The Billionaire Mafia

The Billionaire Mafia
Bonus Chapter (Budak Cinta?)



Satu hari berlalu hingga kini terhitung sudah dua hari, Austin mencoba menghubungi Licia, akan tetapi gadis itu tidak menjawab panggilannya. Ia bahkan sudah berkunjung ke Kediaman Scott dan hasilnya tetap sama, Austin harus menelan kekecewaan karena Licia tidak ingin menemui dirinya.


"Ace, jangan berlari-larian seperti itu." Suara Helena yang berteriak membuat lamunan Austin membuyar. Sehingga pusat perhatiannya beralih pada Baby Ace yang berlari kecil dan sesekali terjatuh lantaran belum dapat berjalan dengan benar.


Austin terkekeh gemas melihat Baby Ace yang mencoba bangkit berdiri, akan tetapi mencoba untuk berlari kembali. Terlihat jika keponakannya itu pantang menyerah meskipun resikonya harus terjatuh. Ia kemudian segera beranjak berdiri dan menghampiri Baby Ace yang masih mencoba berjalan menjauhi Mommy-nya itu.


Ditangkapnya Baby Ace, lalu menggendongnya. "Hei boy. Apa kau tidak lelah, hm?" ucapnya pada keponakannya yang meronta-ronta minta dilepaskan. "Uncle akan melepaskanmu kalau kau tidak berlari lagi, okay?"


Mendengar perkataan Austin, Baby Ace hanya menatapnya, akan tetapi mengangguk kecil seolah mengerti. "Atuh... atuh... atit (jatuh... jatuh... sakit)," ucapnya dengan bibir mungil yang mengerucut.


"Yes, kalau jatuh memang sakit. Tapi Ace jagoan, bukan?" Lalu Austin menurunkan Baby Ace.


Baby Ace mengangguk-angguk, sembari menunjuk dirinya sendiri. Entah apa maksud keponakannya, Austin yang tidak mengerti hanya tergelak, lalu menjatuhkan diri di atas rumput.


Meski terlihat bingung, Ace mengikuti Uncle-nya duduk di atas rumput. Ia menepuk-nepuk rumput di sisinya. Apapun yang membuatnya menarik, maka Baby Ace hanya akan berpusat pada mainan barunya.


"Kau tau boy, Uncle sedang sakit kepala memikirkan dia. Bagaimana caranya meminta maaf jika dia saja tidak ingin menemui Uncle." Austin berkeluh kesah kepada keponakannya yang tidak mengerti apapun. Kemudian mendongak dan menatap langit biru yang begitu cerah.


"Huuh.... whoo... dadada?"


Kening Austin mengernyit, ia mengalihkan pandangannya dan memperhatikan Baby Ace. "Kau bicara apa, boy? Uncle tidak mengerti apa yang kau katakan."


Dengan wajah bingung Baby Ace, semakin membuat pipi bulatnya mengembung. Dan hal itu sangat menggemaskan di mata Austin.


"Ah, Uncle ingin memakan pipimu yang seperti ini." Lalu mendekatkan bibirnya tepat di wajah Baby Ace, membuat gerakan seolah sedang mengigit dan hal itu sukses membuat Baby Ace tertawa geli.


Helena terkekeh saat melihat interaksi putra dengan adik iparnya itu. Ia pun turut bergabung dan mendudukkan dirinya di atas rumput.


"Ace, give your hands," ucap Mommy Helena menengadahkan tangannya agar putranya meletakkan tangan mungilnya di atas telapak tangannya. Baby Ace menurut sehingga Helena segera membersihkan tangan putranya dengan hand sanitizer lalu menyekanya dengan tissue basah.


Saat selesai membersihkan, Helena memberikan crackers kesukaan Baby Ace. Melihat cracker kesukaan dirinya, Baby Ace segera mengambilnya lalu memasukkan ke dalam mulut.


"Harus dihabiskan." Baby Ace tidak merespons perkataan Mommy-nya. Ia sibuk mengunyah dan bahkan meminta lebih crackers yang belum habis dilahapnya, sehingga kini ia memegang dua crackers di tangan kanan dan kirinya.


"Kakak ipar, apa Lyo masih tidur?" tanya Austin tiba-tiba. Ia merindukan keponakan perempuannya itu. Baby Lyo berbeda dengan Baby Ace, keponakan perempuannya lebih banyak diam dan tidak begitu aktif seperti Baby Ace.


Helena yang menyaksikan putranya yang sedang mengemil itu mengalihkan perhatian dan menatap Austin. "Seharusnya Lyo sudah bangun, karena biasanya Lyo hanya tertidur satu jam saja." Helena sangat tahu jam tidur putrinya yang lebih banyak ketimbang Baby Ace. Karena keduanya sudah dapat berjalan, Baby Ace lebih banyak bergerak sedangkan Baby Lyo yang mudah lelah, maka akan lebih sering tidur.


Austin mengangguk saja, sedangkan Helena menatap lekat adik iparnya. Ia seperti ragu ingin mengeluarkan suara, akan tetapi selama beberapa hari ini ia begitu penasaran.


"As, apa Licia masih belum ingin menemuimu?" Pada akhirnya Helena bertanya dan berharap Austin akan bercerita padanya.


Austin menolehkan kepala ke arah kakak iparnya itu, kemudian kembali menatap Baby Ace yang sudah menghabiskan beberapa crackers.


"Dia masih belum menemuiku, sudah dua hari berturut-turut aku datang kesana untuk memberikan oleh-oleh yang kubawa dari Indonesia tapi Licia tidak ingin menemuiku." Diakhir kalimatnya, Austin menghembuskan napas kecewa.


"Kalau begitu kau harus berusaha lebih keras lagi dan jangan menyerah." Helena memberikan semangat untuk adik iparnya itu. Selama beberapa hari ini, Austin nampak tidak bersemangat.


"Tidak! Aku tidak akan menyerah." Kedua mata Austin mengkilat penuh tekad. Seperti gadis itu yang sudah berusaha menunggu dirinya, ia pun akan menunggu selama apapun hingga Licia memaafkan dirinya.


"Kalau begitu katakan saja alasanmu, kenapa tidak bisa menghubunginya."


Mendengar perkataan kakak iparnya, Austin sontak menoleh dan tertegun. "Kak Helen mengetahuinya?"


Helena mengangguk membenarkan. "Aku memaksa kakakmu untuk menceritakan semuanya." Lalu ia terkekeh kecil kala mengingat bagaimana dirinya membujuk Arthur untuk menceritakan yang tidak ia ketahui.


"Ah.... kupikir Kak Ar bisa menjaga rahasia," ujarnya mengejek dengan tawa renyah.


"Kakakmu tidak mungkin bisa menolakku," sahut Helena mengulum senyum.


Austin malas menanggapi, ia cukup paham apa yang dilakukan kakak iparnya untuk menggoda kakaknya. "Kak Ar benar-benar sudah menjadi 'budak cinta'," ucapnya dengan menekankan kata 'budak cinta' yang membuat Helena tidak mengerti.


"Apa? Kau mengatakan apa, As?" seru Helena bertanya. "Buak Cit-ta?" Lalu mencoba mengulangi ucapan Austin yang tentu saja terdengar sangat lucu, hingga mengundang gelak tawa Austin.


"Bu-dak cin-ta?" Benar saja, Helena berhasil mengeja dua kata asing tersebut. "Lalu, apa itu memiliki arti?" Meski sudah dapat mengeja bahasa asing itu, tetapi Helena tetap tidak mengerti apar artinya.


"Budak cinta is love slave. Di Indonesia kata seperti itu sangat populer di kalangan pemuda sepertiku. Bisa dikatakan seperti seseorang yang tergila-gila dengan pasangannya dan rela melakukan apa saja. Karena itu mereka menjulukinya sebagai 'budak cinta'." Austin menjelaskan yang ia ketahui selama mempelajari bahasa Indonesia dari putra dan putri Paman Adam.


"Ah, begitu." Helena mengangguk-angguk tanda mengerti. "Dan sebentar lagi kau juga akan menjadi budak cinta." Karena sudah mengetahui artinya, Helena meledek Austin secara terang-terangan. Bukankah saat ini adik iparnya itu juga sudah mulai menjadi budak cinta, sebab selama sejak kemarin selalu mencoba untuk menemui Licia meskipun gagal bertemu.


Hah? Austin tentu tercengang. Tetapi detik kemudian ia mengusap kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana jika kakak iparnya itu mengetahui bahwa dirinya sempat uring-uringan pada Bastian karena ingin kembali ke London secepat mungkin.


Melihat respons Austin yang menjadi salah tingkah dan tidak mengelak, membuat Helena tergelak dan tawanya itu membuat Baby Ace kebingungan, tetapi tetap menguyah.


"Astaga sayang, bibirmu penuh dengan sisa crackers." Helena segera membersihkan dengan tissue basah sisa crackers yang menempel di area bibir, bahkan hampir keseluruh wajah Baby Ace.


"Sedang apa kalian disana?!" Suara bariton terdengar menyentak dan membuat Helena serta Austin menoleh ke asal suara.


Terlihat Arthur dengan menggendong Baby Lyora. Pria itu mengenakan setelan kerja, hanya saja tidak mengenakan jas dan membiarkan lengan kemejanya digelung hingga sikut, bahkan dua kancing kemejanya dibiarkan terbuka.


"Honey, kau sudah pulang?" Helena beranjak dari duduknya, lalu menghampiri Arthur yang menggendong Baby Lyora. "Lyo sayang sudah bangun, hm? Kemarilah dengan Mommy." Helena ingin mengambil alih Baby Lyo dari gendongan suaminya, akan tetapi Lyo menolak, bahkan menyembunyikan wajahnya di leher Arthur.


"Tidak apa." Arthur tentu tidak keberatan, mengingat putra dan putrinya memang dekat dengannya.


Helena mengangguk saja. Hingga kemudian Austin menghampiri mereka dengan menggendong Baby Ace.


"Untunglah Kak Ar cepat pulang, aku sudah harus pergi," ujar Austin kepada kakaknya itu.


"Tidak ada yang mengundangmu kemari, As. Jadi tidak perlu datang hanya untuk menghindari Mommy," cetus Arthur tidak bersahabat. Jika bisa Austin akan memberikan bintang satu kepada kakak kandungnya itu karena selalu bersikap dingin.


Austin hanya menyengir kuda lantaran sudah ketahuan tujuannya datang ke Mansion kakak dan kakak iparnya. "Aku hanya ingin mengantarkan makanan. Kau tau, di Mansion sudah ada koki yang kubawa dari Indonesia. Kak Ar dan Kak Helen harus mencicipi makanan Indonesia. Kalian pasti akan menyukainya," serunya antusias. Ia hanya ingin mengenalkan berbagai macam makanan yang menemani dirinya selama satu tahun berada di Indonesia, meskipun ia harus menetap kesana-kemari di beberapa negara.


"Jadi yang kau bawa adalah makanan Indonesia, As?" tanya Helena baru mengetahuinya. Ia pikir adik iparnya itu hanya membawa buah-buahan yang berasal dari Indonesia saja.


"Benar. Karena itu sebaiknya Kak Helen segera mengajak Kak Ar untuk makan siang." Dan kemudian Austin memberikan Baby Ace kepada Helena. "Maaf, aku tidak ikut makan siang dengan kalian. Ada hal yang lebih penting dari urusan perut, bye!" Tanpa menunggu jawaban dari Arthur dan Helena, Austin bergegas melangkah pergi.


Kedua pasangan suami istri itu saling pandang hingga kemudian Helena terkekeh. "Sepertinya As sedikit frustasi karena bertengkar dengan Licia."


Arthur hanya menghela napas. "Biarkan dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Sebaiknya temani aku makan siang."


"Hm, baiklah." Helena mengangguk. Mereka kemudian melangkah masuk dan tangan Arthur merangkul pundak istrinya. "Ace dan Lyo juga belum makan siang, tapi putramu baru saja menghabiskan crackers."


Arthur mendengarkan istrinya itu bercerita, lalu menyelipkan senyum tipis pada Baby Ace yang menatap ke arahnya. Hingga saat sudah berada di ruangan makan, Helena serta Arthur duduk di kursi masing-masing. Sedangkan Baby Ace dan Baby Lyora duduk di kursi khusus baby yang dinamakan high chair. Meski hanya terdapat mereka saja, suasana sudah nampak ramai akan celotehan baby twins. Dan sejujurnya, baik Arthur dan Helena kadangkala sangat merindukan Mommy Elleana dan Daddy Xavier. Sudah sejak enam bulan lalu, Arthur memboyong istri serta putra dan putrinya ke Mansion milik mereka. Akan tetapi hampir setiap hari mereka berkunjung ke Mansion kedua orang tua mereka.


See you next bonus chapter


Baby Ace



Baby Lyo



Mansion Arthur dan Helena



...Like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 Terima kasih banyak dukungan dan komentar positif kalian 💜...


...Always be happy 🌷...


...Instagram @rantyyoona...


...SALAM SAYANG TANPA BATAS DARI SEMUA PEMERAN THE BILLIONAIRE MAFIA 🥰...