The Indigo Twins

The Indigo Twins
Tante China yang misterius



"Terus apa yang harus kita lakukan saat ini, aku udah capek banget, kamu gak punya solusi apapun gitu?" tanya ku berharap Angkasa memilikinya.


"Gak punya, kalau aku punya, aku pasti akan langsung bilang sama kamu" jawab Angkasa.


"Terus gimana dong sa, aku mau pulang, aku gak mau berada di sini lagi, apa yang harus kita lakukan, aku udah capek ada di sini terus menerus" kata ku yang sudah sangat lelah.


"Kita tunggu beberapa saat lagi, jika sampai tak ada apapun, terpaksa kita harus jalan lagi dan mencari jalan menuju ke rumah" jawab Angkasa.


"Baiklah, aku akan menunggu sekali lagi, jika sampai tidak ada apapun, kita kembali melanjutkan perjalanan" setuju ku.


Kami berdua diam dengan terus menungggu bus yang datang.


Lelahnya tubuh sudah terasa, namun tak ada pilihan lagi yang bisa kami lakukan selain diam dan melihat perkembangan apa yang akan terjadi.


"Gini ya rasanya menungggu tanpa kepastian, sakitnya minta ampun" kata ku yang sudah galau karena apa yang aku inginkan tak kunjung terkabulkan juga.


"Namanya juga menungggu tanpa kepastian, ya gini rasanya" jawab Angkasa.


Aku menghela napas panjang, rasa lelah menyatu dalam tubuh ku yang membuat ku tidak bisa diam.


Kami berdua diam dengan terus menungggu kedatangan bus yang tak kunjung datang.


Di saat kami tengah menungggu kedatangan bus tanpa kami sadari matahari sudah menampakkan sinar terangnya yang mengusir kegelapan.


"Za matahari sudah terbit, ayo kita jalan aja" kata Angkasa yang sadar akan hal itu.


"Ya udah ayo" jawab ku dengan tidak semangat karena kaki ku sudah sangat sakit lantaran berjalan terus menerus.


Aku berdiri dari duduk ku tiba-tiba.


tap


tap


tap


Telinga ku mendengar suara langkah kaki seseorang yang sepertinya memakai heels.


"Sa kamu dengar gak?" tanya ku.


"Dengar" jawab Angkasa.


"Kayak ada orang yang jalan gak sih" kata ku.


"Sepertinya memang iya, tapi ada di mana pemiliknya?" tanya Angkasa.


Mata kami mencari suara langkah kaki yang seketika membuat kami kembali bersemangat


Mata kami menangkap seorang tante-tante berbaju China tengah mendekati kami dengan anak kecil yang berusia sekitar 7 tahun yang tangannya di genggaman oleh tante-tante itu.


Senyum ku merekah melihat tante China dan anak kecil yang sedang berjalan mendekati kami.


"Akhirnya ada orang yang kita temui di sini setelah sekian abad kita menunggu bagaikan orang gila yang tidak tau tujuan" kata ku senang.


"Kok kamu duduk lagi, katanya mau jalan lagi?" tanya Angkasa.


"Gak jadi, lebih baik kita tunggu tante-tante itu ke sini, kita nanya saja sama dia" jawab ku.


"Oke kalau gitu" kata Angkasa.


Angkasa kembali duduk di samping ku.


Tante-tante itu terus mendekati kami, setelah sampai, dia mengambil duduk tepat di samping ku.


"Tante mau kemana?" tanya ku basa-basi karena setelah ini aku mau bertanya banyak hal kepadanya.


Tak ada jawaban dari tante-tante itu.


"Halo tante nama ku Aliza" kata ku dengan mengulurkan tangan ke arah tante itu, tapi tante-tante itu tak membalas atau menengok ke arah ku sama sekali, matanya masih tetap fokus ke depan.


Aku menarik kembali uluran tangan yang tadi ku berikan pada tante itu.


"Tante anaknya nangis tuh" kata ku yang melihat anak lelaki yang di bawa oleh tante-tante itu terus menangis.


"Gak ada respon" batin ku.


Aku menoleh ke Angkasa, Angkasa mengangkat bahunya, tanda tak mengerti.


"Tante China itu kenapa sih sa?" bisik ku di telinga Angkasa.


"Enggak tau, mungkin dia tipikal anak pendiam" jawab Angkasa.


"Mungkin aja, kita berpikir positif aja dengan sikap tante China itu, karena dia harapan terakhir kita di sini" kata ku.


"Tapi aneh tau za, lihat matanya tante China itu terus melihat ke depan tanpa berkedip, kamu ngerasa gak kalau dia aneh" bisik Angkasa.


Aku melirik sedikit ke arahnya untuk memastikan jika apa yang Angkasa katakan memang benar adanya.


"Iya, aku juga ngerasa gitu, kamu tau gak tante China itu mau pergi kemana?" tanya ku.


"Mana aku tau, emang aku emaknya" jawab Angkasa.


"Kirain kamu tau, gimana ini, kita jalan lagi apa bagaimana" kata ku meminta pendapat Angkasa.


"Kita diam aja di sini dulu, mungkin sebentar lagi akan ada bus yang lewat dan kita bisa naik lalu pulang ke rumah" jawab Angkasa.


Aku mengangguk setuju, aku melihat ke arah tante China yang terus diam tak bergeming berbanding terbalik dengan anaknya yang terus saja nangis.


"Sa kenapa anaknya tante China nangis?" tanya ku dengan berbisik.


"Aku juga gak tau, kamu tanyain aja" jawab Angkasa.


"Gak berani, aku takut sama emaknya, aku gak mau di marahin sama emaknya, bisa-bisa kita tidak akan bisa meminta bantuan tante China kalau seperti itu" kata ku.


"Ya udah kita diam aja, kita lihat ada apa setelah ini" jawab Angkasa.


Aku diam dengan terus menunggu sesuatu yang tidak aku ketahui.


Anak tante China itu terus menangis tanpa henti, aku ingin menanyakan sesuatu padanya, namun aku takut tante China yang begitu misterius marah pada ku dan tak mau membantu ku.


Kami terus diam, tak berselang lama dari itu apa yang kami inginkan terkabulkan juga.


Bus yang kami nanti-nantikan sejak tadi akhirnya menampakkan batang hidungnya.


Bus itu melaju dari arah barat dan berhenti tepat di depan kami.


"Akhirnya yang kita tunggu-tunggu datang juga, gak sia-sia kita menunggu di sini" syukur ku sangat senang


Tante China langsung berdiri dari duduknya, ia masuk ke dalam bus dengan cepat.


Aku dan Angkasa mengikut tante China.


Kami berdua duduk di kursi tepatnya di belakang kernet bus.


Di dalam bus aku dan Angkasa menatap aneh mereka semua.


"Kok tidak terdengar satu suara pun dari penumpang bus, padahal kursi bus ini penuh tidak seperti biasanya yang ramai oleh suara-suara khas emak-emak legend" batin ku yang menatap aneh mereka semua.


"Za kamu merasa aneh gak" bisik Angkasa di telinga ku.


"Iya, kamu ngerasa juga?" tanya ku.


Angkasa mengangguk cepat.


"Bisanya sa, kalau di dalam bus itu bising sekali, tapi ini apa, gak ada suara apapun, mereka semua seakan bisu, ada apa ini sebenarnya?" tanya ku yang sudah mulai takut.


"Aku juga gak tau za, kenapa mereka semua bisa diam aja, apa mereka semua tipikal anak pendiam" feeling Angkasa.


"Gak mungkin sa, masa semua yang ada di dalam bus ini anak pendiam, itu gak masuk akal" jawab ku.


"Kita harus cari tau kenapa mereka bisa kayak gini" kata Angkasa.


Aku mengangguk lalu berusaha mencari tau tentang mereka semua yang diam tak bergeming.