
Sementara di tempat lain, Aurelie masih dalam perjalanan menuju Mansion. Sedari tadi Mommy Elleana menghubungi dirinya untuk segera pulang. Karena memang sudah belakangan ini Aurelie dipadati jadwal pemotretan, sehingga harus pergi keluar kota dan tidak memiliki waktu untuk pulang. Sebab itu, setelah dari MJ Corp, ia memutuskan bertemu dengan keluarganya yang teramat ia rindukan.
Namun saat di tengah-tengah perjalanan, mobil yang dikendarai oleh Aurelie nampak bermasalah, sehingga wanita itu kini terlihat kebingungan.
"Ck, kenapa disaat seperti ini aku menyesal menyuruh anak buah Kak Ar untuk tidak mengikutiku." Wanita itu menggigit ujung jari telunjuknya sembari menatap ban mobil yang bocor.
Tidak ada pilihan lain, ia harus menghubungi sang kakak untuk mengirim anak buah yang akan menjemput dirinya. Namun ketika ia ingin kembali masuk ke dalam mobil, sebuah mobil Mercedes-Benz berhenti hingga bersisian dengan mobil Aurelie yang menepi. Sontak Aurelie yang mengenakan syal untuk menutupi wajahnya, meraih ujung syal tersebut, lalu menutupi hidung serta mulutnya.
Aurelie berpura-pura tidak melihat si pengemudi mobil itu, ia menyambar handle pintu mobilnya, hingga membuat pria yang berada di mobil bergegas keluar.
"Nona Elie, kenapa dengan mobilnya?"
Mendengar suara yang tidak asing membuat Aurelie menoleh ke arah sumber suara. "Oh syukurlah, kau disini Der," sahutnya dengan hembusan napas penuh kelegaan. "Ban mobilku bocor dan aku baru saja ingin menelepon Kak Ar agar anak buahnya mau menjemputku," jelasnya kemudian menyingkap syal yang menutupi sebagian wajahnya.
Darren mengangguk mengerti. "Kalau begitu naiklah ke mobil. Aku akan mengantar Nona ke Mansion. Karena kebetulan aku juga ingin mengantarkan dokumen yang harus di tanda tangani."
"Baiklah kalau begitu." Karena memang mereka ke tempat tujuan yang sama. Terlebih mereka sudah saling mengenal. Aurelie kembali membuka pintu mobil untuk mengambil tas dan ponselnya serta paper bag yang diletakkan di kursi belakang. Sebelum kemudian menyusul Darren yang membukakan pintu mobil untuknya.
"Mobil Nona akan dibawa oleh orangku, jadi tidak perlu khawatir," ujar Darren ketika dirinya sudah berada di dalam mobil dan bersiap menancapkan gas.
"Hm, terima kasih Der."
Darren mengangguk lalu mulai menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak ada percakapan selama di dalam perjalanan, baik Aurelie maupun Darren terdiam untuk selama beberapa saat.
"Apa Nona baru saja menyelesaikan pemotretan?" Darren membuka suara, sehingga tidak lagi keheningan yang canggung itu.
Mendengar suara bass milik Darren, seketika Aurelie menoleh ke arah pria yang pandangannya tertuju ke depan. "Der, kau dengan Kak Ar hanya memanggil nama. Kenapa denganku justru selalu memanggil Nona?" Aurelie tidak menjawab pertanyaan Darren dan justru melayangkan protes.
Darren spontan menolehkan kepala, lalu tangan kirinya mengusap tengkuk lehernya. "Mungkin karena sudah terbiasa memanggil Ar dengan nama saja." Sembari tersenyum.
"Kalau begitu panggil namaku saja, seperti kau memanggil Kak Ar." Aurelie mendesak Darren agar tidak perlu bersikap formal padanya.
"Lihat nanti saja." Dan Darren justru memberikan ucapan seperti sebelum-sebelumnya.
"Ck, terserah kau saja." Dan Aurelie tidak ingin memaksa, memang Darren adalah salah satu pria keras kepala, selain Arthur dan Austin, serta Daddy-nya.
Melihat Aurelie yang sedikit kesal dengan bibir yang mengerucut membuat Darren menarik kedua sudut bibirnya. Ia diam-diam mencuri pandang kearah Aurelie.
"Der...." Wanita yang sedari diam akhirnya bersuara. "Apa kau sudah memiliki kekasih?" Pertanyaan tiba-tiba itu berhasil lolos dari bibir Aurelie. Ia penasaran bagaimana kehidupan pribadi Darren, mengingat selama ini pria itu selalu mengekori sang kakak hampir 24 jam.
Darren terkesiap, bahkan ia nyaris menginjak pedal rem mobilnya. Namun Darren bisa mengendalikan dadanya yang tiba-tiba saja bergemuruh. "Kekasih?" ulangnya memastikan jika ia tidak salah mendengar.
"Hem..." Aurelie mengangguk. "Kau selalu mengekori Kak Ar. Jadi aku penasaran apa kau memiliki waktu untuk urusan pribadimu?"
Wajah datar Darren tidak menyurut, meskipun ia cukup terusik akan pertanyaan yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya. "Tidak ada. Aku tidak pernah memikirkan seorang wanita."
"Benarkah?" Antara percaya tidak percaya, Aurelie mendecakan lidahnya. "Kau tampan Der, tidak mungkin ada wanita yang tidak tertarik denganmu."
Nampak sudut bibir Darren membentuk senyum tipis saat mendengar ucapan Aurelie. "Aku yang tidak tertarik," jawabnya seadanya. Hingga ia kembali fokus pada kemudinya. Namun Ekor mata Darren tetap setia melirik ke arah Aurelie.
"Sayang sekali," cebik Aurelie. "Kau sama saja seperti Kak Ar yang tidak tertarik dengan wanita."
Tidak ada tanggapan dari Darren, pria itu hanya mengulas senyum karena dirinya disamakan dengan Arthur dalam hal wanita. Namun yang dikatakan Aurelie tidak bisa di elaknya, karena ia serta Arthur tidak jauh berbeda, tidak ingin berurusan dengan wanita-wanita menyebalkan diluar sana. Kecuali satu wanita yang membuatnya sedikit menyita perhatiannya sejak belasan tahun.
Lama mereka terdiam karena Aurelie hanya menikmati pemandangan diluar mobil, hingga mobil yang dikendarai oleh Darren tiba di pelataran Mansion, lalu memarkirkan mobil di jajaran mobil yang lainnya. Bertepatan dengan sebuah mobil mewah memasuki pelataran Mansion.
"Kak Elie?" Nampak seorang wanita cantik yang baru saja turun dari mobil begitu sang kakak memarkirkan mobilnya dengan sempurna.
"Frey?" Ya, yang datang adalah Edward berserta keluarganya. "Kenapa aku tidak tau jika kalian akan datang juga?" tanyanya kemudian.
"Daddymu yang meminta Uncle untuk datang kemari, katanya ada tamu spesial yang ingin bertemu," kata Uncle Edward menjawab pertanyaan keponakannya dengan seulas senyum.
"Tapi Elie juga tidak tau siapa tamu yang dimaksud oleh Mom dan Daddy." Sebelumnya Mommy Elleana hanya mengatakan akan ada tamu spesial dan ia pun tidak banyak bertanya mengingat pagi tadi ia baru saja sampai di Perusahaan MJ Corp
Edward mengangguk. "Bagaimana kabarmu Der?" Dan beralih kepada Darren yang berdiri bersisian dengan Aurelie.
"Baik uncle," jawab Darren.
"Ya, memang kau terlihat baik-baik saja, meskipun Ar selalu menyulitkanmu," ujar Edward terkekeh.
"Itu memang sudah menjadi pekerjaanku, uncle." Darren tersenyum, meskipun benar adanya yang dikatakan oleh Uncle Edward.
"Sebaiknya kita masuk saja. Tidak enak jika mereka sudah menunggu kedatangan kita." Mommy Olivia mengingatkan yang langsung di angguki oleh semuanya. Dan mereka beriringan masuk ke dalam Mansion.
Ketika melangkah menuju halaman Mansion, Edward disuguhkan dengan pemandangan tubuh kekar seseorang, meskipun perawakannya tua seperti dirinya. "Zayn??" Tanpa sadar Edward memanggil nama temannya yang sudah lama tidak saling menjumpai. "Ck, ternyata tamu spesial itu adalah kau!" serunya dan terlihat tidak senang. Dan seruan Edward menolehkan mereka yang berada di halaman.
"Oh Shiitt, si pria tua menyebalkan. Kenapa kau datang kemari?!" Meskipun nampak mencela, akan tetapi Zayn beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekati Edward. Untuk sesaat, baik Zayn dan Edward mengadu ketajaman mata, sebelum kemudian keduanya terkekeh, lalu saling memeluk satu sama lain.
"Tidak kusangka setelah tidak lama bertemu, wajahmu semakin jelek, Ed." Zayn menepuk-nepuk bahu Edward berulang kali. Ucapan itu memang sebuah ejekan untuk Edward.
"Hahahaha....." Terdengar suara Edward yang dipaksakan untuk tertawa. "Kau juga semakin tua dan keriput. Wajahmu benar-benar seperti kakek-kakek, Zayn." Dan Edward balas mengejek.
"Sialan!" Lantas Zayn segera mendorong bahu Edward.
"Dan kau juga mempropokasiku, bodoh!" Dan akhirnya berdebatan itu terjadi lagi. Keduanya benar-benar tidak ingin mengalah.
Olivia menggeleng melihat sang suami yang seperti anak kecil diusia mereka yang sudah tidak lagi muda. "Lihatlah Daddy kalian, benar-benar seperti anak kecil. Mereka berdua selalu seperti itu," keluhnya kemudian.
Devano serta Freya tersenyum, memamerkan deretan gigi putih mereka. Pun dengan Darren yang juga sudah terbiasa akan pemandangan itu.
Melihat kedatangan Darren, Arthur beranjak berdiri setelah berpamitan kepada Aunty Angela terlebih dahulu. Kemudian melangkah menghampiri Darren.
"Ke ruanganku Der," ujar Arthur berjalan mendahului Darren. Dengan sigap Darren mengekor di belakang Arthur.
Setelah kepergian Arthur dan Darren pun berdebatan Zayn dengan Edward masih berlanjut.
"Hei, kalian berdua!" Xavier yang begitu jengah dengan Zayn dan juga Edward berteriak kepada keduanya. "Duduklah, jangan membuat keributan di Mansionku!"
"Cih, aku tidak membuat keributan. Dia yang mulai." Zayn berdecih lalu meninggalkan Edward dan kembali ke kursinya.
"Hei, kau yang mulai. Kenapa menyalahkanku?!" Edward tidak terima jika hanya dirinya saja yang disalahkan.
"Sudahlah sayang, hentikan! Apa kau tidak malu dilihat oleh anak-anak, hm?" Olivia yang sudah berdiri di samping Edward mengusap lengan sang suami.
Mau tidak mau Edward mengalah, ia tidak ingin semakin membuat adik iparnya kian mempertajam hunusan sorot matanya seperti saat ini.
"Baiklah, kita duduk." Lalu menyambar tangan Olivia dan menuntun istrinya itu untuk duduk, akan tetapi Olivia dan Angela bertukar kecupan pipi terlebih dahulu, sebelum kemudian mendudukkan tubuh masing-masing di kursi yang tersedia. Devano serta Freya saling menyapa Jacob dan juga Jolicia, tidak lupa juga menyapa Austin.
Aurelie menyapa Aunty Angela yang kecantikannya tidak termakan usia seperti Mommy-nya. Aunty Angela lantas memeluk Aurelie, ia sudah banyak mendengar dari Elleana jika Aurelie sudah menjadi model terkenal.
"Bagaimana kabar kalian sayang?" tanya Elleana kepada kedua keponakannya yang baru saja duduk.
"Kami baik Mom Elle," sahut Freya tersenyum.
"Syukurlah, tapi kenapa kalian jarang datang kemari? Jika Daddy kalian tidak datang kemari kalian pasti tidak akan datang," protes Elleana. Sudah hampir dua minggu keduanya tidak datang, biasanya mereka akan datang tiga kali dalam seminggu.
"Maaf Mom Elle, Dev sedang sibuk menyusun skripsi, sehingga tidak bisa kemari sesering mungkin." Devano menjawab dengan lembut, ia tidak ingin Mommy Elleana yang sudah ia anggap seperti Mommy-nya itu tersinggung karena mereka sudah jarang sekali datang.
"Ah iya, maafkan Mom Elle karena melupakan hal itu." Karena faktor usia, sehingga Elleana sering melupakan suatu hal, termasuk kegiatan para keponakannya bahkan putra dan putrinya sendiri.
"Tidak apa-apa, Mom Elle," sahut Devano.
"Mom, Elie akan berganti pakaian lebih dulu." Aurelie yang duduk di sandaran tangan kursi yang di duduki oleh Sang Mommy berbisik di telinga Mommy-nya itu
"Hem, baiklah."
Aurelie beranjak, lalu matanya tertuju kepada Freya dan juga Jolicia. "Frey.... Licia... ikut dengan Kak Elie sebentar saja." Freya dan Jolicia kompak mendongak.
"Ada apa Kak?" tanya Freya penasaran.
"Sudah ikut saja. Ayo..." ajaknya sedikit memaksa.
Jolicia melihat ke arah sang Mommy terlebih dahulu, lalu jawaban anggukan kepala Mommy Angela. Sehingga Jolicia segera beranjak berdiri, menyusul Freya yang sudah berdiri terlebih dahulu.
Ketiga wanita cantik itupun melangkahkan kakinya ke dalam Mansion dan sedari tadi ada sepasang mata yang tidak memalingkan pandangannya kesalah satu dari ketiga wanita cantik itu.. Padahal ia ingin berlama-lama menatap wajah cantik itu.
"Apa yang kau lihat?!" Austin mengikuti arah pandang Jacob. Detik itu juga Austin menjadi paham dan karena tertangkap basah oleh Austin, sehingga untuk mengalihkan pikiran Austin yang tidak-tidak, Jacob menyambar minumannya dan segera meneguknya. "Kau menyukai Kak Elie?" Dan suara Austin yang berbisik itu membuat Jacob tersedak.
Bukan tersentak karena bisikan Austin yang tiba-tiba, melainkan teman lucknuuut-nya berasumsi jika dirinya menyukai Aurelie.
"Minum yang benar, Jac! Apa kau baru saja tersedak gelasmu sendiri?!" Zayn yang sedari tadi tengah bercakap-cakap dengan Edward serta Xavier, melihat ke arah sang putra.
"Dad, aku tidak mungkin tersedak gelas. Yang benar saja!" seru Jacob heran dengan ucapan Sang Daddy. Bahkan ia mengabaikan kalimat yang Austin bisikan kepadanya. Setidaknya ia bisa menghindari pertanyaan itu.
"Dan tidak mungkin juga gelas yang tersedak olehmu!" ujar Zayn asal.
"Terserah Dad, terserah. Dad yang menang!" Lebih baik mengalah. Jika berdebat dengan Daddy Zayn, maka tidak akan selesai hingga malam menjelang. Entah kenapa ia memiliki Daddy yang super menyebalkan.
Austin menggeleng heran kemudian mengedikkan bahu acuh. Sifat Jacob benar-benar di turunkan oleh Daddy-nya.
To be continue
Devano
Freya
...Jangan lupa untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih 🤗...
...Always be happy 🌷...
...Instagram : @rantyyoona...