
Ustadz Fahri melihat ke depan, matanya terbelalak saat mendapati genderuwo yang besar sekali tengah berdiri di depan pagar.
Mata merah genderuwo itu membuat Ustadz Fahri menelan ludah pahit.
"Jadi dia yang sudah ngikutin saya sedari tadi" tak percaya Ustadz Fahri ketika melihat genderuwo menakutkan itu yang masih diam di tempat tanpa pergerakan.
"Kenapa kamu bawa dia kemari, seharusnya kamu usir dia, jangan biarkan dia nginjakin kakinya di sini, dia itu bisa nyelakain Alisa sama Aliza" marah Tiger.
"Maaf Tiger saya tidak tau kalau dia yang sudah ngikutin saya sampai ke sini, saya kira makhluk halus biasa yang sudah ngikutin saya ke sini" jawab Ustadz Fahri yang merasa bersalah.
"Sekarang kamu masuklah ke dalam, masalah dia biar kami yang urus" Ustadz Fahri mengangguk lalu masuk ke dalam rumah, ia melangkah memasuki kamarnya, meletakkan kendi itu di atas meja dan masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Di luar kelima makhluk penjaga itu menatap tajam ke arah genderuwo yang besar dan tinggi itu, tingginya melebihi rumah ku.
"Hahahaha"
Tawa genderuwo itu dengan nyaringnya.
"Mau apa kau ke sini?" Tiger menatap tajam ke arah genderuwo yang terus tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang kau inginkan, jawab" teriak Tiger yang mulai emosi.
Genderuwo itu berhenti tertawa."Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin ngasih tau kalian satu hal" jawab genderuwo itu.
"Apa yang ingin kau beri tau, cepat katakan" tintah Tiger tak ada kata pelan sama sekali karena bisa saja genderuwo itu menipunya dan akan membuat kekacauan di rumah ini.
"Aku cuman mau bilang kalian jangan senang dulu karena sudah ngehempasin dukun beranak, karena masih ada mbah Gamik, ibu dari dukun beranak itu yang masih berkeliaran bebas di desa ini" jawab genderuwo itu.
"Mbah Gamik, siapa mbah Gamik itu, kenapa aku baru pertama kali ini dengar namanya" mbk Hilda merasa asing pada nama itu apalagi pada pemiliknya.
"Apa kalian benar-benar tidak tau pada sosok mbah Gamik?" tak percaya genderuwo itu.
Mereka mulai mengingat-ingat, berharap bisa tau siapa mbah Gamik yang genderuwo itu maksud.
"Jangan bilang mbah itu nenek-nenek yang sudah Dita lihat kemarin" terkejut mbk Santi yang teringat pada hal itu.
"Benar, dia adalah mbah Gamik, pemilik ilmu hitam yang saat ini di kuasai oleh dukun beranak itu" jawab genderuwo itu.
"Apa mbah Gamik itu masih hidup?" penasaran mbk Gea.
"Tidak, dia sudah meninggal namun arwahnya sampai sekarang masih belum tenang" jawab genderuwo itu.
"Kenapa demikian?" mbk Hilda ingin tau karena selama ia menjaga kami ia tidak pernah sekalipun berjumpa dengan mbah Gamik.
"Aku tidak tau, kalian suruh anak-anak itu buat nyari tau, mereka pasti bisa mecahin segalanya" jawab genderuwo itu lalu menghilang secara tiba-tiba dari sana.
"Loh kenapa dia pergi, kita kan belum nanya banyak hal padanya" mbk Hilda mencari-cari keberadaan genderuwo itu, namun sudah tak dapat ia temukan lagi, dia benar-benar pergi dari sana.
"Tau, gimana sih dia, ngasih informasi setengah-setengah, haruskah kita yang akan nyari tau informasi selanjutnya?" mbk Gea meminta pendapat mereka semua.
"Iya mau gimana lagi, itu memang tugas kita, nanti kalau mereka udah balik dari masjid, kita kasih tau mereka aja, sekarang kita tunggu saja mereka di sini" mereka semua mengangguk mendengar ucapan Tiger.
Kelima makhluk halus itu menunggu kedatangan kami yang masih berada di masjid.
Kami setelah menunaikan sholat isya' keluar dari dalam masjid hendak pulang ke rumah.
"Gak tau, dia gak keluar kamarnya, kayaknya dia masih sedih deh sehingga gak mau keluar kamar"
Reno mengembuskan napas."Ya udah nanti aku akan coba hibur dia, mudah-mudahan dia gak sedih lagi"
"Amin"
"Ustadz Fahri kemana ya, kenapa gak keliatan, apa Ustadz masih belum pulang dari makam dukun beranak itu?" Angkasa sadar kalau yang menjadi imam masjid ini bukanlah Ustadz Fahri tapi pak Mansur.
"Bisa jadi, apa kita susul aja Ustadz Fahri ke sana, moga aja dia masih ada di sana?"
"Jangan deh za, malam-malam datang ke sana itu seperti cari masalah, lihat kita gak ke sana aja dari tadi udah ada yang lewat terus" larang Reni yang merasakan pergerakan makhluk halus di sekitarnya.
"Ya udah kita balik aja langsung, lagi pula Ustadz Fahri bilang pada kita untuk tetap di rumah, nanti dia juga akan kembali kok" ajak Angkasa.
"Iya, ayo kita pulang aja"
"Habis ini jadi gak yang mau keliling kampung buat ngeliat keadaan?" Reno berharap hal itu tidak jadi karena ia merasa ketakutan meski belum melakukan ronda malam.
"Jadi dong masa gak jadi, kita harus tau siapa nenek-nenek misterius itu, apa dia berbahaya atau enggak kan kita bisa waspada padanya"
"Kalau menurut aku nenek-nenek itu bahaya deh za, dari wajahnya aja aku udah ngerasa kalau dia bukan hantu baik" jawab Angkasa.
"Maka dari itu kita harus hati-hati, kita gak boleh sampai di celakain sama dia"
"Itu harus, ayo kita cepet-cepet pulang ke rumah, aku merasa ada yang ngikutin kita" ajak Reno.
Angkasa mengerutkan alis."Siapa emangnya?"
"Mana aku tau, kalau aku tau udah aku bilang, ini orangnya gak kelihatan, mangkanya ayo kita pulang aja, soalnya aku gak mau lihat dia" jawab Reno yang masih belum terbiasa dengan keadaannya yang seperti ini.
Kami mengangguk lalu mempercepat langkah agar segera sampai di rumah.
Sepanjang perjalanan kami merasa memang ada yang mengikuti kami dari belakang.
Aku melihat ke belakang ku."Siapa sih yang udah ngikutin kita, apa dia kurang kerjaan?"
"Apa mungkin yang ngikutin kita itu dukun beranak" kami yang mendengar hal itu langsung tegang campur panik.
"K-kabur"
Teriak kami yang berlari dengan cepat menuju rumah karena tak mau melihat wajah seram dukun beranak itu.
Seorang nenek-nenek misterius itu keluar dari dalam semak-semak.
"Hihihihihihihi"
Tawa seram dan menakutkannya itu terdengar di telinga kami namun kami terus berlari tak melihat ke belakang sedikitpun.
Nenek-nenek misterius itu terus menatap tajam pada punggung kami yang terus berlari kemudian dia menghilang dari sana.
Kami terus berlari menuju rumah hingga pada akhirnya kami sampai di rumah juga.
"Huft untung dukun beranak itu gak ngejar kita"