The Indigo Twins

The Indigo Twins
Hampa



Angkasa menatap sekeliling, suasana sekolahan tampak ramai, banyak anak-anak yang memenuhinya namun seperti ada yang hilang di hidupnya sehingga ia merasakan hampa.


"Aku mau ke kelas, nanti kita ketemu di taman ya" pamit Alisa.


Mereka berdua membalas dengan deheman, mereka berjalan ke kelas masing-masing.


Angkasa dengan langkah gontai melangkah mendekati kelasnya.


"Selamat pagi Aliza" sapa Roki berdiri di ambang pintu dengan senyuman manisnya.


Seketika senyuman manis Roki menghilang.


"Loh kok cuman kamu doang, mana Aliza, biasanya kalian selalu bersama kayak cicik sama dinding, tapi kenapa sekarang malah sendirian, apa jangan-jangan kalian sudah cerai" heboh Roki pagi-pagi.


Angkasa sangat malas menanggapi leluconnya hari ini, ia benar-benar di rundung kesedihan sehingga membuat moodnya jelek.


"Minggir!"


"Santai bos" Roki menyingkir, Angkasa masuk ke dalam kelas dan duduk di tempatnya.


"Mana Aliza sa, kenapa kamu sendirian aja, apa benar kalian sudah ceria?" Roki masih membuntuti Angkasa, dia tidak akan membiarkan Angkasa tenang selagi dia masih belum tau kenapa aku tidak kelihatan.


"Aliza kecelakaan, kepalanya habis di operasi, dia sekarang koma di ruangan ICU"


"APA KOMA!"


"Gak usah teriak-teriak bisa gak?"


"Iya maaf, kenapa Aliza bisa kecelakaan, siapa yang sudah nabrak dia, apa truk, kontainer ataupun bus?" dengan bertubi-tubi Roki menebak, ia benar-benar terkejut saat mendengar kalau aku kecelakaan.


"Sesama motor, bukan truk ataupun lainnya"


"Kenapa bisa separah itu sa kalau cuman sesama motor?" Roki mengambil duduk di samping Angkasa yang kosong, karena tidak ada aku di sana.


"Saat jatuh kepala Aliza menghantam trotoar, posisinya dia gak pake helm, membuat batok kepalanya retak, dia di operasi sekitar jam 12 malam, tapi sampai sekarang dia masih belum siuman, dia masih koma di rumah sakit"


Roki diam, ia menutup mulut tak percaya.


"Yang nabrak bagaimana sa, dia parah juga gak?" penasaran Byan teman Roki.


"Dengar-dengar salah satu di antara mereka patah tulang, tapi gak terlalu parah, gak separah Aliza yang sampai harus di operasi karena saking dahsyatnya kepala Aliza yang menghantam trotoar, sehingga dia sampai sekarang gak bangun-bangun"


"Emang sudah berapa lama Aliza di rawat?" penasaran Roki.


"Sudah 1 bulan Aliza di rawat, tapi selama itu gak ada perubahan sama sekali dengannya, dia masih terbaring di ruangan ICU, aku gak bisa masuk ke dalam ruangan ICU sama dokternya, aku hanya bisa lihat dia dari kaca"


"Kasihan banget Aliza, aku udah kangen banget sama dia, mangkanya aku rela-relain berangkat pagi-pagi sekali biar ketemu sama dia, eh gak taunya dia malah sakit" sedih Roki.


"Nanti kita jenguk saja Aliza di rumah sakit ki, kita lihat langsung keadaan dia" usul Dimas.


"Iya, nanti kita ke sana habis pulang sekolah, aku pengen lihat bagaimana keadaannya" jawab Roki.


"Iya kami tau" jawab mereka kompak.


"Berapa tahun mereka di penjara?"


"10 tahun, itu karena mereka di bawah umur" jawab Roki.


"Dikit banget, seharusnya mereka di hukum mati sekalian, biar tau rasa, mereka itu sudah melakukan pembunuhan berencana, itu sebenarnya harus di hukum seberat-beratnya, ulah mereka itu benar-benar tak bisa di ampuni, mereka sudah membuat 2 nyawa orang tak berdosa melayang, bayangkan betapa hancurnya keluarga korban saat tau anaknya meninggal karena di bunuh"


"Kami juga rada gak terima sa, tapi mau bagaimana lagi, itu sudah menjadi keputusan hakim, kita gak bisa mengganggu gugat" jawab Roki.


"Aku mau nanya masalah sekolahan ini gimana, apa gak dapat pelanggaran?" Angkasa menanyakan hal itu dengan suara yang pelan karena di kelas ini ada anak kepala sekolah, ia takut anak kepala sekolah itu mendengarnya.


"Dapat, mangkanya sekolahan ini di liburkan 1 bulan, itulah pelanggarannya, tapi untung saja sekolahan ini gak sampai di tutup, cuman di kasih peringatan saja, mungkin habis ini peraturan di sekolah ini akan tambah di perketat lagi, pihak sekolahan pasti gak mau ada kejadian-kejadian yang tak terduga, apa lagi kejadian itu di cium sama media, bisa langsung di tutup sekolahan ini" jawab Roki.


"Tapi aku malah ingin sekolahan ini di tutup, di sini banyak hal-hal negatifnya"


"Jangan gitu sa, aku mau sekolah di mana kalau sekolahan ini di tutup" tak mau Dimas.


"Di SMA purnama, di sana gak kalah bagus kok sekolahannya, malahan di sana masuk kategori SMA favorit"


"Mahal, di sana itu mahal banget, gak sanggup aku sekolah di sana, kalau seandainya sekolahan ini di tutup, aku pasti akan sekolah di desa bapak ku yang kecil karena gak sanggup bayar" jawab Dimas.


"Iya, aku juga pasti gitu, semoga saja sekolahan ini gak di tutup, mau sekolah di mana kita kalau sekolahan ini di tutup" harapan Byan.


"Kita doakan saja semoga ke depannya gak ada kejadian seperti ini lagi"


"Amiiin" jawab mereka kompak.


Angkasa melihat sekeliling kelas, pandangannya jatuh pada seseorang yang diam di tempat, ia tidak berbaur bersama yang lainnya.


"Itu Wendy kenapa, kenapa dia duduk diam aja, kenapa gak gabung sama bestoy-bestoynya?"


"Teman-temannya pada pindah, setelah kejadian meninggalnya Andin dan Elfa, banyak anak-anak di sekolahan ini yang pindah, terutama orang-orang yang dekat dengan Wendy, mereka jadi ngeri sama Wendy" jawab Roki.


"Kok gitu, mereka ngeri kenapa, apa Wendy gigit dia?"


"Bukan, cuman orang tua mereka takut anak-anak mereka bernasib sama seperti Andin dan Elfa, jadi mereka kebanyakan berhenti dan pindah ke sekolahan yang lebih elit" jawab Roki.


"Tapi kebayangkan yang pindah anak-anak orang khaya semua, yang miskin-miskin masih tetap diam di tempat, gak ada pergerakan, mereka pasti tau kalau masuk ke sekolahan ini saja sudah beruntung, sekolahan ini masuk sekolahan besar juga, walaupun gak masuk kategori sekolah favorit" tambah Dimas.


"Pantes aja dia dari tadi diam bae, ternyata di tinggal pergi sama bestoy-bestoynya"


"Tapi kasihan tau lihat Wendy diam bae kayak gitu" prihatin Byan.


"Halah gak usah di kasihani, dia itu nyebelin, biarin aja dia begitu, biar dia tau rasa, suruh siapa jadi orang songong amat, sekarang tau rasa kan jadinya" Roki malah senang melihat Wendy yang diam di tempat seperti itu.


"Iya juga sih" jawab Dimas.


Mereka bertempat membiarkan Wendy yang terus diam, mendadak hari Wendy menjadi sangat pendiam, seperti bukan Wendy yang dulu.