The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Wanitaku!



Seorang pria terlihat duduk di balkon sebuah bar lantai atas sembari menikmati red wine. Pandangannya selalu dipusatkan pada atrium yang nampak jelas terlihat dari tempat duduknya. Hingga sejak tadi pria itu tidak mengalihkan pandangan dari seorang wanita cantik berbalut gaun di atas lutut berwarna marron. Sebenarnya ia kesal karena gaun wanita itu memperlihatkan bahu putih mulusnya, namun tidak dipungkiri jika ia terpesona dengan semua yang ada pada wanita itu.


Senyum wanitanya seperti menular padanya, hingga ia pun melesatkan senyum tipis. Ia mengira jika wanita itu akan berurai air mata ketika melihat mantan kekasihnya bertunangan dengan wanita lain. Tetapi lihatlah, wanitanya itu tidak nampak kecewa maupun terdapat guratan kesedihan di wajah cantiknya. Tentu hal itu semakin membuatnya jatuh cinta kepada wanitanya, wanita yang selalu kuat dan tidak mengandalkan nama besar keluarganya. Berdiri di atas kakinya sendiri tanpa bantuan siapapun, termasuk kakak kembarnya.


Ya, pria tersebut tidak lain ialah Mikel Jhonson. Sudah satu jam yang lalu ia berada disana, karena ia baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan salah satu koleganya di hotel yang sama dengan Aurelie berada. Hanya saja berbeda satu lantai, tetapi pemandangan atrium di bawah sana dapat dengan jelas dilihatnya.


Semula tidak ada masalah, acara pertunangan pria bodoh itu berjalan dengan baik. Bahkan Mikel dapat melihat dengan jelas jika saat itu wanitanya ingin menghampiri Brandon, pria bodoh itu. Namun seketika rahangnya tiba-tiba mengeras saat menyaksikan secara langsung jika seorang wanita setengah baya menghalangi jalan wanitanya.


Masih diam memperhatikan, Mikel mencengkram kuat gelas yang di genggamnya. Sorot matanya terus mempertajam ketika mereka semakin ingin menjatuhkan harga diri Aurelie.


"Bajingan!!" Bahkan Mikel harus mengumpat ketika Brandon pun turut menggurui wanitanya. Membuat darah di dalam tubuhnya mendidih seketika, lantas Mikel segera beranjak dan berlalu dengan penuh amarah.


"Tuan ingin kemana?" Seorang barista pun tidak dihiraukan oleh Mikel yang semakin berjalan menjauh.


Mikel melangkah dengan tegas dan diiringi kekesalan yang membuncah. Satu tangannya di masukkan ke dalam saku celana, sementara tangan lainnya terkepal kuat.


Berani-beraninya mereka mempermalukanmu, Sweetheart.


Tidak terima melihat wanitanya diperlakukan buruk seperti itu, Mikel ingin segera menghancurkan mereka. Bahkan jika perlu membunuh mereka langsung dengan tangannya sendiri. Begitu langkahnya sudah keluar dari lift, ia segera melesat menuruni tangga yang terhubung dengan atrium.


"Elie???!!" Brandon kembali memanggil dengan suara yang penuh dengan amarah, sebab Elie hanya diam terbungkam. Bahkan kedua tangan Brandon sudah mendarat di bahu Aurelie yang terbuka lalu mengguncangnya.


Dengan jelas Mikel dapat mendengar Brandon menekan wanitanya. Bahkan tangan kotor pria itu berani menyentuh kedua bahu mulus wanitanya. Menambah kilatan amarah pada sorot mata Mikel, namun ia berusaha untuk tetap tenang di hadapan wanitanya.


"SINGKIRKAN TANGANMU DARINYA!!"


Perhatian mereka yang semula tertuju kepada Aurelie, kini tersita pada suara bariton pria yang menghampiri wanita itu dengan wajah yang nampak tenang, namun sorot matanya terselip amarah.


Tangan Brandon reflek menjauh dari kedua bahu mantan kekasihnya karena mendengar suara bariton yang menggelegar itu.


"Mikel?" Aurelie bergumam. Ia tidak menduga jika pria itu juga berada di hotel yang sama dengannya.


Berbeda dengan Aurelie yang biasa saja melihat keberadaan Mikel. Brandon, Carmela serta Nyonya dan Tuan Sandler terkejut mendapati pemilik perusahaan raksasa yang belakangan ini begitu ramai diperbincangkan di dunia bisnis dan pria itu terlihat menghampiri Aurelie, tidak terkecuali Tuan Alan Born. Pria paruh baya itu spontan beranjak berdiri, karena melihat pria yang sudah merekrut kerja sama dengan beberapa model agensinya juga berada di hotel yang sama dengannya.


"Tuan Mikel??" Tuan Sandler sudah berdiri di sisi sang istri. Ia hendak menyapa pembisnis muda itu. Pasalnya perusahaan mereka baru saja akan bekerja sama, dan ia tidak ingin Tuan Mikel salah paham dengan apa yang baru saja terjadi. "A-aku tidak menyangka jika Tuan Mikel benar-benar menghadiri pertunangan putra kami." Tuan Sadler tersenyum kepada pria yang sorot mata yang tidak ramah. Meskipun begitu, ia sangat senang karena Tuan Mikel berkenan menghadiri undangannya. Dengan begitu ia bisa menunjukkan kedekatannya dengan pemilik perusahaan MJ Corp kepada keluarganya yang lain serta tamu yang lain.


Mikel tidak menyahut, ia semakin sengit menatap pria paruh baya itu, lalu bergantian menatap Nyonya Sandler yang kini tersenyum kikuk kepadanya.


"Aku hanya kebetulan berada di hotel ini dan tidak tertarik untuk menghadiri acara pertunangan putramu!" ucapnya menjelaskan. Ia tahu jika Tuan Sandler berusaha menggunakan namanya untuk menarik perhatian semua tamu.


Benar saja wajah Tuan Sandler tertunduk malu, niat hati ingin menunjukkan kedekatannya dengan pembisnis muda yang tersohor itu, kini justru pria muda itu yang mempermalukan dirinya.


"Ah, begitu ya." Nyonya Sandler berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba canggung itu. "Tuan Mikel pasti sibuk, jadi kami memaklumi ketidakhadiran Tuan," ucapnya masih mempertahankan senyumnya. "Tapi cobalah hidangan disini Tuan. Tuan pasti belum makan malam," sambungnya mempersilahkan.


Dan Carmela mencoba tersenyum ramah kepada Mikel dan tidak menghiraukan keberadaan tunangannya yang mencoba mendekati Elie. Meskipun sejujurnya ia menahan geram karena Brandon berani memanfaatkan keadaan mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa selama masih ada Mikel.


"Elie, aku ingin bicara denganmu." Brandon benar-benar memanfaatkan situasi. Di saat perhatian Mommy serta tunangannya tertuju pada pria yang bernama Mikel itu, Brandon ingin meluruskan masalah mereka. Tangan Brandon menyambar pergelangan tangan Aurelie, hingga menguat Aurelie reflek menepisnya.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Brandon!" sahut Aurelie menegaskan.


Sedari tadi Mikel menyorot tajam ke arah Brandon yang berusaha mendekati wanitanya dan tidak menghiraukan ucapan Nyonya Sandler yang menawari dirinya untuk menikmati hidangan. Ck, jika saja tidak ada Elie, ia juga malas menginjakkan kakinya di acara pesta membosankan itu, pikirnya.


Mikel berangsur mendekati wanitanya disertai tatapan tidak bersahabat. "Tidak perlu menjelaskan apapun kepadanya," ucapnya lembut kepada Aurelie. Sorot mata yang tajam itu melembut saat berbicara kepada Aurelie. Hingga membuat Brandon yang berada di hadapan keduanya mengernyit dalam.


"Maaf, ini masalah kami. Jadi kau tidak perlu ikut campur," ujar Brandon mendengkus kesal ketika pria asing itu berusaha mencampuri urusannya.


Mikel terkekeh. Bukan urusannya? Lucu sekali ucapan pria bodoh itu hingga menggelitik perutnya. "Kau...." Mikel kemudian menunjuk Brandon, lalu bergantian menunjuk Carmela. "Tunanganmu dan kedua orang tuamu berusaha menjatuhkan dan menghina wanitaku, tentu saja itu menjadi urusanku!"


Deg


Semua yang mendengar pernyataan dari seorang Mikel tentu saja membuat mereka terkejut. Termasuk Brandon yang mendadak membeku. Tetapi tidak dengan Aurelie yang justru memijat keningnya, sebab Mikel mengakui dirinya sebagai wanita pria itu di hadapan banyak orang. Dan reaksi Mandy tidak kalah terkejut, bahkan sorot matanya menuntut penjelasan kepada Elie.


"Wa-wanitamu?" Brandon tergagap. Sungguh ia ingin jika pernyataan itu tidak benar dan ia hanya salah mendengar.


"Benar, WANITAKU!" Mikel mengenaskan dan menggarisbawahi jika wanita yang tengah mereka hina adalah wanitanya.... Miliknya.


"Itu tidak benar!" Carmela yang tidak mempercayai begitu saja maju mendekati Brandon. "Bagaimana mungkin pria terpandang sepertimu mengakuinya sebagai wanitamu!" Dada Carmela bergemuruh, tentunya ia tidak ingin setelah berpisah dari Brandon, wanita tidak tau diri itu justru mendapatkan yang lebih segalanya dari tunangannya.


Aurelie tentunya merasa tersinggung, apa hak wanita itu berbicara seolah dirinya tidak layak mendapatkan siapapun. Bahkan kala itu Nyonya Sandler mengatakan jika putranya tidak layak mendapatkan wanita sepertinya. Lalu kali ini dengan gamblangnya, Carmela berkata seolah ia adalah wanita yang lebih rendah dari apapun.


Carmela kembali bersiap untuk menyerang Aurelie. "Dia terlahir dari kedua orang tua yang tidak jelas asal usulnya. Mungkin saja ibunya sama sepertinya yang suka rela menjual tubuhnya!" Ya, Carmela sudah mencari tahu informasi mengenai wanita itu, tetapi tidak menemukan apapun, sehingga ia menyimpulkan jika Elie berasal dari keluarga yang tidak jelas.


Dada Aurelie bergemuruh hebat, ribuan pisau seperti menghujam tepat ke jantungnya. Tidak hanya menghina dirinya tetapi juga menghina kedua orang tuanya. Apa tadi yang dikatakan wanita itu? Mengatakan Mommy menjual tubuhnya.


"Jaga bicaramu!" Aurelie menunjuk Carmela. Hingga Mikel yang sebelumnya ingin membentak wanita itu terurungkan, lantaran wanitanya sudah lebih dulu membuka suara. "Apa karena aku tidak memiliki kekayaan seperti kalian, kalian bisa seenaknya menghinaku!" Tidak, kali ini ia tidak bisa tinggal diam. Wanita itu perlu dikasih pelajaran agar bisa menyaring ucapannya terlebih dahulu.


"Heh..." Carmela berdecak, ia tidak peduli kemarahan wanita di hadapannya itu. "Kau mulai berani hanya karena ada Tuan Mikel. Kemana tadi keberanianmu, hah?!" bentaknya. Brandon dan Nyonya Sandler mencoba menahan lengan Carmela. Nyonya Sandler tidak ingin seluruh keluarganya mencibir sikap Carmela. Bahkan Tuan Alan Born, mendelik waspada jika Carmela smapai kehilangan kendali dan mempermalukannya.


Tidak hanya Aurelie saja yang geram, Mikel pun merasa tidak terima jika Carmela menghina kedua orang tua wanitanya.


BUG!!


Mereka semua terperangah tidak percaya saat melihat Carmela jatuh tersungkur akibat hantaman di wajahnya.


To be continue


Babang Mikel



...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...


...Always be happy 🌷...


...Instagram : @rantyyoona...