
"Tapi motor ini tidak bisa melewati jalanan itu, jalanannya terlalu sempit, kita harus nitip motor ini di mana gitu" kata ku.
"Di sana saja, kita minta izin sama pemilik rumahnya" tunjuk Angkasa pada rumah bercat putih yang ada di sebelah kami.
"Ayo kita ke sana dulu, baru kita ikutin pak poci" kata Reno.
Motor lalu masuk ke dalam halaman rumah yang Angkasa tunjuk itu.
"Permisi Bu, kami ingin menitipkan motor di sini sebentar boleh gak Bu?" tanya Alisa.
"Boleh kok dek, titip saja di sini, ibu yang akan menjamin keamanannya" jawab ibu yang tengah menyapu halaman rumah itu.
"Terimakasih ibu" kata kami.
"Sama-sama" jawab ibu itu.
"Ayo kita ikutin pak poci sebelum dia makin jauh" ajak Angkasa.
Kami berlari menuju jalanan yang tadi di lewati oleh pak poci.
"Itu pak poci" kata Alisa kala melihat pak poci yang tak jauh dari posisi kami berada.
"Ayo kita kejar" jawab Reno.
Kami dengan semangat mengejar pak poci yang semakin menjauh.
Tiba-tiba pak poci berhenti tepat di belakang rumah pak Tresno.
Terlihat ada tanah yang masih baru di gali di belakangnya.
"Di sini?" tanya Ustadz Fahri.
Pak poci mengangguk.
"Di dalamnya itu ada jasad ku, aku mohon keluarkanlah dan makamkan dengan layak" jawab pak poci.
Ustadz Fahri melihat cangkul berada di tepat di samping tembok, Ustadz Fahri menggali tanah itu dengan di bantu oleh Angkasa dan Reno.
Tanah di keluarkan sedikit demi sedikit hingga terlihat kain kafan, mereka semakin semangat menggali hingga terlihat hasilnya.
"Mayat sa" teriak Reno yang kelepasan.
"Stt jangan keras-keras, nanti ada orang yang datang" kata Alisa langsung menutup mulut Reno.
"Maaf kelepasan" jawab Reno pelan.
"Za kamu telpon pak Heru untuk mengevakuasi mayat pak poci, aku tak berani menyentuh mayat pak poci karena takut sidik jari ku tertempel di sana dan takutnya ada orang yang dengan tega memutar balikkan fakta yang sebenarnya nantinya" suruh Angkasa.
"Iya aku akan telpon om, kalian menjauhlah dari sana" jawab ku.
Mereka menjauhi lubang yang terdapat mayat pak poci di dalamnya.
Aku mengubungi pak Heru untuk meminta bantuannya.
"Om ada mayat, om cepetan datang ke sini, Aliza share lokasinya" kata ku saat panggilan terhubung.
^^^"Iya om ke sana" jawab pak Heru.^^^
"Baiklah Aliza tunggu secepatnya" kata ku lalu mematikan sambungan.
"Aku heranlah, pak poci kan berasal dari kota kenapa dia bisa meninggal di desa seperti ini, sebenarnya dia meninggal kenapa?" tanya Alisa.
"Hai Abang-abang" sapa hantu-hantu yang membuat pertanyaan Alisa menjadi terabaikan.
"Ish ganteng-ganteng tau" kata mbk Gea.
"Aku mau yang ini aja" tunjuk Santi pada Angkasa.
"Jangan aku ya, yang lain saja mbk" kata Angkasa.
"Gak mau, pokonya mbk maunya kamu" ngotot mbk Santi.
"Sial" batin Angkasa.
Aku tertawa geli melihat ekspresi wajah Angkasa yang langsung berubah.
Mbk Gea menyentuh leher Reno.
"Kok perasaan aku gak enak gini, ada apa ini?" tanya Reno yang merasakan dingin di tekuknya.
"Itu mbk Gea lagi sentuh leher kamu" jawab Alisa.
Ustadz Fahri bangun dari duduknya saat mbk Hilda duduk di sampingnya.
"Sanaan ya mbknya" usir Ustadz Fahri.
"Aaah Abang ganteng kemana aja kok pulang dari RS gak bilang-bilang" kata mbk Santi.
"Waduh dulu aku pengen pergi dari rumah sakit cepat-cepat gara-gara mau hindarin nih Kunti, eh gak taunya malah nongol di sini, gagal deh acara pelarian ku" kata Angkasa menepis tangan mbk Santi yang terus saja bergelayut manja di lengannya.
Aku dan Alisa hanya bisa tertawa saat para Kunti mengerjai mereka bertiga.
"Kasihan mereka di ganggu sama mbk kuntilanak" kata Alisa.
"Kok bisa ya mbk Kunti itu datang ke sini, padahal aku gak pernah tuh ngajak mereka ke sini" aneh ku.
"Gak tau juga, mungkin di ajakin sama temannya" kata Alisa menatap mbk Hilda.
"Iya biar rame, kalau cuman sama Tiger kan gak asik, dia tipe harimau yang dingin dan cuek, mbk gak suka lebih baik mbk panggil saja mereka berdua biar mbk punya teman" jawab mbk Hilda.
"Pinter juga mbk Hilda ngajak mereka, kan jadinya kalau kita lagi mau berpetualangan ramean gitu" kata ku.
Drrt
Drrt
Tiba-tiba ponsel di saku ku berbunyi dan tertera nama oak Heru yang keluar.
Aku langsung mengangkat panggilan itu.
^^^"Kamu di mana, om sudah berada di bawah pohon kelapa?" tanya pak Heru.^^^
"Om belok ke kanan aja terus nanti akan ketemu sama ru-
Bugh!
Aku dan Alisa merasakan sakit di punggung ku.
Mata kami berkunang-kunang, handphone ku terjatuh, aku tak bisa melihat dengan jelas, tubuh kami terjatuh ke bawah.
Perhatian mereka semua tertuju pada kami yang pingsan dengan tiba-tiba.
Mata mereka menangkap seorang lelaki setengah tua yang berdiri tepat di belakang kami sambil membawa balok kayu di tangannya.
"Heii" teriak mereka semua yang marah akan perbuatan laki-laki yang sudah membuat kami pingsan.
"Jangan berani mendekat" ancam laki-laki itu yang mengarahkan balok kayu ke arah mereka semua.
"Kau yang namanya pak Tresno ya?" tanya Ustadz Fahri.
"Iya saya Tresno kenapa kalian?" jawab pak Tresno keras.
Mereka berenam mengeluarkan tatapan maut, tangan keenamnya mengepal kuat dengan gertakan gigi yang mengiringi kemurkaan mereka.
"Beraninya kau mengganggu mereka hah" teriak Angkasa marah.
"Kau bocah tengil diam saja, jangan ikut campur urusan ku, kalian itu bagikan kutu di depan ku, jadi jangan coba-coba ingin menghancurkan segala usaha yang ku lakukan kalau kalian tidak mau mati di tangan ku" teriak pak Tresno.
"Mau bertarung kau rupanya ya, oke fine lu jual gue beli" kata Angkasa menanggapi serius ucapan pak Tresno.
Mereka bertiga menggunakan jurus pencak silat walaupun belum pernah belajar.
Mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Pak Tresno mengeluarkan pisau tajam yang tersimpan di perutnya yang tertutupi oleh baju.
Seketika wajah mereka bertiga langsung memucat, mereka menghentikan jurus abal-abalnya.
"Mampus jika menggunakan senjata seperti ini kita tak akan bisa menang melawan pak Tresno" kata Angkasa.
Pak Tresno membuka pelindung yang menutupi pisau tajam.
"Gimana cara kita ngelawannya, aku gak mau mati konyol sa, aku masih belum bisa dapatin Alisa gimana ini" kata Reno berbisik lalu berlindung ke Angkasa.
"Ya gak taulah aku, juga gak mau mati konyol" jawab Angkasa.
Pak Tresno menatap tajam ke arah mereka bertiga.
Angkasa tersenyum manis di keadaan runyam seperti ini.