The Indigo Twins

The Indigo Twins
Hantu pengantin



"Gak ada apa-apanya konon, tadi malam yang lari duluan siapa, aku apa kamu?" Alisa mengingatkan kembali kejadian tadi malam.


"Itu darurat sa, mau tidak mau, kita harus lari dari hantu terompah, sebelum dia cekik kita"


"Kita kan gak bersalah, gak mungkin kita di gituin sama hantu terompah, kalau seandainya dia begitu, aku gak akan mau bantuin dia, biar dia terus gentayangan seumur hidupnya" jawab Alisa.


"Jangan gitu, nanti warga-warga yang tinggal di desa ini satu persatu minggat karena terus di ganggu sama hantu terompah, mereka pasti gak ada yang betah, kamu mau desa ini jadi desa angker hah?"


"Enggaklah, mana mau desa ku jadi seperti itu" jawab Alisa.


"Ya sudah, kita mau tidak mau harus selesai masalah ini, biar gak ada gangguan lagi"


"Iya" jawab Alisa.


Mobil terus melaju membentang jalanan, tak lama dari itu mobil sampai di sekolahan, kami semua keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam sekolahan seperti biasanya.


Suasana sekolah ramai seperti biasa, kami langsung masuk ke dalam kelas masing-masing karena takut telat.


Aku dan Angkasa duduk di bangku kami, sementara Roki dan kawan-kawannya langsung mendekati kami saat melihat kami datang.


"Bagaimana dengan pelakunya, kalian sudah tangkap pelakunya gak?" penasaran Roki.


"Sudah, pelakunya sudah di tangkap, dia sudah mendekam di penjara, bu Dinda juga sudah di tangkap, sekarang sosok perempuan itu sudah balik ke alamnya"


"Oh pantesan bu Dinda gak masuk sekolah, ternyata dia sudah di tahan" tak heran lagi Byan.


"Syukurin itu, suruh siapa dia gelap mata, sekarang dia sudah mendekam di penjara kan!" geram Roki.


"Udah kamu jangan kesal sama dia, dia juga sama-sama terluka, dia juga gak akan kayak gitu kalau temannya gak ambil pacarnya"


"Iya sih, oh ya sekarang yang akan gantiin bu Dinda siapa ya?" penasaran Byan.


"Pasti ada guru lain yang akan gantiin dia, bu Riska pasti akan cari guru baru buat kita" jawab Angkasa.


"Oh ya nanti kalian yang mau pulang, akan lewat di jalanan merpati gak?"


"Gak tau juga, aku bingung mau lewat jalanan yang mana" jawab Dimas.


"Kok bingung, bingung kenapa?"


"Soalnya jalanan umum yang sering aku lewati seram" jawab Dimas.


"Kok bisa seram, bukannya yang seram itu jalanan merpati?" merasa aneh Angkasa.


"Iya, jalanan merpati itu memang seram, cuman baru-baru ini kami dengar ada berita pengantin wanita yang meninggal di bunuh di sana" jelas Dimas.


"Di bunuh, pengantin wanita, apa mungkin hantu terompah yang mereka maksud" batin ku yang tiba-tiba hanya tertuju pada hantu terompah.


"Pengantin wanita, coba deh kalian sebutin ciri-cirinya, barang kali kami tau" titah Angkasa.


"Apa pengantin wanita itu makai baju merah?"


"Iya, dia makai baju merah, di kepalanya ada tiga tusuk emas, tapi katanya tinggal dua, gak tau satunya pergi kemana" jawab Roki.


"Kalian tau dari mana kalau tusuk emasnya tinggal 2, apa kalian kenal sama pengantin wanita yang meninggal itu?"


"Kami gak kanal, cuman rumahnya berada di ujung jalan Kenanga" jawab Roki.


"Kok bisa ya dia di rampok, emang dia pergi sendirian sehingga berhasil di rampok?" heran Angkasa.


"Dia pergi sendirian, ceritanya itu dia mau pergi ke rumah temannya yang tinggal di desa kami, satu jam sebelum dia akan akad, tapi ternyata saat di perjalanan dia di rampok dan meninggal di tempat, dengar-dengar mayatnya di buang di desa Kamboja, baru tadi pagi di temuin setelah melakukan pencarian selama 1 Minggu" jelas Dimas.


Aku dan Angkasa menelan ludah saat mereka menyebutkan nama desa kami.


"Sekarang jasad hantu terompah itu sudah di makamin gak?"


"Hantu terompah, siapa hantu terompah?" merasa aneh Roki saat mendengar nama hantu terompah yang keluar dari mulut ku, mereka masih tidak tau sebutan bagi hantu pengantin wanita yang kami maksud.


Aku menutup mulut karena keceplosan.


"Itu...


"Itu apa, kamu kenapa jadi gagap, apa jangan-jangan kamu sudah tau sebelumnya sama pengantin yang meninggal itu" firasat Roki yang menangkap gelagat aneh dari diri ku.


"Kalian jangan bilang-bilang ya" pelan Angkasa karena hal ini agak bersifat rahasia.


"Iya, kami gak akan bilang-bilang kok, cepat kalian ceritain apa yang kalian ketahui tentang pengantin yang tewas itu" suruh Dimas.


"Kami gak tau banyak tentang dia, tapi yang jelas mayatnya di buang di desa kami, yaitu desa Kamboja tepatnya di tengah jalanan desa yang sepi dan kami yang sudah nemuin mayat dia" jawab Angkasa.


"Kok bisa kalian nemuin mayat pengantin itu di sana, apa sebelumnya kalian sudah curiga kalau mayatnya di buang di sana?" pikir Byan.


"Enggak, kami gak punya kecurigaan apapun, tapi kami itu kemarin malam dengar kalau di desa ada hantu terompah, dia sudah ganggu warga-warga di desa selama ini, jadi kami berusaha untuk cari tau siapa hantu terompah itu, dan ternyata oh ternyata hantu terompah itu adalah pengantin wanita yang kalian maksud tadi"


"Jadi pengantin wanita itu neror desa kalian!" kaget Roki.


"Iya, dia buat desa kami jadi desa angker karena saking gak ada orang yang mau keluar rumah, jalanan ketika malam hari sepi dan sunyi, satu orangpun gak ada yang keluaran rumah, itu semua terjadi gara-gara hantu terompah itu, mangkanya aku sama yang lain ingin usir dia dari desa"


"Apa yang akan kalian gunakan untuk usir dia, kalian pasti punya caranya bukan?" feeling Byan.


"Kami enggak punya caranya, tapi kami akan berusaha nurutin permintaan dia, dia itu ingin mayatnya di makamin dengan kayak dan juga orang yang sudah bikin dia seperti itu di tangkap" jawab Angkasa.


"Kalian sudah tau siapa orang yang sudah bunuh dia gak?" penasaran Dimas.


"Enggak, tapi yang jelas orang yang sudah bunuh dia adalah orang yang tinggal di desa kami, salah satu di antara banyaknya penduduk di desa kami adalah pelaku yang sudah bunuh dia, mangkanya nanti kami akan cari tau siapa orang yang sudah bunuh dia lalu tangkap dia dan semoga saja setelah itu dia pergi dari desa kami, karena kedatangannya sudah bikin banyak orang resah"