
Ustadz Fahri terus mengemudikan mobil menuju jalan kenanga dengan kecepatan tinggi, ia dapat dengan bebas ngebut-ngebutan di jalanan karena memang jalanan ini tidak ramai bahkan hanya ada beberapa orang saja yang melintas di jalanan ini.
"Ayo tadz cepetan" tintah Alisa yang terus khawatir takut ada apa-apa pada Roy.
Ustadz Fahri mengangguk dan terus melajukan mobil menuju jalan kenanga.
"Semoga Roy gak apa-apa, ya Allah tolongin lindungilah dia, jangan lukai dia lagi, aku takut dia gak kuat, dia saat ini lagi terluka, plis jangan kasih dia luka lagi" batin Alisa yang terus khawatir, pikiran-pikiran buruk terus berdatangan yang membuatnya semakin tidak tenang.
Setelah beberapa menit waktu kami tempuh, akhirnya kami sampai di jalanan kenanga.
Kami keluar dari dalam mobil dan betapa terkejutnya kami saat melihat banyaknya orang-orang yang terluka akibat kecelakaan dahsyat itu.
Aku menutup mulut tak percaya saat melihat semua orang yang terluka parah.
"Za telpon om, minta dia ke sini, biar dia bisa evakuasi korban-korban ini sebelum nyawa mereka tidak tertolong" tintah Alisa yang panik.
Aku mengangguk lalu langsung menghubungi pak Heru.
"Halo om"
"Ada apa lagi Aliza, apa ada masalah?"
"Om ada kecelakaan di jalan kenanga, om cepat ke sini"
"Baik om akan segera ke sana"
"Cepetan om, sebelum mereka tidak tertolong"
Pak Heru mengiyakan hal itu lalu mematikan sambungan dan berangkat menuju jalan kenanga.
"Roy di mana za, kenapa gak di sekitar sini?" cemas Alisa saat tak menemukan keberadaan Roy.
"Dia pasti ada di sekitar sini sa, kita harus cari dia"
"Eh itu motornya Roy" tunjuk Reno ke arah motor Roy yang sudah ringsek karena terhantam truk itu.
Alisa menutup mulut tak percaya."S-separah ini"
"Kita harus cari Roy, kita harus pastikan kalau Roy baik-baik saja"
"Kita lebih baik pencar aja" usul Reno.
"Kamu ke sana sama Alisa, aku sama Aliza biar ke sana" perintah Angkasa menunjuk ke arah selatan.
Keduanya setuju lalu berjalan mencari Roy di antara banyaknya korban-korban kecelakaan itu.
"Roy kamu di mana" teriak Alisa dan Reno.
"Roy" teriak mereka lagi.
Alisa melihat ke arah selatan.
"Roy"
Teriak Alisa saat melihat Roy yang tidak sadarkan diri di pinggir jalan.
Alisa langsung berlari mendekati Roy bersama Reno.
"Roy kamu bangun, buka mata mu" tidak ada pergerakan dalam diri Roy.
"Roy buka mata mu Roy, jangan kayak gini" Alisa semakin khawatir saat tidak ada tanggapan dari Roy sama sekali
Ustadz Fahri memeriksa denyut nadi Roy."Dia masih hidup, ayo cepat kita bawa dia ke rumah sakit, sebelum terlambat"
Kami mengangguk lalu memasukkan Roy ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.
Belum sempat Ustadz Fahri menjalankan mobil tiba-tiba kami mendengar suara sirine polisi dan juga ambulance yang berdatangan.
Aku merasa lega meninggalkan korban-korban itu karena om pasti bisa membawa mereka ke rumah sakit sebelum nyawa mereka tidak tertolong lagi.
"Roy kamu buka mata mu, kamu jangan tinggalin kami, cukup Andin saja yang pergi, jangan kamu" Reno terus berusaha membangunkan Roy namun tidak ada tanggapan sama sekali dalam diri Roy yang membuatnya semakin cemas.
Ustadz Fahri mengangguk lalu melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.
Sepanjang perjalanan kami di landa rasa cemas dan khawatir karena Roy masih tak kunjung siuman juga.
"Ren tangan Roy dingin banget, jangan-jangan dia-
"Roy gak apa-apa sa, Roy baik-baik aja, kamu jangan berpikir macem-macem" jawab Reno cepat.
Alisa diam, ia sungguh takut jika ada apa-apa pada Roy.
"Tadz bisa di percepat lagi" tintah Reno.
Ustadz Fahri tidak menjawab dan terus saja mengemudikan mobil menuju rumah sakit dengan secepat mungkin.
"Ya Allah tolong jangan ambil Roy, jangan ambil dia, plis sembuhin dia, kali ini saja plis kabulin doa Alisa" batin Alisa yang terus berdoa meminta keselamatan bagi Roy yang saat ini terluka parah.
Mobil terus melaju, sepanjang perjalanan kami terus cemas memikirkan keadaan Roy.
Setelah beberapa saat akhirnya mobil sampai di rumah sakit.
"Suster tolong" teriak Angkasa.
Suster yang mendengarnya langsung bergegas mendekati kami dengan membawa brankar.
Roy di letakkan di brankar laku bawa keruangan UGD yang ada di rumah sakit ini.
Kami mengikuti suster itu yang membawa Roy ke sana.
"Kalian tidak boleh masuk, tunggu di sini saja" kami mengangguk dan menunggu Roy dengan sangat khawatir.
Mondar-mandir ke sana kemari terus kami lakukan namun pintu ruangan UGD masih tak kunjung terbuka.
"Ya Allah semua Roy baik-baik saja" batin ku.
"Ya Allah selamatkan Roy, jangan ambil dia ya Allah, jangan ambil dia" batin Alisa yang terus berpikiran buruk setelah melihat kondisi Roy yang sangat parah itu.
Krieet
Dengan cepat kami mendekati Roy yang kembali di dorong keluar dari ruangan UGD dengan rasa penasaran yang memuncak.
"Bagaimana keadaan Roy dokter?"
"Pasien kritis"
"A-APA kritis?"
Terkejut kami yang sangat shock.
"Iya, pasien kritis, kami akan memindahkannya ke ruang ICU, tolong adik-adik segera hubungi keluarga pasien, karena kami sedang membutuhkan darah golongan AB negatif, saat ini di rumah sakit ini stok darah untuk golongan AB negatif sedang kosong, kami mohon cepat hubungi keluarganya, pasien butuh darah golongan AB negatif secepatnya sebelum nyawa pasien tidak dapat tertolong lagi"
"Baik dokter, kami akan segera beritahu keluarganya" jawab Alisa.
Dokter dan suster mendorong brankar Roy menuju ruangan ICU.
"Roy kritis, kita harus beri tau orang tuanya secepatnya, dia butuh donor darah sebelum nyawanya gak tertolong"
"Kita mau beritahu orang tua Roy pake apa, kita gak tau nomor telponnya?" bingung Alisa yang memang tidak tau menahu tentang keluarga Roy sama sekali.
"Ini hpnya Roy, aku tadi nemuin hp ini di dekatnya, kamu coba cek apakah di dalam ada nomor salah satu keluarganya yang bisa kita minta untuk datang ke rumah sakit secepatnya" Reno memberikan hp itu pada Alisa.
Alisa mengambilnya lalu menghidupkan layar hp itu."Ada sandinya, aku gak tau sandinya apa, kalian tau gak?
"Coba nama Roy dulu" suruh Angkasa.
Alisa mencoba mengetik nama lengkap Roy berharap dapat membuka sandi yang terpasang di hp itu.
"Enggak bisa, sandi salah, kayaknya Roy gak makai namanya sendiri deh"
"Coba namanya Andin, semoga saja bisa"