The Indigo Twins

The Indigo Twins
Wussshhhh



Mereka semua melihat apa yang aku tunjukkan.


"Bukan, bukan dia yang aku lihat di kebun buah naga, tapi sosok seram mirip seperti kuntilanak namun lebih seram lagi karena rambut itu panjang banget, di tambah lagi dengan wajahnya yang sangat menyeramkan" jawab Alisa.


"Eh dia bukannya sosok yang kita temui pas di sekolahan?" tanya Angkasa yang mengenali sosok itu.


"Iya, dia memang orangnya" jawab ku.


"Tapi untuk apa dia ngikutin kita terus menerus, apa yang dia inginkan sebenarnya" kata Alisa penasaran.


"Pasti ada yang dia inginkan, ayo kita samperin dia, kita tanya apa yang dia inginkan pada kita" ajak ku.


Tanpa menunggu jawaban mereka aku langsung berlari mendekati gadis pucat itu.


"Siapa kau, kenapa kau ngikutin aku terus?" tanya ku.


"4,6,7"


Hanya angka itu yang keluar dari mulut gadis pucat yang terus menatap lurus ke depan itu.


"4,6,7 apa yang kau maksud sebenarnya?" tanya ku yang tidak paham.


Gadis pucat itu tidak menjawab, setelah itu menghilang dengan meninggalkan misteri.


"Loh kok ngilang?" tanya Alisa yang baru sampai di dekat ku.


"Baru juga kita ke sini, kok dia tiba-tiba ngilang gitu aja" kata Angkasa.


"Aku juga gak tau, tapi sebelum dia pergi, dia sempat nyebut angka 4,6,7, kalian tau gak maksud dari angka itu?" tanya ku.


"4,6,7 kenapa dia nyebut angka itu bukannya bilang meninggal kenapa" kata Angkasa.


"Nah itu yang aku bingungkan, sungguh kali ini gadis pucat itu lebih misterius dari hantu manapun" jawab ku.


"4,6,7 pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik angka yang hantu itu sebut" feeling Reno.


"Itu pasti ren, hantu itu gak mungkin asal nyebut angka itu kalau tidak ada maksud tertentu" sahut Alisa.


"Kita harus cari tau arti dari angka 4,6,7 itu" kata ku.


"Kita nyarinya di mana?" tanya Angkasa.


"Di sekolah di mana lagi, gadis pucat itu kan makai baju sekolah yang sama dengan kita, aku merasa dia juga murid di sekolah SMA kebangsaan, dan juga kematiannya pasti ada hubungannya dengan sekolah itu" jawab ku.


"Kalau seperti itu besok saja kita pecahin teka-teki dari angka 4,6,7 itu" saran Angkasa.


"Iya, sekarang kita lebih baik pulang saja sebelum magrib di jalan" ajak Ustadz Fahri.


"Ya sudah, ayo kita pulang dulu" setuju Alisa.


Kami masuk ke dalam mobil, Ustadz Fahri melajukan mobil menuju rumah.


Di perjalanan aku terus memikirkan arti dari angka 4,6,7 itu dengan posisi kepala yang menyender pada kaca mobil.


"4,6,7, apa arti dari angka itu sebenarnya, kenapa gadis pucat itu gak langsung bilang aja kenapa dia bisa meninggal, terus di dalam kematiannya itu ada campur tangan orang lain atau murni kecelakaan, gak usah pake nyebutin angka 4,6,7 yang membuat ku tambah bingung" batin ku yang terus memikirkan arti dari angka itu.


"Eh tunggu-tunggu, kalau dia meninggal karena kecelakaan, entah itu jatuh dari balkon ataupun di tabrak motor maupun mobil, pasti ada berita kematiannya di sekolahan, tapi ini tidak, aku tidak dengar berita-berita tentang kematian anak di sekolah itu" batin ku.


"Kalau pelakunya bersekolah di tempat ku, kebanyakan sosok korban yang sudah di bunuhnya akan terus mengikutinya kemanapun, tapi di sekolahan tidak ada satu anakpun yang di ikuti makhluk halus di belakangnya, aku rasa meninggalnya gadis pucat itu gak ada sangkut pautnya dengan anak-anak di sekolahan ku" batin ku.


"Eh tapi aku kan belum nyelidiki kematiannya, bisa aja memang ada anak yang ada sangkut pautnya dengan kematian gadis pucat itu sehingga dia terus ngikutin aku kemana-mana" batin ku.


"Besok aku akan cari tau tentangnya dan besok semuanya akan jelas, kalau sebenarnya itu dia meninggal karena di bunuh sama orang yang bersekolah di tempat yang sama dengan ku ataukah meninggal karena kecelakaan di luar maupun di dalam sekolahan" batin ku.


"Besok aku akan cari tau tentang hal itu, aku harus bisa tau kenapa dia bisa meninggal, gak mungkin dia meninggal dengan sewajarnya, kalau dia meninggalnya wajar dia gak akan ngikutin aku segala" batin ku.


"Aku yakin banget di balik kematiannya ada orang yang sudah menjadi dalangnya, aku harus bisa cari tau kenapa dia bisa meninggal dan siapa yang sudah membuatnya meninggal, baru setelah itu dia gak akan lagi ngikutin aku" batin ku.


Angkasa yang mendengar setiap kata yang tengah aku pikirkan hanya bisa diam.


"Iya juga, gadis itu pasti meninggal dengan dua faktor, pertama mati karena di bunuh atau karena kecelakaan, tapi kalau di bunuh masuk akal sih, tunggu-tunggu kalau dia di bunuh, siapa pelakunya, apa orang luar ataukah orang-orang yang juga bersekolah di sekolahan yang sama dengan ku atau tidak" batin Angkasa yang juga memikirkan hal itu.


"Besok saja aku akan cari tau tentang hal itu bersama Aliza" batin Angkasa yang tidak mau memikirkan dia saat ini.


Mobil terus melaju, setelah sampai di restoran, kami menurunkan bahan makanan yang telah di beli dan memasukkannya ke dalam ruangan pendingin.


Setelah itu kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah.


Mobil terus melaju kini mobil itu masuk ke dalam jalanan desa yang di kanan dan kirinya terdapat pepohonan yang menjulang tinggi hingga membuat jajanan ini tampak lebih gelap dan menakutkan.


"Eh kok gak ada mbk Hilda sama dua Kun ya, kemana mereka?" tanya Alisa yang kehilangan mereka bertiga.


"Gak tau, mungkin aja mereka masih membereskan hantu yang gangguin kamu itu" jawab Angkasa.


"Mungkin aja sih, tapi di mana Tiger, kenapa gak ada di sini?" tanya Alisa.


"Lagi ikut bantuin mbk Hilda sama dua Kun mungkin" jawab Angkasa.


"Kayaknya enggak deh, karena pas mbk Hilda sama dua Kun nyamperin aku, Tiger gak ikut sama mereka" kata Alisa.


"Kalau Tiger gak ikut sama mereka, kemana dia sebenarnya?" tanya Angkasa.


Wussshhhh


Tiba-tiba ada kelebat bayangan berwarna putih yang menyebrang jalan.


ciiitt


Ustadz Fahri mengerem mendadak.


"Ada apa tadz?" tanya kami terkejut.


"Tadi ada hantu yang tiba-tiba lewat, mangkanya saya kaget" jawab Ustadz Fahri.


"Hantu" kata Alisa.


"Hantu mana lagi ini" kata Alisa mulai begidik ngeri.


"Jangan bilang kalau dia hantu yang sama yang sudah gangguin aku tadi" kata Alisa.


"Gak mungkin, mbk Hilda sama dua Kun pasti udah beresin dia, gak mungkin dia ngikutin kita sampai di sini, aku ngerasa dia itu cuman hantu yang gak sengaja ngeliat kita dan berusaha buat gangguin kita, itu aja" jawab ku.