memang benar Nathan telah melihat semuanya, ia berharap jika pria itu tidak akan takut kepadanya.


"Bagaimana keadaan Nona Elie?" Namun wajah Nathan nampak biasa saja, seolah tidak melihat apapun. Ia tetap bersikap seperti biasanya, selalu mencemaskan apapun yang berhubungan dengan Mikel. Padahal ia baru saja menyaksikan Tuannya membunuh seseorang.


"Dia sudah baik-baik saja. Kita hanya perlu membawanya ke rumah sakit."


"Kalau begitu kita harus cepat membawa Nona Elie ke rumah sakit terdekat, saya akan menyiapkan mobilnya."


Mikel mengangguk mengiyakan. Namun baru saja hendak melangkah, terlihat anak buah Mikel dengan luka sayatan di lengan serta wajahnya tergopoh-gopoh menghampirinya.


"Bos, Sid baru saja memberikan informasi jika dia sudah menemukan keberadaan Franco." Ponsel Mikel yang berada di dalam mobil membuat anak buahnya itu terpaksa menjawab panggilan tersebut, sebab sedari tadi ponsel bosnya itu tidak berhenti berdering.


Mendengar penuturan dari anak buahnya, tubuh Mikel menegang. Sejenak terdiam dengan sorot matanya yang penuh kebencian mendengar nama itu sejak puluhan tahun sulit menemukan keberadaan pria itu.


"Bos, apa kau mendengarku?" Anak buah tersebut bersuara kembali, memastikan jika bosnya mendengar apa yang baru saja disampaikan olehnya.


"Katakan kepadanya aku akan datang ke Markas," sahut Mikel setelah seperkian detik terbungkam.


"Baik...." Dan anak buah tersebut segera berlalu dari sana.


"Maafkan aku, Sweetheart." Mikel sedang dalam keadaaan dilema. Di satu sisi ia ingin memastikan sendiri keadaan Aurelie dengan membawanya ke rumah sakit. Namun di sisi yang lain ia harus segera pergi ke Markas untuk menemui Sid dan mereka akan mengeksekusi Franco, pria bajingan yang sudah membuat hidup adiknya menderita selama ini. Sudah puluhan tahun ia berupaya mencari keberadaan pria itu, namun usahanya selalu gagal, karena Franco begitu dilindungi oleh pria tua keparat itu. Dan selama mengenal Sid dan bergabung ke kelompok temannya itu, Sid membantu dirinya mencari keberadaan Franco.


Dan kini pilihan tersulit karena keduanya begitu penting. Tidak mungkin ia membiarkan anak buahnya membawa Elie ke rumah sakit tanpa dirinya. Tetapi ia juga tidak bisa mengabaikan informasi dari Sid, karena sudah puluhan tahun mereka mencari keberadaan Franco. Dan baru saat ini Sid berhasil menemui keberadaan pria itu. Ia tidak ingin kehilangan jejak pria itu lagi dan harus menunda membalaskan apa yang terjadi sebelas tahun silam.


"Tuan, kita harus cepat membawa Nona Elie ke rumah sakit." Suara Nathan yang mengingatkan kembali untuk segera pergi ke rumah sakit membuyarkan lamunan Mikel.


Mikel tersadar dan hendak mengangkat tubuh Aurelie, tetapi pergerakan tangannya tiba-tiba saja terhenti. Kepalanya kembali mendongak untuk melihat sosok langkah pria yang baru saja datang.


"Kau...?" Sebenarnya Mikel sudah tidak terkejut lagi akan sosok pria itu. Sebab cepat atau lambat mereka akan menemukan keberadaan Aurelie. Namun ia tidak menyangka jika dirinya harus berhadapan dengan pria yang juga memiliki perasaan terhadap wanitanya.


Ya, pria yang baru saja datang itu adalah Darren. Darren juga tidak mampu menutupi keterkejutannya saat mendapati Mikel yang ternyata sudah lebih dulu menyelamatkan Aurelie. Sedikit lega karena ia bisa melihat jika wanita itu baik-baik saja, meskipun dalam keadaan tidak sadarkan diri. Namun ia tidak bisa menampik jika dirinya tidak rela saat pria lain begitu terlihat mencemaskan hingga rela mengorbankan diri untuk menyelamatkan Aurelie.


"Nona Elie.... dia.... baik-baik saja?" tanya Darren. Pertanyaan yang biasa bagi yang mendengarnya, bahkan Nathan yang turun menyaksikan tidak mencurigai gelagat Darren yang tengah cemburu. Karena Darren pandai mengatur ekspresi dan emosinya.


"Elie baik-baik saja. Aku sudah memberikan pertolongan pertama." Mikel pun menunjukkan wajah yang datar. Memberikan kesan jika hari ini adalah pertemuan secara langsung di antara mereka. Meskipun di masa lalu mereka sering kali bertemu, namun tidak pernah saling berbicara, hanya sesekali bertegur sapa.


Darren bukan pria awam yang tidak mengerti, ia paham jika seseorang tenggelam, maka pertolongan pertama yang dilakukan adalah memberikan napas buatan dari bibir. Secara tidak langsung, Mikel dan Aurelie berciuman. Dan membayangkan hal itu teramat menyesakkan dadanya.


Mikel lantas mengangkat tubuh Aurelie dan berjalan ke arah Darren yang juga menatap dirinya dengan datar. "Aku tidak bisa membawa Elie ke rumah sakit. Aku serahkan dia kepadamu. Tapi aku akan menemuinya kembali setelah urusanku selesai," ucapnya penuh keseriusan. Membiarkan Darren menggendong wanitanya, meski terselip ketidakrelaan, namun itu lebih baik dibandingkan membaringkan tubuh wanitanya di atas batu yang keras.


Seperti Mikel yang begitu lembut kepada Aurelie, tatapan Darren pun melembut kala menatap wajah wanita itu di dalam dekapannya.


"Sweetheart, aku akan kembali menemuimu." Persetan dengan tatapan Darren kepada wanitanya, ia membelai lembut rambut wanitanya dengan seulas senyum.


Dan tanpa disadari oleh keduanya jika Aurelie sudah sedari tadi dalam keadaan setengah tersadar, samar-samar ia dapat mendengar suara pria yang begitu tidak asing. Namun ia begitu sulit untuk membuka matanya, padahal ingin sekali dirinya membuka mata dan memastikan dengan kepala matanya sendiri jika ia tidak mungkin salah mengenali suara itu.


Darren dapat melihat bagaimana tatapan Mikel kepada Aurelie. Nampak mengernyitkan kening karena merasa tidak asing dengan tatapan itu.


Dan tanpa berpamitan kepada Darren, Mikel melenggang pergi begitu saja dalam keadaan pakaian yang basah. Ia lalu mengajak Nathan pergi dari sana. Karena Nathan sudah melihat semuanya, tidak ada salahnya jika ia membawa asistennya itu untuk pergi ke Markas. Setidaknya Nathan memiliki persiapan jika sewaktu-waktu nyawanya terancam dan ia tidak bisa melindunginya.


Mobil Mikel serta beberapa anak buahnya baru saja meninggalkan Perbatasan Jurassic. Tidak berselang lama, mobil milik Arthur dan dua mobil anak buah Black Lion tiba disana. Berselisih jalan dengan mobil milik Mikel, sehingga ia tidak mengetahui jika pria yang ingin ia jauhkan dari adiknya, baru saja menyelamatkan nyawa adik tercintanya.


"Der, bagaimana keadaan Elie?" Arthur begitu cemas mendapati Aurelie yang tidak sadarkan diri di dalam dekapan Darren.


"Elie baik-baik saja Ar, dia hanya pingsan," sahut Darren.


"Kalau begitu cepat masukan Elie ke dalam mobil. Kita akan membawanya ke rumah sakit terdekat." Arthur menuntun Darren untuk segera memasukkan adiknya ke dalam mobilnya. Sebelum kemudian keduanya meninggalkan Perbatasan Jurassic, diikuti oleh anak buah.


"Baguslah, kau datang cepat waktu Der." Arthur tidak mengetahui jika yang telah menyelamatkan adiknya adalah Mikel, ia mengira jika Darren-lah yang datang cepat waktu sehingga adiknya terselamatkan.


Darren terlihat tidak menyahut dan hanya menoleh sekilas ke arah Arthur yang sedang fokus mengemudi. Bukankah seharusnya ia memberitahukan yang sebenarnya? Namun kenapa terasa sulit sekali untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Apa ia harus membiarkan Arthur berpikir jika dirinya-lah yang telah menyelamatkan Aurelie?


To be continue


Babang Arthur



Babang Darren



...Jangan lupa dukungan kalian ya.. untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...