The Indigo Twins

The Indigo Twins
Suara ketukan



Di rumah aku dan yang lain terus menunggu kedatangan Angkasa, Ustadz Fahri dan yang lainnya yang masih tak kunjung pulang ke rumah.


"Angkasa nyasar kemana, kenapa lama banget, dia pergi ke rumah pak Jarwo apa kemana?" Alisa mulai lelah menunggu Angkasa yang tak kunjung datang.


"Dia ke rumah pak Jarwo sa, kita tunggu aja sebentar, nanti dia juga akan pulang"


"Masalahnya ini udah lama banget dia pergi za, dia bilang gak bakal lama, tapi ini apa, dia malah lama banget" Alisa semakin tak tenang, berada di dalam rumah cuman berempat membuatnya merasa gelisah tanpa sebab.


"Udah kamu yang sabar saja, sebentar lagi Angkasa bakal pulang bawa Ustadz Fahri, kamu tidak usah khawatir" Reno membantu ku menenangkan Alisa yang tidak bisa diam, ia terus mondar-mandir tak kesana kemari.


Alisa menghembuskan napas, ia kembali duduk dengan perasaan yang masih tidak bisa tenang.


"5 menit lagi dia gak datang, akan aku gantung dia di pohon depan rumah" geram Alisa yang membuat kami semua diam tak bergeming.


tok


tok


tok


Ketukan lirih terdengar di telinga kami.


"Kayaknya itu mereka deh" gembira Alisa ketika mendengar suara ketukan itu.


"Coba deh kamu bukain pintu sana dan suruh mereka masuk"


Dengan senang hati Alisa bangkit dari duduk dan membuka pintu dengan senyuman yang terus merekah di bibirnya, ia begitu senang karena pada akhirnya Angkasa yang ia tunggu-tunggu pulang.


"Akhirnya kamu pulang"


Saat pintu terbuka dengan lebarnya, seketika senyuman yang merekah di bibir Alisa sirna.


Di luar tidak ada siapapun, mata Alisa melihat ke kanan dan kiri namun tetap saja tidak menemukan satu orangpun.


Di saat Alisa tengah mencari siapa orang yang mengentuk pintu tiba-tiba ia merasakan ada angin yang menyapu wajahnya.


Seketika bulu kuduknya langsung berdiri semua.


Alisa dengan cepat menutup pintu dan menguncinya lalu berjalan mendekati kami dengan wajah pucat.


"Loh kok kamu balik sendiri, mana Angkasa sama Ustadz Fahri?"


Alisa hanya menggeleng dengan wajah yang semakin lama semakin pucat.


"Kenapa sa, kok wajah kamu pucat gitu?" Reno merasa ada sesuatu yang terjadi pada Alisa.


"Di luar gak ada siapa-siapa" jawab Alisa dengan gemetaran dan wajahnya yang semakin pucat.


"Kok bisa?" tercekat kami saat tau hal itu.


"Gak tau, pas aku periksa di luar gak ada siapapun" jawab Alisa.


"Terus kalau gak ada siapa-siapa barusan yang ngetuk pintu siapa dong?"


"Kayaknya yang barusan ngetuk pintu hantu" jawab Alisa langsung menempel pada ku.


Kami semua diam, apa yang Alisa bilang ada benarnya juga.


"Kok perasaan aku jadi gak enak gini ya" Reno mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman setelah ada angin yang menipu tengkuknya.


"Kemana Ustadz Fahri dan Angkasa, kenapa gak balik-balik, mereka pada kemana?"


Aku mulai tidak tenang saat teror-teror misterius berdatangan.


"Coba ren kamu susul ke sana" titah Alisa.


"Jangan, Reno biarin di sini aja, kita tunggu sebentar lagi, mereka pasti akan datang"


"Tapi za ini udah lama banget, mereka sudah pergi sejak tadi, tapi kenapa sampai sekarang kagak balik-balik" cemas Alisa tanpa sebab.


Mereka semua setuju dan kembali menunggu kedatangan Ustadz Fahri dan Angkasa.


tok


tok


tok


Suara ketukan itu kembali terdengar di telinga kami yang membuat kami tegang.


Alisa langsung memeluk lengan ku."Dia kembali za, dia kembali, dia pasti bukan manusia, gak usah di buka"


"Iya, jangan nyari petaka buka pintu kembali, kita biarkan saja, nanti dia juga akan pergi dengan sendirinya" tambah Reno.


Aku diam, aku tidak menjawab sepatah katapun dan ikut membiarkan pintu yang terus di ketuk oleh orang misterius.


"Aliza buka pintunya"


Kami semua yang ada di dalam terkejut saat mendengar suara yang amat familiar.


"Kayaknya itu bukan hantu deh" tutur Reno.


"Itu memang bukan hantu, tapi garangnya melebihi hantu" jawab Alisa.


Kami bertiga bergegas mendekati pintu dan membukanya.


"Kalian ini kemana saja, kenapa lama banget buka pintunya" omel bunda dengan mata seramnya namun kami bukannya takut malah cengar-cengir saja.


"Maaf bun kami kira bunda itu hantu" seketika mata bunda tambah melotot saat mendengar ucapan Alisa.


"HANTU jadi kalian gak bukain pintu karena hal itu?" kami mengangguk kompak dengan wajah yang terus cengar-cengir.


"Astaghfirullah hal adzim, kalian ini tega sekali nyamain bunda sama hantu" bunda memegangi dadanya sok tersakiti.


"Habisnya tadi itu ada orang ngetuk pintu, tapi pas di buka gak ada siapa-siapa, ya udah Alisa gak mau lagi bukain pintu karena takut kejadian itu terulang kembali" jelas Alisa.


"Ayo sekarang masuk aja, malam-malam di luar gak baik" ajak bunda.


Kami mengangguk lalu masuk ke dalam rumah kembali.


"Loh kok Indri ada di sini, terus yang di rumah pak Jarwo itu siapa?" terkejut bunda saat melihat mbk Indri yang berada di ruang tamu.


"Itu bukan mbk Indri bun, itu nyi Gayatri, dia yang selama ini gantiin mbk Indri biar warga-warga gak curiga kalau sebenarnya mbk Indri ada di alam gaib"


"Oh pantesan aja di rumah pak Jarwo ada Indri, ternyata dia bukan Indri yang asli" bunda akhirnya paham kenapa bisa melihat dua Indri dalam waktu yang singkat.


"Bunda mana Ustadz Fahri sama Angkasa, kenapa kalian pulang cuman berenam?" Alisa tak menemukan keberadaan Ustadz Fahri dan juga Angkasa yang ikut dalam rombongan itu.


Bunda mengerutkan alis."Angkasa, emangnya Angkasa ada di sana?"


"Iya, Angkasa tadi nyusul kalian ke sana, apa kalian gak lihat dia?" Alisa merasa aneh saat bunda tak tau hal itu.


"Enggak, kami gak lihat dia" jawab ayah.


"Terus kemana Angkasa, kenapa dia gak ke sana" aku mulai cemas takut terjadi sesuatu padanya.


"Dia gak mungkin hilang za, siapa yang mau nyulik dia" yakin Alisa.


"Iya aku tau gak bakal ada yang nyulik Angkasa, cuman aku hanya takut dia ketahuan sama pak Jarwo ataupun nyai Gayatri, itu saja"


"Iya juga, gimana ini, apa kita susul aja ke sana?" Alisa meminta pendapat yang lain.


"Jangan, kalian di sini saja, kita tunggu Angkasa kembali, cepat atau lambat dia pasti kembali juga kok, kalau dalam 1 jam Angkasa gak kembali, baru kita cari" larang ayah.


"Ya sudah kita tunggu dulu Angkasa kembali" jawab bunda.


Kami semua mengangguk dan duduk di ruang tamu dengan menunggu kedatangan Angkasa dan Ustadz Fahri.