The Indigo Twins

The Indigo Twins
Bayangan yang terus melintas dengan cepat



"Kalau kita terus jalan, aku hanya takut kita akan semakin tersesat, aku gak mau itu terjadi sa, aku mau pulang, gak mau bermalam di dalam hutan ini, hutan ini seram banget, kalau semisal penghuni hutan ini gangguin kita gimana, aku gak mau sa" kata ku yang khawatir sekali jika hal itu beneran akan terjadi.


"Aku juga gak mau za, gak ada pilihan lain, kita harus jalan terus, aku yakin kok kalau kita pasti akan pulang, ayo jalan lagi, kita gak boleh membuang-buang waktu, kita harus pergi dari sini secepatnya, sebelum ada sesuatu yang akan membuat kita semakin kesulitan" jawab Angkasa.


"Ya udah ayo" kata ku setuju.


Kami kembali berjalan di dalam hutan yang gelap gulita ini.


Kecemasan terpancar di wajah ku kala belum menemukan ujung hutan yang saat ini tengah kami cari-cari.


"Di mana ujung hutan ini sebenarnya, kenapa tidak kunjung ketemu juga, bersembunyi di mana dia sebenarnya" kata ku terus mencari keberadaan ujung hutan yang masih belum terlihat juga.


"Sabar za, kita harus cari terus sampai ketemu, kalaupun kita kembali ke tempat persembunyian, selain jauh kita udah gak ingat jalanan menuju ke sana" jawab Angkasa.


"Tau gini aku gak akan ngajak kamu masuk ke sini" kata ku yang sangat-sangat menyesal.


"Tapi kalau kita gak lewat di dalam hutan ini, kita mau lewat di mana?" tanya Angkasa.


"Di jalanan yang tadi, tadi kan kuntilanak itu udah pergi, aku yakin dia tidak akan kembali lagi" jawab ku.


"Kalau semisal dia kembali bagaimana?" tanya Angkasa.


"Tinggal lari, apa susahnya" jawab ku.


"Makin tambah gak karuan nantinya, udah kamu gak usah berisik, kita pasti bisa pulang kok" kata Angkasa.


"Sa hutan ini gelap banget, kenapa tidak ada rembulan yang sekiranya cahayanya dapat menerangi jalan kita?" tanya ku.


"Aku gak tau, walaupun nama ku Angkasa, aku tidak tau menahu tentang planet-planet dan satelit bumi yang ada di luar Angkasa" jawab Angkasa.


Aku menghela napas mendengar jawabannya.


"Tau gini aku bawa hp aja biar bisa nelpon bunda agar segera jemput kita" kata ku.


"Nasib, udah terima aja, kita harus lewatin bersama, mau minta tolong juga gak orang di sini" jawab Angkasa.


"Di sini itu ada orang" kata ku.


"Mana, kalau memang di sini ada orang?" tanya Angkasa.


"Tuh banyak, tapi sudah mati" jawab ku.


Seketika suasana hutan tambah mencekam dengan sendirinya.


Kukk


Suara burung hantu terdengar di telinga kami.


Jantung kami berhenti berdetak kala mendengar itu semua.


"Kasa, aku takut" kata ku menempel padanya.


"Kamu jangan takut, ada aku di sini" jawab Angkasa berusaha menenangkan aku.


"Kenapa ada burung hantu di sekitar sini, di mana dia sebenarnya, kenapa suaranya dekat sekali, makin nambah seram aja hutan ini setelah terdengar suara burung hantu, aku harus temuin dia dan usir dia dari sini" batin Angkasa yang melihat ke sekelilingnya hanya untuk menemukan keberadaan burung hantu.


Burung hantu tidak kunjung Angkasa temukan, dia hanya melihat ada banyak bayangan-bayangan yang melintas dengan cepat di sekitarnya.


"Gawat, aku gak bisa terus menerus ada di sini, aku harus bawa Aliza pergi dari sini sebelum makhluk halus yang mendiami hutan ini mengganggu kami seperti kuntilanak itu" batin Angkasa yang merasa jika pergerakan di dalam hutan ini tambah jelas.


Angkasa hanya takut mereka mengganggu ku.


"Angkasa aku takut" kata ku yang sudah gemetaran sekali.


"Kamu jangan takut za, ada aku di sini, ayo kita jalan lagi, kita harus segera keluar dari dalam hutan ini" ajak Angkasa.


Aku mengangguk dan terus berjalan bersamanya.


Langkah demi langkah telah kami lakukan.


Aku menunduk ke bawah tak berani melihat keadaan sekitar yang di penuhi dengan berbagai macam makhluk halus dengan berbagai macam jenis.


Angkasa yang merasakan itu semua hanya diam saja, dia tidak berani melakukan apapun karena takut kejadian tadi terulang kembali.


Angkasa terus berjalan, matanya melihat ke kanan dan kiri, tanpa sengaja Angkasa melihat jelas wajah hantu-hantu yang sedang melintas dengan cepat di sekeliling kami.


"Seram sekali, aku gak bisa berada di dalam hutan ini lebih lama lagi, aku harus bawa Aliza keluar dari sini, aku tidak mau mereka mengganggu kami dan akan membuat kami semakin kesulitan untuk bisa keluar dari dalam hutan ini" batin Angkasa.


"Za ayo lebih cepat lagi, kita harus segera keluar dari hutan ini" ajak Angkasa berjalan dengan langkah besar.


Aku hanya mengangguk dan terus berjalan mengejar Angkasa yang berjalan dengan terburu-buru.


Kukk


Suara burung hantu kembali terdengar di telinga kami.


Keberadaan burung hantu itu serasa tidak jauh, namun kami hanya terus berjalan tanpa mempedulikan dia yang terus berbunyi sejak tadi.


Pergerakan makhluk halus terasa semakin jelas, aku menahan napas karena sangat takut sekali.


Angkasa berjalan dengan terburu-buru sekali, aku kewalahan mengejarnya.


"Kasa tungguin" kata ku.


"Ayo cepetan" kata Angkasa.


Aku mengejarnya dan kembali berjalan bersamanya.


"Sa di mana ujung jalan ini, kenapa belum ketemu?" tanya ku dengan kecemasan yang sudah sangat terpancar di wajah ku.


Angkasa diam tak menjawab.


"Jawab sa" tintah ku yang sudah sangat ketakutan.


Tak ada respon darinya, Angkasa hanya terus diam.


"Kasa" kata ku dengan menggoyangkan tubuhnya kala pikiran-pikiran buruk melintas di benak ku terus menerus.


Angkasa diam mematung.


"Angkasa hiks hiks" tangis ku yang sudah sangat takut sekali.


"Jangan nangis za" kata Angkasa mulai khawatir.


"Kamu kenapa diam aja, jawab pertanyaan aku" kata ku terus menangis.


"Aku gak tau za, kalau aku tau, aku pasti akan langsung ngasih tau kamu" jawab Angkasa menangkup kedua pipi ku.


"Terus gimana ini, aku mau pulang sa, aku gak mau berada di sini lagi huhu" tangis ku semakin nyaring.


Angkasa membawa ku ke dalam pelukannya.


Aku menangis sekencang-kencangnya di dalam pelukan Angkasa, rasa lelah dan gelisah itu ku tumpahkah di dalam pelakunya.


"Sstt udah jangan nangis lagi, kita pasti bisa pulang, kamu harus yakin itu" kata Angkasa terus menenangkan ku yang terus menangis.


"Kapan, aku udah gak kuat berada di dalam hutan ini lebih lama lagi?" tanya ku dengan menatap wajah Angkasa.


Angkasa menghapus air mata yang mengalir di pipi ku.


"Kita usaha dulu, kita pasti bisa pulang, kamu jangan menyerah, kita sudah melewati banyak sekali rintangan yang menghadang kita, maka dari itu kita gak boleh lemah, kita harus maju terus pantang menyerah" kata Angkasa.


Aku mengangguk mendengar itu semua.


"Kamu jangan nangis lagi, ayo kita jalan lagi, ada aku di sini, kamu gak usah takut" kata Angkasa.


Aku mengangguk lalu kembali berjalan dengan berpegangan tangan.


Kami terus berjalan lurus ke depan.


Rasa takut semakin terasa, namun kami hanya diam dan terus berjalan tanpa mempedulikan hantu-hantu yang terus mengganggu kami dengan cara melintas dengan cepat di kanan dan kiri kami.


Langkah demi langkah telah kami lakukan, rasa takut terus terasa namun kami hanya bisa berjalan tanpa henti berharap nantinya ujung itu dapat kami temukan.