The Indigo Twins

The Indigo Twins
Risa



"Kamu yang sabar Roy, kamu jangan sedih"


Roy mengangguk, ia berusaha untuk tetap tenang walaupun jiwa dan raganya sedang terluka.


"Andin itu tinggal sama siapa selama ini, kenapa rumah ini kayak gak ada yang nempatin setelah dia pergi?" Reno tak mendengar percakapan kami saat di belakang sekolah karena yang ia lihat hanya kuntilanak itu saja.


"Dia tinggal sendiri, mama sama papanya berada di luar kota" jawab Roy.


"Terus kita mau nanya sama siapa ini, di rumah Andin gak ada siapa-siapa, masa kita pulang dengan tangan kosong kayak gini?" Alisa meminta pendapat yang lain, ia tidak mau pulang dengan tangan kosong.


"Kalau gak salah Andin itu punya teman kata kamu, sekarang kita temuin aja dia, kamu tau kan di mana rumahnya Risa itu?"


Roy menggeleng cepat.


Reno langsung mengerutkan alis."Loh kalau kamu gak tau terus ini gimana, masa kita diam aja di sini, kan gak mungkin"


"Aku gak tau rumahnya Risa, aku hanya tau namanya aja, orangnya saja aku gak pernah tau" jawab Roy.


"Ya udah kita tanya aja pada orang-orang di sekitar sini, pasti di antara mereka ada yang tau"


"Eh lihat di sana ada orang, ayo kita samperin dia" tunjuk Alisa pada ibu-ibu yang berada di gazebo.


"Ayo"


Kami berlari mendekati ibu-ibu itu.


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam" jawab ibu-ibu.


"Maaf numpang tanya, rumahnya Risa di mana ya bu?"


"Oh rumahnya Risa, itu di sana, di sebelah rumahnya Andin" jawab ibu-ibu itu.


Kami melihat ke arah rumah yang ibu-ibu itu tunjuk.


"Makasih bu, ayo kita langsung ke sana aja" ajak Alisa.


Kami mengangguk lalu berlari menuju rumah itu.


tok


tok


tok


Alisa mengentuk pintu rumah itu.


"Permisi pak, bu"


Hening, tidak ada yang menjawab.


Alisa melihat ke arah kami."Kayaknya rumah ini kosong juga deh, liat gak ada yang bukain pintu"


"Masa kosong, kayaknya enggak deh, pasti pemiliknya gak dengar, coba kamu kencengin dikit" suruh Reno.


Alisa mengangguk lalu kembali mengentuk pintu.


"Permisi assalamualaikum, apa ada orang di dalam" tidak ada jawaban yang Alisa dengar.


"Kayaknya gak ada orangnya, rumah ini juga kosong, gimana ini, kita balik aja apa nunggu orangnya datang?" Alisa meminta pendapat kami.


"Pulang aja, besok aja kita ke sini lagi buat cari tau tentang Andin"


"Ya udah ayo kita balik sebelum malam di jalan" ajak Angkasa.


Kami setuju lalu berjalan meninggalkan rumah itu.


Brukk


Tiba-tiba aku mendengar suara orang jatuh.


Aku melihat ke kanan dan kiri hingga tatapan ku jatuh pada seorang gadis bermata juling yang sebaya dengan ku terjatuh di samping rumah Risa.


Gadis itu hendak pergi dari sana saat melihat ku.


"Tunggu Risa"


Gadis itu yang mendengar namanya di panggil langsung berhenti.


Dia berbalik badan menghadap ke arah ku dengan tubuh yang gemetaran karena ketakutan tanpa sebab.


"Itu" tunjuk ku ke arah Risa yang menempelkan tubuhnya di dinding dengan tubuh yang terus bergetar.


Mereka melihat ke arah apa yang aku tunjukkan.


"Ayo kita samperin dia, dan tanyain tentang Andin sebelum dia pergi"


Mereka setuju lalu berlari mengikuti ku yang mendekatinya.


"J-jangan m-mendekat" gagap Risa yang terus gemetaran ketika kami berada di depannya.


"Apa kamu Risa?"


"I-iya a-aku R-risa" jawab Risa yang masih terus gemetaran hebat.


Angkasa mengerutkan alis melihat Risa.


"Kenapa dia kayak gagap, apa dia takut pada kami ataukan memang seperti itu dari lahir" batin Angkasa.


"Risa kamu tau kemana Andin pergi, kamu kan temannya, kamu pasti tau kan?" feeling Alisa.


"S-siapa k-kalian?" bukannya menjawab, Risa malah bertanya balik pada kami.


"Kami teman-temannya Andin, kami ingin mencari tau tentangnya karena dia sudah lama tidak masuk sekolah, apa kamu tau Andin pergi kemana?" Roy sangat penasaran kemana Andin pergi sebelum dia menghilang dan di ketahui telah meninggal.


"A-andin b-bilang k-kalau d-dia m-mau p-pergi s-sekolah, t-tapi s-sampai s-sekarang d-dia b-belum b-balik-balik" jawab Risa dengan masih gagap, entah karena dia masih takut pada kami ataukah karena memang bawaan dari lahir.


"Selain itu kamu tau Andin kemana sebelum menghilang?"


"A-andin p-pernah c-cerita k-kalau d-dia a-akan di b-bunuh" jawab Risa.


Kami langsung terkejut mendengarnya.


"DI BUNUH"


"Siapa yang akan bunuh Andin, kamu tau orangnya?" penasaran Roy berharap Risa tau.


Risa menggeleng, ia tidak tau siapa yang akan membunuh temannya itu.


"Terus Andin bilang apa lagi?"


"A-andin b-bilang k-kalau o-orang y-yang a-akan b-bunuh d-dia i-itu j-jumlahnya 6 o-orang" jawab Risa.


"Jadi angka enam itu bukan kelas B6 melainkan jumlah pelakunya" batin ku yang mulai bisa mengartikan angka dari 4,6,8 itu.


"Terus apa lagi yang kamu tau?" penasaran Roy Risa tau dan dapat memudahkannya untuk mencari tau siapa pelakunya.


"A-aku t-tidak t-tau a-apa-apa l-lagi" jawab Risa.


"Segitu saja yang kamu tau?"


Risa mengangguk cepat.


"Jadi artinya ada orang yang sudah membunuh Andin, mangkanya dia nyuruh kita buat pecahin misteri di balik angka 4,6,8 itu"


"Masalahnya siapa yang sudah berniat membunuh Andin, Andin punya salah apa sehingga mereka mau melenyapkan dia" tak habis pikir Roy pada orang yang telah membunuh temannya itu.


"Pasti ada sesuatu yang berada di balik itu semua sehingga ada orang yang nekat bunuh Andin" jawab Reno.


"Risa kamu kan selama ini tau semuanya tentang Andin, kamu gak pernah tau benda atau barang favorit Andin?"


"B-buku, A-andin s-suka b-buku" jawab Risa.


"Iya Andin memang suka baca buku, setiap hari dia selalu baca buku di perpustakaan" Roy selama ini menemani Andin membaca buku di perpustakaan sehingga ia tau sedikit demi sedikit tentang Andin.


"Kenapa kamu gak bilang dari tadi, kan kita bisa nyari tau di perpustakaan juga" Alisa mencubit perut Roy dengan geramnya.


"Kalian gak ada yang nanya, mangkanya aku diam aja" jawab Roy berusaha menahan rasa sakit akibat cubitan Alisa.


Reno menghela napas."Kalau pun kami gak nanya seharusnya kamu kasih tau, biar gak mutar-mutar begini"


"Maaf" sesal Roy.


"Udah jangan pada di perpanjang, gini aja kita balik ke sekolahan lagi, buat nyari tau ada apa di perpustakaan baru pulang ke rumah, gimana kalian setuju gak?"


Angkasa melirik jam yang melingkar di tangannya."Waktu kita sedikit za, bentar lagi malam, masa kita sampai larut malam nyelidiki kasus ini, lebih baik besok pagi aja, jangan sekarang"


"Benar itu za, besok aja lagi, hari ini cukup saja sampai di sini" setuju Reno.