The Indigo Twins

The Indigo Twins
Penemuan mayat



Sementara itu.


Ayah melajukan mobil dengan kencang menuju restoran, jalanan desa yang sepi membuat ayah bisa bergerak bebas di sana.


"Ayah lebih cepat lagi, kita harus sampai di sana, bunda ingin cek restoran apa aman atau tidak" titah bunda yang sudah gelisah.


"Iya bun" jawab ayah dengan terus fokus mengemudikan mobil.


Selama perjalanan menuju restoran, pikiran-pikiran buruk muncul di benak bunda, ia benar-benar takut kejadian naas itu terjadi padanya.


"Lebih cepat lagi ayah" titah bunda.


Ayah tidak menjawab dan terus melajukan mobil hingga keluar dari jalanan desa yang sepi dan panjang, kini mereka bertemu dengan jalanan raya yang padat dan banyak sekali kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang.


Ayah terpaksa melajukan mobil dengan kecepatan normal, meski terburu-buru ia tidak bisa ngambil resiko, karena sangat bahaya ngebut-ngebutan di jalanan raya.


Sekitar 20 menit waktu mereka habiskan untuk bisa sampai di restoran.


Mereka bertiga tertegun saat melihat dua orang yang berpakaian hitam tengah menuangkan bensi ke area restoran.


"Berhentii!"


Mereka berdua langsung panik kala mendengar suara teriakan itu.


Dengan cepat mereka berlari pergi dari sana.


"Mau kemana kau" pak Heru berhasil menangkap salah satu di antara mereka.


"Lepaskan aku, lepaskan" orang misterius itu memberontak, ia tidak bisa diam dan terus berusaha untuk terlepas dari pak Heru.


"Itu tidak akan terjadi, mas buka penutup wajahnya" titah pak Heru.


Ayah membuka penutup wajah orang misterius yang lagi ketar-ketir itu.


Betapa terkejutnya mereka saat melihat siapa yang ada di balik penutup wajah itu.


"Pak Tejo"


Mereka tercekat, sungguh mereka tak menyangka jika pak Tejo orang yang berniat jahat selama ini.


"Pak Tejo kenapa jahat sekali pada keluarga saya, apa salah saya!" geram bunda pada pak Tejo yang nampak tenang, ia malah


"Itu karena anak-anak mu berusaha untuk membuat ku tertangkap, mangkanya aku melakukan ini semua pada mu!"


Wajah bunda semakin geram saat mendengar jawaban pak Tejo.


"Her ringkus dia, masukkan dia ke jeruji besi, biar dia tau!"


"Siap mbk" pak Heru membawa pak Tejo ke kantor polisi.


Ayah dan bunda melihat ke arah restoran yang hancur parah.


"Ayah bagaimana ini, restoran sehancur ini" sedih bunda saat dulu ia berusaha berjuang mati-matian untuk mendirikan restoran, namun teganya ada orang yang sudah menghancurkannya tanpa melihat perjuangannya.


"Bunda yang sabar, ini masih bisa di perbaiki, nanti kita suruh orang untuk perbaiki kerusakan restoran, masalah restoran yang ada di luar kota semetara kita tutup saja dulu, kita urus yang di sini, baru kalau semuanya sudah stabil kita balik ke kota lagi"


Bunda mengangguk."Iya ayah, kerusakan restoran di sini sangat parah, butuh waktu sekitar 1 mingguan untuk perbaikinya, nanti bunda akan beri tau karyawan yang ada di luar kota kalau restoran sedang tutup"


Ayah mengangguk setuju."Ayo bun kita pulang, Heru sedang bawa pak Tejo ke kantor polisi, palingan dia nanti akan langsung pulang ke desa, lebih baik kita tunggu saja dia di desa"


"Iya"


Bunda dan ayah kembali masuk ke dalam mobil, ayah kemudian melajukan mobil menuju desa kembali.


Di sisi lain.


Angkasa masuk ke dalam rumah pak Jarwo dengan mengendap-endap, ia terus waspada, sebisa mungkin ia akan berusaha untuk tidak ketahuan sama satu orang pun.


Saat kakinya telah masuk ke dalam rumah, Angkasa melihat sekelilingnya yang banyak sekali penari dan perias, tidak ada satu orangpun yang ia kenali di antara mereka semua.


"Mana Aliza, kenapa gak ada di sini, dia masuk ke sebelah mana" batin Angkasa yang tidak menemukan ku.


"Aku yakin dia pasti ada di sini, aku cari saja dia dulu" batin Angkasa.


Angkasa menangkap seseorang yang berdiri di depan pintu, ia mengerutkan alis, kemudian ia mendekati orang tersebut.


"Za"


"Allahu Akbar"


"Kenapa kamu ngagetin aku" aku terkejut saat tiba-tiba saja Angkasa manggil ku di saat aku tengah berusaha mengintip ada apa di dalam kamar itu.


"Maaf, kenapa kamu di sini?"


"Tadi sa aku liat ada makhluk halus yang masuk ke sini, mangkanya sekarang aku penasaran ada apa di dalam kamar ini"


"Kamu udah periksa di dalamnya ada apa saja?"


Aku menggeleng."Enggak, tadi aku ingin cek, cuman ada wanita berkebaya hijau yang nyegah aku, untung aku bisa cari alasan dan kembali selamat"


Angkasa celingukan melihat sekelilingnya.


"Gak ada orang za, ayo kita coba cek ada apa di dalam kamar ini, aku yakin pasti ada sesuatu di dalamnya"


"Nah mangkanya itu aku coba buat ngintip, sekarang ayo kita cek di dalamnya ada apa"


Angkasa setuju, lalu pelan-pelan kami membuka kamar tersebut.


Mulut kami ternganga saat melihat ada banyak sekali makhluk-makhluk halus yang mendiami kamar tersebut.


Mereka menatap kami dengan mata merahnya, wajah mereka tampak marah saat pintu itu terbuka.


Angkasa langsung menarik ku dengan tiba-tiba.


Wussshhhh


Wussshhhh


Wussshhhh


Puluhan makhluk halus keluar dari dalam kamar itu dengan sangat cepat.


"Untung kamu gak sampai di tabrak sama mereka" lega Angkasa, untung dia bisa bertindak cepat.


"Sa mereka kenapa pada ngumpul di dalam semua, ada apa di dalam?"


Angkasa membuka pintu dengan lebarnya, tertangkap banyak sekali mayat yang berada di dalam kamar tersebut.


Kebayangkan sudah menjadi tengkorak saking lamanya berada di kamar itu.


"Za ada mayat" refleks Angkasa berteriak saat melihat ada banyak mayat yang berada di lantai.


Orang-orang khususnya pelayan di rumah pak Jarwo langsung mendekat saat mendengar suara Angkasa.


"Di mana ada mayat?"


"Mayat siapa itu?"


"Kenapa di dalam rumah ini ada mayat?"


Beragam pertanyaan di ajukan oleh mereka semua saat melihat dengan jelas mayat-mayat itu.


"Coba di periksa mayat siapa itu" suruh salah satu pelayan.


Para lelaki memeriksa mayat yang tergeletak di bawah itu.


"Siapa dia, apa kamu kenal?"


"Tidak, mayatnya sudah tidak berbentuk lagi, sepertinya sudah lama dia meninggal hingga tak dapat di kenali"


"Cepat hubungi polisi, minta polisi untuk evakuasi mayat-mayat itu" titah seorang penari.


Dengan cepat pelayan itu menghubungi polisi, biar polisi yang akan evakuasi mayat-mayat itu.


Di antara mereka tidak ada yang berani mendekati mayat-mayat itu, mereka pada berdiri di luar karena takut sidik jari mereka tertempel di sana.