The Indigo Twins

The Indigo Twins
Sampai jumpa



Pulang sekolah.


Dava menatap lekat bangunan yang menjulang tinggi di depannya.


"Di sekolahan ini akan menjadi tempat yang paling aku rindukan nantinya, terimakasih SMA kebangsaan karena mu aku bertemu dengan seseorang yang kini akan selalu berada di hati ku, meski aku tak tau apakah dia akan menjadi milik ku atau tidak"


"SMA kebangsaan aku pergi dulu, kelak kau yang akan menjadi pemenang dalam rindu terbesar ku, kenapa harus engkau? karena mu aku di sini bisa bertemu dengannya, seseorang yang tak akan bisa ku ajak berkomunikasi lagi, semua kenangan terbentuk di sini, terimakasih SMA kebangsaan, kau kenangan yang paling terindah, teman-teman aku pergi dulu, aku janji aku akan kembali suatu saat nanti" batin Dava menatap lekat bangun sekolah.


Sekolahan SMA kebangsaan ini akan menjadi cerita terindah di hidup Dava Alifikri Salfanza, Dava kini puas menatap sekolahannya untuk yang terakhir kalinya.


"Ayo den" kata dang supir memanggil Dava yang terus saja terdiam sambil menatap sekolahannya.


Dava tersadar dari lamunan panjangnya, ia kemudian masuk ke dalam mobil.


"Bye Alisa makasih sudah mengisi hari-hari ku selama ini, jaga diri baik-baik ya, maaf aku tidak bisa lagi menjaga mu, i love you" batin Dava menatap Alisa yang berada di parkiran dengan air mata yang berusaha di tangannya agar tidak terjatuh.


Dava melambaikan tangan pada kami semua.


Kami juga membalas dan tersenyum ke arahnya.


"Selamat tinggal Dava" teriak kami.


"Selamat tinggal, sampai jumpa lagi" teriak Dava.


Kami mengangguk berharap Dava akan kembali suatu saat nanti.


Mobil hitam itu membawa Dava meninggalkan sekolahan berserta dengan seseorang yang sangat dia cintai.


Kami lalu pulang ke rumah karena hari ini chef anak dari teman ayah akan datang.


Setelah pulang sekolah tadi Alisa terus saja berada di dalam kamar.


Entah kenapa rasanya ada yang hilang di hidupnya, Alisa tak menyangka jika segalanya akan berakhir seperti ini, dia cuma kehilangan temannya bukan cintainya tapi hal ini mampu membuatnya mengeluarkan air sebening embun.


Alisa terus saja memperhatikan foto Dava teman terbaiknya setelah Reno.


"Va kau tau aku sedih saat engkau ingin pergi dari hidup ku, kau adalah teman baik ku, terimakasih telah menjadi tempat mengobrol dan bercanda selama ini dan terimakasih juga telah menjaga ku dan melindungi ku selama ini, aku tak berharap akan bisa bersama mu tapi ketahuilah aku akan selalu mengingat mu sebagai teman dan sahabat terbaik dalam hidup ku" kata Alisa.


Alisa sampai tertidur pulas dengan memeluk fotonya Dava dan juga Reno.


Bocah itu terus saja tidur sedangkan yang di luar sedang sibuk karena hari ini akan ke datangan chef.


Kami semua berkerja mulai dari membersihkan kamarnya yang akan tinggal di sini dan juga jamuan yang akan di hidangkan.


Cukup lama kami bekerja sampai semuanya selesai juga.


"Za Alisa mana sejak tadi aku tak menemukan dia?" tanya Reno mendekati ku yang sedang menyapu.


"Tidur mungkin, coba periksa di kamarnya" jawab ku yang sudah tau dengan kebiasaan Alisa.


Reno melangkah menaiki tangga untuk membangunkan Alisa yang mungkin saja tertidur.


Reno memerhatikan dua pintu kamar yang berjarak lumayan jauh, mata Reno membaca nama yang tertera di atas pintu, ia mengetok pintu kamar Alisa terlebih dahulu.


tok tok tok


"Sa Lisa" kata Reno terus saja mengetok pintu dan berteriak nama Alisa tetapi tak ada jawaban sedikitpun dari dalam kamar.


"Kemana nih anak, kenapa tidak menjawab, apa dia benar-benar tidur" pikir Reno.


Reno membuka pintu yang ternyata tidak di kunci.


"Masya Allah nih bocah nyenyak amat tidurnya, gak tau yang lain lagi kewalahan apa" kata Reno menatap wajah Alisa yang tidur begitu tenang tanpa memiliki beban sedikitpun.


Senyum jahil terukir di wajah Reno saat melihat Alisa yang tidur dengan nyenyak, mata Reno tertuju pada sesuatu yang menarik perhatiannya, ia melangkah mendekat lalu mengambilnya.


"Hujan, hujan, hujan" teriak Alisa langsung terbangun saat benda cair yaitu air membasahi wajahnya sampai dia terjaga dari tidur lelapnya.


Reno terkekeh geli melihat Alisa yang panik setengah mati.


"Dasar sialan" kata Alisa kala melihat Reno yang sedang tertawa.


Dengan setengah tak sadar Alisa langsung melempar bantal hingga terkena tepat ke wajah Reno.


Reno menyingkirkan bantal yang sudah berani terjun tanpa meminta izin.


Reno menatap wajah Alisa yang tertawa terbahak-bahak saat menyadari jika lemparannya tepat sasaran.


Reno membuang bantal sembarangan arah.


"Diam jangan ketawa lagi" mata Reno menatap Alisa yang tak mendengarkan apa yang barusan ia katakan, gadis itu malah semakin mengeraskan tawanya.


Reno tak tahan di tertawakan oleh Alisa.


"Keluar, bentar lagi chef itu akan datang" kata Reno dengan nada dingin lalu keluar dari kamar Alisa dengan wajah yang masih di tekuk.


Reno tidak marah dengan ulah Alisa yang sudah melemparnya dengan bantal, dia tadi tak sengaja melihat foto Dava yang berada di bantal, terlihat ada butiran-butiran kristal yang ada di atasnya.


"Cuman chef doang dia sampai kayak gitu, dia bukan kyai santai aja, gak usah sok sibuk" kata Alisa.


Alisa menatap punggung Reno yang kemudian menghilang, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


"Za tu chef kapan datangnya?" tanya Angkasa.


"Entah lah" jawab ku masih terus fokus menonton tv dengan di temani camilan ringan yang Angkasa pegang.


Angkasa menangkap wajah Reno yang cemberut saat turun dari tangga.


"Eh kenapa ren?" tanya Angkasa.


Reno langsung menghampiri kami, duduk di samping Angkasa lalu memakan camilan pedas yang ada di meja.


"Enggak" jawab Reno.


Reno tak bisa menceritakan tentang apa yang tadi terjadi pada kami karena ini cuma hal sangat privasi.


Alisa yang baru selesai mandi dan berpakaian keluar dari dalam kamarnya, ia menuruni anak tangga, matanya menangkap mereka bertiga yang sedang asik menonton TV.


Alisa duduk di samping Reno, Reno menggeser tubuhnya, mata Alisa menatap Reno yang masih kesal, ia merebut camilan yang di pegang oleh Reno.


Reno menatap wajah Alisa yang menggangu acara enaknya.


"Jadi cowok itu gak boleh ngambek kan" kaga Alisa lalu memakan camilan kesukaannya.


"Emang cewek doang yang boleh ngambek hah?" tanya Reno lalu merebut kembali camilannya dari tangan Alisa.


"Ya iyalah" jawab Alisa.


Dengan sangat geram Reno menyuapi Alisa yang sudah berisik sekali, ia tak mau berdebat dengan manusia yang tak bisa untuk di kalahkan itu.


Aku dan Angkasa menatap mereka berdua sampai tak berkedip.


"Assalamualaikum" suara seseorang mampu mengalihkan perhatian kami semua.


Kami semua yang duduk langsung berdiri.


Bunda dan ayah keluar dari dalam rumah untuk melihat siapa yang datang.


"Wa'alaikum salam, Amar" kata Ayah langsung memeluk teman lamanya saat tau jika panggilan salam itu dari mereka.