
Ketika sudah sampai di depan kelas, mereka langsung masuk dan mengambil tas, lalu keluar dari sana.
"Ayo kita langsung ke parkiran aja, kita tunggu yang lain di sana" ajak Roy.
Alisa mengangguk lalu berjalan menuju parkiran.
Saat berada di koridor tak sengaja Alisa melihat seseorang yang membuat emosinya kembali meningkat.
"Kasihan, diskors nih ye" Gisel menertawakan Alisa yang diskors karena berita itu.
"Eh ini semua pasti akal-akalan kalian kan, kalian itu kenapa sih buat berita bohong kayak gitu, apa yang kalian inginkan sebenarnya?" jengkel Alisa pada mereka berlima yang sudah membuatnya berhasil diskors karena kejadian Hani yang tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengannya.
"Kami tidak ingin apapun, kami suka aja gangguin kamu" jawab Chelsea dengan entengnya.
"Kalian ini minta di geplak memang" geram Alisa pada mereka berlima.
"Emang kamu berani apa?" tantang Nadira.
"Kenapa aku harus takut, kalian itu juga manusia, ngapain aku takut pada sesama manusia" Alisa memberikan tatapan tajam pada mereka berlima.
Mereka semua yang melihat sorot mata Alisa yang lebih menakutkan dari pada hantu menelan ludah.
"Kalian kira aku gak berani buat ngajar kalian, lihat aja nanti ya, akan aku buat kalian hancur sehancur-hancurnya" Alisa mengatakan hal itu dengan penuh penekanan.
"Ayo Roy kita pergi dari sini, tinggalin aja manusia tidak berguna itu" ajak Alisa.
Alisa meninggalkan mereka berlima yang masih diam di tempat.
"Awas kalian" peringatan Roy lalu mengikuti Alisa.
"Kok aku ngerasa ancaman Alisa gak boleh di remehkan ya" firasat Shena.
"Apaan sih, kalian pada takut sama ancaman dia, iih lemah" jawab Gisel.
"Kita gak usah takut sama dia, dia bukan lawan kita, ayo kita kembali ke kelas, Hani biarkan aja di dalam UKS" ajak Chelsea.
Mereka setuju lalu berjalan menuju kelas.
Alisa dan Roy terus berjalan menuju parkiran.
"Loh kok kamu ada di sini, ini kan masih jam terakhir, kenapa kamu keluar?" penasaran Tiger yang melihat Alisa mendekatinya.
"Kamu bolos ya" tebak White.
"Enggak, aku gak bolos, aku cuman di hukum untuk tiga hari ini" jawab Alisa.
"Kamu diskors" terkejut mereka.
"Yah seperti itu" jawab Alisa.
"Kamu diskors kenapa?" penasaran White.
"Aku itu di tuduh dorong Hani anak kelas sebelah dari tangga, mangkanya bu Riska hukum aku, padahal aku gak ngelakuin hal itu, tapi sialnya bu Riska malah melimpahkan semua kesalahan itu pada ku" tak habis pikir Alisa pada jalan pikiran bu Riska yang malah memutuskan sesuatu tanpa mencari tau kebenarannya dulu.
"Kok bisa gitu, kamu kan gak salah, kenapa kamu yang di hukum?" Tiger merasa ada yang tak wajar pada kejadian ini.
"Itu masalahnya, aku kan memang gak ngelakuin apa yang mereka sebutkan, mangkanya aku kesel banget, iih pengen aku robohin aja sekolahan ini biar pada gak ada yang sekolah" Alisa masih sangat kesal pada kejadian naas yang menimpanya saat ini.
"Kalau kamu mau, aku bisa kok ngerobohin sekolah ini" tawar Tiger.
"Katanya kamu mau ngerobohin, gimana sih kamu ini" tak habis pikir Tiger.
"Iih Tiger aku kan cuman becanda, tapi kamu malah serius" jawab Alisa.
"Kak Alisa dia siapa?" penasaran White pada orang yang Alisa bawa.
"Ini namanya Roy, dia itu orang yang akan nganterin aku ke rumah Andin, si sosok gadis pucat itu, kalian pasti tau kan siapa gadis pucat itu" feeling Alisa.
"Enggak" jawab mereka kompak.
"Masa kalian gak tau pada sosok gadis pucat itu" tak percaya Alisa.
"Bagaimana kita bisa tau, orang kita aja gak di bolehin masuk ke dalam, dan lagi pula saat gadis pucat itu liat kita, dia pasti akan lari" jawab Tiger.
"Iya juga sih, gadis pucat itu kan pada takut sama kalian, mangkanya dia lari saat ngeliat kalian, eh kalian tau gak, sekarang itu Reno bisa lihat kalian juga" mereka yang mendengar ucapan Alisa langsung terkejut.
"Kok bisa, Reno kan selama ini gak bisa lihat kita, kenapa sekarang bisa, kamu boong pasti" sangka Tiger.
"Enggak, aku gak boong, sekarang itu Reno bisa lihat makhluk halus juga sama kayak aku dan yang lain, kalian tau gak kenapa Reno bisa lihat makhluk halus?" semenjak tadi Alisa begitu sangat penasaran pada hal itu.
"Kita gak tau, mungkin saja Reno dapat melihat makhluk halus karena mata batinnya yang terbuka, atau juga ada orang yang udah membukanya" jawab Tiger.
"Caranya bagaimana?" penasaran Alisa.
"Aku juga gak tau, karena aku gak belajar begituan, kalau kamu mau tau, tanyain aja pada Ustadz Fahri, dia pasti tau" jawab Tiger.
Alisa menghela napas."Ya sama aja, sama-sama harus ke Ustadz Fahri juga, aku kira kalian tau"
"Eh sa dia itu bisa lihat kita gak" Tiger terus memperhatikan Roy yang diam saja tanpa pergerakan.
Alisa melirik ke arah Roy."Enggak, dia gak bisa lihat kalian, dia manusia biasa, dia bukan anak indigo sama kayak aku"
Tatapan Tiger masih terus tertuju pada Roy."Pantesan aja dia diam terus sejak tadi, gak nyerocos kayak kamu"
"Ada apa sa, kenapa kamu ngeliatin aku, apa yang teman gaib kamu tanyain?" penasaran Roy yang semenjak tadi merasa jika dirinya tengah di omongin.
"Dia itu cuman nanya kalau kamu itu bisa lihat dia apa enggak, itu aja" jawab Alisa.
"Oh tak kirain apaan" Roy merasa lega setelah mendengar jawaban Alisa, ia tadi sempat merasa kalau teman Alisa akan menyakiti dia.
"Kapan bel pulang bunyi, kenapa lama banget" tak sabaran Alisa yang tengah melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya.
"Bentar lagi juga bel, kamu yang sabar saja, apa kita berangkat aja ke rumah Andin sekarang" ajak Roy.
"Jangan, kalau kita berangkat sekarang, bagaimana dengan Aliza, Reno dan Angkasa mereka pasti akan kebingungan mau nyari rumah Andin di mana" larang Alisa.
"Ya udah deh kita tungguin mereka sebentar, sebenarnya aku udah gak sabar pengen ke rumah Andin, aku cuman ingin tau dia meninggalnya kenapa, kenapa gak ada berita kalau dia meninggal, kan biasanya rame di perbincangkan, ini malah gak ada sama sekali" Roy merasa aneh pada kematian temannya yang satu ini.
"Itu masalahnya, andai wafatnya Andin ini di ketahui oleh semua orang, maka dia gak mungkin ngasih teka-teki di balik angka 4,6,8 itu" Alisa juga merasa aneh pada kematian Andin.
Roy menghembus napas."Kita harus selidiki ini sa, kita gak boleh diamin aja, aku ngerasa kematian Andin ini gak wajar"
"Aku juga ngerasa gitu, sekarang kita tunggu aja Angkasa, Aliza sama Reno ke sini, baru kita berangkat ke rumah Andin" Roy mengangguk.
Alisa dan Roy menunggu kedatangan kami di parkiran.