The Indigo Twins

The Indigo Twins
Kepanasan



Di dalam kamar mbk Indri, ada seseorang yang sama persis seperti mbk Indri dari segi wajah dan seluruh tubuhnya, hanya saja wajahnya agak sedikit pucat dan terlihat sinis, ia mendekati mbk Indri yang tengah tertidur dengan nyenyak di kasur.


Orang yang menyerupai mbk Indri itu merubah menjadi nenek-nenek.


"Aku harus bawa dia kembali ke desa lagi" nenek-nenek yang aku dan Angkasa temui di desa gaib menatap ke arah mbk Indri yang tengah tertidur lelap.


Nenek-nenek itu berjalan mendekati mbk Indri.


"بسم لله الرحمن الرحيم ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلْحَىُّ ٱلْقَيُّومُ ۚ "


Seketika langkah nenek-nenek itu terhenti ketika mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an yang sangat keras.


"لَا تَأْخُذُهُۥ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَّهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ"


Hawa panas pelan-pelan masuk ke dalam tubuh nenek.


"Siapa yang sudah membaca ayat kursi!" mata nenek melotot tajam saat tubuhnya perlahan-lahan mulai terasa panas.


"مَن ذَا ٱلَّذِى يَشْفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ "


"Arrrrgghh" teriak nenek kala merasakan tubuhnya yang seperti terbakar api yang sangat panas.


Di ruangan sebelah Angkasa tersenyum saat usahanya membuahkan hasil.


"يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَىْءٍ مِّنْ عِلْمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ "


"HENTIKAN" teriak nenek-nenek itu yang telinganya seperti terbakar api saking panasnya.


Nenek-nenek itu semakin tak tenang saat Angkasa terus menerus membaca ayat kursi dengan keras dari ruangan sebelah.


"Arrrrgghh panas, jangan lanjutkan, aku sudah tidak tahan lagi, berhenti!" histeris nenek yang meraung tak karuan.


"وَسِعَ كُرْسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ ۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْعَظِيمُ"


"Arrrrgghh" teriakan panjang nenek kemudian menghilang dari sana.


Angkasa berhenti ketika sudah tidak lagi mendengar suara teriakan nenek.


"Sepertinya dia sudah pergi" Angkasa mengusap wajahnya yang lega saat nenek sudah berhasil ia usir dari rumah ini.


Angkasa keluar dari kamar itu, ia menatap ke arah kamar mbk Indri yang masih tertutup rapat.


"Aku harus kasih tau Ustadz Fahri tentang hal ini besok, dia harus lebih hati-hati lagi, karena sekarang mereka yang tak kasat mata sedang berusaha mengincar mbk Indri, aku hanya takut mereka berhasil membawa mbk Indri ke alam itu lagi"


"Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi"


Puas menatap pintu kamar mbk Indri Angkasa melangkah memasuki kamarnya lalu merebahkan tubuhnya, setelah itu menutup matanya.


Angkasa membuka mata saat mendengar gusdur masjid yang berbunyi.


Dengan cepat Angkasa masuk ke dalam kamar mandi, setelah membersihkan tubuh dan bersiap-siap, Angkasa berangkat menuju masjid bersama yang lain.


Sehabis sholat subuh mereka kembali pulang ke rumah dan duduk di ruang tamu.


"Kamu ketemu Bima di mana?"


"Di luar, aku saat jam 12 malam bangun dan duduk di teras, di sana aku ketemu sama Bima, aku sempet cekcok sama dia karena dia terus aja ingin bawa mbk Indri ke alam gaib itu lagi" jelas Angkasa.


"Terus-terus"


"Dia bilang pada ku kalau dia akan bawa mbk Indri dengan caranya sendiri, aku hanya takut dia ngelakuin hal yang tidak-tidak demi membawa mbk Indri ke desa gaib itu, Ustadz punya cara gak biar dia gak bawa mbk Indri ke desa gaib?" Ustadz Fahri diam, kasus kali ini agak sedikit sulit karena berhubungan langsung dengan genderuwo dan misteri-misteri yang tersembunyi di desa ini.


"Saya saat ini masih belum punya cara, karena masalah ini agak sedikit sulit, ada teman saya yang ahli dalam bidang ini, dia satu pondok sama saya, kalau semisal nanti masalah ini semakin rumit dan sulit serta saya sudah gak bisa lagi lindungi mbk Indri, maka saya akan suruh beliau datang ke sini untuk membantu saya" jawab Ustadz Fahri.


"Minta datang sekarang aja tadz, Bima alias genderuwo itu pasti sedang nyusun rencana untuk bisa bawa mbk Indri kembali, kalian tau gak tadi malam itu ada bayangan hitam yang masuk ke dalam kamar mbk Indri, untung aku bisa usir dia dengan cara melantunkan ayat kursi" kami semua semakin terkejut.


"J-jadi dia sudah masuk ke dalam rumah ini?" tercekat Reno karena ia berpikir kalau makhluk halus tidak akan masuk ke dalam rumah.


Angkasa mengangguk."Iya, dia masuk ke dalam rumah ini, padahal di depan ada mbk Hilda, dua Kun, Tiger dan White, tapi tetap saja dia bisa nyelinap masuk ke dalam"


"Wah ini bahaya, para makhluk halus pasti akan dengan mudah masuk ke dalam rumah ini kalau kayak gini" Alisa mulai tidak tenang, ia hanya takut mereka berhasil membawa mbk Indri kembali ke desa gaib.


"Apa saya langsung hubungi teman saya untuk datang ke sini biar beliau bisa membantu kita nyelesain masalah ini?" Ustadz Fahri meminta pendapat kami.


"Iya tadz, Ustadz langsung panggil aja temen Ustadz kemari, Aliza berharap beliau bisa lindungi mbk Indri, Aliza ngerasa kita akan kalah kalau tidak ada orang yang tau cara ngadapin masalah kayak gini"


"Ya sudah saya akan hubungi beliau, mungkin nanti sore atau besok pagi beliau akan sampai di sini" kami semua mengangguk kompak.


"Apa masalah mbk terlalu rumit sehingga kalian minta bantuan orang lain?" terlihat kekhawatiran dari wajah mbk Indri yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kami


"Memang agak sulit mbk, tadi kami yakin kami bisa nyelesainnya, mbk berdoa saja semoga usaha kami di lancarkan"


"Iya, mbk pasti akan doakan kalian" jawab mbk Indri.


"Hai semua" sapa mbk Hilda yang muncul di depan kami semua bersama kawan-kawannya.


"Kalian kenapa gak jagain rumah, Angkasa bilang tadi malam ada makhluk halus yang masuk ke dalam rumah" omel Alisa yang membuat senyuman yang merekah di wajah mbk Hilda sirna.


"Makhluk halus?"


"Masuk ke dalam rumah?"


"Kok bisa?" terkejut mbk Hilda.


"Mana kita tau, kalian pasti teledor sehingga makhluk halus bisa dengan mudah masuk ke dalam rumah ni, untung aja dia gak bawa mbk Indri pergi ke alam gaib" jawab Alisa.


"Makhluk halus mana yang masuk ke sini?" pertanyaannya itu keluar dari bibir Tiger.


"Aku gak lihat wajahnya, cuman aku yakin dia itu satu desa dengan Bima" jawab Angkasa.


"Kenapa dia nekat sekali masuk ke dalam rumah ini padahal kita ada di depan, apa dia gak mikir akan kena masalah kalau ketahuan" tak habis pikir Tiger.


"Sepertinya dia gak takut sama kalian" dugaan Reno.


"Wah bahaya ini, kalau mereka gak takut sama kita, mereka pasti akan dengan mudah keluar masuk ke dalam rumah ini, kita harus jaga ketat rumah ini, kita tidak boleh biarkan dia masuk ke dalam lagi" mereka semua setuju dengan ucapan mbk Santi.