
"Assalamualaikum" pandangan kami semua tertuju pada Angkasa, Ustadz Fahri dan juga Reno yang baru kembali dari pemakaman umum.
"Wa'alaikum salam" jawab kami semua.
"Kok pada ngumpul di sini, ada apa ini?" penasaran Reno yang melihat para makhluk halus itu yang berada di ruang tamu semua.
"Barusan Aliza lihat ada asap hitam yang dekatin Indri, mangkanya kami langsung ke sini" jawab mbk Santi.
"Asap hitam, siapa yang sudah menjelma menjadi asap hitam?" penasaran Ustadz Fahri.
"Orangnya gak di ketahui tadz, tapi kami yakin kalau asap hitam itu adalah Bima yang tengah berusaha untuk membawa mbk Indri kembali ke desa gaib"
"Makin bahaya saja, masih siang saja dia sudah berusaha untuk membawa mbk Indri ke desa gaib apalagi saat malam, pasti dia bisa bergerak dengan bebas" mulai gelisah Ustadz Fahri, ia hanya khawatir tidak bisa menjaga mbk Indri.
"Gimana ini, temennya Ustadz bakal datang 2-3 hari lagi, aku hanya khawatir mbk Indri gak bisa kita lindungi" cemas Angkasa yang kembali teringat pada kejadian malam itu, di mana dia sempat cek-cok dengan Bima.
"Kita doain aja semoga Allah masih melindungi mbk Indri dan kekuatan gaib yang berusaha membawanya hilang" saran Ustadz Fahri.
"Amin" jawab kami semua.
"Kalian bisa masuk ke rumah pak Tejo dari mana?" penasaran Reno.
"Dari samping rumah, kami naik ke pagarnya karena rumah itu gak ada pintu belakang, jadi terpaksa kami naik ke pagar untuk bisa masuk ke dalam" jawab Alisa.
"Dia gak tau kan kalau kalian masuk ke dalam rumah itu?" memastikan Angkasa.
Kami diam, karena saat kami ingin pergi pak Tejo sudah melihat keberadaan kami.
"Dia sudah lihat kami saat kami sedang berusaha untuk keluar, tapi dia gak sampai lihat wajah kami, karena kami langsung sembunyi di semak-semak"
"Jadi kalian sempat ketahuan?" tercekat mereka.
"Enggak ketahuan, cuman pas kami mau pergi pak Tejo lihat dan ngejar kami, tapi dia gak sempat lihat wajah kami" jelas Alisa.
"Kan apa aku bilang, kalian itu kalau mau nyelidiki pak Tejo jangan berdua, kalau semisal pak Tejo nangkap kalian, dia pasti akan berbuat macam-macam ke kalian" omel Angkasa.
"Enggak sempet kejadian, kamu jangan marah"
Angkasa menghembuskan napas kasar."Terus apa yang kalian dapatin di sana?"
"Kami dapat rekaman pangkuan pak Tejo kalau dialah orang yang sudah bikin restoran ancur"
"Dengan bukti itu kita bisa jebloskan dia ke dalam penjara, biar dia tau rasa" tambah Alisa yang sudah geram sekali pada pak Tejo.
"Kalian udah pada bilang sama pak Heru tentang hal itu kan?" kami mengangguk kompak.
"Udah ren, om sudah tau, tapi dia bilang akan datang ke sini nanti malam, karena dia lagi sibuk, nanti aku akan berikan rekaman ini pada om ketika om sampai di sini" jawab Alisa.
"Kalian sudah pada di rumah, kami mau keluar sebentar, kalau ada masalah tinggal panggil kami aja" perintah mbk Gea.
"Iya, sana kalian pergi gih" mereka semua menghilang dari ruang tamu dan kembali ke tempat asalnya.
"Di rumah pak Tejo ada siapa saja, apa ada pak Jarwo di sana?" penasaran Reno.
"Enggak ada, di rumah pak Tejo sepi banget, hanya ada dia dan satu orang yang sangat misterius, tubuhnya gembul, kami gak tau siapa dia karena dia makai penutup muka jadi kami gak bisa lihat"
"Apa si gembul itu orang yang bantu pak Tejo ngancurin restoran, rekaman cctv itu memperlihatkan dua orang yang makai baju hitam dan terus ngancurin restoran" feeling Angkasa.
"Aku rasa iya, tapi aku gak tau siapa dia, apa dia warga di desa ini atau tidak, aku masih belum tau"
"Ada apa mbk, kok balik lagi?"
"Di luar ada orang, dia misterius banget, apa kalian kenal sama dia?" kami semua mengerutkan alis.
"Misterius gimana mbk?" penasaran Alisa.
"Misterius gitu, dia lagi ada di depan gerbang, apa mau mbk usir aja?" mbk Hilda meminta pendapat kami semua.
"Dia cowok apa cewek mbk?"
"Cowok, mbk seumur hidup belum pernah lihat dia di desa ini, kayaknya dia orang kota deh, coba deh kalian lihat, barang kali di antara kalian ada yang kenal" suruh mbk Hilda.
Kami bangkit dari duduk dan berjalan keluar dari rumah.
Pandangan kami langsung tertuju pada seorang laki-laki yang usianya sama seperti Ustadz Fahri tengah berdiri di depan gerbang tak berani masuk karena keempat makhluk halus itu memberikan tatapan mautnya.
"Itu kayak kenal" Ustadz Fahri menajamkan penglihatannya yang merasa tidak asing pada orang yang saat ini berdiri di depan gerbang.
"Ustadz kenal sama dia?" memastikan Alisa.
"Sebentar saya mau ke sana dulu" Ustadz Fahri berjalan mendekati gerbang untuk menemui pemuda itu.
"Zaki" pemuda yang bernama Zaki itu menatap ke arah Ustadz Fahri.
"Fahri" Ustadz Zaki tersenyum saat melihat Ustadz Fahri orang yang ia cari-cari sedari tadi.
"Kenapa kamu ke sini, kamu kan bilang kalau akan ke sini 2-3 lagi?"
"Sama abi dan ummi di suruh langsung ke sini, beliau hanya khawatir ada apa-apa sama orang yang terkena gangguan itu"
"Alhamdulillah kamu datang ke sini, ayo masuk" Ustadz Zaki mengikuti Ustadz Fahri dari belakang.
Ustadz Zaki menatap ke arah lima makhluk halus yang menatap tajam ke arahnya.
"Fahrii mereka itu siapa, kenapa seperti gak suka sama kedatangan ku" dugaan Ustadz Zaki.
"Mereka bukannya gak suka, cuman mereka itu gak kenal sama kamu, jadi mereka masih tetap waspada, kamu tidak usah pikirin mereka, mereka itu baik, mereka akan melakukan hal yang tidak-tidak pada mu" jawab Ustadz Fahri.
"Siapa dia tadz?" penasaran Alisa.
"Ini Ustadz Zaki, dia teman saya yang saya ceritakan itu" jawab Ustadz Fahri.
"Oh ini teman Ustadz, katanya mau datang ke sini 2-3 hari lagi, kenapa sekarang berubah pikiran?" terkejut Alisa.
"Sudahlah jangan banyak tanya, yang penting orangnya sudah datang, ayo tadz masuk, mbk Indri ada di dalam"
Keduanya masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Ustadz Zaki melihat ke arah mbk Indri."Ada asap hitam yang mengelilingi tubuhnya"
Kami semua terkejut karena mata kami tidak dapat melihat asap hitam yang di maksud Ustadz Zaki.
"Bahaya gak tadz?" cemas mbk Indri yang mulai tidak tenang.
"Tentu saja, asap itu bisa jadi adalah suami gaib mu yang akan membawa mu kembali ke desa gaib itu" kami semua terkejut mendengar hal itu.