
"Kenapa Andin bisa meninggal, dia meninggal kenapa, kenapa aku gak tau kalau dia udah meninggal" shock Roy.
"Kami juga masih belum tau Andin meninggal kenapa, mangkanya kami saat ini sedang berusaha buat nyari tau, karena kami yakin Andin meninggal dengan cara yang tidak wajar mangkanya dia gentayangan di mana-mana"
"Kita harus ungkap kematiannya, aku ingin kematian Andin jelas, gak penuh misteri seperti ini" Roy ingin tau siapa yang terlibat dalam kematian Andin.
"Itu yang kami mau, mangkanya kita sekarang harus cari tau apa maksud dari angka 4,6,8 yang telah Andin ucapin"
"Kita mulai penyelidikan ini dari mana?" Angkasa meminta pendapat kami.
"Gini aja nanti pas pulang sekolah kita langsung ke rumah Andin, kita tanyain pada keluarganya kenapa dia bisa meninggal" jawab Alisa.
"Tapi keluarganya itu ada di luar kota, selama ini Andin hidup sebatang kara, orang tuanya kayak gak terlalu ngurusin dia, seakan-akan yang ada di pikiran mereka itu cuman harta harta dan harta itu saja" sahut Roy.
"Kok bisa ada orang tua yang kayak gitu" tak menyangka Alisa.
"Ya gitu, buktinya sekarang ini ada, mangkanya Andin itu jarang bergaul sama teman-temannya, dia lebih suka sendiri, kayak anak introvert gitu" jawab Roy.
"Oh pantesan gak ada satupun temannya yang tau Andin pergi kemana sehingga lama gak masuk sekolah tanpa keterangan" wajar Alisa.
"Terus apalagi yang kamu ketahui tentang Andin?" aku ingin mencari tau berharap ada sesuatu yang dapat membawa kami ke tragedi kematian Andin.
"Andin itu suka warna hijau, kesehariannya ia habiskan untuk membaca buku dan juga belajar, dia salah satu anak terpintar di kelasnya, namun sayangnya dia tidak suka bergaul seperti anak-anak lainnya, hanya ada beberapa orang yang memang dekat dengannya" jawab Roy.
"Siapa aja dekat dengan dia?" penasaran Angkasa.
"Setau aku kalau di sekolahan ini gak ada, tapi kalau di sekitar rumahnya ada satu orang, kalau gak salah namanya itu Risa" jawab Roy.
"Dia sekolah di sini gak?" ingin tau Alisa.
"Enggak, dia gak sekolah karena keluarganya gak mampu buat biayain dia" jawab Roy.
"Ya Allah kasihan banget, ternyata masih ada anak yang gak sekolah karena masalah ekonomi"
"Apa ada lagi teman Andin selain dia?" mulai penasaran Angkasa.
"Gak ada, dia hanya punya satu teman di kampungnya, dia gak punya teman lagi, di sini aja hanya aku seorang yang akrab sama dia" jawab Roy.
"Apa kita datangin rumah Andin aja ya" Alisa meminta pendapat yang lain.
"Itu harus sa, kita harus cari tau pada tetangganya, mungkin aja di antara mereka tau kenapa Andin bisa meninggal" sahut Angkasa.
"Iya nanti setelah pulang sekolah kita ke sana, kita harus cari temannya Andin yang bernama Risa itu, dia pasti tau Andin meninggal kenapa"
"Nanti kita ke sana buat cari tau, moga aja nanti kita dapat informasi tentang Andin" jawab Angkasa.
"Amin"
Alisa melirik ke arah Reno yang diam saja."Ren kamu kenapa, kok dari tadi diam aja?"
Reno tetap diam tak menjawab meski Alisa yang bertanya.
"Iya, Reno kenapa, kok aneh gitu"
Reno masih tetap diam dengan pandangan yang lurus ke depan.
"Ren kamu kenapa, apa yang kamu lihat?" Angkasa melihat Reno diam saja sedari tadi.
"I-itu" tunjuk Reno ke arah barat.
Kami melihat ke arah apa yang Reno tunjukkan.
"Allahu Akbar"
Terkejut kami yang langsung berdiri dari duduk ketika melihat apa yang Reno tunjukkan.
Seorang kuntilanak yang sangat seram berada tak jauh dari posisi kami duduk.
Tawa kuntilanak yang begitu menyeramkan.
"K-kabur"
Teriak kami lalu berlari pergi dari sana.
"Kalian mau kenapa, jangan pergi" teriak kuntilanak itu.
Kami yang mendengar teriakan itu tidak berhenti dan malah semakin kencang berlari.
"Huft huft huft"
Napas kami tersengal-sengal akibat berlari karena menghindar dari kuntilanak itu.
"Untung dia gak ngejar kita" lega ku yang memegangi dada karena kehabisan napas.
"Sumpah kenapa kita gak sadar kalau di sana ada kuntilanak" tak menyangka Angkasa.
"Untung Reno kasih tau kita sebelum kuntilanak itu nyelakain kita" syukur Alisa.
"Eh kok Reno bisa lihat dia sih?" Alisa tersadar akan keanehan itu.
"Gak tau, kenapa aku bisa lihat mereka, ada apa sama aku, kenapa aku jadi kayak gini" jawab Reno yang tak mengerti pada apa yang terjadi padanya.
"Iya juga, kenapa Reno bisa lihat mereka, Roy kamu bisa lihat kuntilanak itu gak?" Angkasa menatap ke arah Roy.
"Enggak, aku gak bisa lihat dia, aku hanya ikut lari saat kalian lari juga" jawab Roy.
"Tunggu-tunggu Roy gak bisa lihat kuntilanak itu sedangkan Reno bisa, apa mungkin Reno sekarang bisa lihat makhluk halus juga ya?"
"Mungkin aja, nanti kita tanya sama Ustadz Fahri, beliau pasti bisa jelasin kenapa Reno dapat melihat makhluk halus sama seperti kita" jawab Alisa.
"Apa mungkin Reno bisa lihat makhluk halus karena mata batinnya terbuka" pikir Angkasa.
"Bisa jadi, Dita bagaimana, dia kan awalnya kan gak bisa lihat makhluk tapi sekarang bisa"
"Tapi masalahnya kenapa mata batin aku terbukanya sekarang, kenapa gak dari dulu aja kalau memang benar aku bisa lihat hantu?" heran Reno.
"Ya kadang mata batin itu dapat terbuka dengan sendirinya, meskipun tidak dari kecil, banyak kok yang sama kayak kamu itu"
"Faktor yang membuat aku bisa melihat makhluk halus itu apa, kalau kalian kan ada keturunannya dari buyut-buyut terdahulu" merasa aneh Reno.
"Iya juga ya, kenapa Reno bisa lihat sedangkan dia gak punya keturunan yang dapat melihat makhluk halus" jawab Angkasa yang juga bingung.
"Apa mungkin kamu bisa lihat makhluk halus karena sering ikut kita berpetualang" pikir Alisa.
"Mungkin aja, kita masih belum tau, nanti aja kita tungguin jawaban Ustadz Fahri, biar semuanya jelas"
Teeet
"Yah kok udah bel sih, cepat banget tau" kesal Alisa.
"Ya gpp sa, lebih cepat itu lebih baik, ayo sa kita balik ke kelas, nanti setelah pulang sekolah kita ketemu di parkiran, ingat kita itu mau ke rumah Andin setelah ini, Roy kamu harus ikut juga karena di sini yang tau rumahnya itu cuman kamu"
"Iya aku akan ikut juga, aku juga penasaran kenapa Andin bisa meninggal sedangkan waktu itu dia baik-baik aja" jawab Roy.
"Ya udah kita ke kelas dulu, jangan lupa setelah bel berbunyi kalian berdua harus cepat-cepat sampai di parkiran, waktu kita gak banyak"
"Iya" jawab mereka.
"Ayo kita balik ke kelas" ajak Reno.
Kami berdua mengangguk lalu berjalan menuju kelas.