
"Ya Allah Hilda kamu kenapa nak kamu kemana saja kenapa kamu tiba-tiba pulang dengan tubuh kaku seperti ini kamu pamit sama ibu buat beli pulsa saja tapi kenapa kamu pulang-pulang bisa seperti ini huhu" tangis Bu Lina.
"Ibu yang sabar ini cobaan buat ibu" kata Bu RT menenangkan.
"Za kita harus kasih tau bunda kalau mbk Hilda telah di temukan biar bunda sama ayah ke sini" kata Alisa berbisik.
"Kamu telpon cepat" jawab ku.
"Halo Bun bunda ke rumah Bu Lina ya kami sudah menemukan mbk Hilda" kata Alisa saat panggilan terhubung.
^^^"Iya bunda akan ke sana kalian tunggu saja di sana" jawab bunda.^^^
Alisa mematikan sambungan.
"Siapa yang telpon Bun?" tanya ayah.
"Ini Alisa dia bilang kalau mereka sudah menemukan Hilda ayo ayah kita ke sana saja bantuin mereka takutnya mereka kesulitan" jawab ayah.
"Iya pak Bu kami pamit mau ke rumah Bu Lina assalamualaikum" kata ayah.
"Wa'alaikum salam" jawab keduanya.
Ayah dan bunda berjalan menuju rumah Bu Lina yang tidak terlalu jauh.
"Kita kemana ini?" tanya Alisa.
"Sambil lalu menunggu bunda sampai di sini kita ambil wudhu ayo kita bacakan Yasin di dekat mbk Hilda" jawab ku.
"Iya ayo kita ambil wudhu aja" kata Alisa.
Langkah ku tiba-tiba terhenti.
"Ada apa kok kamu berhenti?" tanya Angkasa.
"Itu mbk Hilda ayo kita ke sana saja tanyakan langsung padanya bagaimana kronologis kematiannya" jawab ku.
Mbk Hilda berdiri di samping rumahnya.
"Tunggu apa lagi ayo kita ke sana saja sebelum dia menghilang" ajak Alisa berlari ke sana.
Kami berdua mengikuti Alisa.
"Jangan lari" kata Alisa merentangkan tangan.
"Aku gak akan lari kok terimakasih kalian sudah menemukan jasad ku" jawab mbk Hilda.
"Kami kepo loh mbk bagaimana kronologis kematian mbk kok bisa mbk Dela membunuh mbk sedangkan jelas-jelas dia teman mbk?" tanya ku.
"Begini ceritanya" jawab mbk Hilda.
Cerita mbk Hilda.
Mbk Hilda masuk ke dalam kos-kosannya Dela.
"Del aku pinjam laptop mu ya laptop ku ketinggalan di rumah nanti aku balikin" teriak mbk Hilda.
"Ini kemana Dela kok kamarnya sepi apa dia lagi di luar ya nanti deh aku bilang sama dia aku harus cepat-cepat ke kantor sebelum pak bos marah" kata mbk Hilda memasukkan laptop ke dalam tasnya.
Sampai di kantor mbk Hilda bekerja dengan baik selesai bekerja mbk Hilda pulang ke desa.
"Assalamualaikum Bu" kata mbk Hilda.
"Wa'alaikum salam loh kok kamu pulang emang libur kerjanya?" tanya Bu Lina.
"Iya Bu aku libur 3 hari aku mau pulang ke sini saja aku kangen banget sama ibu" jawab mbk Hilda.
"Ibu juga kangen banget sama kamu ayo masuk nak ibu akan buatkan makanan kesukaan kamu" ajak Bu Lina.
"Iya Bu" jawab mbk Hilda.
Mbk Hilda masuk ke dalam kamarnya ia mengotak-atik laptop Dela sampai mulutnya ternganga saat melihat sesuatu yang membuatnya tercekat.
"Tidak mungkin Dela melakukan itu ini pasti palsu aku tidak percaya tak mungkin" kata mbk Hilda ternganga.
Mbk Hilda refleks langsung menutup laptop.
"Iya Bu aku akan ke sana" jawab mbk Hilda.
"Ibu tunggu di meja makan" kata Bu Lina.
"Aku harus cepat balikin laptop ini aku tidak mau Dela curiga dengan ku tentang apa yang aku lihat barusan" jawab mbk Hilda.
Mbk Hilda makan bersama keluarganya.
Selesai makan dia kembali ke dalam kamar semalaman mbk Hilda memikirkan apa yang barusan dia lihat di dalam laptop itu.
"Tidak mungkin Dela seperti itu, itu pasti bukan Dela, Dela teman ku itu baik tidak seperti itu laptop itu pasti salah" kata mbk berulang-ulang sampai-sampai matanya terpejam.
Keesokan paginya mbk Hilda sudah rapi dengan pakaian serba putihnya.
"Bu pak aku mau keluar beli pulsa sebentar ya gak lama kok" pamit mbk Hilda.
"Iya jangan lama-lama" jawab Bu Lina.
"Hilda pamit dulu assalamualaikum" kata mbk Hilda.
"Wa'alaikum salam hati-hati nak" kata keduanya.
"Iya" jawab mbk Hilda melajukan motor.
Di perjalanan mbk Hilda menghubungi Dela.
"Del aku ada di desa kemarin aku pinjam laptop kamu kita ketemuan di depan gapura saja ya" kata mbk Hilda.
^^^"Iya kamu tunggu saja aku di sana" jawab Dela.^^^
Mbk Hilda mematikan sambungan.
"Hai udah lama nunggunya aku kira aku yang akan nunggu kamu eh gak taunya kamu duluan yang sampai" kata Hilda saat sampai di sana.
"Enggak kok aku baru sampai juga mana laptop aku" tintah mbk Dela.
"Ini makasih ya maaf kemarin aku gak bilang-bilang sama kamu yang mengambil laptop ini soalnya aku terburu-buru" jawab mbk Hilda menyerahkan laptop.
"Enggak apa-apa kok kemarin itu aku berada di kamar mandi pas kamu datang aku juga dengar teriakan kamu itu dan aku mau mendengarnya lagi hari ini" kata Dela menatap tajam.
"Apa maksud kamu" tercekat mbk Hilda.
"Ah sudahlah kamu gak usah berdrama aku sudah tau kalau kamu pasti melihat rekaman video detik-detik meninggalnya Zea teman lama aku itu" kata Dela.
"Aku tidak melihat apapun" elak mbk Hilda.
"Kau tidak bisa berbohong Hilda kau itu teman ku aku tau seperti apa diri mu itu jangan mencoba untuk membohongi ku aku tak akan tertipu" jawab Dela.
"Kenapa kau membunuh Zea apa salahnya?" tanya mbk Hilda.
"Begini Zea itu teman ku aku tidak tulus berteman dengannya dulu dia itu menjalin hubungan dengan Alfa kau tau kan kalau aku menyukai Alfa sejak dulu aku pelan-pelan mendekati Zea aku membuat dia menjadi teman ku lama-lama aku menjadi panas tiap kali aku melihat dia dan Alfa selalu bermesraan di depan ku aku muak lalu aku mengajaknya bertemu di tempat yang sepi setelah itu aku langsung membacoknya seperti ini" jawab Dela.
"Akkkhh" teriak mbk Hilda saat pisau itu menancap di perutnya.
"Nah seperti itulah reaksi Zea waktu itu kau pintar menghayatinya kawan aku sebenernya tidak mau membunuh mu hanya saja aku tak mau kalau sewaktu-waktu kamu merusak semuanya kau memang teman ku tapi kau itu manusia yang bisa berubah kapan saja dan di mana saja jadi lebih baik aku menghabisi mu biar aman bukan" kata Dela.
"Sakit Dela tolong aku jangan bunuh aku, aku tak akan bilang sama siapa-siapa aku berjanji pada mu" tintah mbk Hilda kesakitan.
Tubuh mbk Hilda terjatuh ke bawah darah mengalir di perut mbk Hilda.
"Aku tidak butuh janji mu aku tidak membutuhkannya jangan berjanji jika kau tidak dapat menepatinya" jawab Dela.
"Sakit Dela jangan bunuh aku huhu tolong aku" tangis mbk Hilda.
"Akkkkhh" teriak mbk Hilda.
Dela menarik pisau itu dari perut mbk Hilda.