
Craangg!
"Arrrrgghh"
Kami berdua saling memandang, tatapan mata kami jatuh pada kaca rumah pak Jarwo yang tiba-tiba pecah berkeping-keping.
"K-kenapa kaca itu bisa pecah, siapa yang sudah mecahinnya?" mulai merinding Alisa.
"Pasti ada orang yang lempar sesuatu ke arah kaca itu sehingga dia bisa pecah berkeping-keping seperti itu"
"Gak aman deh za kita berada di sini, ayo kita pulang aja berdua, gak usah nungguin mereka kembali ke sini"
"Iya, ayo kita pulang aja, nanti aku akan chat mereka kalau sudah sampai di rumah, soalnya hp aku ada di rumah, gak aku bawa"
"Ayo za kita pulang, lama-lama berada di sini gak aman" Alisa sudah tidak sabaran, ia benar-benar di serang rasa merinding.
Aku mengangguk, kami berdua meninggalkan rumah pak Jarwo.
Rasanya lega saat sudah keluar dari gerbang rumah pak Jarwo.
"Loh kok keluar?" kaget Ustadz Fahri saat melihat kami keluar dari rumah pak Jarwo, beliau kembali bersama Reno dan Angkasa.
"Kalian dari mana aja, kenapa lama banget, kita nungguin sejak tadi, tapi kenapa kalian gak datang-datang" omel Alisa.
"Kami tadi lagi nguburin jenazah pak Jarwo, jadi merluin waktu yang cukup lama" jawab Reno.
"Ayo kita pulang, lama-lama berada di sini gak aman"
Mereka mengangguk lalu kami pulang bersama menuju rumah.
Jalanan begitu sepi, tidak ada satupun orang yang berkeliaran, karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul 12 malam.
"Kok sepi banget ya, mana warga-warga, kenapa pada gak keluaran rumah?" Reno merasa aneh saat tidak ada satupun orang yang ia lihat.
"Palingan warga pada tidur, sudah biasa suasana desa kalau malam sepi, gak kayak di kota yang tetap saja rame" sahut Angkasa.
"Tapi biasanya gak sesepi ini sa, tapi kenapa sekarang sepi dan mencekam sekali" bergidik ngeri Alisa.
"Biasanya rame karena ada perayaan itu, tapi sekarang kan perayaan itu sudah berhenti, karena pak Jarwo meninggal dunia" jawab Reno.
"Tapi apakah perayaan itu akan berlanjut meski pak Jarwo gak ada?"
"Kayaknya gak bakalan, karena keturunannya gak akan ada yang nerusin" jawab Ustadz Fahri.
"Semoga saja dengan meninggalnya pak Jarwo desa ini jadi aman lagi, gak ada kejadian-kejadian aneh lagi di desa ini"
"Amin" jawab mereka semua.
"Eh bagaimana dengan nasib nyi Gayatri ya?" Alisa teringat pada nyi Gayatri, siluman ular yang pak Jarwo sembah.
"Apa dia akan tetap berada di desa ini setelah pak Jarwo meninggal?" penasaran Reno.
"Kayaknya gak akan deh, karena gak akan ada orang yang nyembah dia lagi, dia pasti akan kembali ke desa gaib itu, aku yakin itu"
"Semoga saja seperti itu" harapan Ustadz Fahri.
"Sebentar-sebentar tadi di dalam kamar itu ada banyak mayat, pertanyaannya mayat-mayat siapa itu, apa kalian ada yang kenal?" Alisa menatap ke arah aku dan Angkasa.
"Enggak, di antara mereka semua kami gak ngenalin sama sekali, rata-rata kebanyakan di antara mereka itu laki-laki sama perempuan yang sudah agak dewasa, bukan anak kecil lagi"
"Kalau menurut feeling ku, mereka adalah warga di desa ini, gak mungkin mereka orang jauh" jawab Angkasa.
"Kalau mereka warga di desa ini, kenapa kita pada gak ngenalin, apa mungkin mereka meninggalnya sudah dari jaman dulu?"
"Bisa jadi, mereka kebanyakan sudah menjadi tengkorak, jadi ada kemungkinan kalau mereka adalah warga-warga yang meninggal beberapa tahun yang lalu" jawab Ustadz Fahri.
"Aku merasa aneh tau" pandangan kami semua tertuju pada Alisa.
"Aneh gimana sa?" kompak kami.
"Di antara banyaknya mayat-mayat itu semuanya orang-orang dewasa, bukan anak-anak kecil lagi, aku cuman heran di mana pak Jarwo nyembunyiin Laras, aku yakin banget dia yang sudah bikin Laras hilang, kalau bukan dia siapa lagi coba, hanya dia seorang yang bermasalah di desa ini" heran Alisa.
"Iya juga, di mana ya pak Jarwo nyembunyiin Laras, apa dia sembunyiin Laras di kamar yang berbeda?" curiga Reno.
"Bisa jadi, besok aja kita datangin rumah pak Jarwo lagi, kita harus periksa semua kamar yang ada di rumahnya, semoga saja ada jasad Laras di sana" ajak Angkasa.
"Dilan, masalah Dilan gimana ya, kita masih belum tau dia ada di mana, ini masih belum 7 hari, masih ada kemungkinan buat Dilan kembali ke alam manusia lagi"
Aku tiba-tiba teringat pada Dilan, anak bu Retno dan Baida'i yang hilang baru-baru ini dan kami masih belum tau kemana dia pergi.
"Besok kita harus cari dia, dia harus temuin, kita gak boleh biarin dia bernasib sama seperti Laras yang hilang dan sampai sekarang gak di temuin" jawab Alisa.
"Iya, besok kita cari Dilan di rumah pak Jarwo, aku yakin Dilan pasti ada di sana" yakin Reno.
Kami semua mengangguk setuju, besok kami akan mencari keberadaan Dilan yang di curigai berada di rumah pak Jarwo.
"Apa itu?" tunjuk Alisa pada langit yang gelap dan bersih, tidak ada satupun bintang yang terlihat.
"Mana?"
"Itu" Alisa menunjuk ke arah selendang hitam yang terbang ke sebelah barat.
"Itu selendang hitam, kenapa dia ada lagi?" mulai tegang Angkasa.
"Emang kamu pernah lihat dia sebenarnya?"
"Iya, waktu itu selendang hitam hinggap di rumah pak Rahmat, keesokan harinya Laras di nyatakan hilang, waktu itu aku ngejar selendang hitam tapi dia hilang saat sudah sampai di rumah pak Baida'i, kemudian besoknya Dilan hilang, aku ngerasa selendang hitam itu ada sangkut pautnya dengan hilangnya anak-anak di desa ini" curiga Angkasa.
"Kenapa kamu gak bilang dari awal?"
"Aku sengaja rahasiain, karena mau aku cari tau sendiri, tapi naasnya gak ada waktu longgar sehingga sampai sekarang aku masih belum nyari tau" jawab Angkasa.
"Eh dia mulai jauh, ayo kita kejar dia" ajak Alisa yang melihat selendang hitam yang mulai menjauh dan hampir tidak terlihat.
"Ayo" jawab kami.
Kami berlima mengejar selendang hitam itu yang terbang ke sebelah barat.
"Tunggu jangan pergi!"
Selendang hitam itu terus saja terbang, kami mengejarnya dari belakang.
"Dia mau kemana, kenapa ke arah barat?" penasaran Alisa.
"Kita harus kejar dia, kita harus dia pergi ke mana, biar kita tau anaknya siapa yang hilang besok" jawab Reno.
Kami terus berlari mengejar selendang hitam itu yang semakin menjauh.