The Indigo Twins

The Indigo Twins
Kurang puas



Dokter Gladis menancap gas meninggalkan rumah mbk Ningsih.


"Hmm kenapa ya aku masih kurang puas setelah melihat mereka semua tersiksa, seperti ada sesuatu yang kurang gitu untuk membuat ku semakin puas dalam melakukan tindakan gila ini, hmm aku punya cara" kata dokter Gladis sendiri.


Dokter Gladis menekan nomor telepon yang bertuliskan 'My Love'.


Panggilan terhubung.


^^^"Halo kenapa sayang?" suara seseorang terdengar dari ujung telepon.^^^


Dokter Gladis risih dengan panggilan sayang dari laki-laki yang sudah menghancurkan segalanya.


"Maaf mengganggu aku cuma mau kasih tau kalau istri kamu sekarang ini dalam keadaan sakaratul maut, sebentar lagi dia akan mati" tak tanggung-tanggung dokter Gladis langsung membicarakan tentang mbk Ningsih.


^^^"Maksud kamu apa dis, istri aku kenapa?" shock mas Rafi mendengar hal itu.^^^


Dokter Gladis tersenyum kecut.


"Wah bener ya ternyata jika kamu memang sudah punya istri, mau hampir punya anak lagi, ets jangan senang dulu, aku punya kabar baik buat aku tapi kabar buruk buat kamu" jeda dokter Gladis


"Istri kamu Ningsih saat ini sedang berada di ambang kematian, mau tau siapa pelakunya? aku, aku yang sudah melakukannya, aku melakukan itu semua karena kamu yang sudah lebih dulu tega mas, kamu tega lakuin ini ke aku, kamu gak mikirin perasaan aku yang terus kamu bohongi, kamu janji bakalan nikahin aku, mana, mana janji kamu itu, lihat siapa yang kamu menikahi sekarang" sambung dokter Gladis yang sangat kecewa.


^^^"Sayang dengerin aku, dulu aku bisa jelasin" kata mas Rafi.^^^


"Maaf mas mungkin hari ini adalah hari di mana hubungan kita akan berakhir, ingat jangan pernah cari aku lagi" kata dokter Gladis.


^^^"Sa-^^^


Dokter Gladis langsung mematikan sambungan telepon, dia mengeluarkan SIM card dan membuangnya.


"Aku gak nyangka jika seseorang yang aku genggam erat selama ini ternyata orang yang paling dalam membuat luka di hati" kata dokter Gladis kecewa.


Mobil berwarna putih itu berlaju dengan kecepatan sedang menuju kembali ke rumah dokter Gladis.


Sampai di rumah dokter Gladis melihat tubuh sang ayah dan ibu yang kini sudah tidak bernyawa.


"Hmm ini harus aku apain mayat ibu sama ayah, gak mungkin kan aku biarkan di sini bisa-bisa aku di tangkap polisi lagi, kalau gak salah di belakang ada tanah deh, ya udah ah aku kuburin di sana aja" kata dokter Gladis.


Dokter Gladis menyeret tubuh mereka berdua ke belakang rumahnya.


Dokter Gladis menggali tanah dengan cangkul, sedikit demi sedikit lubang mulai dalam.


Setelah cukup dalam, tanpa di mandikan dan di sholatkan dokter Gladis langsung memasukkan tubuh ayah dan ibunya ke dalam lubang yang baru selesai di galinya.


Dokter Gladis menutup kembali lubang yang berisikan ayah dan ibunya dengan tanah.


"Akhirnya selesai juga menguburkan mereka, sekarang aku bisa tenang, tidak akan ada yang curiga kepada ku nanti kalau ada orang yang nanya, aku tinggal bilang aja kalau ayah sama ibu lagi ada di luar kota atau kemana gitu, oh Gladis Gladis sungguh pintas otak mu" tawa dokter Gladis bangga.


Dokter Gladis berbalik, wajah dokter Gladis langsung tegang saat melihat seorang perempuan berdiri di belakangnya dengan kamera ponsel yang merekam segala yang di lakukannya.


Perempuan itu berlari saat kehadirannya di ketahui oleh dokter Gladis.


"Berheti Nel" pekik dokter Gladis yang melihat temannya Nela menyaksikan kejahatannya.


Mbk Nela berlari sekencang-kencangnya.


Kepanikan menyerang mbk Nela tiba-tiba-


"Aaauw" rintih mbk Nela kala kakinya tersandung batu.


Mbk Nela hendak berlari tapi terlambat dokter Gladis lebih dulu menangkapnya.


"Mau kemana hah, sudah berani merekam sekarang mau melarikan diri iya?" tanya dokter Gladis marah.


Wajah mbk Nela gemetaran.


"Enggak mau, jangan ambil hp aku" tolak mbk Nela.


Dokter Gladis merampas ponsel mbk Nela dengan paksa.


"Lepasin aku Gladis" tintah mbk Nela berusaha membebaskan diri dari dokter Gladis.


"Aku masih mau hidup, jangan bunuh aku seperti kamu membunuh kedua orang tua mu sendiri ku mohon Gladis" mohon mbk Nela.


Senyuman sinis terukir di wajah dokter Gladis.


"Aku sih maunya kamu tetap hidup di dunia ini, tapi aku tidak mau kalau kamu menghancurkan segalanya di kemudian hari, maaf aku tidak bisa mengambil resiko untuk membuat mu tetap hidup di dunia ini, bye Nela teman ku" kata dokter Gladis.


"Aaaah" teriak mbk Nela kala jarum suntik itu masuk ke dalam tubuhnya.


Tubuh mbk Nela langsung ambruk.


"Nela-nela andai aja kamu gak ada di sini mungkin saja kamu akan selamat" kata dokter Gladis dengan memandangi wajah mbk Nela.


Dokter Gladis menyeret tubuh mbk Nela, menguburkan mayatnya di samping kuburan kedua orang tuanya.


Dokter Gladis tersenyum lebar.


"Mulai saat ini tidak akan ada yang berani mengatur-ngatur aku lagi, aku bisa hidup bebas tanpa takut ketahuan dengan segala apa yang telah aku lakukan pada mereka-mereka yang menyebalkan" kata dokter Gladis bangga.


Di sisi lain


Kapal besar mendarat di pelabuhan, seorang laki-laki keluar dari dalam kapal, dia mencari taksi, menghentikannya dan meminta supir taksi untuk mengantarkan dirinya ke tempat tujuan.


"Lebih cepat lagi pak" kata mas Rafi.


Kecemasan terpancar jelas di wajah mas Rafi yang terus saja memikirkan perkataan dokter Gladis.


Mas Rafi sangat khawatir sejak tadi, pikirannya tidak bisa tenang sama sekali.


"Baik pak" jawab supir.


"Ya Allah semoga Ningsih baik-baik saja, hamba mohon jagalah dia, jangan sampai ada sesuatu yang terjadi dengannya" batin mas Rafi sangat gelisah.


Sementara itu.


Seorang ibu-ibu menghentikan langkahnya.


"Loh kok pintu rumah nek Sun ke buka" kata Bu Reta istri seorang RT di desa ini.


Bu Reta mendekati rumah nek Sun dengan sangat penasaran.


"Ada orangnya apa enggak di dalam ya, periksa aja deh" kata Bu Reta.


Bu Reta masuk ke dalam, mata Bu Reta melihat ke sekeliling, tatapannya tertuju kepada mbk Ningsih dan nek Sun yang terkapar tidak sadarkan diri dengan busa-busa yang keluar dari mulut keduanya.


Bu Reta menutup mulut terkejut melihat mereka berdua.


"Astaghfirullah nenek Sun, Ningsih" kaget Bu Reta.


Seketika Bu Reta di landa rasa cemas, ia kembali keluar dari rumah.


"Pak, pak Izul" panggil Bu Reta pada pak Izul yang kebetulan melintas di depan rumah mbk Ningsih.


Pak Izul menoleh ke arah Bu Reta yang berteriak-teriak memanggil namanya.


"Ada apa Bu, kenapa ibu teriak-teriak?" tanya pak Izul penasaran dengan apa yang terjadi.