The Indigo Twins

The Indigo Twins
Tempat persembunyian mereka selama ini



"Sekarang di mana mereka, bisakah kau anterin aku ke sana, aku mohon pada mu, orang tua mereka sangat khawatir pada mereka saat mereka di nyatakan hilang, aku nekat cari tau tentang segala misteri di desa ini karena aku sudah lelah mendengar kejanggalan yang telah berhasil membuat nyawa manusia melayang, aku ingin membuat seluruh kejanggalan-kejanggalan itu berhenti, itu saja tidak lebih, jadi aku mohon antarkan aku ke sana, tujuan ku baik kingkong"


"Baik, aku akan antarkan kau ke sana, ayo ikut bersama ku ke sana, akan aku tunjukkan di mana mereka selama ini"


Aku mengangguk, aku mengikuti kingkong itu yang akan membawa ku ke tempat di mana biasanya anak-anak kecil di sembunyikan.


Tiba-tiba langkah ku terhenti, aku melihat ke belakang yang kosong, menyadari sesuatu.


"Tunggu-tunggu kingkong, kemana teman-teman ku, kenapa pada gak ada, mereka pergi kemana, kenapa mereka ikutan hilang, tadi mereka ada di belakang aku?"


"Mereka tidak hilang, mereka sedang berusaha nyari juga, nanti aku akan antarkan kau pada mereka, sekarang kau ikutlah bersama ku ke sana"


Aku mengangguk lalu kembali berjalan.


"Kingkong kenapa kau berpihak pada ku, kau tidak sedang nipu aku kan?"


"Tidak, aku tidak ada niatan untuk nipu kamu, aku benar-benar tulus membantu mu"


Aku diam dan terus berjalan mengikutinya.


"Kingkong apakah tempat itu masih jauh?"


"Masih, kau ikutin saja aku, aku tidak akan bawa kau ke jurang, kau tidak perlu takut"


Aku terus berjalan, lama kelamaan matahari muncul dan menghilangkan kegelapan yang ada di dalam hutan.


Sinar mata merah dari makhluk halus itu menghilang, mereka tak satupun yang ku lihat, hanya kingkong itu saja yang saat ini tengah memimpin jalan.


Langkah kingkong tiba-tiba terhenti, aku mengerutkan alis saat kingkong itu berhenti tepat di depan pohon bambu yang banyak.


"Kenapa berhenti, kau tadi bilang mau nunjukin aku ke tempat mereka di culik, tapi kenapa kau malah berhenti di sini?"


"Kita sudah sampai di tempat itu, lihatlah, di dalam pohon bambu itu ada mereka semua, kau masuklah dan bawa mereka keluar"


Aku menatap ke arah pohon bambu yang tubuh melingkar, aku mengelilingi pohon bambu itu, tangisan anak-anak kecil terdengar di telinga ku.


"Di dalam ada banyak anak kecil?"


"Benar, di dalam pohon bambu itu memang banyak anak kecil, kau masuklah dan selamatkan mereka yang masih bisa kembali"


Aku mengangguk, namun saat aku ingin masuk ke dalam, aku di landa kebingungan.


"Aku harus masuk dari mana, banyak ranting-ranting bambu yang menghalanginya, tidak ada celah sedikitpun untuk ku bisa masuk ke dalam?"


"Itu kesulitan mu, kau harus bisa masuk ke dalam sendiri, aku tidak bisa lagi bantu kamu"


Aku diam, aku melihat ke arah pohon bambu itu yang tubuh melingkar, aku kembali mengelilingi pohon bambu itu untuk mencari jalan masuk ke dalam.


Mata ku melihat ke bawah, aku menemukan celah untuk ku bisa masuk ke dalam, tetapi celah itu sangat kecil.


Aku mematahkan ranting-ranting agar celah itu semakin besar, ranting-ranting bambu itu membuat ku terluka, banyak darah yang mengalir di tangan ku saat aku berusaha mematahkannya.


Aku tidak mempedulikan hal itu, aku terus berusaha mematahkan banyaknya ranting-ranting itu hingga celah itu membesar dan aku bisa masuk ke dalam.


"Hiks hiks hiks hiks"


Suara tangisan anak-anak kecil meraung di telinga ku.


"Kalian sabarlah, aku akan bantu kalian keluar"


Aku masuk ke dalam celah itu dengan merangkak.


Ranting-ranting itu menusuk tubuh ku, aku merintih menahan rasa sakit, aku terus merangkak sampai aku berhasil masuk ke dalam.


"Kakak tolong kami" titah salah satu anak kecil yang tidak menangis di saat semua anak-anak kecil yang sebaya dengannya menangis.


"Iya, kakak akan tolong kalian, kalian akan bebas dari sini"


"Kak Aliza" panggilan itu membuat ku menatap ke arahnya.


"Rani"


Aku langsung berlari mendekati Rani yang berada di pojokan.


"Rani kamu tidak apa-apa, kamu baik-baik saja bukan?"


"Iya kak, aku baik-baik saja, kakak cepat tolong aku, di sini gelap, aku tidak mau di sini"


"Iya, ayo kita keluar, kalian keluar lewat sana" aku menujuk ke arah lubang itu.


Mereka semua mengangguk lalu satu persatu di antara mereka keluar dari lubang itu, terakhir aku yang keluar dari sana.


Wajah ku langsung memucat saat melihat ada seorang genderuwo yang tubuhnya besar sekali, dia tengah berdiri tak jauh dari posisi ku.


Semua anak-anak kecil itu bersembunyi di belakang ku, merasa sangat takut pada genderuwo itu.


"KENAPA KAU BEBASKAN MEREKA!"


Suara teriakan itu membuat ku terkesiap.


Aku menatap takut ke arah genderuwo itu yang matanya merah menyala, wajahnya terpancar kemarahan yang sangat jelas.


"Mereka berhak hidup, sudah cukup kau buat anak-anak yang tak berdosa masuk ke dalam lebah hitam seperti mu!"


"Kenapa kau berani ikut campur dalam masalah ku hah!"


"Iya, aku berani, kenapa kau?"


"Apa kau tidak mikirin resikonya!"


"Mau sebesar dan seberat apapun resikonya, aku tidak takut, selagi jalanan ku benar, aku tidak akan pernah mundur, aku dari dulu sudah geram sekali pada mu, kau sudah meresahkan warga-warga di desa ini dengan cara membuat anak-anak mereka hilang satu persatu, apa tujuan mu, siapa yang sudah menyuruh mu, JAWAB!"


"HAHAHA"


Genderuwo itu tertawa terbahak-bahak.


Suaranya yang menggelegar dahsyat membuat ku menutup telinga.


Anak-anak kecil itu yang sudah di kurung sejak dulu bersembunyi di belakang ku, mereka sangat takut pada genderuwo itu.


"Kau jangan tanyakan tujuan melakukan ini pada ku, kau tanyakan saja pada tuan ku, dia yang sudah nyuruh aku"


"Siapa yang sudah menyuruh mu, katakan pada ku!"


"Aku tidak mau bilang pada mu, kau cari tau saja dia sendiri, tapi aku rasa ku tidak akan bisa nyari tau tentangnya, karena kau tidak akan bisa pergi dari sini hahahaha"


Aku langsung menelan ludah pahit, aku menyadari kalau genderuwo itu tidak akan biarkan aku pergi dari sini dengan mudah.


"Kakak aku takut" Rani terus bersembunyi, ia benar-benar takut pada genderuwo itu.


"Tidak usah takut, ada kakak di sini, kakak yang akan beresin dia, kamu tidak usah khawatir"


Rani mengangguk, ia terus bersembunyi di belakang ku bersama yang lainnya.