The Indigo Twins

The Indigo Twins
Sedingin es batu



Aku menutup mulut tak menyangka meihat itu semua."S-setega itu mereka pada Andin"


"Sungguh mereka benar-benar tega" tak percaya Reno pada mereka berenam.


Braak


Kak Tias menggrebak meja dengan sangat kesal."Kurang ajar mereka, akan aku beri mereka pelajaran hingga mereka tau siapa yang lawan mereka sebenarnya"


Kak Tias berjalan pergi dari ruangan cctv hendak mencari keberadaan mereka berenam.


"Tunggu kak"


Kak Tias berhenti melangkah."Jangan cegah aku Aliza, aku akan beri mereka pelajaran, mereka sudah berani-beraninya ganggu kehidupan sepupu ku dengan cara melenyapkan Andin"


"Aku tau kakak marah, tapi saat ini Aliza mohon tahan dulu, kakak jangan gegabah, kakak tenang dulu, kalau kakak gegabah semuanya pasti akan kacau"


"Iya kak, kakak jangan gegabah dulu, masalah itu kita bakal urus juga, sekarang itu yang terpenting kita harus tolong Elfa dulu, baru beresin mereka berenam" Reno membantu ku menenangkan kak Tias yang tengah meledak-ledak.


Kak Tias menghembuskan napas kasar."Baiklah, ayo cepat kita ke lantai 4"


"Tungguin aku, aku mau ngambil rekaman cctv ini sebagai bukti kejahatan mereka dulu" tintah Angkasa.


"Iya, cepetan sa" Angkasa menyalin file itu secepat mungkin.


"Udah, ayo kita ke lantai 4 sebelum Elfa meninggal" ajak Angkasa.


Kami mengangguk lalu berlari menuju lantai 4 dengan secepat mungkin.


"Ayo lebih cepat lagi, kita harus tolong Elfa secepatnya sebelum dia keburu meninggal" teriak Reno.


"Iya, dia itu udah lama berada di sana, aku hanya takut dia tidak bisa tertolong lagi" teriak Angkasa.


Aku semakin semangat untuk berlari karena saat ini ada orang yang harus ku tolong sebelum nyawanya melayang.


"Ayo za lebih cepat lagi, kamu harus segera sampai di sana, ayo semangat" batin ku memberi semangat.


Kami berempat berlarian ke arah lantai 4, kini kami sudah memasuki lantai 4.


Anak-anak yang melihat kami berlari menuju kamar mandi mengerutkan alis, banyak pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiran mereka.


Kami masuk ke dalam kamar mandi dan memdekati toilet yang paling pojok yang terdapat Elfa di dalamnya.


Angkasa dan Reno membuka pintu toilet itu namun tidak bisa, pintu di kunci dan kuncinya di pegang oleh salah satu di antara mereka berenam.


"Pintunya di kunci, gimana ini?" bingung Reno.


"Dobrak aja, dan cepat keluarin Elfa, sebelum nyawanya gak tertolong" jawab kak Tias.


Mereka berdua dengan sekuat tenaga mendobrak pintu itu.


Betapa terkejutnya kami saat melihat Elfa yang terbaring lemah di dalam kamar mandi dengan wajah yang pucat, suhu tubuhnya dingin sedingin es batu.


"Elfa"


Terkejut kami yang melihat Elfa yang pucat pasi.


"Elfa bangun"


"Elfa buka mata kamu"


Kami terus berusaha membangunkan Elfa namun tidak ada pergerakan dari dirinya.


"S-sa coba cek denyut nadinya"


Angkasa memeriksa denyut nadi Elfa.


"Inalillahi wa innailaihi roji'un, Elfa sudah gak ada" aku menutup mulut tak percaya saat mendengar ucapan Angkasa.


Air mata mengalir di pelupuk mata ku saat aku tak bisa menyelamatkan Elfa yang di kurung di dalam kamar mandi oleh mereka berenam.


"Sstt udah jangan nangis, setidaknya kita udah berusaha, masalah berhasil atau enggaknya itu urusan yang di atas" aku masih terus menangis walaupun Angkasa terus berusaha menenangkan ku.


"Kak Tias telpon polisi, suruh polisi evakuasi jenazah Elfa" tintah Reno.


Kak Tias mengangguk lalu menghubungi polisi.


"Ayo kita keluar dulu, biar polisi yang evakuasi jenazah Elfa" ajak Angkasa.


Kami mengangguk lalu keluar dari dalam kamar mandi.


Tak lama dari itu polisi sampai di sekolahan.


Dewan guru dan juga murid-murid yang melihat kedatangan polisi tertegun.


Mereka panik campur penasaran pada polisi yang datang ke sekolahan ini.


Kak Tias, Reno, dan Angkasa menjelaskan kronologis kejadian yang menimpa Andin dan juga Elfa.


Polisi yang mendengar hal itu langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk mengevakuasi jenazah Elfa.


Aku duduk di bawah dengan tatapan linglung, rasa bersalah karena tak bisa menyelamatkan nyawa Elfa menyeruak di dada ku.


"Elfa maafin aku" lirih ku dengan di iringi tangisan karena tak bisa menyelamatkannya, kini dua orang meninggal sedangkan aku tak bisa berbuat apa-apa.


"Tidak apa-apa Aliza, aku tidak apa-apa kok" suara itu membuat ku terkejut.


Aku langsung berdiri dan menatap tak percaya ke arah Elfa yang kini berada di samping ku dengan tersenyum manis.


"K-kamu Elfa?"


"Iya aku Elfa"


"Elfa maafin aku, aku gak bisa nyelamatin kamu, andai aku tau kamu ada di sana, pasti aku akan langsung nyelamatin kamu"


Elfa tersenyum."Ini sudah terjadi, kamu gak usah merasa bersalah, aku gak apa-apa kok, kamu tidak usah merasa gak enak kayak gitu"


"Fa kamu sudah berapa lama berada di dalam toilet itu?"


"8 hari, selama 8 hari aku berada di dalam toilet itu, tanpa makan dan tanpa minum, aku ketakutan di dalam toilet, yang bisa aku lakukan hanya menangis dan terus meminta tolong, tapi gak ada satupun yang nolongin aku, walaupun aku udah berusaha minta tolong, tapi tetap saja gak ada orang yang nolongin aku karena mereka gak ada satu anak pun yang dengar suara teriakan ku"


"J-jadi kamu meninggal kemarin?"


Elfa mengangguk."Benar aku meninggal kemarin setelah Roy pergi dari dalam kamar mandi"


"Kenapa Roy gak nolongin kamu?"


"Roy bukannya gak nolongin aku, hanya saja dia gak tau kalau di dalam toilet itu ada aku, toilet itu di kunci, Roy gak bisa masuk dan nolongin aku"


"Terus kenapa kamu gak minta tolong sama Roy?"


Elfa menghembusakan napas."Aku udah lemas banget, aku gak punya tenaga buat teriak apalagi bergerak, rasanya susah sekali, mungkin hidup aku memang berakhir di sana, aku sudah ikhlas kok za, walaupun berat aku harus terima" Elfa tersenyum meski aku tau dia masih ingin hidup di dunia ini tetapi takdir tak berpihak padanya.


"Maaf fa, aku gak bisa nolongin kamu"


"Enggak za, aku gak masalahin kok, sekarang aku udah gak takut lagi, aku sudah bisa bebas, aku gak usah nangis-nangis di dalam toilet itu lagi hanya karena ingin minta tolong"


Aku prihatin sekali pada Elfa namun mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi dan aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.


"Za ayo kita ke rumah Elfa, kita harus anterin dia ke pengistirahatan terakhirnya" ajak kak Tias.


Aku melihat ke arah Elfa sekilas lalu mengikuti kak Tias.


"Ayo kak"


Elfa memandangi punggung ku dan kak Tias hingga tak terlihat lagi.