The Indigo Twins

The Indigo Twins
Sinar mata merah makhluk halus di dalam hutan



"Eh Angkasa sama Reno gimana, mereka masih ada di dalam" Alisa teringat pada mereka berdua yang tidak ada di antara kami.


"Oh iya ya, mereka masih nyari Rani di dalam, bentar aku hubungi Angkasa dulu biar mereka datangin kita"


Aku mengeluarkan hp dan menghubungi Angkasa.


Angkasa merasakan hpnya yang bergetar, ia langsung menghentikan langkah dan mengeluarkan hp itu dari dalam sakunya.


"Aliza, kenapa dia nelpon aku" Angkasa mengerutkan alis ketika melihat nama ku yang keluar.


"Cepat angkat sa, mungkin mereka sudah nemuin Rani" suruh Reno.


Angkasa langsung mengangkat panggilan itu.


"Ada apa za, apa kamu udah berhasil nemuin Rani?"


"Belum, kami mau ke hutan yang ada di belakang rumahnya pak Jarwo, kami ada di luar, sekarang kamu sama Reno ke sini aja, kita nyari ke hutan itu, kami semua punya firasat kalau hutan itu pasti ada apa-apanya dan hari ini kami ingin meriksanya"


"Ya udah aku akan ke sana"


Setelah mengatakan hal itu Angkasa langsung mematikan sambungan.


"Apa kata Aliza sa, apa dia sudah berhasil nemuin Rani?" tampak senang Reno, ia punya harapan besar adiknya ketemu, ia sangat takut kalau adiknya tak akan bisa ketemu seperti Laras.


"Belum ren, Aliza ngabarin aku karena dia mau ngajak kita ke hutan yang ada di belakang rumah pak Jarwo, ayo kita temui saja mereka, aku rasa di sini gak ada Rani"


"Ya udah ayo kita ke sana"


Angkasa dan Reno berlari keluar dari dalam rumah pak Jarwo.


Mereka mendekati kami yang berada di halaman rumah.


"Ayo kita ke sana" ajak Reno yang semangat.


"Iya ayo" jawab Alisa.


Kami semua berlari ke samping rumah pak Jarwo, di sana ada jalanan setapak yang menghubungkan ke dalam hutan yang seram.


Wussshhhh


Wussshhhh


Wussshhhh


Dari kejauhan kami sudah melihat banyaknya makhluk halus yang keluar masuk dari dalam hutan.


Suasana saat ini masih belum terang, masih ada kegelapan sedikit karena matahari masih belum muncul sempurna.


"Ini sarangnya jin" pandangan Ustadz Zaki terus menatap ke arah hutan yang gelap karena matahari masih belum terbit dengan sempurna.


"Kok aneh ya, hutan yang jelas-jelas di bilang paling seram gak ada makhluk halus yang gangguin, tapi kenapa hutan yang berada di belakang rumah pak Jarwo yang banyak hantunya" Alisa menatap aneh ke arah hutan.


"Udah gak usah mikirin itu dulu, ayo kita masuk ke dalam, kita harus cari tau ada apa di dalam hutan itu"


"Aku setuju, aku merasa ada hal yang tersembunyi yang ada di dalam hutan itu, kalau tidak ada sesuatu yang bersifat rahasia tidak mungkin pak Jarwo dan pak Tejo masuk ke sini waktu itu" tambah Angkasa.


"Sekarang ayo kita masuk ke dalam" ajak Ustadz Fahri.


Kami masuk ke dalam hutan, baru satu kali kaki kami menginjak hutan, mata kami sudah di jamuan dengan banyaknya mata-mata makhluk halus yang berwarna merah, tubuhnya tak terlihat karena gelap, hanya mata merahnya saja yang membuat kami merinding.


Alisa memegangi lengan ku, ia benar-benar ngeri melihat banyaknya mata-mata makhluk halus yang berwarna merah terang dan itu terlihat jelas dalam kegelapan.


"HAHAHA"


Suara tawa itu terdengar nyaring di telinga ku, bulu kuduk ku berdiri semua, rasa merinding semakin menjadi-jadi.


"Za aku takut" pelan Alisa yang terus menempel pada ku.


"Enggak usah takut, kita punya Allah, Allah yang bakal selamatin kita, ayo kita masuk, bismillah semoga kita bisa nemuin Rani"


Mereka semua mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam hutan.


Suara-suara makhluk halus terdengar di telinga kami, kami tidak mundur sedikitpun meski mereka memancarkan sinar merah dari matanya.


"Rani kamu di mana" teriak Reno.


"Kok makin banyak, ngeri tau" pelan Alisa yang membenamkan wajahnya pada ku.


"Udah gak usah takut, mereka gak bakal bahayain kita, ayo kita jalan lagi, kita harus temuin Rani, kita gak boleh biarin Rani bernasib sama seperti Laras yang gak bisa kita tolong"


"Iya, ayo kita cari Rani lagi" setuju Angkasa.


Kami semakin masuk ke dalam hutan itu, seramnya hutan sangat terasa di dalam diri kami.


Aku terus melihat sekeliling ku, banyak sekali makhluk-makhluk halus yang berada di sekitar ku, namun aku masih diam karena mereka semua hanya sekedar memperhatikan kami bukan mengganggu kami.


"Rani kamu di mana" teriak Reno.


"Rani kamu di mana, kami ada di sini"


"Rani, Rani kamu di mana"


"Rani kamu baik-baik saja kan"


Kami semua membantu Reno yang lagi kehilangan adiknya.


"Rani, kamu di mana ran, kakak di sini, kamu di mana" teriak Reno, suara Reno memantul di dalam hutan ini.


"Rani"


Braaak!


"Arrrrgghh"


Kami semua berteriak saat melihat ada ranting pohon yang tiba-tiba jatuh tepat di hadapan ku.


"Ya Allah, ya Allah, ya Allah" aku mengelus dada ku yang terkesiap.


"Kenapa ranting ini bisa jatuh, perasaan gak rapuh deh" merasa aneh Alisa saat melihat jika ranting kayu itu terlihat kokoh ketika di senter pakai hpnya.


"Kayaknya ada makhluk halus yang tengah berusaha hentiin kita, kita harus waspada, kita tidak boleh lengah, karena di kanan dan kiri kita banyak sekali makhluk-makhluk gaib yang siap menyerang" sahut Ustadz Zaki.


"Baik tadz" jawab kami.


"Ayo kita jalan lagi" ajak Ustadz Fahri.


Kami kembali berjalan, suara-suara makhluk halus terus terdengar di telinga kami.


Aku berhenti sebentar, aku melihat ke sekeliling ku, Alisa dan yang lain terus berjalan di depan ku.


"Rani kamu di mana"


"Rani"


"Kenapa kau kembali ke sini?"


Pandangan ku langsung tertuju pada kingkong yang waktu itu ku lihat.


"Kau, kau bukannya kingkong yang waktu itu?"


Kingkong itu memberikan mimik wajah masam, ia tidak suka di panggil kingkong.


"Bukan, aku gorila, bukan kingkong!"


Aku tersenyum, dia benar-benar jin yang berbeda dari yang lainnya.


"Kingkong apa kau melihat ada anak kecil di dalam hutan ini?"


Kingkong itu diam, ia berdiri di hadapan ku.


"Jawab kingkong, kenapa kau diam saja?"


"Katakan yang sejujur-jujurnya, jangan bohong!"


"Ada, ada banyak sekali anak-anak kecil di sini, cuman hanya ada dua orang yang bisa di selamatkan, selebihnya tidak bisa"


"Kenapa begitu, kenapa yang lainnya tidak bisa di selamatkan?" aku terkesiap ketika mendengar hal itu.


"Mereka sudah lewat 7 hari, mereka tidak bisa kembali ke alam manusia lagi, mereka sudah menjadi arwah, bukan manusia, jadi percuma kau membawa mereka kembali"