The Indigo Twins

The Indigo Twins
Di kejar



Aku langsung di buat kaget mendengar itu semua.


"Ayo" jawab ku yang sudah tegang.


Kami berdua dengan bergenggaman tangan berlari untuk bisa menghindar dari tengkorak yang terus mengejar kami.


Rasa takut menyatu di dalam diri kami kala tengkorak itu masih terus mengejar kami tanpa henti.


Angkasa melihat ke belakang.


"Gawat za, tengkorak itu masih ngejar kita, kita harus bisa terbebas darinya secepatnya" kata Angkasa yang sudah panik bukan main.


"Iya kita harus bisa lolos dari kejarannya, kita gak boleh ketangkap" jawab ku masih terus berlari untuk menjauhi tengkorak itu.


Kami terus berlari untuk menjauhinya, sedangkan dia masih terus mengejar kami dan akan membiarkan kami lolos.


Rasa takut menghantu kami berdua, dari dalam hati kecil ku, aku begitu menyesal sekali karena tidak mendengarkan apa yang Angkasa katakan.


Jika aku tau hal ini akan terjadi, aku tidak akan penasaran dan melihat ke belakang.


Aku melihat ke belakang, mata ku bertemu dengan tatapan mata seram milik tengkorak yang masih terus mengejar kami tanpa henti.


Aku langsung kembali menghadap ke depan.


"Seram banget" batin ku.


"Ayo sa kita harus pergi dari sini, aku gak mau dia nangkep aku" teriak ku yang sudah sangat ketakutan.


Angkasa diam dan terus berlari, dia masih menggenggam erat tangan ku, ia tak mau melepaskannya walau sedikitpun.


"Ayo sa kita harus pergi diri dia, kita gak boleh sampai di tangkap olehnya, aku gak bisa bayangin apa yang akan terjadi setelahnya" kata ku heboh.


"Aku tidak akan biarkan itu terjadi za" batin Angkasa masih terus berlari tanpa henti.


Tengkorak itu masih terus mengejar kami tanpa rasa lelah.


Kami masih terus berlari sekencang mungkin, rasa panik, tegang, takut menyatu dan menyelimuti tubuh kami.


Aku melihat kembali ke belakang.


"Gawat sa gawat, tengkorak itu semakin mendekat, kita harus pergi dari sini, ayo sa" teriak ku semakin di landa rasa tegang yang begitu sangat terasa.


Ketegangan terpancar di wajah ku kala tengkorak itu semakin mendekat sedangkan kami berdua tidak memiliki cara apapun untuk mengusirnya, alhasil kami hanya bisa berlari tanpa henti.


"Kita harus lebih cepat lagi za, kita harus menjauhi tengkorak itu, kita gak boleh ke tangkap" jawab Angkasa yang juga di serang rasa panik.


"Iya" jawab ku masih terus berlari.


"Ayo za lebih cepat lagi" teriak Angkasa.


Aku semakin gila berlari hanya karena di serang rasa panik kala tengkorak itu terus mengejar kami tanpa henti.


Sebisa mungkin kami akan menghindarinya yang saat masih terus berlari mengejar kami.


Aku melihat ke belakang untuk melihat keadaan.


"Gila sa, tengkorak itu semakin mendekat, kita gak bisa gini terus sa, lambat laun kita pasti akan ketangkap " teriak ku semakin panik kala tengkorak itu semakin mendekat saja.


Angkasa yang mendengar itu semua juga tegang sekali, namun yang bisa dia lakukan hanya terus berlari tanpa henti.


Angkasa dengan ketegangan yang terhakiki menoleh ke belakang dan ternyata benar jika tengkorak itu semakin mendekat.


"Benar kata Aliza aku gak boleh gini terus, bisa-bisa kita berdua akan di tangkap oleh tengkorak itu, aku harus cari cara agar bisa lolos darinya" batin Angkasa masih terus berlari sambil mencari ide


"Kita harus lebih cepat lagi za, ayo lebih cepat lagi" teriak Angkasa.


Mendengar hal itu aku terus berlari tanpa henti, rasa tegang semakin mendominasi, aku masih terus berlari secepat yang aku bisa.


"Ke sini za" teriak Angkasa menarik ku untuk masuk ke dalam semak-semak yang lumayan tinggi.


Aku yang sangat kaget dengan tindakan Angkasa tak dapat berteriak karena Angkasa sudah lebih dulu menutup mulut ku.


"Diam, jangan berisik" kata Angkasa pelan.


Aku mengangguk patuh.


Tengkorak itu berhenti di dua jalan yang berbeda arah, kami melihat dia dari celah yang ada di semak-semak itu, terlihat jika dia sedang kebingungan harus lewat jalanan yang mana.


Kami berdua memejamkan mata dan menahan napas berharap tengkorak itu tak menemukan keberadaan kami.


"Ya Allah tolongin Aliza, semoga tengkorak itu tidak menemukan kita berdua di sini, Aliza takut banget ya Allah, Aliza mohon kabulkanlah doa Aliza" batin ku yang sudah ketakutan hebat.


Tengkorak itu melangkah melewati jalanan yang sebelah kanan.


Kami berdua akhirnya bisa bernapas lega kala tengkorak itu sudah pergi.


"Alhamdulillah akhirnya dia pergi juga" syukur ku sedikit tenang.


"Di bilangin bandel, orang jangan di lihat masih aja di liat" kata Angkasa.


"Maaf, aku kan cuman penasaran doang, aku gak tau kalau hal ini akan terjadi, kalau aku tau, aku gak akan lakuin, kamu jangan marah, aku gak sengaja" jawab ku yang sangat menyesal karena tidak mendengarkan larangannya.


"Huft nih anak, kagak akan bisa aku marah padanya, liat ekspresi wajahnya yang kayak gini aja udah gak bisa, apalagi marah padanya, rasanya itu gak akan pernah terjadi,


iih nih muka lucunya gak ada obat, pengen aku cubit rasanya" batin Angkasa yang sudah gemas sekali.


"Iya aku gak marah kok" balas Angkasa.


Aku tersenyum mendengar itu semua.


Aku berdiri setelah aku merasa tengkorak itu telah pergi dan kini aku sudah aman.


Mata ku melihat ke depan, seketika senyum yang merekah di bibir ku hilang entah kemana.


"S-sa" suara ku menjadi gemetaran.


Angkasa langsung berdiri melihat apa yang aku lihat.


"Sial, bagaimana ini, dia tau lagi tempat persembunyian aku, gimana ini, apa yang harus aku lakukan" batin Angkasa yang sudah kebingungan.


"Sa gimana ini?" tanya ku yang sudah sangat ketakutan.


"Aku harus lakukan sesuatu, aku harus bisa lawan dia, aku gak boleh terus menerus lari darinya.


Angkasa melirik ke samping kiri yang terdapat batu, ia lalu mengambilnya lalu melemparkan ke wajah tengkorak.


Angkasa juga menendang tubuh tengkorak itu hingga tengkorak itu terlempar sedikit jauh dari posisi kami.


Brukk


Tengkorak jatuh ke bawah, tiba-tiba tengkorak mengeluarkan bunyi dari tulang-tulang yang beradu yang membuat ku langsung gemetaran hebat.


"Kita harus lawan dia za, kita gak bisa terus saja lari, kita harus hadapi tengkorak ini, kita gak akan bisa lari terus-terusan karena pastinya tengkorak itu akan tetap mengejar kita" kata Angkasa.


"Iya kita harus lawan dia, ayo semangat, dalam situasi genting ini kita harus mengumpulkan keberanian untuk melawan si hantu tengkorak menyebalkan ini" jawab ku yang akan berusaha sebisa mungkin untuk menahan rasa takut ku.