The Indigo Twins

The Indigo Twins
Lantai 4



Roy berada di lantai 4 yang di tempati kelas IPS, Roy memeriksa satu persatu kelas IPS untuk mencari keberadaan Andin.


"Tidak ada, di sini tidak ada jasad Andin, di mana pembunuh itu nyembunyiin jasad Andin, kenapa pintar sekali sehingga tak menimbulkan bau yang membuat semua orang curiga"


"Sebentar-sebentar aku penasaran kenapa mereka membunuh Andin, apa salah Andin, selama ini Andin gak pernah sekalipun mengganggu anak-anak, dia tipikal anak pendiam dan gak pernah sekalipun membuat orang kesusahan, tapi kenapa masih ada yang jahat padanya"


"Apa salahnya, kenapa mereka membunuh Andin tanpa sebab kayak gini"


"Tapi aku yakin ada sesuatu yang terjadi sehingga mereka membunuh Andin, tidak mungkin mereka membunuh Andin tanpa alasan yang jelas"


"Aku harus cari tau alasan mereka membunuh Andin, sebelumnya aku harus cari jasadnya, baru ke orang yang sudah membunuhnya"


Roy terus berjalan dengan membuka setiap kelas yang ada di lantai 4, namun kosong, tidak ada satu anak pun yang terlihat di matanya.


"Semua kelas di sini kosong, tidak ada tanda-tanda akan ada jasad Andin di dalamnya"


"Terus di mana mereka nyembunyiin jasad Andin?"


"Apa di kamar mandi ya, di sekolah ini ada 2 kamar mandi yang tidak di tempati karena angker yaitu di lantai 4 sama lantai 2"


"Aku harus cek kamar mandi, aku pastikan kalau di sana ada jasad Andin atau tidak"


Roy berlari menuju kamar mandi yang di kenal paling angker nomor 2, pemecah rekornya masih di pegang oleh kamar mandi yang berlokasi di lantai 2 IPA.


Roy berhenti tepat di depan kamar mandi.


Baru satu langkah ia masuk telinganya sudah mendengar suara tetasan air yang begitu menyeramkan namun tak membuat Roy merasa merinding sedikitpun.


tap


tap


tap


Suara langkah kaki Roy yang memasuki kamar mandi.


"Andin kamu ada di sini kan" Roy melihat ke sekeliling yang nampak mencekam apalagi di tambah dengan suara tetasan air yang menambahnya semakin menyeramkan.


Krieet


"Andin" panggil Roy dengan membuka pintu toilet yang berjajar rapih di sini.


"Tidak ada, di sini gak ada Andin, apa di sebelahnya?"


"Aku harus cek juga"


Roy membuka pintu toilet itu satu persatu.


"Andin, kamu ada di mana, kamu ada di sini apa enggak?"


Tidak ada jawaban yang Roy dengar, hanya suara tetesan air yang menggema di dalam kamar mandi ini.


"Din aku Roy, kamu di mana?"


"Andin apa kamu benaran udah pergi, aku masih gak nyangka kalau kamu pergi secepat ini"


"Andin kamu tau gak, rasanya sepi saat gak ada kamu, kenapa kamu ninggalin aku secepat ini, apa yang sudah terjadi pada mu, kenapa kamu gak pernah cerita sedikitpun pada ku"


"Andai kamu cerita, mungkin aku akan lindungi kamu, dan insiden di mana kamu meninggal gak akan pernah terjadi"


Roy merasa sangat bersalah karena tak bisa melindungi Andin, walaupun selama ini berteman, Andin tidak pernah sekalipun menceritakan tentang apa yang ia hadapi padanya.


Roy menyeka sedikit air mata yang mengalir secara tiba-tiba.


"Din tadi aku ketemu sama Risa, aku tau kalau kamu selama ini tertekan darinya, sebenarnya siapa yang sudah ganggu kamu selama ini, kenapa kamu gak bilang pada ku, aku kan bisa bantu kamu"


"Dan ini semua gak akan pernah terjadi"


Roy begitu sangat menyesal sekali karena tidak tau apapun tentang temannya itu, ia merasa gagal menjadi teman Andin yang tidak bisa apa-apa saat Andin dalam kesulitan.


Andin melihat dan mendengar setiap kata yang di ucapkan oleh Roy, dia berdiri di ambang pintu dan menyaksikan betapa menyesalnya Roy ketika tau kalau dia sudah meninggal.


"Maaf Roy, aku bukannya gak mau ngasih tau, aku cuman gak mau kamu juga terluka sama seperti dia, andai dia tidak ada di sana, mungkin dia tidak akan di siksa juga"


"Ku harap kamu bisa nemuin aku, maaf ya aku pergi lebih dulu, aku sebenarnya enggak mau, namun ini semua sudah menjadi jalannya, aku hanya bisa mengikuti alurnya saja, aku tidak bisa memberontak, karena itu semuanya sudah di rencanakan, aku tidak bisa apa-apa, maaf aku tidak bisa bersama kamu lagi"


Andin merasa sangat sedih saat ini karena tidak bisa memberikan semangat lagi pada Roy yang tengah rapuh.


"Andin tujukan di mana jasad mu, baru aku akan percaya kalau kamu benaran udah pergi" Roy masih tidak percaya kalau Andin sudah pergi meninggalkannya.


Andin yang mendengar hal itu hanya tersenyum lalu menghilang dari sana.


"Din kenapa kamu ninggalin aku" teriak Roy yang tak rela di tinggal pergi oleh Andin.


Roy menangis di dalam kamar mandi angker itu, ia tak peduli lagi tentang segalanya, sudah sedari tadi ia berusaha untuk menahan air matanya.


Ingatan di mana kenangan bersama Andin berputar di benak Roy.


"Andiiin" tangis Roy makin pecah saat teringat kata-kata kami yang mengatakan kalau Andin sudah meninggal.


Roy menumpahkan semua kesedihannya di dalam kamar mandi ini.


Setelah puas Roy mencuci wajahnya lalu berusaha menenangkan dirinya lagi.


"Roy kamu tenangin diri kamu, kamu harus yakin kalau Andin masih hidup, dia cuman hilang biasa aja, gak meninggal, mereka semua itu bohong pada mu, jangan percaya mereka" Roy menolak fakta yang ada demi hati dan pikirannya tidak terluka.


"Kamu harus bisa nemuin Andin, dia pasti ada di sekitar sini, dia masih hidup, ingat itu baik-baik" Roy berusaha meyakinkan hatinya yang terus mengatakan tidak dan tidak.


"Ayo sekarang kamu harus periksa satu persatu kamar mandi ini, pastikan kalau di sini ada Andin atau tidak"


Roy kembali membuka satu persatu kamar mandi yang terdapat di sini, namun semua kamar mandi di sana kosong, tidak ada satupun orang yang ia lihat.


Hanya tinggal satu kamar mandi yang belum Roy periksa yang berada di paling pojok.


"Hanya tinggal kamar mandi itu saja, aku harus periksa apakah di dalam kamar mandi itu ada Andin atau tidak"


Roy mendekati kamar mandi itu, saat membukanya tidak bisa, karena kamar mandi itu di kunci.


"Kok kamar mandi ini di kunci?"


Roy mengerutkan alis pada kamar mandi yang ada di depannya itu.


"Apa kamar mandi ini yang di maksud oleh semua orang yang katanya angker dan banyak penunggunya, ada yang bilang kalau ada yang pernah melihat sosok makhluk halus yang sangat menakutkan di dalam kamar mandi ini"


Roy tiba-tiba mulai bergidik ngeri pada kamar mandi di depannya.


Bersamaan dengan itu Roy merasakan hawa dingin yang menyentuh tengkuknya.


"Gak aman ini, aku harus pergi dari sini"


Roy dengan cepat berlari dari sana karena mulai merasakan merinding, ia tidak mau di ganggu oleh penunggu kamar mandi angker itu.