The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Jatuh Ke Dalam Pelukanku



Sorot mata Arthur memicing tajam. Merasa tidak nyaman dengan sikap wanita itu yang berubah seperti dulu. "Jika kau tidak ingin pergi, maka biar aku yang pergi!" Arthur beranjak dan hendak berlalu. Namun pergelangan tangannya di tahan oleh Helena.


Melihat sikap Arthur yang tidak bersahabat itu membuat Helena terkekeh geli. "Tetaplah disini, ini adalah tempat dudukmu bersama asistenmu. Tadi aku hanya bercanda saja." Masih mempertahankan senyum tipisnya.


Arthur tidak menyahut, sorot matanya justru tertuju pada pergelangan tangan yang di genggam oleh Helena.


"Maaf..." Helena segera melepaskan genggamannya, ia sadar bahwa telah memancing kemarahan pria di hadapannya itu. "Kalau begitu aku pergi. Silahkan menikmati makan siangmu." Menyematkan senyuman sebelum berlalu pergi dari sana.


Darren menghampiri pada saat wanita itu sudah pergi dari tempat duduknya. Sedari tadi ia bersandar di balik dinding dan menunggu wanita itu menyelesaikan tujuannya. Darren mengakui keberanian wanita itu, untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang berani mengganggu Arthur dan untuk pertama kalinya juga Arthur merasa terusik dengan gangguan seorang wanita. Biasanya Arthur tidak pernah menanggapi siapapun itu, dan justru melimpahkan kepada dirinya untuk mengusir para wanita-wanita yang mengusik.


Meskipun Arthur tidak ingin mengakuinya, akan tetapi Darren cukup paham sikap dan karakter Arthur selama ini. Hanya menunggu teman sekaligus atasannya itu untuk menyadari perasaannya.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu Der?!" seru Arthur dengan kerutan dalam pada keningnya yang berusaha menahan kekesalan yang bertalu-talu.


"Tidak ada." Darren menjawab acuh. "Duduklah, pelayan sudah datang membawakan pesanan kita." Lirikan singkat matanya tertuju pada salah satu pelayan yang berjalan ke arah meja mereka.


Arthur pun menyadari kedatangan seorang pelayan wanita, ia pun segera mendudukkan dirinya kembali. Arthur menyantap makanannya yang terasa hambar menurutnya, namun ia harus tetap menjaga pola makannya agar daya tahan tubuhnya tetap stabil.


***


Sementara di ruangan lain, Helena baru saja menyelesaikan makan siangnya. Lagi-lagi ia harus makan seorang diri, katakanlah ia tidak memiliki teman, karena memang kenyataannya seperti itu. Semenjak ibunya tiada, Helena membatasi dirinya dan memutuskan untuk pindah ke Paris. Meninggalkan kenangan yang pahit sekaligus menyakitkan.


Getaran ponsel yang tergeletak di atas meja mengalihkan perhatian Helena. Wanita itu tersenyum tipis ketika melihat nama yang tertera pada layar ponselnya.


"Ada apa, Chris?" tanyanya begitu menjawab panggilan dari asistennya yang bernama Christy.


"Nona, saya sudah mendaftarkan ulang Carl Valentine untuk event kali ini. Apa Nona bisa secepatnya kembali ke Paris?" Christy, sang asisten dilanda kecemasan jika Helena tidak kembali ke Paris untuk mengikuti ajang kontes Paris Fashion week yang akan berlangsung enam hari yang akan datang. Mereka sudah bekerja keras dan sudah sangat siap memamerkan koleksi-koleksi indah rancangan butik mereka di ajang Fashion Internasional tersebut.


Helena tersenyum, hal penting tersebut tidak mungkin ia lupakan begitu saja. "Kau tenang saja Chris, lusa aku akan kembali. Kau siapkan saja semua rancangan-rancangan yang sudah kita buat sesempurna mungkin. Kali ini Carl Valentine akan mendapatkan tropi lagi." Sembari terkekeh Helena berucap penuh percaya diri. Kemampuan dan popularitas semua rancangannya selama ini tidak perlu diragukan lagi dan sudah dapat pengakuan dari industri mode.


"Baik Nona, saya sudah menyiapkan hasil rancangan kita yang sudah siap 97%, sisanya hanya perlu menunggu tangan ajaib Nona untuk menyempurnakannya."


"Hem, kalau begitu aku tutup dulu, aku baru saja selesai makan siang."


"Baik Nona, maafkan saya sudah mengganggu makan siang Nona." Christy menjadi tidak enak hati telah mengganggu acara makan siang atasannya itu.


"Tidak masalah Chris," sahutnya ramah sebelum kemudian memutuskan sambungan panggilan tersebut.


Helena beranjak berdiri dan meraih tas jinjing miliknya, ia memasukkan ponsel ke dalam tas miliknya. Baru saja ia keluar dari restoran tersebut, tangannya tiba-tiba di tarik oleh seseorang.


"Apa yang kau lakukan?!" Helena memekik dan sontak menepis kasar tangan seseorang yang berani menariknya.


"Nona Helen, aku hanya ingin bertemu denganmu. Belakangan ini aku kesulitan menghubungimu. Apa kau memblokir nomorku?" Pria tampan bertubuh tinggi dengan bulu tipis di rahangnya menatap Helena penuh damba. Sudah lama ia ingin mendekati Helena, namun sosok mantan kekasihnya selalu menghalangi dirinya.


"Aku tidak menyimpan nomor ponsel seseorang yang tidak kukenal. Jadi sebaiknya kau menyingkir dari hadapanku!" Sungguh Helena jengah dengan pria di hadapannya itu. Meskipun tampan, tetapi ia tidak menyukai pria itu. Terlebih pria tersebut adalah mantan kekasih Caroline.


"Tunggu Nona Helen." Pria tersebut menghalangi jalan Helena yang hendak berlalu pergi. "Aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu. Selama ini aku berusaha mencari keberadaanmu dan saat aku tau kau berada di London, aku mencoba menghubungimu tapi aku tidak pernah membalas pesan dariku."


Helena berdecak malas, kedua tangannya menyilang di depan dada. "Apa kau tidak mengerti jika semua yang kau lakukan sudah menggangguku. Jika aku memblokir nomor ponselmu, itu artinya kau sudah keterlaluan!"


Kening pria itu menaut bingung dengan kerutan dalam pada dahinya. "Memangnya apa yang sudah kulakukan? Aku hanya mengungkapkan perasaanku saja."


"Dan aku sudah menolakmu. Jadi jangan menggangguku seperti ini!" Demi Tuhan, Helena begitu jengah menghadapi pria tidak tahu malu seperti pria di hadapannya itu.


"Tidak bisakah kau mempertimbangkanku sekali saja? Aku benar-benar mencintaimu Nona Helen. Aku...."


"EDWIN??!!" Teriakan seorang wanita memekikkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Dengan geraman kesal, wanita itu menghampiri Helena dan pria yang bernama Edwin itu.


"Carol?" Mimik wajah Edwin mendadak gelisah.


"Jadi ini yang kau lakukan hah? Baru saja kita kembali bersama dan kau mendekati wanita jalaang ini?!" Wajah Caroline merah penuh amarah. Sungguh ia tidak terima jika kekasihnya itu kembali menggoda Helena.


"Tidak Carol, aku hanya-"


"Ck, kau benar-benar keterlaluan ingin mengambil kekasihku. Dasar tidak tau malu, kau masih saja ingin merebut apapun yang kumiliki!" Caroline tidak mengindahkan Edwin yang ingin menjelaskan sesuatu kepadanya. Ia sudah kepalang kesal dan harus memberikan pelajaran kepada kakak tirinya yang tidak tahu malu itu.


Helena menarik napas panjang, untuk menghadapi Caroline membutuhkan banyak kesabaran. Ia tidak habis pikir bisa bertemu dengan Caroline di Kota London, padahal ia dengan sengaja tidak menginjakkan kaki ke Kota Bristol agar tidak bertemu dengan keluarganya itu.


"Jaga bicaramu! Mommy-mu yang sudah merebut Daddy dari Mommy-ku!" Caroline tidak terima, ingin sekali ia menjambak rambut Helena.


"Carol, hentikan!" Edwin mencoba menahan bahu kekasihnya itu agar tidak bertindak berlebihan.


"Jangan menyentuhku!" Caroline menghempaskan kedua tangan Edwin. "Kau juga sudah tergoda oleh jalaang ini, aku tidak bisa diam saja!" Caroline kemudian bergerak maju.


"Ada apa ini?!!"


Pandangan ketiganya teralihkan pada sumber suara yang terdengar begitu dingin. Caroline serta Edwin terkejut dengan sosok pria tampan dan sangat terkenal di dunia bisnis, serta merupakan Pewaris Keluarga Romanov, keluarga terpandang dan nomor satu di Kota London.


Caroline bersusah payah menelan salivanya lantaran begitu terpesona dengan ketampanan Arthur. Selama ini ia hanya melihat sosok pria tampan di hadapannya itu di dalam media cetak ataupun televisi, akan tetapi hari ini keberuntungan menyertainya, sebab bisa bertemu secara langsung dengan pewaris keluarga nomor satu.


"Tuan Arthur?" Bahkan suara Caroline seolah tercekat ketika memanggil nama pria itu.


Berbeda dengan Helena yang terlihat biasa saja, Caroline serta Edwin masih tidak percaya apa yang mereka lihat saat ini.


"Jika ingin bertengkar bukan disini tempatnya. Kalian sudah menghalangi jalanku!" ujar Arthur dingin dan dapat membekukan sekitar. Pandangannya menyoroti Caroline dan juga Edwin, kemudian tersita pada sosok Helena.


"Tuan, maafkan kekasihku. Dia hanya-"


"Apa yang kau katakan. Memangnya kau siapa? Kau bukan kekasihku!" Caroline menyela ucapan Edwin, ia harus menghentikan perkataan pria itu yang mengakui dirinya sebagai kekasih Edwin di hadapan Arthur. Edwin dibuat terperangah dengan perkataan Caroline yang tidak mengakuinya. "Maaf Tuan Arthur, pria ini selalu mengejarku, padahal dia sendiri sudah memiliki kekasih." Caroline melemparkan senyum manis kepada Arthur, ekor matanya melirik ke arah Helena, menandakan kekasih Edwin adalah wanita itu.


Helena berdecak, tidak habis pikir apa yang sedang direncanakan putri ular itu.


"Dasar wanita gila!" cetus Helena kepada Caroline yang mulai berulah.


"Hei, kau yang gila! Apa kau lupa jika selama ini kau...." Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Helena melenggang pergi. Wanita itu sungguh jengah dengan drama adik tirinya itu untuk menarik perhatian seorang pria. "Hei, kau mau kemana?! Aku belum selesai bicara!"


"Carol, jangan seperti ini. Apa kau tidak malu dilihat oleh Tuan Arthur?" Edwin mengingatkan sikap Caroline yang selalu lepas kendali. Inilah yang sebenarnya ia tidak sukai dari kekasihnya itu.


"Ck, menyingkirlah. Kau bukan kekasihku!" Caroline mendorong dada Edwin, membentangkan jarak mereka. Pandangan Caroline menjadi melembut ketika bersitatap dengan Arthur. "Tuan Arthur, senang bertemu denganmu. Apa Tuan keberatan jika menerima ajakanku untuk minum teh bersama?" Dengan sengaja Caroline mengeluarkan pesonanya, ia bahkan membusungkan dadanya yang sedikit menyembul dari balik pakaian seksi yang dikenakannya.


Edwin yang merasa diabaikan, memutuskan untuk pergi dari sana. Lebih baik ia mengejar Helena, pikirnya.


"Nona Helen?!!"


Teriakan Edwin tentu saja mengguncang telinga Arthur. Matanya memicingkan tajam pada sosok pria itu yang mengejar Helena yang sudah menjauh. Kedua tangan Arthur mengepal di kedua sisi pahanya.


"Tuan Arthur, kenapa diam saja?" Caroline mencoba mengikis jarak.


Darren menatap jijik wanita yang seperti cacing kepanasan itu. Ia menoleh ke arah Arthur yang tidak bergeming sedikitpun.


"Tuan??"


"Jangan menyentuhku!" Arthur bereaksi ketika Caroline hendak menyentuh tangannya. "Dengar baik-baik Nona, aku tidak memiliki waktu untuk meladenimu! Jadi menyingkirlah!" hardiknya kemudian.


"Tapi aku-"


"Maaf Nona, sebaiknya jangan memancing kemarahan Tuan Arthur." Darren menghalangi Caroline yang kembali ingin mendekati Arthur.


Tidak pedulikan wanita di hadapannya itu, Arthur berlalu pergi dan segera di susul oleh Darren. Caroline menatap kecewa, kesempatan pertamanya untuk menggapai pria itu gagal sudah. Tetapi ia tidak akan menyerah begitu saja, sebab ia sudah tahu siapa pria yang bisa membuatnya mengalahkan kekayaan Mikel Jhonson.


"Mom, aku akan membuat Tuan Arthur jatuh ke dalam pelukanku," gumamnya dengan seringai senyum. Ia begitu yakin jika dapat menaklukkan Pewaris Keluarga Romanov.


To be continue


Caroline



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...