The Indigo Twins

The Indigo Twins
Serangan kuntilanak



Kami semakin gila dalam berlari hanya karena terus di kejar oleh kuntilanak itu.


"Tak akan aku biarkan kalian lolos, kalian harus rasakan ini" kata kuntilanak.


Bugh


"Auuw" rintih ku.


Batu itu mendarat tepat di punggung ku yang masih terluka karena di pukul oleh pak Tresno tadi sore dan masih belum di obati.


"Kamu kenapa za?" tanya Angkasa khawatir.


"Aku gak apa-apa, kamu jangan khawatir" jawab ku yang berusaha menyembunyikan rasa sakit yang begitu sangat yang saat ini menyerang punggung ku.


"Sial, kuntilanak itu semakin gila saja, aku gak bisa biarin dia terus-menerus menyakiti Aliza lagi, aku harus hadapi dia, sebisa mungkin aku harus buat dia berhenti ngejar kami, apapun resikonya" batin Angkasa yang sudah sangat geram dengan tindakan kuntilanak itu.


Angkasa hendak menoleh kebelakang untuk berusaha menghentikan perbuatan kuntilanak yang semakin menggila.


"Jangan sa" teriak ku melarangnya.


"Kenapa, kenapa aku gak boleh lihat dia?" tanya Angkasa penasaran.


"Jangan, nanti kamu akan terkena lemparan batu itu" jawab ku masih terus berlari tanpa henti.


Mendengar jawaban ku, Angkasa mengurungkan niatnya dan terus berlari bersama ku.


Bugh


Bugh


Bugh


Kuntilanak itu terus melempari kami dengan batu-batu kecil itu dengan membabi buta.


Tawa seram itu sesekali terdengar di telinga kami.


"BERHENTI, apakah tidak bisa" teriak Angkasa yang sudah geram sekali dengan ulah kuntilanak itu.


"Tidak bisa, aku tidak akan mau berhenti sedikitpun, walaupun kau yang meminta ku untuk berhenti" jawab kuntilanak sangat marah besar, dia tidak akan mau melepaskan kami yang tanpa sengaja telah membuat dia terusik.


Angkasa hanya bisa mengepalkan tangannya mendengar jawaban kuntilanak yang begitu ia benci sekali.


Bugh


Bugh


Bugh


Tawa kuntilanak di sertai dengan lemparan batu-batu kecil yang terus menghujani tubuh kami yang masih terus berlari tanpa kenal lelah.


"Sial, kuntilanak jahanam ini tidak mau menuruti ku, aku hanya melempar satu batu ke arahnya, tapi ini apa, dia malah menghujani tubuh ku dengan membabi buta" batin Angkasa yang sudah memanas.


"Aku tidak bisa gini terus, lama-lama tindakan gila kuntilanak ini akan membuat kondisi Aliza semakin parah, aku harus cari cara agar terbebas darinya" batin Angkasa yang melihat ku tengah menahan rasa sakit yang menyerang punggung ku.


"Ayo za lebih cepat lagi" teriak Angkasa.


Aku mengangguk lalu menambah kecepatan.


Kami terus berlari tanpa kenal lelah sedangkan di atas kami kuntilanak itu masih terus menghujani tubuh kami dengan batu-batu tersebut.


Saat ini kami tidak bisa apapun lagi kecuali berlari untuk menghindarinya, sungguh tak terlintas satu ide pun di otak kami di keadaan yang runyam seperti ini.


"Sa di depan ada jalanan yang berbeda-beda arah, kita mau lewat yang sebelah mana, timur, utara apa selatan?" tanya ku yang melihat jalanan yang sudah tak jauh dari posisi kami berlari.


"Ke timur aja za, ayo lebih cepat lagi za, lihat tuh kuntilanak makin mendekat, jangan sampai kita di tangkap olehnya" jawab Angkasa yang sudah sangat panik.


Tawa kuntilanak semakin menggelegar di telinga kami yang membuat kami semakin ketakutan.


Keringat-keringat dingin terus berjatuhan tanpa kami sadari.


"Mau pergi kemana kalian, kalian tidak akan bisa lari dari ku hihihihihihihi" kata kuntilanak yang menggelar dahsyat.


Kami semakin panik, kami berdua berlari melewati jalanan yang sebelah timur yang Angkasa sebut tadi tiba-tiba.


"Owh tidak" kata ku tercekat kala kuntilanak seram itu berhenti tepat di depan kami.


Wajah kuntilanak benar-benar sangat seram sekali.


"Mau kemana kalian, kalian tidak akan bisa lari lagi, kalian akan tamat" kata kuntilanak itu penuh penekanan.


Wajah kami langsung memucat kala mendengar ucapan kuntilanak yang mampu membuat jantung kami seakan berhenti berdetak.


"Mati lah aku ini, aku tidak punya cara lagi untuk menghadapi kuntilanak ini, aku harus apa ini, kenapa tidak ada satupun ide yang muncul, ayolah muncul agar aku bisa lolos darinya, plis kali ini saja, aku mohon" batin ku yang sudah panik setengah mati kala tidak ada satupun ide yang muncul.


Wajah kuntilanak lambat laun semakin bertambah seram, aku tercekat melihat darah yang masih mengalir dari pelupuk matanya


Jantung ku memompa dengan sangat cepat kala kuntilanak itu masih terus menatap tajam ke arah kami berdua.


"Gawat Aliza gak punya ide lagi, duh gimana ini, tau gini aku gak akan cari masalah sama kuntilanak ini" batin Angkasa sangat menyesal.


Di saat kami yang sudah di landa rasa takut yang paling dahsyat tiba-tiba kuntilanak itu melangkah mendekati kami.


Wajah kami tambah memucat, rasa panik seakan memuncak, kami menelan ludah pahit melihat tindakan kuntilanak itu.


"Beraninya kalian mengganggu ku, kalian akan rasakan pembalasan ku" teriak kuntilanak marah dengan di sertai mata melotot tajam yang menambahnya semakin menyeramkan.


"J-jangan dekati kami" tintah ku kala kuntilanak itu terus mendekati kami.


Namun kuntilanak itu tidak mendengarkan dan masih terus berjalan mendekati kami.


Kami tetap diam di tempat, entah kenapa kami sulit sekali untuk pergi darinya, untuk melangkah saja rasanya kaki ku tidak bisa.


Wajah ku gemetar hebat kala kuntilanak itu terus mendekat dengan di sertai sorot mata tajam dan menakutkan.


"Ku mohon berhentilah, jangan dekati kami" tintah ku sekali lagi berharap kali ini kuntilanak itu mau menurutinya.


Namun siapa sangka, kuntilanak itu masih terus mendekat, tak mau menuruti apa yang aku inginkan sama sekali.


"Astaga kenapa kuntilanak itu terus mendekat, aku harus bisa buat dia berhenti, aku tidak mau dia mencelakai ku, dari sorot matanya menandakan kalau dia tidak akan membiarkan aku dan Angkasa lolos, aku harus bisa bujuk dia buat berhenti, kalau bisa pergi tinggalin kami berdua" batin ku yang sudah sangat cemas sekali.


"Berhenti, diam di sana, aku mohon pada mu" tintah ku yang sudah gemetar hebat.


Tidak ada respon sama sekali dari kuntilanak itu, dia malah semakin mendekat yang membuat wajah ku begitu tercekat.


"Gimana ini, aku harus apa, dia tidak mau berhenti, apa yang harus aku lakukan" batin ku sudah sangat gelisah sekali, pasalnya kuntilanak itu tidak mau pergi walau sedikitpun.


Wajah ku semakin pucat, tinggal beberapa langkah lagi kuntilanak akan berada tepat di hadapan kami berdua.


Kuntilanak dengan senyuman sinisnya sudah berada tepat di depan kami.


"Hihihihihihihi kalian akan tamat" teriak kuntilanak menggelegar dahsyat.


Kuntilanak mengangkat kedua tangannya seraya ingin mencekik kami.


Dengan cepat Angkasa langsung langsung menendang tubuh kuntilanak hingga terlempar jauh dari posisi kami berdua.


"Ayo za, kita harus pergi secepatnya sebelum kuntilanak itu kembali bangkit" ajak Angkasa yang sudah sangat panik.


"Iya ayo" jawab ku.


Kami dengan bergenggaman tangan berlari meninggalkan kuntilanak yang jatuh ke bawah akibat di tendang oleh Angkasa.