The Indigo Twins

The Indigo Twins
Melihat mbah Gamik di jalan



"Tapi za kalau aku gak kembali setelah masuk ke dalam sana gimana, gimana nasib adik aku, dia pasti akan kehilangan aku" Reno masih memikirkan Rani, dia sudah di tinggal oleh papa dan mamanya, dia tidak mau Rani kembali sedih karena kehilangannya juga.


"Aku yakin kita pasti akan kembali, ada Tiger, White, mbk Hilda, dua Kun yang akan nyelamatin kita kalau kita dalam masalah, benar bukan?" mereka berlima mengangguk.


Reno diam, ia masih bingung harus ikut ke dalam hutan atau enggak."Aku mau pikir-pikir dulu, nanti aku akan putusin apa yang mau aku pilih"


"Iya, kamu pikir-pikir dulu, aku berharap kamu mau ikutan ren" suruh Angkasa.


"Mbah Gamik minta kalian buat datang ke sana agar kalian bisa makamin jasadnya dengan kayak gitu?" kami mengangguk.


"Iya tadz, mbah Gamik terdengar memaksa kami agar datang ke sana, kami gak tau apa yang dia inginkan sebenarnya, kenapa dia ngundang kami ke sana" jawab Angkasa.


"Kalau seperti itu kita harus ke sana, besok saya akan ikut bersama kalian, saya mau tau ada apa di sana, sehingga mbah Gamik minta kalian ke sana" kami senang ketika mendengar Ustadz Fahri mau membantu kami untuk menyelesaikan misteri ini.


"Makasih tadz"


"Sama-sama, kalian mau ke sana jam berapa?" kami diam, kami masih belum tau akan ke sana jam berapa karena besok kami harus sekolah.


"Masih belum tau tadz, karena besok bukan hari libur, mangkanya kami bingung mau ke sana jam berapa, kalau sore kami takut akan larut malam keluar dari sana"


"Kamu gak lihat grup za?" aku melihat ke arah Angkasa dengan mengerutkan alis.


"Grup? emang ada apa di grup?"


"Ada pengumuman libur selama 3 hari karena kematian Elfa, palingan sekarang bu Riska sedang sibuk kocar-kacir ke kantor polisi karena orang tua Elfa nuntut pihak sekolahan yang lalai sehingga anaknya meninggal dunia" jawab Reno.


"Oh gitu, ya sudah lebih baik kita besok pagi saja ke rumah mbah Gamik, aku sudah penasaran ada apa di dalam rumahnya"


"Eh rumahnya mbah Gamik itu ada orangnya gak, kan anaknya mbah Gamik yakni dukun beranak udah meninggal, apakah di sana ada yang nempatin lagi gak ya?" penasaran Reno.


"Kayaknya masih ada deh, suaminya dukun beranak itu kan masih ada, mungkin dia yang nempatin rumah itu sekarang" jawab mbk Hilda.


"Jadi fiks ini kita besok ke sana pagi-pagi sekali, karena jarak rumahnya mbah Gamik itu agak ke dalam dan butuh waktu lama untuk bisa sampai di sana, lebih baik kita berangkat pagi-pagi sekali, biar menghemat waktu"


"Iya, kita besok pagi-pagi sekali ke sana" setuju Angkasa.


"Kalian mau kemana?" kami menoleh ke arah Alisa yang baru turun dari kamarnya.


"Kami mau ke rumahnya mbah Gamik, kamu masih ingat sama Intan kan sa?"


"Intan, oh Intan anaknya bu Hamidah itu kan" aku mengangguk.


"Iya bener"


"Emang ada apa dengan dia, kenapa kamu bawa-bawa nama dia lagi, dia kan hilang saat kita masih kecil?" Alisa mengambil duduk di dekat ku.


"Kita itu penasaran apakah hilangnya dia ada hubungannya dengan mbah Gamik, ibu dari dukun beranak itu, dia kan tinggalnya di tengah-tengah hutan, aku hanya takut hilangnya Intan di sebabkan oleh dia"


"Bisa jadi, dulu kan memang sering ada orang yang hilang, kebayangkan anak-anak, tapi sampai sekarang gak ada yang bisa nemuin, walaupun udah lapor pada polisi" jawab Alisa.


"Nah mangkanya itu kami mau ke sana, kamu mau ikut gak?"


"Ya udah aku ikut juga kalau kamu ikut" bersedia Reno, ia tak lagi ragu untuk ikut memecahkan misteri ini karena kini Alisa bersedia untuk ikut.


"Nah gitu dong, kita harus bisa nyelesain misteri ini yang rumit ini karena misteri ini udah terjadi beberapa tahun yang lalu, namun sampai sekarang masih belum ada yang bisa mecahinnya"


"Iya, apalagi kalau ada isu anak hilang sama warga di biarin aja, karena memang mau di cari kemanapun gak ketemu, tapi sampai sekarang aku penasaran di bawa kemana anak-anak hilang itu dan yang nyulik mereka itu manusia apa makhluk halus?" bingung Alisa yang memang masih belum bisa mencari tau kebenarannya.


"Itu yang aku bingungkan, dari dulu sering ada anak hilang tapi walaupun udah lapor polisi, pihak kepolisian gak ada yang bisa ngungkap tersangkanya"


"Ada kemungkinan mereka itu di culik sama hantu, karena kalau bukan mereka siapa lagi yang mau nyulik anak-anak di desa ini" dugaan Angkasa.


"Mungkin aja sih, tapi kalau di culik sama hantu, hantu mana yang jadi tersangkanya, di sini banyak hantu, gak mungkin kita nuduh mereka semua" jawab Alisa.


"Emang di sini itu rawan anak hilang?" kami mengangguk.


"Iya tadz, di sini itu memang banyak anak hilang, pasti setiap tahun ada aja anak hilang, tapi sampai sekarang gak ada yang bisa nemuin, kayak hilang di telan bumi gitu"


"Ada apa tadz?" Reno yang melihat Ustadz Fahri diam mulai penasaran.


"Tidak ada apa-apa, besok kita datangin rumahnya mbah Gamik, biar kita tau apa maksud dia ngundang kita ke sana" jawab Ustadz Fahri.


"Baik tadz" setuju kami.


"Eh mana mbk Rinda, kok gak kelihatan?" sedari tadi Alisa tidak melihat keberadaan mbk Rinda dan juga Dita, Arif serta Rani di rumah ini.


"Nganterin mereka les mungkin, biasanya kan mereka les di jam segini" jawab Reno.


"Kakak" panggilan itu membuat pandangan kami teralihkan.


Rani berlari memeluk Reno."Gimana, udah selesai lesnya?"


Rani mengangguk"Udah, lesnya seru banget"


"Ada apa kak, kenapa pada ngumpul di sini, kalian lagi bahas mbah Gamik ya" tebak Dita yang membuat kami terkejut.


"Dari mana kamu tau?" terkejut Alisa saat tebakan Dita benar-benar tepat.


"Cuman nebak aja, pas pulang dari les di jalan aku lihat mbah Gamik yang berdiri di pinggir pohon, dia lagi nangis tadi" jawab Dita.


Angkasa mengerutkan alis."Nangis, kenapa dia nangis?"


"Dia nangis karena kehilangan anaknya, emang kalian udah kemanain anaknya mbah Gamik?" Dita mengambil duduk di dekat Ustadz Fahri.


"Udah di buang ke laut dan dia gak akan bisa keluar" jawab Ustadz Fahri.


"Pantesan dia nangis terus di jalan pas masuk desa yang gelap itu" Dita akhirnya tau kenapa alasan mbah Gamik menangis saat ia lewat di depannya.


"Sebentar-sebentar kamu tau dari mana mbah Gamik itu, kami aja baru tau barusan?"


"Dia kemarin nyamperin aku di kamar, dia bilang kalau namanya mbah Gamik" jawab Dita.