
"Nanti aku akan suruh bunda pulang aja, kayaknya akan sulit bagi kita buat urus resto tanpa keberadaan bunda, iya kalau gak ada hantu yang minta bantuan kita, kalau ada kayak sekarang ini, kita pasti bingung mau urus yang mana dulu" kata ku.
"Iya nanti kamu telpon bunda aja, suruh dia pulang, masalah restoran yang di luar kota biar ayah aja yang urus" setuju Alisa.
"Udah mau bel, ayo za kita kembali ke kelas" ajak Angkasa.
"Iya, kita duluan ya, jangan lupa kumpul di taman setelah istirahat" kata ku.
"Iya" jawab mereka.
Setelah mendengar jawan keduanya, aku dan Angkasa berjalan menuju kelas sedangkan keduanya berpencar sebab kelas mereka yang berlawanan arah.
Sebelum masuk ke dalam kelas Alisa menghembuskan napas terlebih dahulu.
"Semoga hari ini tidak ada yang gangguin aku" hadapan Alisa.
Alisa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kelas.
"Hai Alisa" sapa Roy yang langsung membuat mood Alisa hancur.
Alisa menghela napas melihat Roy yang tersenyum manis padanya.
"Kenapa pagi-pagi begini aku harus lihat muka situ, gak tau apa kalau aku enek banget" kaga Alisa.
"Jadi kamu gak suka lihat aku" ekspresi Roy langsung berusaha setelah mendengar ucapan Alisa.
Alisa yang melihat raut wajah Roy yang berubah merasa bersalah.
"Gak gitu Roy, aku gak bermaksud, aku cuman bercanda doang, kan biasanya kamu suka gangguin aku, mangkanya aku enek lihat kamu" kata Alisa.
Roy diam tidak menjawab dan malah duduk di tempatnya dengan ekspresinya yang berubah draktis tak seperti Roy pada umumnya.
Alisa duduk di sebelah Roy, ia merasa sangat bersalah melihat Roy yang sikapnya berubah setelah ia mengatakan kata-kata yang tanpa sengaja menyakiti hati Roy.
"Roy jangan marah, aku gak bermaksud, sumpah deh aku itu gak ada niatan buat nyakitin kamu" rayu Alisa berharap ekspresi Roy kembali seperti semula.
"Mangkanya kamu jangan gangguin aku, aku itu capek harus berantem terus, kamu ngerti artinya capek gak sih" kata Alisa.
"Aku kan cuman becanda sa, masa kamu anggap serius" jawab Roy.
"Tapi Roy becanda mu itu gak lucu, aku ini sakit hati, mangkanya awal-awal aku masuk sekolahan ini merasa gak betah dan punya keinginan buat pindah, tapi kembaran aku gak mau, ya udah terpaksa aku harus sekolah di sini" kata Alisa.
"Segitunya kamu sakit hati" tak percaya Roy.
"Iyalah, mangkanya jangan gangguin aku, aku gak suka di ganggu" jawab Alisa.
"Ya udah gak lagi deh, aku gak akan gangguin kamu lagi" kaga Roy.
Alisa menatap Roy dengan sangat terkejut.
"Roy kamu gak apa-apa kan?" tanya Alisa dengan menyentuh kening Roy.
"Enggak, aku gak apa-apa" jawab Roy.
"Kamu kerasukan setan mana, kenapa berubah draktis begini?" tanya Alisa yang masih sangat terkejut.
"Oh jadi aku gak boleh berubah, oke aku akan kembali jadi Roy yang nakal mau?" tanya Roy.
"Jangan" cegah Alisa cepat karena dia akan tambah mumet jika sampai Roy kembali seperti semula.
"Mangkanya gak usah banyak tanya" kata Roy.
"Iya deh, gak lagi" jawab Alisa.
"Teman" kata Roy dengan mengangkat jari kelingkingnya.
"Teman" jawab Alisa menempelkan jari kelingkingnya di jari kelingking Roy.
Senyuman manis terukir di wajah Alisa sebab musuh bebuyutannya kini sudah menjadi temannya, ia sungguh tidak pernah membayangkan jika hal ini akan terjadi.
"Akur nih ye" kata Rifki.
"Iya dong, masa musuhan terus" jawab Roy.
"Kesambet setan mana, kenapa berubah draktis gini?" tanya Doni yang tak habis pikir.
"Sembarangan" kata Doni.
Roy hanya terkekeh geli melihat ekspresi Doni yang langsung kesal sebab di depan rumah Doni memang terdapat pohon beringin yang besar dan terlihat sangat angker.
Alisa juga terkekeh melihat persahabatan mereka yang di kenal dengan geng paling nakal di kelas IPS.
Tiba-tiba senyuman yang merekah di bibir Alisa memudar saat melihat ke enam gadis yang masuk ke dalam kelasnya, dan gadis-gadis itu bukan satu kelas dengannya.
"Siapa mereka?" tanya Alisa yang tidak mengenal mereka berenam.
"Anak kelas sebelah" jawab Roy.
"Ngapain mereka ke sini?" tanya Alisa.
"Entahlah, aku juga gak tau" jawab Roy.
Mereka berenam lewat di hadapan Alisa.
"Kok bau darah" kata Alisa saat mereka lewat.
"Darah, apa maksud kamu?" tanya Roy.
"Enggak kok gpp" jawab Alisa cepat.
"Apa yang Alisa maksud sebenarnya, kenapa dia bilang bau darah saat mereka lewat" batin Roy yang sangat penasaran.
Alisa melihat punggung mereka berenam yang mendekati sekertaris.
"Pinjam absen" kata Nadira.
"Buat apa?" tanya Mina sekretaris di kelas ini.
"Bu Riska nyuruh kita buat ngumpulin semua absensi, katanya mau di rekap" jawab Chelsea.
"Biasanya kalau di rekap itu pas mau ujian semester ganjil, tapi kan ujian masih lama" kata Mina.
"Bacot banget sih, udah tinggal kasih apa susahnya" kata Gisel mengambil paksa absensi itu dari tangan Mina.
"Tau, banyak omong banget" omel Hani.
"Ayo kita pergi dari sini" ajak Shena.
Mereka kemudian keluar dari dalam kelas ini dengan membawa absensi.
"Kenapa mereka ngambil absensi kelas ini, apa yang ingin mereka rencanakan" batin Alisa yang merasa curiga pada mereka berenam.
"Ada apa sih itu?" tanya Doni.
"Gak tau juga" jawab Rifki.
"Kenapa mereka ngambil absensi kelas, apa mereka beneran di suruh sama bu Riska, kok aku ngerasa gak yakin?" tanya Doni.
"Gak tau, gak ngurus" jawab Rifki.
"Eh kalian tau gak, di kelas sebelah itu ada anak yang udah lama gak masuk sekolah, tapi gak ada yang tau gak masuk kenapa" kata Rere yang duduk di seberang Alisa dan apa yang ia katakan barusan berhasil Alisa dengar.
"Gak tau gimana, masa teman-temannya pada gak tau dia gak sekolah kenapa, emang siapa sih namanya?' tanya Felly.
"Namanya itu Andin, dia itu katanya udah lama gak masuk sekolah, tapi gak ada yang tau dia pergi kemana, teman-teman sekelasnya juga gak tau karena dengar-dengar Andin itu sukanya menyendiri, jarang bergaul, mangkanya gak ada yang tau dia pergi kemana" jawab Rere.
"Pantesan aja gak ada yang tau" kata Rere.
"Kenapa gak datangin rumahnya aja, masa gak ada yang tau rumahnya?" tanya Gina.
"Katanya sih dia itu tinggal sendirian, mama sama papanya berada di luar kota, jarang pulang lagi" jawab Rere.
"Kasihan tau" kata Gina.
"Iya kasihan banget, mana berani lagi tinggal sendiri, kalau aku pasti gak akan seberani itu" sahut Rere.
"Iya, tapi mungkin karena terpaksa ya dia bertekad harus bisa berani, kalau dia gak berani, dia akan terus menerus larut dalam ketakutan" jawab Felly.
"Benar juga" kata Gina.