
Malam tiba
Setelah sholat magrib berjamaah Angkasa dan yang lainnya pulang.
Sekarang di sini hanya tinggal aku dan bunda saja.
Bunda tak mengijinkan Alisa dan Reno untuk menginap di sini karena takutnya mereka kecapean bolak-balik home-hospital terus-terusan.
"Loh kok Abang gantengnya gak ada?" tanya Santi yang tak menemukan keberadaan Angkasa.
"Udah pulang mbk tadi pas selesai sholat magrib" jawab ku.
"Yaa kok udah pulang, baru juga dapat gebetan" kata mbk Santi dengan wajah yang langsung cemberut.
"Hmm jadi ini faktor tak betahnya Angkasa di sini, aku paham sekarang, Angkasa pasti risih dengan kedua Kunti ini yang masih sempat-sempatnya menggodanya yang sudah jelas-jelas mereka berdua berbeda alam" batin ku mengerti dengan semuanya.
Aku terkekeh geli melihat para-para kunti di depan ku yang sedang galau brutal gara-gara di tinggal Angkasa pergi.
"Aliza" panggil para korban dokter Gladis yang baru muncul.
Aku menoleh ke asal suara.
"Makasih" kata mereka semua tersenyum lebar setelah kerangka mereka telah di makamkan dengan layak.
"Sama-sama" jawab ku membalas senyuman manis mereka.
"Kami pamit dulu, kamu jaga diri baik-baik, jangan mudah percaya pada manusia dan juga jangan jadi gadis lemah, lawanlah mereka yang ingin menjahati m,u kau harus bisa melawan mereka agar kau tidak di hina ataupun tidak dianiaya oleh mereka" pesan mbk Ningsih tersenyum dengan sangat manis.
"Iya mbk, Aliza akan selalu ingat pesan mbk, pergilah kalian dengan tenang, sekarang kalian bisa beristirahat dengan tenang" jawab ku.
Mereka semua mengangguk.
Sinar terang berwarna putih menyilaukan mata ku, sinar itu membawa mereka pergi untuk selamanya.
"Dah pergi juga mereka, kapan aku bisa pergi kayak mereka" kata mbk Santi.
"Bisa kok, sana kalau mau pergi biar nanti Abang ganteng jadi milik aku seutuhnya" kata mbk Gea.
"Enak aja, enggak aku gak mau pergi meninggalkan Angkasa, nanti kamu malah bisa leluasa mendekatinya lagi, gak akan aku hal itu terjadi" jawab mbk Santi.
"Ya udah kita saingan buat dapatin cintanya Angkasa" kata mbk Gea.
"Oke fine siapa takut, aku akan lawan kamu kita bersaing" jawab mbk Santi.
Aku geleng-geleng kepala melihat mereka berdua.
"Ada-ada saja dua Kunti ini, sudah jadi Kunti masih aja mau gangguin orang" batin ku tak habis pikir.
Keesokan harinya.
"Akhirnya rumah sakit mengizinkan aku juga untuk pulang ke rumah, setelah bebek hari aku berada di rumah sakit yang di penuhi berbagai macam makhluk halus yang menjadi penghuninya, untung aja mereka tidak mengganggu ku sama sekali" syukur ku senang.
"Iya kamu bisa pulang juga, Alisa bantuin bunda yuk beresin segalanya" jawab bunda.
"Iya bun" kata Alisa.
Alisa dan bunda membereskan barang-barang yang ada di rumah sakit ini.
Setelah semuanya beres kami masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, aku terus saja memerhatikan jalanan dari jendela.
"Begini rasanya bisa menghirup udara bebas setelah beberapa hari aku di kurung di dalam rumah sakit yang di penuhi bau obat-obatan dan juga para makhluk tak kasat mata" kata ku pelan.
Aku merasa sangat senang telah keluar dari rumah sakit.
Saat aku sedang sibuk memperhatikan kendaraan di kanan dan kiri tiba-tiba sebuah tangan menutup mata ku.
"Ada apa?" tanya ku
"Aku mencintai mu" kata Angkasa.
"Apa aku gak denger" kata ku yang tidak dapat mendengar kata-kata yang Angkasa ucapkan barusan karena terhalang suara klakson kendaraan.
"Tidak ada" jawab Angkasa.
Aku tak lagi bertanya dan diam saja.
Reno yang duduk di belakang Angkasa mendengar jelas apa yang Angkasa katakan barusan.
"Untung aja Aliza gak dengar apa yang barusan aku katakan, kalau tidak bisa berabe nanti" batin Angkasa.
Mobil terus saja melaju lalu berhenti di depan rumah.
"Akhirnya nyampe juga" senang ku.
Aku langsung turun dan menghirup udara segar.
"Beh nih anak seperti baru merasakan terbebas dari dalam sangkar aja sampai kayak gini" batin Angkasa tak habis pikir.
Kami masuk ke dalam rumah.
Aku langsung menuju kamarnya yang begitu sangat aku rindukan.
"Owhh baby, aku merindukan mu" kata ku langsung memeluk boneka Doraemon kesayangannya.
Aku tidak menyukai Doraemon namun karena dia berwarna biru jadi aku terpaksa menyukainya karena warnanya.
Puas memeluk bonekaz aku melangkah mendekati pintu balkon, membukanya lalu menghirup udara segar yang di iringi bau semerbak harum dari bunga-bunga yang alu rawat di sini.
Aku menyiram semua bunga mawar dari mawar putih hingga mawar hitam serta bunga anggrek dan masih banyak lagi yang sudah selama beberapa hari ku tinggalin.
"Bibit-bibit stroberi ini sudah cukup untuk di pindahkan, oke sekarang aja aku pindahkan, waktu adzan magrib masih lama juga, cukup lah aku menyelesaikan ini" kata ku sendiri.
"Lidah buaya dan juga lidah mertua sudah cukup untuk di pindahkan, kurang 2 jam lagi waktu magrib santuy" kata ku sendiri
Aku memulai memindahkan tanaman-tanaman itu ke pos yang lebih besar.
Di bawah Angkasa mencari keberadaan ku.
"Za kamu di mana" panggil Angkasa.
Angkasa terus mencari ku di ruang tamu.
"Kok gak ada juga di sini, kemana tuh anak perginya, eh sa kamu lihat Aliza gak?" tanya Angkasa kala tak sengaja melihat Alisa yang melintas.
"Di kamarnya mungkin" jawab Alisa.
"Thanks" kata Angkasa lalu menaiki tangga.
"Mau ngapain Angkasa nyari Aliza" kata Alisa.
"Mana aku tau, jangan nanya sama aku, nanya sama orangnya langsung" jawab Reno.
"Males, ayo temani aku ngerjain soal, ada beberapa yang tidak aku ngerti" ajak Alisa.
Reno mengikuti Alisa dan masuk ke dalam kamar untuk mengerjakan soal.
Angkasa membuka pintu kamar ku, namun tak ada apapun di dalamnya.
"Kemana Aliza, kenapa dia tidak ada di sini, pergi kemana dia" kata Angkasa mencari keberadaan ku.
Tiba-tiba matanya melihat ku dari jendela.
Angkasa mendekati balkon.
"Masya Allah ni bocah baru juga sembuh, udah berulah lagi benar-benar terbuat dari apa nih anak" batin Angkasa tak habis pikir.
"Za" panggil Angkasa yang berdiri di ambang pintu.
Aku menoleh, Angkasa mendekati ku.
"Lagi apa?" tanya Angkasa.
"Lagi bernapas anda faham, sudah jelas-jelas aku sedang menanam tanaman tapi kau itu masih bertanya apa yang aku lakukan, sungguh aneh kau ini" jawab ku.
Angkasa tersenyum miring.
"Aku mau bantuin boleh gak?" tanya Angkasa.
"Boleh kok, kamu sekarang letakkan pot ini di tepian pagar balkon sana" jawab ku.
"Oke" setuju Angkasa lalu menjalankan tugasnya.
"Sa ambilin pupuk" tintah ku.
"Nih" jawab Angkasa.
"Makasih, nih kamu taman bibit-bibit lidah buaya dan mertua ini" kata ku.
Dengan semangat Angkasa melakukan tugasnya, ia menuangkan tanah lalu memberi pupuk setelah itu memasukkan bibit tanaman lidah buaya terakhir menuangkan kembali tanah agar menutupi akar lidah buaya.