The Indigo Twins

The Indigo Twins
Bersembunyi dari kuntilanak



"Ayo za lebih cepat lagi, kita harus lari sebelum tuh kuntilanak kembali bangun dan mengejar kita lagi" ajak Angkasa yang di serang rasa panik.


"Iya kita harus segera pergi dari sini" jawab ku terus berlari secepat kilat, saking cepatnya hingga mukenah yang aku pegang jatuh ke bawah.


Kami berdua yang sama-sama panik, tegang dan takut terus berlari tanpa henti, saking tegangnya kami sampai tidak jadi lewat di jalanan yang sebelah timur, kami malah berlari ke sebelah selatan.


"Lebih cepat lagi za, kita harus bisa lolos dari kejaran kuntilanak itu" teriak Angkasa yang terus berlari.


"Tapi sa kita gak bisa lari terus kayak gini, kita pasti akan di tangkap sama kuntilanak itu, dia pasti akan membalaskan dendamnya pada kita, kita gak akan bisa apa-apa lagi jika sampai dia datang dan mencelakai kita" kata ku masih terus berlari.


Angkasa diam, mencerna baik-baik perkataan ku.


"Benar juga, kalau aku dan Aliza terus berlarian kayak gini, cepat atau lambat kami pasti akan di tangkap oleh kuntilanak itu, apalagi saat ini dia begitu marah sekali pada kami, aku yakin sekali kalau dia tidak akan membiarkan kami lolos lagi" batin Angkasa.


"Aku harus cari cara agar bisa lolos dari kejaran kuntilanak itu" batin Angkasa.


Angkasa melihat ke kanan dan kiri yang hanya ada semak-semak saja.


Tanpa aba-aba Angkasa langsung menarik tangan ku hingga jatuh dan masuk ke dalam hutan yang gelap tak ada penerangan sedikitpun.


Aku sangat terkejut dengan tindakan Angkasa, aku juga merasakan ada pergerakan makhluk halus di dalam hutan ini.


"Kita ngapain ada di sini sa?" tanya ku yang sudah gelisah, takutnya mereka mengganggu kami dan akan membuat kami semakin kesulitan.


"Sstt jangan berisik" jawab Angkasa pelan.


Aku pun diam tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Kami bersembunyi di balik pohon besar yang ada di pinggiran hutan itu.


Tak lama dari itu mata kami melihat kuntilanak yang terbang di jalanan dari dalam hutan yang gelap dan menyeramkan.


Terlihat jika kuntilanak celingukan mencari keberadaan kami berdua, ia terus saja mencari tapi nihil.


"Kemana dua bocah itu, kenapa tidak ketemu, pergi kemana mereka, kenapa menghilang bagaikan di telan bumi" kata kuntilanak terus mencari keberadaan kami.


Kami yang mendengar suaranya yang sedang marah hanya bisa diam, berharap keberadaan kami tidak di ketahui.


"Semoga dia tidak tau jika aku dan Angkasa ada di sini" batin ku berharap hal itu tidak terjadi.


"Itu tidak akan terjadi za, aku yakin sekali dia tidak akan menemukan kita, kamu gak usah khawatir, ada aku di sini" batin Angkasa yang mendengar suara hati ku.


Aku sangat takut sekali jika kuntilanak itu mengetahui keberadaan kami.


"Mereka pergi kemana, kenapa cepat sekali, apa jangan-jangan mereka tidak ke sini melainkan ke jalanan yang di sebelah utara, aku rasa memang iya, aku harus cari mereka sampai dapat, tak akan aku biarkan mereka lolos begitu saja, aku harus buat mereka hancur berkeping-keping, biar mereka tidak seenaknya bertindak tidak baik kepada ku" kata kuntilanak yang sudah marah besar pada kami berdua.


Kuntilanak terbang mencari kami ke jalanan yang sebelah utara, berharap menemukan kami di sana.


Kami berdua yang ada di dalam hutan ini masih belum keluar dari tempat persembunyian, sebelum kuntilanak itu benar-benar telah pergi.


"Huft akhirnya kita bisa bebas juga dari kuntilanak itu" syukur ku benapas lega setelah kuntilanak itu benar-benar telah pergi.


"Iya, lumayan letih juga kita lari-larian sejak tadi hanya karena di kejar sama kuntilanak itu" jawab Angkasa menghapus keringat-keringat dingin yang berjatuhan di wajahnya.


"Kamu sih pake nimpuk kuntilanak itu segala, kan kita jadi kena batunya" kata ku.


"Ya maaf, tadi itu aku sempat berpikir kalau tuh kunti sama kayak mbk Gea dan mbk Santi yang baik, eh gak taunya ternyata dia masuk dalam kategori kuntilanak jahat, kalau aku tau ini akan terjadi, aku juga gak akan mau nyari masalah sama dia" jawab Angkasa.


"Lain kali hati-hati, tidak semua hal yang kita anggap baik itu beneran baik, kita gak boleh meremehkan hantu manapun lagi, karena mereka dapat membahayakan kita" kata ku.


"Enggak lagi deh" jawab Angkasa.


"Untung kita bisa lolos dari kuntilanak itu, hampir saja dia tadi nyekik leher kita" kata ku dengan memegang leher ku yang hampir di cekik oleh kuntilanak.


"Gimana kalau semisal tangan kuntilanak itu berhasil nyekik kita, kita pasti akan mati, aku gak mau mati, aku gak mau mati" kata ku yang tidak bisa membayangkan jika hal itu beneran terjadi.


"Gak akan itu terjadi, aku tadi juga sudah feeling jika kuntilanak itu akan ke sini, mangkanya tadi aku langsung narik tangan kamu agar kita bisa sembunyi dulu, kalau kita jalan terus, kita pasti akan di tangkap olehnya" jawab Angkasa.


"Untung kamu langsung gerak cepat buat narik aku ke dalam hutan ini, kalau sampai kamu telah sedikit saja, aku yakin kita berdua tidak akan bisa kembali ke rumah lagi, kita pasti akan menjadi makhluk seperti kuntilanak itu, aku gak mau, aku gak mau itu terjadi, aku masih hidup, masa depan ku masih kacau balau, aku tidak mau mati dulu" kata ku yang tidak bisa membayangkan jika hal itu beneran terjadi.


"Iya untung aku dan kamu tidak memakai baju putih, jika tidak kita berdua akan terlihat dalam kegelapan hutan ini oleh kuntilanak itu" jawab Angkasa.


"Untung aja kata masih bisa selamat, meski sejak tadi terus menerus berlarian ke sana kemari hanya karena ingin terbebas dari kuntilanak itu" kata ku.


"Ya udah yok za, kita harus pergi dari sini sebelum kuntilanak itu kembali ke sini dan menemukan kita" ajak Angkasa berdiri.


Aku ikut berdiri sepertinya.


"Kita jangan lewat jalanan itu lagi, udah cukup kita di hadang oleh hantu-hantu di jalan, aku tidak mau bertemu dengan para-para hantu-hantu jalanan kembali, aku sudah lelah berlari sejak tadi, sakit tau kaki aku, apalagi punggung aku, udah tadi sore habis di pukul sama pak Tresno, eh malamnya di lempari batu sama kuntilanak itu, makin tambah sakit kan jadinya" kata ku.


"Terus kita lewat mana selain di jalanan itu, apakah ada lagi jalan untuk kita pergi dari sini?" tanya Angkasa.


"Kita masuk ke dalam hutan ini aja, barang kali nanti kita bertemu dengan jalan keluarnya" jawab Angkasa.