The Indigo Twins

The Indigo Twins
Pemakaman



Keesokan paginya.


Bunda mendekati dokter yang sedang memeriksa kondisi Rani.


"Dok boleh tidak Rani di rawat jalan saja?" tanya bunda.


"Boleh Bu, kondisinya sudah membaik kok hanya saja pasien kekurangan darah, tolong kaish air gula setiap hari untuk menambah darah dan juga kasih sayur-sayuran ke dalam makanannya" jawab dokter.


"Baik dokter" kata bunda.


"Saya permisi dulu" kata dokter berlalu meninggalkan kami.


"Kalian tunggu di sini dulu bunda mau urus surat kepulangan Rani, ayah lagi on the way ke sini" tintah bunda.


"Iya Bun" jawab kami.


Bunda keluar untuk mengurus surat-surat sedangkan kami menunggu di ruangan perawatan Rani.


Setelah semuanya selesai kami berangkat menuju rumah Reno.


Sampai di sana.


Tangisan Rani dan Reno menggema di rumah megah ini kala melihat tubuh sang papa dan mama yang sudah kaku dan di tutupi oleh kain berwarna putih.


"Mama" tangis Rani.


"Mama bangun huhu, jangan tinggalin Rani" tangis Rani.


"Yang sabar ya nak" kata om Rohim tetangga mereka berdua.


Kami membacakan Yasin di dekat jenazah ortu Reno.


Setelah selesai di mandikan dan di sholatkan kami ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman.


Saat detik-detik jenazah di kebumikan tangisan masih terus terdengar, aku melihat kedua orang tau Reno yang berdiri di belakang Rani dan Reno, mereka berdua melihat ke arah kami bertiga.


"Tolong jaga Reno dan Rani, aku mohon, sudah tidak ada lagi yang bisa menolongnya" tintah Desi.


"Iya tante mereka berdua akan aman bersama kami, kalian kembalilah ke alam selanjutnya, istirahatlah dengan tenang" jawab ku.


"Terimakasih" senyum mereka berdua lalu perlahan-lahan menghilang.


Selesai di makamkan kami semua langsung berangkat ke rumah pak Beni sebelum pak Beni di makamkan.


Mobil berhenti di rumah yang terpasang bendera kuning.


Kami semua keluar dari dalamnya, perhatian semua orang tertuju pada kami, mata Reno menangkap Bu Wati istri sekaligus pengasuhnya sejak dulu.


"Bibi" kata Reno berlari memeluk Bu Wati.


"Aden" jawab Bu Wati.


Setelah sekian lama akhirnya Bu Wati bisa bertemu dengan Reno dan Rani lagi, ia berhenti bekerja karena kondisinya yang sudah sakit-sakitan.


"Bi maafin Reno, karena Reno pak Beni harus meninggal" tangis Reno.


"Enggak den, itu semua bukan salah aden, aden jangan merasa bersalah, ini semua musibah, tidak ada yang salah di dalam hal ini" jawab Bu Wati menenangkan Reno.


"Huhu pak Beni" tangis Rani.


Bu Wati beralih memeluk tubuh Rani yang kecil.


"Stt den Rani gak boleh nangis" kata Bu Wati.


"Ayo Pak Bu masuk ke dalam" ajak Bu Wati.


Kami masuk ke dalam rumah Bu Wati, kami membacakan Yasin di dekat jenazah pak Beni, Reno hanya bisa menangis menghadapi cobaan ini.


Jenazah pak Beni sudah selesai di mandikan dan di sholatkan hanya tinggal di kuburkan saja, pihak keluarga masih menunggu kedatangan Reno dan Rani biar keduanya bisa melihat pak Beni untuk yang terakhir kalinya.


Kami berangkat menuju kuburan yang tidak jauh dari rumah pak Beni.


"Laa ilahaa illallah muhammadur rasulullah"


Kalimat itu di baca di sepanjang perjalanan menuju kuburan.


Kami semua sampai di kuburan, pelan-pelan keranda mayat itu di buka, di bawah sudah ada tiga orang yang siap menerima jenazah.


"Pak maafin Reno karena Reno bapak harus pergi, terimakasih sudah menjadi bapak kedua bagi Reno, Reno doakan semoga bapak bisa beristirahat dengan tenang di alam sana" batin Reno saat melihat tubuh pak Beni di tutup oleh tanah dengan perlahan-lahan.


Selesai di makamkan kami kembali ke rumah pak Beni.


"Den Reno, non Rani jaga diri baik-baik ya, jangan merasa bersalah atas kematian pak Bani, ini semua sudah di atur sama sang ilahi" kata Bu Wati.


"Iya Bi" jawab mereka.


"Terimakasih Bu sudah baik sekali pada saya yang bukan siapa-siapa ibu, saya mohon Bu jaga Reno dan Rani, tak ada lagi kerabat yang bisa menajaga mereka berdua" jawab Bu Wati menerima amplop itu.


"Ibu tidak usah khawatir tentang Reno dan Rani mereka berdua akan tinggal di rumah kami, kami yang akan menjamin semuanya" kata bunda.


"Den Reno, non Rani kapan-kapan kalian boleh main di rumah bibi, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian berdua" kata Bu Wati yang begitu sangat menyayangi keduanya.


"Iya bi nanti kalau ada waktu senggang Reno akan main ke sini, bibi jaga kesehatan, terimakasih sudah baik sekali sama Reno selama ini" jawab Reno.


"Sama-sama den" balas Bu Wati.


"Maaf Bu kami ada urusan setelah ini, kami tidak bisa berlama-lama di sini, kami pamit pulang dulu assalamualaikum" kata bunda.


"Wa'alaikum salam hati-hati" jawab Bu Wati.


Kami semua hanya menundukkan sedikit kepala di sertai anggukan untuk menghormati beliau.


Mobil melaju meninggalkan rumah Bu Wati.


"Akhirnya semuanya sudah selesai" lega Alisa.


"Eh masih belum, setelah ini kita harus ke rumah Ki Suryo untuk membebaskan mbk Reni mumpung hari Minggu" jawab ku.


"Nanti za setelah adzan dzuhur, aku mau istirahat sebentar dulu, capek jalan terus" kata Alisa.


"Iya kita istirahat saja dulu sebentar" setuju ku.


"Kalian jadi yang mau ke rumah Ki Suryo?" tanya ayah.


"Iya ayah biar cepat selesai, biar Ki Suryo tak lagi mengganggu Reno dan Rani" jawab ku.


"Hati-hati jangan sampai kalian terluka, kalau butuh bantuan telpon ayah dan bunda saja, kita akan langsung susul kalian" kata bunda.


"Iya Bun" jawab ku.


"Emang bunda gak sibuk apa hari ini?" tanya Alisa.


"Lumayan sibuk tapi masih bisa di handle sama karyawan, kalian tidak usah khawatir masalah restoran, yang penting kalian baik-baik saja, oh ya Reno mau kerja di restoran bunda gak mumpung ada lowongan pekerjaan, lumayan kan gajinya bisa di tabung" jawab bunda.


"Iya Bun Reno mau kerja di sana" kata Reno.


"Bun aku juga mau" kata Angkasa.


"Loh emang mama sama papa kamu gak ngasih uang apa, kok masih mau kerja?" tanya Alisa.


"Ngasih tapi kan aku bosan di rumah terus, lebih baik kerja ya kan, lumayan buat menambah aktivitas" jawab Angkasa.


"Boleh, nanti kalian kerjanya mulai besok saja setelah pulang sekolah" kata bunda.


"Siap Bun" jawab kami semua.


Mobil terus melaju, saat sampai di rumah kami langsung masuk ke dalamnya.


"Itu kamar kamu di samping kamar Angkasa, Rani bisa tidur di kamar sebelah mu saja" kata bunda.


"Terimakasih Bun" jawab Reno.


"Sama-sama, kalian makan gih pada belum makan semua kan, bunda mau ke restoran dulu" kata bunda.


"Iya Bun" jawab kami.


Bunda dan ayah berangkat menuju restoran.


"Kak itu siapa?" tanya Rani, tangannya menunjuk pada seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan yang sebaya dengannya.


"Itu namanya Dita, dia anak dari mbk Rinda, sana kamu main sama Dita gih" jawab Alisa.


Rani mendekati Dita dengan senyuman manisnya.


"Halo nama aku Rani" kata Rani.


"Hai Rani nama ku Dita, kita main ke sana yuk" ajak Dita.


"Ayo" jawab Rani.


Keduanya mendekati kolam ikan mas milik ku.


Reno tersenyum melihat adiknya yang sudah tidak bersedih seperti tadi, ia cukup lega saat ini.


"Ayo kita makan dulu setelah itu kita langsung berangkat saja ke rumah Ki Suryo sebelum gelapnya malam menjadi penghalang bagi kita, yang aku ingat rumah Ki Suryo itu jauh dari sini, takutnya kemalaman kalau kita masih menunda-nunda waktu" kata ku.


"Iya kita makan dulu, aku sudah lapar sekali" jawab Alisa.


Kami duduk di meja makan, sesekali kami bercanda untuk mengusir keheningan.